Aku tidak pernah membayangkan Indonesia memiliki presiden yang seperti ini. Isi pidatonya dalam berbagai kesempatan tak lebih dari: bangsa yang besar, kekayaan yang bocor ke luar negeri, tuduhan antek-antek asing, dan tentu saja kontrak politik program MBG. Di dalam dan di luar negeri, sambil tetap pukul—atau boleh disebut gebrak—meja podium. Menariknya, pasar modal bergejolak tiap kali dia disodori mikrofon. Namun bukan itu saja yang membuatku gelisah.





