Skip to main content

Generasi Muda di Radio Komunitas

Anak muda memang bagian dari struktur masyarakat yang penuh dengan kontroversi. Banyak dari kalangan masyarakat yang memandang bahwa kaum muda saat ini hanya bisa menikmati hasil perjuangan orang-orang terdahulu. Namun beberapa informasi di bawah mengindikasikan hal yang berbeda. Banyak anak muda di Yogyakarta yang mau berjuang demi sesuatu, contohnya adalah anak muda yang berada di balik nama radio komunitas.

______________________________________________________________

Yogyakarta, yang dikenal dengan sebutan kota pelajar dengan banyaknya perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, sarat dengan anak muda yang mempunyai semangat untuk memperjuangkan sesuatu yang mereka anggap baik. Perjuangan mereka diwujudkan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah melalui radio-radio komunitas.

Secara umum, radio komunitas mempunyai konsep awal untuk menjembatani orang-orang yang berada pada komunitas tertentu. Komunitas yang biasanya berisi para kaum muda ini  membutuhkan suatu “wadah” yang memungkinkan mereka untuk berbagi informasi sekaligus mencari hiburan di dalam komunitas itu sendiri.

 Ketika ditilik menggunakan teori-teori kritis, bisa jadi radio komunitas merupakan salah satu wujud perlawanan. Hal yang dilawan adalah bombardir informasi dari radio-radio mainstream yang seringkali memberikan informasi yang tidak semua relevan bagi suatu komunitas. Perlawanan tidak selalu bersifat frontal, namun bisa juga dengan menciptakan alternatif baru.


Salah satu radio komunitas yang didalangi oleh kaum muda adalah Radio Komunitas Magenta Universitas Negeri Yogyakarta. Radio yang terletak di Gedung Student Centre UNY lantai 3 ini adalah salah satu bentuk UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). “Awalnya radio ini berada di Hima (Himpunan Mahasiswa) Elektro, yang kemudian diapresiasi oleh anak-anak Sastra untuk mengembangkan bakat mereka. Dan dalam perkembangannya radio ini menjadi UKM.”, jelas Arif Wahyudi, Direktur Utama Radio Komunitas Magenta (Universitas Negeri Yogyakarta).

Para pemuda di balik nama Magenta Radio ini ternyata mempunyai semangat yang besar untuk menghidupkan komunitas yang dimiliki. "Kalau lagi bulan puasa, kami bisa mulai siaran jam dua atau jam tiga pagi. Dan ternyata pendengarnya juga cukup banyak, dan mereka mengapresiasi dengan mengirim sms pada program-program kuis misalnya.", kata Arif. Semangat mereka untuk menghidupkan radio komunitas ini memang patut untuk diapresiasi oleh berbagai kalangan.

Lelaki yang kini sudah menapaki kuliah semester VII ini juga dengan optimis beranggapan bahwa kaum muda saat ini mempunyai minat belajar yang tinggi selain kreativitas yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Walaupun banyak kaum muda yang kini dimanjakan oleh teknologi, tapi ternyata masih ada kebesaran tekad yang masih bisa dijadikan pemikiran optimis dalam jangka waktu ke depan.

Tapi bukanlah sebuah perjuangan jika tidak ada penghalang, begitu juga dengan radio ini. Hambatan mereka berasal dari berbagai pihak, termasuk dari universitas. “Beberapa musik yang kami putarkan seperti lagu-lagu metal dan reggae, mendapat kritik dari beberapa pihak. Padahal banyak pendengar yang menyukai lagu-lagu seperti ini, yang jarang diputar di radio lain.”,tutur Arif. Memang kadang sering terjadi perbedaan paham antara kaum muda dengan orang yang lebih berumur.

Magenta Radio tidak sendiri, Adel Andriani sebagai seorang penyiar senior di Radio Media Top Fm (Radio Komunitas di Multi Media Training Centre) juga menyatakan hal yang senada. Kadang hambatan untuk berkreativitas datang dari lembaga, untuk mengatasi hal ini mereka mempunyai suatu strategi. ”Di dalam radio komunitas ini ada posisi Station Manager yang bukan diduduki oleh mahasiswa, melainkan dari lembaga. Tugasnya adalah sebagai “jembatan” antara kami dengan lembaga.”, jelas mahasiswa yang lahir pada tahun 1989 ini.

Selain untuk merekatkan hubungan di dalam komunitas itu sendiri, radio komunitas juga bisa menampung suatu komunitas tertentu untuk menunjukkan eksistensinya. Di Magenta Radio misalnya, pihak manajemen memberikan kesempatan kepada komunitas Yanuki, komunitas anak pecinta Jepang. Komunitas Yanuki diberi kesempatan untuk siaran di Magenta Radio selama dua jam tiap minggunya.

Radio komunitas juga mempunyai program-program yang mendukung pengembangan diri anak muda. Salah satunya adalah program yang membahas seksologi di Media Top Fm, seperti yang dikatakan Adel, “Ada program yang membahas tentang seksologi, tapi nggak gamblang-gamblang banget, ada unggah-ungguhnya.”. Dengan pembahasan tentang hal ini diharapkan kaum muda tidak lagi bermain-main dengan masa depannya, terutama yang berkaitan dengan seksualitas.

Magenta Radio juga mempunyai beberapa program yang mendukung, di antaranya Hansip, HotSpot, dan catatan rekor MURI. Hansip adalah pengetahuan tentang iptek yang perlu diketahui mahasiswa, HotSpot adalah program yang berisi berita olah raga, sedangkan catatan rekor MURI dimaksudkan agar para mahasiswa terpacu dan termotivasi untuk mencapai prestasi setinggi-tingginya dalam berbagai bidang.

Radio komunitas adalah salah satu dari berbagai wadah kreasi dan perlawanan dari anak muda. Masih begitu banyak wadah yang tersedia, yang siap untuk diisi, dihias, dibangun kembali, dan dikembangkan sedemikian rupa. Anak muda, dalam keterjebakannya oleh teknologi informasi, tidak layak untuk diragukan lagi. Cepat atau lambat, regenerasi akan berjalan. "Generasi muda adalah sebuah bagian dari regenerasi di mana yang terlibat di dalamnya harus bisa menjadi suatu tumpuan.", pungkas Arif.

(ditulis awal Oktober 2009)

Comments

Popular posts from this blog

Mengenang Rama J. B. Hari Kustanto, SJ

Super pakdhe! Sambil berbaring, dia meminta Pakdhe Hari dan saya untuk membantunya duduk di kasur. Setelah duduk di pinggiran, dia menempelkan kedua telapak kakinya di lantai dingin rumah Patangpuluhan. Sambil tetap berpegangan lengan kami, dia menyentakkan kakinya lalu berdiri. Pakdhe Hari bilang ‘Hebat!’ Lalu dia tersenyum sambil menggerak-gerakkan kakinya. Bagi saya, itu adegan terindah yang saya alami bersama Pakdhe Tanto di hari-hari akhirnya. Dia sudah mengidap sakit tumor di organ otak sejak tahun 2007. Pertengahan tahun 2007 itu, Pakdhe Tanto menjalani kemoterapi. Saya, yang masih sekolah di Muntilan, terpaksa ijin barang sehari untuk menemuinya di rumah sakit. Saya tidak begitu ingat bagaimana kondisi Pakdhe Tanto waktu itu. Namun yang saya ingat adalah dukungan semangat dan motivasi dari saudara kandung beliau. “Sesuk natalan bareng ya mas neng nggone mas Hari..” begitulah dukungan mereka. Diam-diam saya mendengar obrolan lirih yang sedih dan singkat....

Obrolan Ringan bareng Pak Manyung

Jarum jam menunjuk angka 9 malam. Seharusnya saya beristirahat, tetapi perut ini berteriak-teriak. Maka meluncurlah saya ke sebuah warung tenda pinggir jalan di Gedawang. Warung itu tak bernama. Penjualnya sih sudah pasti punya nama, tapi saya terlalu malas untuk bertanya. Jadi, istri dan saya beri nama sendiri saja: Pak Manyung. Mengapa kasih nama itu? Begini ceritanya.  

Sowan Dewi Mariyah di Meanjin

Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba foto patung Bunda Maria di sebuah tempat ziarah melintas begitu saja. Dari layar kecil di genggaman, Dia seakan memanggil-manggil. Lalu lahirlah semacam kegelisahan dan kerinduan yang sulit dijelaskan. Tak butuh waktu lama, kami sekeluarga merencanakan pergi sowan Dewi Mariyah di suatu tempat bernama Marian Valley. Perkenalkan, saya Ryan. Saya suami dari seorang istri yang luar biasa. Kami dianugerahi dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Saat ini hingga beberapa tahun ke depan saya menjalani peziarahan keilmuan di pesisir timur Australia, tepatnya di Brisbane.