Ada seorang akademisi menulis di Thread:
"Akademisi kita begitu mendewakan Scopus tapi anehnya, jarang tulisan hasil risetnya dikutip oleh orang mancanegara, so ini kayak kebanggan semu."Aku membayangkan utas tersebut muncul akibat frustasi melihat apa-apa kok Scopus. Seakan Scopus adalah dewa, atau puncak tertinggi pencapaian akademisi. Itu memang meresahkan buat akademisi. Bagaimanapun, aku merasa ada yang janggal.
Pertama, mengenai istilah "kebanggan semu" yang penulis utas pakai. Aku bisa menyelesaikan sebuah artikel saja sudah bangga. Aku yakin tidak sendirian. Pasti banyak orang-orang yang merasakan hal yang sama. Enggak usah terbit di manapun, enggak usah dikutip siapapun, bahkan enggak usah dibaca siapapun kecuali penulisnya sendiri. Menyelesaikan tulisan saja sudah bikin bangga banget sama diri sendiri.
Penulis utas terkesan menganggap sebuah kebanggaan menjadi nyata—sebagai lawan kata semu—ketika tulisan hasil riset akademisi itu dikutip oleh mancanegara. Aku heran, mengapa bangga itu ada standardnya? Atas dasar apa dan kuasa apa yang membuat dia merasa layak untuk membuat standard kebanggaan itu?
Kedua, tentang "dikutip oleh orang mancanegara" sebagai sebuah "syarat" untuk bangga. Aku merasa ide ini berangkat dari pandangan rendah diri sekaligus kesilauan melihat mancanegara. Khas sekali ditemukan di negara-negara mantan jajahan kolonial.
Periset ilmu sosial bisa jadi mempelajari hal spesifik di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka menggunakan cara pandang yang melepaskan diri atau setidaknya meminimalisir pengaruh Barat, berangkat dari semesta pikir kebudayaan tempat pengetahuan bertumbuh, dan syukur-syukur bisa memunculkan kontribusi yang sangat khas. Kontribusi yang justru sangat dibutuhkan masyarakat setempat.
Jika memang sebermanfaat dan seberdampak itu, untuk apa tulisan hasil riset perlu dikutip oleh mancanegara?
Ketiga, tentang kebutuhan "dikutip" itu sendiri. Kalau maksud penulis adalah mengkritik rezim administratif yang menjangkiti akademisi, bukankah prasyarat "kebanggan itu kalau tulisan hasil risetnya dikutip" itu sendiri justru melanggengkannya?
Padahal ada juga akademisi yang bangga kalau hasil risetnya bawa hasil langsung ke masyarakat. Misalnya jadi program kerja RT atau bisa mengintervensi kebijakan, tanpa ada kebutuhan dikutip periset lain. Tidak bisakah kebanggan itu dianggap nyata?
Setidaknya itulah kejanggalan yang kurasakan. Kalau pembaca tulisan ini merasa ada yang janggal lagi, ayo tuliskan juga perasaan itu. Kita balas tulisan dengan tulisan, tanpa harus baper satu sama lain. Biar perbincangannya jadi hidup, tanpa harus peduli Scopus, pengutipan, dan melakukan standardisasi kebanggan.
No comments:
Post a Comment