Showing posts with label Creation. Show all posts
Showing posts with label Creation. Show all posts

22 July 2016

Bukan Dirimu, Bukan.

Menulis itu mudah. Menulis itu susah. Kalau mudah, kenapa tak semua orang mampu menulis baik? Kalau susah, mengapa produksi tulisan di media sosial selalu membanjir tiap kedipan mata?

Mereka lalu berdebat di antara kedua pendapat itu. Bagi saya, menulis itu soal kebiasaan. Saya sepakat dengan rentetan manfaat dari menulis: melegakan, rekreatif, menyembuhkan gangguan psikologi, melatih berpikir, dan masih banyak lainnya.

Namun, hati-hati. Sudah pernah dengar ungkapan “Jebakan dari orang yang berdoa adalah dia merasa suci”? Menulis barangkali juga demikian. Saya habis baca tulisan menarik di Twitter.

Menulis: untuk merawat kewarasan.
Membaca: untuk menyelami pikiran orang-orang waras.

Bagaimana menurut anda? Sekilas, bagi saya, tulisan itu sombong. Itu kesombongan penulis. Penulis adalah orang—yang mengklaim dirinya—waras, lalu dirawat kewarasannya. Pertanyaannya, apakah berarti orang yang tidak menulis itu tidak merawat kewarasan?

Sedangkan apa-apa yang tidak dirawat punya dua pilihan: mati; atau tumbuh tak terkendali—dan seringkali justru mematikan yang lain. Apakah orang yang seumur hidupnya tak pernah menulis akan berhadapan dengan kedua pilihan itu?

Setelah saya pikir-pikir lagi, itu bukan hanya sombong, tetapi juga naif alias lugu. Bagaimana dengan para penulis koran Lampu Hijau? Penulis situs-situs Islam radikal abal-abal yang isinya hoax semua? Penulis akun media sosial Katolik yang isinya menyerang agama lain sana sini dengan brutal? Penulis informasi sesat lalu disebar melalui Whatsapp dan membuat teror di mana-mana?

Di mana letak “perawatan kewarasan” dari para penulis-penulis itu?

Jaman 50 hingga 100 tahun lalu, aktivitas menulis barangkali memang milik kaum intelektual-teknokrat. Mereka berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga mapan, dan punya posisi setara dengan bangsawan di tengah-tengah masyarakat. Bolehlah menjadi sombong karena bisa menulis pada saat itu. Terserah saja.

Sekarang? Setiap orang bisa menulis dengan mudah di setiap tempat, bahkan dalam genggaman mereka. Tidak ada yang perlu disombongkan dengan kemampuan menulis.

Bukankah lebih baik menyombongkan karya tulisan kita, dari pada menyombongkan kita yang menelurkan karya tersebut? 

Sombongkan karya tulis kita. Pamerkan di media sosial. Kirim tautan blogmu ke akun-akun pribadi. Kirim tulisanmu ke koran dan majalah. Ikuti lomba-lomba dan kejarlah juaranya. Karya adalah—semacam—anakmu, banggakan dia, bukan dirimu!

12 May 2016

Bacalah Saja, Ipul, Jangan Ragu-Ragu

Sumber: www.pinterest.com

Ipul; pemuda aktivis surau yang tekun di desa sebelah. Sejak bangunan masih kecil, hingga kini bertingkat dua (karena bantuan dana dari calon anggota DPRD), dia masih jadi petugas yang bekerja tanpa pamrih.

Dia tidak lulus SMP karena kurang pandai. Tiap hari dia berusaha baca Quran, tapi tetap tak satupun kata yang dia pahami. Namun dia tak jadi berandalan seperti kawan sebayanya. Dengan tutur halus dan suara lembut, dia memilih nongkrong di surau daripada menarik gas di motor-motor dua tak—sebagaimana dilakukan kawan-kawannya.

Kelebihannya itu lalu disadari oleh kelompok bapak-bapak di desa.

“Meski bodoh, Ipul itu tekun. Suaranya juga lembut. Bagaimana kalau dia kita jadikan pembaca pengumuman di surau? Warga pasti akan sangat senang tiap kali Ipul bicara,” usul seorang bapak berpeci lusuh.

“Dia bodoh. Bagaimana orang bodoh bisa bicara lancar untuk mengumumkan? Janganlah tugas sepenting itu diberikan orang bodoh!” sanggah yang lain.

“Dia sudah bisa baca. Kita tulis saja dengan lengkap, lalu biarkan dia baca sampai habis,” tutur seorang bapak di sudut sambil menepis abu dari rokok yang dia jepit.

Lalu jadilah Ipul—sang pembaca pengumuman di surau desa sebelah.

Dia bekerja dengan gembira. Setiap kali mulutnya berada di depan pengeras suara, dia merasa jadi orang paling berarti. Setiap kali dia baca salam pembuka “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..” rasanya kedamaian betul-betul menjalar di hati tiap warga.

Dengan secarik kertas, dia baca pengumuman. Dua minggu sekali, dia baca pengumuman: ajakan kepada warga untuk kerja bakti. Lalu pada waktu-waktu tertentu dia baca pengumuman mengenai kabar lelayu. Kabar lelayu itu tidak hanya dari desa sebelah, tetapi juga beberapa desa di sekelilingnya. Biasalah, desa-desa itu biasanya masih dihuni oleh keluarga besar—teramat besar. Jadi mereka saling kenal.

Lama kelamaan Ipul bosan. Dia mulai baca kertas tanpa berpikir. Dia baca saja tulisan di kertas sampai habis. Bahkan karena kebodohannya, dia berulang kali baca kertas pengumuman yang sama.

Suatu malam minggu yang biasa, desa sebelah geger. Sekumpulan pemuda dari luar teler karena air mabuk murahan. Parahnya, mereka bikin rusuh dan masuk ke desa sebelah.

Tawuran tak terhindarkan. Batu-batu beterbangan tanpa arah, kayu dan bambu haus akan darah di kepala,  dan pisau-pisau dapur giat menyabet tiap-tiap anggota tubuh. Dalam sekejap, bau anyir darah memenuhi seisi desa. Ketika pertempuran berhenti, sisa rintihan luka dan tangisan bayi masih saja terdengar.

Keesokan harinya, Ipul bangun pagi dan mendapati secarik kertas di surau. Isinya berita duka, tentang nama-nama pemuda yang jadi korban jiwa atas tawuran murahan itu.

Ipul berulang kali baca kertas itu, tapi tak sedikitpun suara keluar dari pengeras suara. Dia lalu resah dan  hampir putus asa. Barangkali Ipul memang terlalu bodoh, berulang kali namanya sendiri dia baca pagi itu.



fiksi.
Jogja, 2016

05 October 2015

Menyoal Blusukan Virtual


Aroma e-government rasanya makin menyengat di ujung hidung publik. Belum rampung dengan urusan e-KTP yang berlubang sana sini, wacana pelayanan publik kembali dihangatkan dengan rentetan e- yang lain.

10 September 2015

titik dua petik tunggal kurung tutup adalah selamat tinggal

Tante pegawai punya media sosial. Dia pakai akun itu untuk buku harian dan album fotonya. Setiap hari dia cerita kalau dia sedang bahagia, kecewa, hingga marah. Dia juga cerita soal pacar, mantan(nya) pacar, teman kantor, hingga orang rumah. Pernah dia cerita kalau habis gajian, katanya bikin semangat kerja. Pernah juga dia unggah capture-an obrolan di grup karena dia habis menyapa anggota grup satu-per-satu.

03 April 2015

Moral digital

Ilustrasi tidak berhubungan dengan judul.
Diambil dari wartabuana.com
Suatu ketika mantan Menkominfo Tifatul Sembiring pernah “dihabisi” oleh netizen karena bertanya lewat akun Twitternya, “Memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?” Barangkali nikah siri online yang sedang marak diberitakan ini adalah jawaban dari segelintir masyarakat yang ditanyai.

30 March 2015

Balada Aktivis Duduk Manis

Gambar diambil dari intisari-online.com

Jumlah tandatangan petisi online di situs Change.org melejit pesat. Fenomena ini terjadi di tengah jagat politik yang kian kisruh dan warga yang makin melek internet. Teknologi ini membuka ruang partisipasi warga lebih luas. Bermodal perangkat komunikasi dan jaringan internet di tangan, mereka bisa terlibat secara politis dan menyebut diri mereka: aktivis.

17 December 2012

28 October 2012

Cita-Cita Persaudaraan


Aku ingin mereka memahami kebermaknaan hidup kaum kami, berbuat yang wajar dan tidak mencemooh kami. Tapi nyatanya, masih saja sulit. Aku bingung saja sekarang ini, tapi pantang buatku untuk mundur.
(Herlinatiens, 2003:29)

Kutipan cerita dari novel berjudul “Garis Tepi Seorang Lesbian” ini sedikit mewakili perasaan dan harapan dari seorang lesbian. Mereka merasa tidak dianggap mempunyai hidup yang bermakna oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka merasa mendapat perlakuan yang tidak wajar dan menerima banyak cemoohan yang membuat suasana menjadi tidak nyaman, setidaknya bagi kaum mereka. Lesbian dan gay, mereka yang disebut kaum homoseksual, memang terkadang mendapat perlakuan yang berbeda dari masyarakat hanya karena perbedaan yang ada dalam diri mereka.

Alternatif

Barangkali memang setiap negara tidak bisa tidak melakukan hubungan-hubungan dengan negara lain. Setiap hubungan yang dijalin bisa saja memiliki motif yang berbeda satu dengan yang lainnya, begitu juga dengan perbedaan yang terjadi pada efek dari hubungan-hubungan tersebut. Harapan utama yang tentu diinginkan setiap hubungan adalah datangnya keuntungan dari kedua belah pihak, maka menjadi menarik ketika terjadi hubungan yang tidak seimbang, hanya menguntungkan satu pihak, dan kemudian disebut dengan istilah kolonialisme.

Kumis Kamso

"Saudara saya tentara semua, saya dulu kepingin tapi tidak ada biaya. Tapi kerja begini juga melebihi tentara, 24 jam saya diminta tolong saya siap komandan!” ujar Kamso menirukan gaya hormat ala militer sambil tertawa.

                                                   A. R. Sanjaya

Pak Kamso, begitu warga sekitar Desa Kwarasan mengenali dan menyebut laki-laki yang sudah cukup umur ini. Sosoknya mudah dikenali di antara warga sekitar Desa Kwarasan, kawasan yang terletak di sekitar Jalan Godean km. 4,5 Yogyakarta. Tingginya sekitar 160 sentimeter, berkumis hitam lebat namun tertata rapi, dan yang mudah untuk dikenali adalah pakaian sehari-hari yang ia kenakan: doreng, alias seragam militer TNI Angkatan Darat.

Uang Seribu

“Saya ini orangnya jujur mas. Maka sejak awal udah tak kasih tahu, kalau nanti saya jawabnya bisa gak jujur,” katanya sembari tertawa. 

                                                    A. R. Sanjaya

Sore itu adalah sore yang biasa di Malioboro. Tidak ada event-event budaya dan politik seperti yang selama ini diadakan di ruas jalan satu arah itu. Jalanan ramai, seakan tidak ada waktu satu detikpun untuk tidak mendengar suara mesin. Kebetulan saya berjalan-jalan dan tertarik untuk mengobrol dengan seseorang.

06 January 2012

Posisi Tiga


Kami baru bisa juara III.
Proficiat untuk teman-teman terkasih..!
Apapun hasilnya, harus tetap bersyukur dan berusaha.

22 September 2011

Belajar?

Malam minggu kala itu kosong. Kekasih di kota asalnya. Saya dan Sidhi iseng membuat ini. Entah apa namanya. Mungkin akan saya sebut #1 saja.

28 December 2010

Generasi Muda di Radio Komunitas

Anak muda memang bagian dari struktur masyarakat yang penuh dengan kontroversi. Banyak dari kalangan masyarakat yang memandang bahwa kaum muda saat ini hanya bisa menikmati hasil perjuangan orang-orang terdahulu. Namun beberapa informasi di bawah mengindikasikan hal yang berbeda. Banyak anak muda di Yogyakarta yang mau berjuang demi sesuatu, contohnya adalah anak muda yang berada di balik nama radio komunitas.

______________________________________________________________

Yogyakarta, yang dikenal dengan sebutan kota pelajar dengan banyaknya perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, sarat dengan anak muda yang mempunyai semangat untuk memperjuangkan sesuatu yang mereka anggap baik. Perjuangan mereka diwujudkan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah melalui radio-radio komunitas.

Secara umum, radio komunitas mempunyai konsep awal untuk menjembatani orang-orang yang berada pada komunitas tertentu. Komunitas yang biasanya berisi para kaum muda ini  membutuhkan suatu “wadah” yang memungkinkan mereka untuk berbagi informasi sekaligus mencari hiburan di dalam komunitas itu sendiri.

 Ketika ditilik menggunakan teori-teori kritis, bisa jadi radio komunitas merupakan salah satu wujud perlawanan. Hal yang dilawan adalah bombardir informasi dari radio-radio mainstream yang seringkali memberikan informasi yang tidak semua relevan bagi suatu komunitas. Perlawanan tidak selalu bersifat frontal, namun bisa juga dengan menciptakan alternatif baru.

Pendewaan Scopus dan Standardisasi Kebanggan

Ada seorang akademisi menulis di Thread:  "Akademisi kita begitu mendewakan Scopus tapi anehnya, jarang tulisan hasil risetnya dikutip ...