Showing posts with label Photo and Trip. Show all posts
Showing posts with label Photo and Trip. Show all posts

27 July 2025

Sowan Dewi Mariyah di Meanjin

Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba foto patung Bunda Maria di sebuah tempat ziarah melintas begitu saja. Dari layar kecil di genggaman, Dia seakan memanggil-manggil. Lalu lahirlah semacam kegelisahan dan kerinduan yang sulit dijelaskan. Tak butuh waktu lama, kami sekeluarga merencanakan pergi sowan Dewi Mariyah di suatu tempat bernama Marian Valley.

Perkenalkan, saya Ryan. Saya suami dari seorang istri yang luar biasa. Kami dianugerahi dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Saat ini hingga beberapa tahun ke depan saya menjalani peziarahan keilmuan di pesisir timur Australia, tepatnya di Brisbane.

16 January 2019

Seminggu di Paropo


Akhir tahun 2018 kemarin saya ‘pulang kampung’ ke tanah Batak; tanah kelahiran bapak mertua. Makan daging anjing dengan sayur kol? Tidak. Saya pilih minum tuak dengan buah duren. Ditemani asap tembakau dari berbagai rokok merek pabrikan yang dihisap bapak-bapak di kedai. Semua itu saya santap sambil menikmati nada bicara dari penduduk Desa Paropo, dekat Danau Toba. Bagi saya yang tak paham bahasa Batak, suara yang muncul dari mulut mereka tak ubahnya lagu.
Saya sering dengar orang Batak bilang kalau suara macam Judika itu sebenarnya banyak dimiliki oleh orang-orang Batak. Terutama mereka yang sering nongkrong di kedai-kedai di desa. Biasanya para laki-laki nongkrong di kedai sambil minum tuak, lalu pegang gitar untuk nyanyi bersama. Lihat saja di Youtube; persis seperti itu. Ajaibnya, suara mereka seperti otomatis terbagi jadi tiga – padahal tanpa latihan.
Sependek yang saya lihat dalam beberapa hari, jumlah kedai di Desa Paropo ini terhitung banyak. Dapat dikatakan, setiap selisih 5-10 rumah pasti ada kedai. Selain rokok dan kopi (tentu saja!), yang dijual di kedai itu ada teh, mie instan, dan tuak. Saya tak tahu apakah setiap kedai menjual tuak atau tidak.
“Di Jawa ada tuak juga?”
“Ada, tulang.”
“Tapi pasti beda rasanya. Enggak seasli yang di sini.”
Mereka tampaknya bangga betul dengan rasa tuak yang ada di Paropo. Saya perlu jujur. Saya tak tahu perbedaan rasa tuak khas Batak yang di Jogja dan Jakarta, dengan rasa tuak di Paropo. Bagi saya rasanya sama saja (ya seperti itu rasa tuak! mau gimana lagi rasanya? hehehe). Sekalipun saya tahu beda rasanya, sudah pasti saya tak tahu mana yang lebih ‘asli’ atau - katakanlah - lebih berkualitas.
Soal tuak ini, ternyata saya salah kira. Saya kira tuak ini diminum di pesta-pesta layaknya anggur (wine) ataupun bir. Saya bayangkan tuak ini dibagikan kepada tamu secara gratis lalu dinikmati sambil menari mengikuti lagu yang dinyanyikan kelompok musik. Kemarin saya datang ke pesta pernikahan saudara sepupu istri, dan tidak menemukan yang saya bayangkan tersebut. Atau saya saja yang memang tak melihat? Entahlah.
Pesta pernikahan di budaya Batak itu jelas berbeda dengan Jawa. Tentu tak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Setiap budaya menganut nilai yang berbeda. Soal baik atau buruk diukur dari nilai (yang entah diciptakan oleh siapa) tersebut. Beberapa kali saya mengikuti upacara adat pernikahan Jawa, dan baru satu kali ikut upacara adat pernikahan Batak, rasanya sama-sama melelahkan. Hanya saja, kalau dibandingkan, pernikahan sepupu ini lebih melelahkan daripada pernikahan saya.
(Catatan: tentu saja sebenarnya saya tak dapat membandingkan, karena memang tidaklah sebanding. pernikahan saya bukan pernikahan Jawa yang sesuai pakem melainkan yang ‘modern’ dan penuh modifikasi sana-sini. sementara rasanya pernikahan sepupu ini masih sesuai dengan pakem-pakem yang berlaku di tanah Batak)
Pesta pernikahan saya beberapa bulan lalu hanya 2 jam saja di gedung. Sementara yang di Paropo ini, jam 9 mulai di gereja lalu acara baru selesai sekitar pukul 20. Berarti setidaknya mempelai wanita harus pakai kebaya dari pagi sampai malam. Dengar-dengar, setelah pesta masih ada acara di rumah mempelai laki-laki sampai sekitar pukul setengah 12 malam.
Mungkin sebenarnya pernikahan dalam budaya Jawa juga sama melelahkannya. Hanya saja waktu itu saya memilih untuk melewatkan banyak upacara adat Jawa dan lebih fokus pada acara gereja saja. Pertanyaannya, bisakah orang Batak memilih untuk tidak menggunakan adat Batak?
“Itu, bang, masalahnya. Adat-adat ini pantang ditinggal,” kata seorang sepupu. Apalagi, tambahnya, kalau yang menikah adalah sama-sama orang Batak. Maka tak heran (tapi saya tak yakin mereka ini serius hehehe) ada beberapa sepupu yang minta dicarikan perempuan “boru Jawa” yang mau menikah sama mereka.
“Mana mau mereka sama kamu!” kata istri saya menimpali permintaan abal-abal ini.
Banyak orang berpendapat orang Batak itu galak dan keras ketika berbicara. Beberapa kali mereka sendiri bilang begitu ke saya. Barangkali kalau saya baru pertama kali bertemu orang Batak, saya pasti terkaget-kaget di Paropo. Nada bicara orang Batak itu memang seperti membentak, padahal ibu di tempat saya menginap (saya tak tahu harus panggil beliau namboru atau inang uda) itu penuh kehangatan.
Kalau kami lagi tidur-tidur dia sering bilang “Tidur kalian! Tidur!” dengan nada yang asik. Atau kalau beliau lagi melihat kami duduk-duduk, langsung teriak “Udah makan kalian? Makan kalian!”
Soal makanan, hampir setiap hari saya makan babi. Saya hanya bertanya-tanya dalam hati, “Ini karena sedang ada pesta dan banyak keluarga sedang pulang, atau sehari-harinya memang sering makan daging babi?” Saya bayangkan setiap hari makan ikan, karena letak Desa Paropo ini memang di tepi Danau Toba. Rupanya saya hanya makan ikan beberapa kali saja.
Satu makanan yang baru pertama saya makan ketika di sana: mie gomak. Bentuk mie ini seperti spaghetti. Mereka berkelakar, “Ini spaghetti ala Batak.” Rasanya? Luar biasa nikmat. Setiap kali tuan rumah menyajikan masakan ini, saya pasti langsung makan tiga piring mie gomak. Karena saking penasarannya, saya ikut ke dapur untuk bantu-bantu supaya tahu bagaimana masakan ini dibuat. Siapa tahu kami bisa masak menu ini di Semarang.
Kenapa disebut ‘gomak’? Menantu dari tuan rumah, dia pandai memasak dan sangat cekatan, mengatakan sambil memperagakan mengambil mie menggunakan tangan yang dilapisi plastik,”Karena ngambilnya gini. Ini gomak. Kalau ngambilnya pakai garpu atau sendok nanti tumpah.” Waktu itu saya manggut-manggut sambil menirukan. Mengisi piring ketiga saya hahahaha
Soal masakan, saya sama sekali tak ada masalah dan sangat menikmati. Soal minuman? Rupanya saya tidak hobi-hobi amat minum minuman beralkohol: bir, tuak, (kalau di Semarang) congyang, dan kawan-kawannya. Minum hanya untuk pergaulan saja, sambil nongkrong.
Ada satu minuman yang hanya saya cicipi seteguk saja di sana, tepat di pinggir Danau Toba setelah senja, yaitu TST. Teh Susu Telur. Seingat saya minuman ini cenderung kental, mungkin karena kuning telurnya ini. Rasanya khas sekali. Waktu itu saya tak bisa mengidentifikasi, apakah minuman ini memang senikmat itu? Atau karena suasana tepi Danau Toba setelah senja yang dingin dan gelap itu yang bikin nikmat.
Yang jelas, sore ini tiba-tiba saya ingin TST. Karena saya tak tahu di mana cari TST di Semarang, saya jadinya menulis cerita ini saja. Glek.

16.01.2019
Semarang

14 May 2018

Lawatan Taiwan: Orang Indonesia di Taiwan


Sepertinya banyak orang Indonesia yang bekerja di Taiwan. Hanya sedikit info yang saya dapatkan mengenai profesi mereka. Dengar-dengar sebagian bekerja di pabrik, cleaning service di kantor-kantor, penjaga lansia, dan sebagainya.

Lawatan Taiwan: Kebudayaan dan Gaya Hidup


Dari tulisan dan bahasa, jelas budaya di Taiwan didominasi budaya Cina. Tetapi cara berpakaian mereka sangat kebarat-baratan. Mudah sekali ditemui gadis-gadis di Taiwan yang pakai celana pendek sekali dan atasan yang terbuka.

Lawatan Taiwan: Jalanan Bersih dan Bangunan Tua


Kesan pertama ketika datang ke kota Taichung (sekitar 2 jam perjalanan dari Taipei) adalah bangunan lawas. Saya jadi ingat daerah pecinan di Malioboro. Bedanya, rasanya hampir sepanjang jalan besar yang saya lewati itu pertokoan.

Lawatan Taiwan: Pengalaman Pertama ke Luar Negeri


Untuk pertama kalinya saya melawat ke luar negeri, yaitu Taiwan. Rasanya? Biasa saja. Sebenarnya saya tak pernah sekalipun memikirkan negara itu sebagai tempat tujuan pergi saya. Hanya ada dua kata yang muncul di benak saya tatkala dengar kata Taiwan, yaitu: Cina dan F4.

08 June 2016

Denggung yang Selalu Tanpa Kata

"Dermolen" (atau sebagian orang menyebutnya "bianglala") mini yang masih terbungkus kain putih.

Topi warna merah yang dia kenakan telah memudar. Bukan jingga, bukan pula merah muda. Masih merah memang, tapi tercampur warna putih dan noda lusuh di sana sini.

Warna itu ditabrakkan dengan kaos buluk yang dibagikan oleh sebuah korporasi busuk tatkala mereka mengadakan acara. Kaos itu terlihat tipis, penuh logo sponsor, warna biru yang mulai pudar, dan terlihat tak menyerap keringat.

Dia berjalan pelan di depan deretan warung sebelah utara lapangan Denggung yang diselimuti mendung pagi itu. Langit memang abu-abu semenjak fajar, seusai saudara Muslim pulang dari subuhan di masjid belakang rumah.

Mobil-mobilan listrik untuk anak kecil sedang dibersihkan, siap untuk disewakan.
Siapkan 5.000 rupiah untuk dua kali putaran kecil.

Berhenti di depan sebuah warung, dia hanya menganggukkan kepala sejenak ke arah pemilik warung.

Tanpa sepatah kata juga, pemilik warung masuk dan membuka gentong air. Pria bertopi merah dengan usia 65an tahun itu lalu mengangkat jeriken air yang dia bawa dengan gerobak. Sebuah gerobak sederhana dari kayu-kayu yang ditempel sana sini asal kuat.

Satu jeriken itu barangkali berisi 15 liter air. Dia mengangkat satu demi satu, menuangkan isinya ke gentong penyimpanan air dalam warung.

“Air sumur atau air ledeng itu?”

“Sumur. Itu yang di belakang rumah,” katanya sambil menunjuk ke arah utara.

Dua jeriken yang telah kosong itu lalu dia taruh kembali di atas gerobak, bersama satu jeriken yang sebelumnya telah kosong. Dengan tangan yang keriput, dia menarik kembali gerobak itu menjauh dari deretan warung.

Gerobak sederhana isi tiga jeriken kosong.

Gerobak itu diparkirkan begitu saja di belakang sepeda hitam. Lalu dia pergi duduk di warung lain untuk memesan kopi dan sebatang rokok.

Lantas aktivitas di lapangan Denggung bergulir seperti hari-hari biasanya.

Setiap pagi air di kolam dan apa-apa yang mengapung di dalamnya harus dibersihkan.

 Tempat itu biasa disinggahi keluarga untuk berteduh di bawah pohon-pohon rindangnya. Atau sekadar dilewati oleh roda-roda angkuh yang melaju kencang.

Barangkali mereka tak pernah tahu,
di Denggung sana,

ada sesosok yang tiap hari menawarkan
air bersih jualannya. 

Tanpa kata.

Jogja
08.06.2016

18 December 2013

Ketoprak Lesung: Kancil Berkepang 5 (Teater Gadjah Mada)



Rabu (18/12) pukul 19.00 lebih sedikit ada pentas bagus di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM. Tampil Teater Gadjah Mada dengan judul Ketoprak Lesung: Kancil Berkepang 5. Saya mengambil beberapa foto. Maaf tentang kualitas foto yang tidak seberapa. Kadang sesuatu memang lebih nikmat untuk dipandang langsung (ngeles). Terimakasih Teater Gadjah Mada, ini hiburan yang menyenangkan, di tengah hiburan televisi yang memuakkan.

11 May 2013

Merapi 4-5-2013

Tanggal 4 Mei 2013 adalah pendakian di Merapi untuk ketiga kalinya. Saya bergabung dalam tim yang berjumlah enam orang, dua di antaranya baru pertama kali naik gunung. Enam orang itu adalah: Dennis, Dicky, Cabul, Prety, Dimas, dan saya sendiri.

Prestasi saya masih sama seperti pendakian sebelumnya, menjadi anggota tim yang paling sering minta berhenti. hehe.. Padahal saya sudah cukup lama mempersiapkan fisik. Meski begitu nampaknya fisik saya belum cukup kuat untuk naik. Selain itu ada faktor-faktor yang saya rasa cukup berpengaruh.

Pertama, kami tidak tidur semalaman. Jadi hari Jumat (3/5) malam kami berada di rumah Pak Leo (seorang pemilik warung makan) di Muntilan. Pukul 00:30 kami berangkat ke basecamp pendakian Selo. Pukul 02:15 kami beranjak dari New Selo, lalu istirahat sangat panjang di gapura selamat datang. Di sana menahan hawa dan angin dingin, sambil karaokean dengan lagu rohani. Suci sekali -.-

Di tempat itu kami berhenti lebih dari satu jam. Lama sekali. Lalu berjalan dengan sangat perlahan dan suantai hingga sampai di Pasar Bubrah pukul 09:15. Di sana kami tidur-tiduran berjejer di bawah batu pada pukul 10:00 hingga 11:00. Pukul 11:20 kami beranjak turun dan baru sampai New Selo lagi pada pukul 15:00.

Kedua, saya kurang makan. Awalnya saya berencana bawa nasi bungkus. Tetapi setelah ngobrol-ngobrol, akhirnya cuma bawa roti dan selai. Teman-teman lain juga demikian, mereka bawa roti, gula jawa, dan sebagainya. Menurut saya, makanan-makanan itu tidak bikin tubuh berlemak saya menjadi bertenaga -.- mungkin seharusnya saya bawa apel, atau pisang, yang katanya memulihkan tenaga dengan lebih cepat.

Pendakian kali ini mengingatkan saya untuk mempersiapkan fisik dengan lebih keras dan lebih teratur. Meski saya ingin mencoba naik lagi, namun sepertinya saya harus membatasi diri dan membuat janji. Misalnya, tidak naik gunung lagi sebelum pendadaran skripsi. Besok setelah pendadaran, jelas saya berencana menghadiahi diri lagi dengan mendaki lagi :)

Sekian dulu tulisan pendakian, saya mau melanjutkan bab ke sekian.

NB: Proficiat untuk Prety dan Dimas yang akhirnya sudah mendaki gunung. Selamat mendaki gunung-gunung yang lain :)

29 March 2013

Tamansari

Awal Februari lalu untuk pertama kalinya saya ke Tamansari. zzz
Silakan melihat sendiri kemegahan masa lalu,
yang tercoret oleh tangan-tangan tak tahu malu.


28 December 2012

Natal 2012


Saya hampir merasa bahwa terakhir kali saya merayakan natal adalah ketika saya bertugas menjadi putera altar. Mungkin sekitar sembilan tahun yang lalu. Beruntung, tahun 2o12 ini saya kembali merasa merayakan natal.


17 December 2012

Jawa Ireng


(salaman)
Mas e negro? Papua?
Dudu.
Timur?
Dudu.
Ambon?
Dudu. Aku Jawa asli.
Ah, mbel. (tidak percaya)
Wah, ibue ki ra ngandel (tidak percaya). Aku ki Jawa mung luwih ireng tinimbang liyane. 
(dan bibir saya lebih tebal dari Jawa yang lain -- keturunan dari orang tua)

23 October 2012

Wajah (ber)Bunga

Sudah pernah nonton jathilan?
Foto-foto di bawah adalah ekspresi ketika para pemain, yang kebetulan anak-anak, sedang ndadi atau kemasukan roh halus. Saya sesungguhnya tidak yakin mereka benar-benar kerasukan. Tapi lepas dari itu, jathilan adalah tontonan yang menarik minat warga sekitar untuk menonton, atau sebaliknya, mengungsi ke tempat lain karena suara musik iringan yang sangat keras :)









Keterangan:
Pemain jathilan ini tergabung dalam Kesenian Jathilan Dangdut Kreasi Putro Nuswantoro.

16 September 2012

Pendakian Merapi


“Saya menyarankan sampai Pasar Bubrah aja, silahkan kalau mau muncak, tapi resiko tanggung sendiri”, kata seorang pemuda yang sepertinya tahu betul kondisi di Merapi.

23 March 2012

Pada Suatu Hari Nanti




pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

(Pada Suatu Hari Nanti - Sapardi Djoko Damono)



*Foto diambil di Panti Asuhan Bhakti Luhur Yogyakarta tanggal 13 Maret 2012.


29 February 2012

Berangkat Kerja


Sebuah gang kecil ke arah timur dari Jalan C. Simanjuntak, Yogyakarta. Di sepanjang jalan itu tampak deretan toko yang selalu ramai pada siang hingga malam hari. Pukul 8 kurang 16 menit tiga wanita ini sudah hampir sampai tempat mereka menunjukkan eksistensi mereka. Hari itu hari Kamis tanggal 16 bulan dua, mereka berjalan bertiga. Lebih dari itu tak ada cukup tempat untuk berjalan beriringan.

10 January 2012

Woman and Window


What do you see out there?
I see many other perspectives.
Through the window of 4th floor, 
I can get new view angle of this city and buldings inside.
They're so big when I'm on the road down there,
but from here, they're just like lego.
That's why I need you, woman. 
You have an angle that I can't find it on my brain.
The angle that contains energies to face our world.

Pendewaan Scopus dan Standardisasi Kebanggan

Ada seorang akademisi menulis di Thread:  "Akademisi kita begitu mendewakan Scopus tapi anehnya, jarang tulisan hasil risetnya dikutip ...