Saat itu peserta diskusinya ada sembilan orang. Semua berkulit putih kecuali aku. Ada satu profesor dan tampaknya ada dua orang yang belum dapat gelar PhD. Bagaimana jalannya pertemuan?
1. Ringkas
Aku merasa diskusi ini ringkas dan tepat waktu. Dimulai pukul 1, selesai pukul 2 tepat. Tidak ada yang bicara sendiri, nggedabyah, seakan waktu orang lain adalah empunya dia sendiri. Barangkali karena agenda sudah ditentukan sejak awal. Jadi begini. Orang-orang yang masuk di program Digital Public itu gabung di Slack. Di sanalah tempat untuk berbagi informasi terbaru, misalnya ada grant, call for paper, anggota yang baru saja publikasi artikel atau buku, dan lain-lain. Lalu beberapa hari sebelum diskusi, ada link Notion yang dibagikan di Slack itu. Link itu berisi agenda yang akan dibahas dalam diskusi. Setiap orang bisa menambahkan sendiri pencapaian mereka, topik yang perlu dibicarakan, atau apapun informasi terbaru yang ingin mereka bagikan. Ketika diskusi, pemimpin pertemuan membuka Zoom (agar yang berhalangan hadir tatap muka bisa tetap ikut) lalu membagikan layar Notion. Semua yang dibicarakan ada di situ, tertata rapi dan jelas. Tidak ada agenda "lain-lain" sebagaimana yang sering aku temui di tempat kerja dulu.
2. Berisi
2. Berisi
Selain ringkas, pertemuan itu juga berisi. Kebetulan, pertemuan yang kemarin itu mengundang satu kandidat PhD dari Griffith yang berbagi tentang risetnya. Dia datang bersama dua orang lain dari Griffith, salah satunya adalah supervisornya sendiri. Dia bicara selama kurang lebih 30 menit, disusul 2-3 pertanyaan tanggapan. Meski tidak ada kaitannya langsung dengan konsep 'digital public' tapi isunya cukup menarik. Oh ya, sebelum mulai kami semua memperkenalkan diri dan menjelaskan secara ringkas apa yang sedang dikerjakan. Tidak ada yang mendominasi pembicaraan dengan bicara terlalu lama. Semua peserta seakan tahu porsinya masing-masing tanpa harus diatur-atur. Ketika menanggapi pembicara tadi juga mereka fokus, perbincangan tidak meluber ke mana-mana. Tidak ke pengalaman masa lalu yang diawali dengan "Kalau saya dulu.." ala generasi tua meski pengalaman mereka luar biasa luas dan berpengaruhnya.
3. Tanpa Lembar Presensi
Pertemuan ini tanpa dokumentasi. Tidak ada undangan resmi bertanda tangan ketua program, foto, presensi, bahkan notula. Adanya adalah undangan yang dikirim lewat email ke semua anggota Digital Public dan semua langsung masuk dalam kalender digital. Aku membayangkan, kalau model seperti ini dilakukan di tempat kerja dulu, diskusi dua mingguan ini 'tidak berguna' karena tidak dapat digunakan sebagai laporan sebagai bukti dalam memperoleh akreditasi. Makanan ringan dan teh hangat? Tentu saja tidak ada. Aku tidak tahu apakah ini menandakan bahwa pertemuan ini natural saja dilakukan di tengah tradisi diskusi ilmiah yang lebih baik? Atau sebenarnya 'persyaratan administratif' untuk diskusi ini sebenarnya tetap ada, tapi tidak sebanyak yang di Semarang dulu?
Menurutku model pertemuan yang begini ini menarik untuk diadopsi di tempat-tempat kerja di Indonesia. Referensiku tentu hanya kampus yang dulu itu. Rapat fakultas yang bisa sampai 4 jam, dipenuhi perdebatan orang-orang tua mengenai perkara yang itu-itu saja. Mungkin sebagian kampus lain di Indonesia punya model pertemuan yang baru saja aku ikuti, sebagian lainnya seirama dengan kampus yang dulu. Apapun itu, menghargai waktu orang lain, disiplin waktu, dan punya keberanian untuk merasa 'cukup' adalah hal baik yang perlu dilatih terus menerus.
*Setiap mahasiswa PhD otomatis bergabung di pusat studi di QUT. Aku masuk dalam Digital Media Research Center (DMRC) yang punya beberapa program. Salah satu programnya adalah Digital Public. Program-program lainnya adalah Transforming Media Industries and Cultures, Computational Communication and Culture, dan Creating Better Digital Futures. Program ini biasanya diisi oleh para akademisi yang punya komitmen tinggi di bidangnya masing-masing.
*Setiap mahasiswa PhD otomatis bergabung di pusat studi di QUT. Aku masuk dalam Digital Media Research Center (DMRC) yang punya beberapa program. Salah satu programnya adalah Digital Public. Program-program lainnya adalah Transforming Media Industries and Cultures, Computational Communication and Culture, dan Creating Better Digital Futures. Program ini biasanya diisi oleh para akademisi yang punya komitmen tinggi di bidangnya masing-masing.
No comments:
Post a Comment