Showing posts with label Everyday Life. Show all posts
Showing posts with label Everyday Life. Show all posts

30 June 2026

Fungsi atau Entah Apa Namanya

Dulu saya sempat berpikir segalanya tentang fungsi—atau entah harus apa menyebutnya. Banyak pencapaian akan saya pertanyakan "ke mana itu akan membawamu?" alih-alih berhenti dan mengapresiasi. Jangan salah, ini bukan hanya pencapaian orang lain, tapi juga pencapaian saya sendiri.

05 May 2026

Keterlibatan Militer dan Keresahan

Gambar dibuat dengan bantuan Gemini

 Catatan awal tulisan:

  • Catatan ini bukan tulisan analitis, melainkan sekadar keresahan yang terungkap.
  • Penulis bukan penerima beasiswa LPDP.

Belakangan beredar berita akan ada pelibatan TNI dalam pembekalan wajib bagi penerima beasiswa LPDP. Hal pertama yang muncul dalam benak adalah “ngapain lagi sih?”

Lalu disusul dengan pikiran-pikiran lain yang muaranya adalah pendapat kalau kebijakan ini tidak masuk akal, paling tidak di akalku.

Sebagaimana ditulis Tempo (3/5), para penerima beasiswa LPDP ini akan menerima pembelajaran baris berbaris, kedisiplinan, dan penguatan karakter. Jadi teringat masa-masa sekolah bukan? Yang ternyata kaya dengan militeristik.

01 May 2026

Matikan, Lalu Nyalakan Lagi. Namun Ini Bukan Tentang Alat Elektronik.

Suatu sore, tiba-tiba televisi pintar yang ada di rumah sewa ini tidak bisa terhubung ke jaringan internet. Ini masalah di televisi atau di jaringan internet? 

28 March 2026

Musuh yang Sudah Pulang ke Barak

Gambar Diproduksi dengan Bantuan Gemini AI

Penulis buku “Antara Kabut dan Tanah Basah” menceritakan ada dua musuh jiwa, yaitu kebosanan dan kesombongan. Bertahun-tahun saya mengamini cerita ini. Namun beberapa bulan terakhir ini keyakinan saya berubah. Kebosanan barangkali masih jadi musuh jiwa, tetapi kesombongan rasanya sudah sangat menjauh. 
Musuh yang sekarang nyata dihadapi justru rendah diri. Begini ceritanya.

08 August 2025

Sepertinya, Kita Tidak Berdiri di Bawah Langit yang Sama

"Baru pertama kali saya lihat langsung langit yang bersih, lalu bintang-bintangnya kelihatan. Indah banget," katanya. Saat bercerita, matanya berkaca-kaca menerawang momen itu. Seakan itu salah satu pengalaman paling berharga pada masa-masa awal kedatangannya ke Australia.

Lelaki pekerja keras ini mulai dimakan usia. Tubuhnya sudah agak bungkuk. Rambut putih juga mulai mengusir kegelapan di kepala. Namun geraknya masih lincah dan tampak kedua kakinya masih kokoh dipakai berjalan jauh. Sejauh perjalanannya dari Jakarta hingga kini menjadi warga negara Australia.

03 February 2024

D'Bodats

Saya tergabung di sebuah grup WhatsApp favorit saya yang bernama persis seperti di judul. Sudah dapat diduga, nama grup ini terinspirasi dari kata “bodat” yang dalam bahasa Batak berarti monyet. “Bodat” ini konon sering dipakai untuk mengumpat atau memaki orang lain. 

01 February 2024

Bocah Wingi Sore

Perihal meremehkan orang muda tampaknya jadi gejala umum. Bukan, ini bukan tentang Pilpres yang bising itu. Ini tentang refleksi saya menjadi bagian dari kelompok ‘muda’ di dalam organisasi yang dipimpin "golongan senior." 

19 March 2023

Pulang ke 2 senti

Punya rambut gondrong? Tak pernah sedikitpun terpikir oleh saya, sampai tiba-tiba pandemi melanda seluruh dunia. Biasanya saya punya rambut 2 cm saja. Panjang sedikit, potong. Namun pada momen pandemi itu saya biarkan saja rambut tumbuh, tanpa benar-benar bermaksud mau gondrong. Hal yang tak saya duga, punya rambut gondrong ternyata menghadirkan pengalaman sosial yang menarik. Bagaimana ceritanya?

18 February 2023

ChatGPT dan Saat yang Tepat untuk Berhenti

Beberapa pekan terakhir Kompas merilis hasil investigasi mereka tentang praktik kotor di perguruan tinggi. Mereka membongkar berbagai modus kecurangan yang dilakukan para akademisi, khususnya penggunaan joki untuk menulis karya ilmiah. Persoalan ini kronis. Sebagian besar kemudian menyalahkan sistem yang memang mengunggulkan formalitas di atas segala-galanya.

20 November 2022

Di Semarang Saya Punya Ibu, Budhe, Mak’e, dan Nama-Nama Lain yang Tak Pernah Terbayangkan Sebelumnya

Salah satu pengalaman aneh sekaligus menyenangkan ketika berada di tempat baru adalah memberi nama. Memberi nama tempat, penjual, dan apa-apa yang perlu.

Anda pernah melakukannya juga, kan? Cobalah diingat-ingat. Kalau belum, cobalah. Ini hal yang tak penting tapi penting sih. Heheh.

24 August 2021

Obrolan Ringan bareng Pak Manyung

Jarum jam menunjuk angka 9 malam. Seharusnya saya beristirahat, tetapi perut ini berteriak-teriak. Maka meluncurlah saya ke sebuah warung tenda pinggir jalan di Gedawang. Warung itu tak bernama. Penjualnya sih sudah pasti punya nama, tapi saya terlalu malas untuk bertanya. Jadi, istri dan saya beri nama sendiri saja: Pak Manyung.

Mengapa kasih nama itu? Begini ceritanya. 

15 August 2021

Keberanian Menghadapi Ketidakpastian

Dalam sebuah diskusi di kelas saya bertanya kepada mahasiswa mengenai minat mereka jadi jurnalis. Dari sedikit yang menjawab itu ada satu jawaban yang memprihatinkan: “Awalnya iya, Pak. Tapi setelah pandemi ini saya malas untuk punya cita-cita.”

09 February 2020

Kerja Bakti: Bukan Kewajiban, tapi Diminati?


Sumber: www.semarangkota.go.id

Tujuan dari kerja bakti itu baik. Selain membuat lingkungan bersih dan nyaman, interaksi antarwarga juga terjadi sehingga lebih guyub. Bahkan ada juga yang mengatakan kerja bakti adalah tempat praktik nilai-nilai Pancasila. Namun saya meyakini satu hal: tidak setiap warga itu menikmati kerja bakti. Sama dengan pendapatmu?

22 July 2019

Perihal Menilai



Saya sering dengar kata-kata macam “Sebaiknya kenali dulu luar dan dalam, baru bisa menilai. Jangan baru kenal atau baru lihat sudah buru-buru menilai.”

23 June 2019

Menolak (Istilah) Penggusuran adalah Juga Melawan


“Saya menolak itu kata penggusuran. Kata yang benar itu pembongkaran, karena mereka memang seharusnya pindah!” ujarnya sangat tegas.

Bau amis menari-nari di lubang hidung ketika sepeda motor kami memasuki perkampungan nelayan di bagian utara Kota Semarang (21/06/19). Kami melintas di depan Rumah Apung, yang didirikan (atau lebih tepatnya diapungkan) di wilayah yang sering terkena banjir air rob.

04 June 2019

Kepunahan Manusia dan Kepulihan Bumi

Sumber: colourbox.com
 “Kapan manusia akan punah? Bagaimana caranya?”
“Kapan bumi akan musnah? Ataukah bumi akan pulih?”

04 May 2019

Lingkaran Setan Media Sosial


Tampaknya anggapan bahwa media sosial itu beracun ada benarnya. Maka tak heran banyak orang mengkampanyekan detoks digital, yang salah satunya adalah log out sejenak dari akun-akun media sosial. Atau lebih dari itu, menghapus akun media sosial, meng-uninstall aplikasi tersebut dari telepon genggam, lalu hidup tanpa media sosial.

16 January 2019

Seminggu di Paropo


Akhir tahun 2018 kemarin saya ‘pulang kampung’ ke tanah Batak; tanah kelahiran bapak mertua. Makan daging anjing dengan sayur kol? Tidak. Saya pilih minum tuak dengan buah duren. Ditemani asap tembakau dari berbagai rokok merek pabrikan yang dihisap bapak-bapak di kedai. Semua itu saya santap sambil menikmati nada bicara dari penduduk Desa Paropo, dekat Danau Toba. Bagi saya yang tak paham bahasa Batak, suara yang muncul dari mulut mereka tak ubahnya lagu.
Saya sering dengar orang Batak bilang kalau suara macam Judika itu sebenarnya banyak dimiliki oleh orang-orang Batak. Terutama mereka yang sering nongkrong di kedai-kedai di desa. Biasanya para laki-laki nongkrong di kedai sambil minum tuak, lalu pegang gitar untuk nyanyi bersama. Lihat saja di Youtube; persis seperti itu. Ajaibnya, suara mereka seperti otomatis terbagi jadi tiga – padahal tanpa latihan.
Sependek yang saya lihat dalam beberapa hari, jumlah kedai di Desa Paropo ini terhitung banyak. Dapat dikatakan, setiap selisih 5-10 rumah pasti ada kedai. Selain rokok dan kopi (tentu saja!), yang dijual di kedai itu ada teh, mie instan, dan tuak. Saya tak tahu apakah setiap kedai menjual tuak atau tidak.
“Di Jawa ada tuak juga?”
“Ada, tulang.”
“Tapi pasti beda rasanya. Enggak seasli yang di sini.”
Mereka tampaknya bangga betul dengan rasa tuak yang ada di Paropo. Saya perlu jujur. Saya tak tahu perbedaan rasa tuak khas Batak yang di Jogja dan Jakarta, dengan rasa tuak di Paropo. Bagi saya rasanya sama saja (ya seperti itu rasa tuak! mau gimana lagi rasanya? hehehe). Sekalipun saya tahu beda rasanya, sudah pasti saya tak tahu mana yang lebih ‘asli’ atau - katakanlah - lebih berkualitas.
Soal tuak ini, ternyata saya salah kira. Saya kira tuak ini diminum di pesta-pesta layaknya anggur (wine) ataupun bir. Saya bayangkan tuak ini dibagikan kepada tamu secara gratis lalu dinikmati sambil menari mengikuti lagu yang dinyanyikan kelompok musik. Kemarin saya datang ke pesta pernikahan saudara sepupu istri, dan tidak menemukan yang saya bayangkan tersebut. Atau saya saja yang memang tak melihat? Entahlah.
Pesta pernikahan di budaya Batak itu jelas berbeda dengan Jawa. Tentu tak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Setiap budaya menganut nilai yang berbeda. Soal baik atau buruk diukur dari nilai (yang entah diciptakan oleh siapa) tersebut. Beberapa kali saya mengikuti upacara adat pernikahan Jawa, dan baru satu kali ikut upacara adat pernikahan Batak, rasanya sama-sama melelahkan. Hanya saja, kalau dibandingkan, pernikahan sepupu ini lebih melelahkan daripada pernikahan saya.
(Catatan: tentu saja sebenarnya saya tak dapat membandingkan, karena memang tidaklah sebanding. pernikahan saya bukan pernikahan Jawa yang sesuai pakem melainkan yang ‘modern’ dan penuh modifikasi sana-sini. sementara rasanya pernikahan sepupu ini masih sesuai dengan pakem-pakem yang berlaku di tanah Batak)
Pesta pernikahan saya beberapa bulan lalu hanya 2 jam saja di gedung. Sementara yang di Paropo ini, jam 9 mulai di gereja lalu acara baru selesai sekitar pukul 20. Berarti setidaknya mempelai wanita harus pakai kebaya dari pagi sampai malam. Dengar-dengar, setelah pesta masih ada acara di rumah mempelai laki-laki sampai sekitar pukul setengah 12 malam.
Mungkin sebenarnya pernikahan dalam budaya Jawa juga sama melelahkannya. Hanya saja waktu itu saya memilih untuk melewatkan banyak upacara adat Jawa dan lebih fokus pada acara gereja saja. Pertanyaannya, bisakah orang Batak memilih untuk tidak menggunakan adat Batak?
“Itu, bang, masalahnya. Adat-adat ini pantang ditinggal,” kata seorang sepupu. Apalagi, tambahnya, kalau yang menikah adalah sama-sama orang Batak. Maka tak heran (tapi saya tak yakin mereka ini serius hehehe) ada beberapa sepupu yang minta dicarikan perempuan “boru Jawa” yang mau menikah sama mereka.
“Mana mau mereka sama kamu!” kata istri saya menimpali permintaan abal-abal ini.
Banyak orang berpendapat orang Batak itu galak dan keras ketika berbicara. Beberapa kali mereka sendiri bilang begitu ke saya. Barangkali kalau saya baru pertama kali bertemu orang Batak, saya pasti terkaget-kaget di Paropo. Nada bicara orang Batak itu memang seperti membentak, padahal ibu di tempat saya menginap (saya tak tahu harus panggil beliau namboru atau inang uda) itu penuh kehangatan.
Kalau kami lagi tidur-tidur dia sering bilang “Tidur kalian! Tidur!” dengan nada yang asik. Atau kalau beliau lagi melihat kami duduk-duduk, langsung teriak “Udah makan kalian? Makan kalian!”
Soal makanan, hampir setiap hari saya makan babi. Saya hanya bertanya-tanya dalam hati, “Ini karena sedang ada pesta dan banyak keluarga sedang pulang, atau sehari-harinya memang sering makan daging babi?” Saya bayangkan setiap hari makan ikan, karena letak Desa Paropo ini memang di tepi Danau Toba. Rupanya saya hanya makan ikan beberapa kali saja.
Satu makanan yang baru pertama saya makan ketika di sana: mie gomak. Bentuk mie ini seperti spaghetti. Mereka berkelakar, “Ini spaghetti ala Batak.” Rasanya? Luar biasa nikmat. Setiap kali tuan rumah menyajikan masakan ini, saya pasti langsung makan tiga piring mie gomak. Karena saking penasarannya, saya ikut ke dapur untuk bantu-bantu supaya tahu bagaimana masakan ini dibuat. Siapa tahu kami bisa masak menu ini di Semarang.
Kenapa disebut ‘gomak’? Menantu dari tuan rumah, dia pandai memasak dan sangat cekatan, mengatakan sambil memperagakan mengambil mie menggunakan tangan yang dilapisi plastik,”Karena ngambilnya gini. Ini gomak. Kalau ngambilnya pakai garpu atau sendok nanti tumpah.” Waktu itu saya manggut-manggut sambil menirukan. Mengisi piring ketiga saya hahahaha
Soal masakan, saya sama sekali tak ada masalah dan sangat menikmati. Soal minuman? Rupanya saya tidak hobi-hobi amat minum minuman beralkohol: bir, tuak, (kalau di Semarang) congyang, dan kawan-kawannya. Minum hanya untuk pergaulan saja, sambil nongkrong.
Ada satu minuman yang hanya saya cicipi seteguk saja di sana, tepat di pinggir Danau Toba setelah senja, yaitu TST. Teh Susu Telur. Seingat saya minuman ini cenderung kental, mungkin karena kuning telurnya ini. Rasanya khas sekali. Waktu itu saya tak bisa mengidentifikasi, apakah minuman ini memang senikmat itu? Atau karena suasana tepi Danau Toba setelah senja yang dingin dan gelap itu yang bikin nikmat.
Yang jelas, sore ini tiba-tiba saya ingin TST. Karena saya tak tahu di mana cari TST di Semarang, saya jadinya menulis cerita ini saja. Glek.

16.01.2019
Semarang

10 April 2018

Untung Pakai BPJS Kesehatan (Bagian 1)


via sportsmd.com
Saya Ryan Sanjaya, warga negara yang biasa-biasa saja. Sebagai warga negara yang biasa, saya turut sok-sokan memberi komentar-komentar di medsos kalau ada kebijakan pemerintah yang menurut saya merugikan. Nah, supaya adil dan seimbang, kali ini saya akan membagikan cerita “kepuasan” saya sebagai warga negara, yaitu menjadi peserta BPJS Kesehatan (selanjutnya saya sebut BPJS saja).

22 November 2017

Kejenakaan Kerja di Jalur 2 Kilometer

via www.kompas.com

Beberapa bulan ini ban sepeda motor menggelinding ke rutinitas jalur yang berbeda. Bukan lagi Jalan Godean hingga Babarsari. Ataupun Jalan Godean hingga Bulaksumur. Tetapi Jatingaleh hingga Pawiyatan Luhur. Jarak tempuhnya hanya sekitar 2 kilometer.

Pendewaan Scopus dan Standardisasi Kebanggan

Ada seorang akademisi menulis di Thread:  "Akademisi kita begitu mendewakan Scopus tapi anehnya, jarang tulisan hasil risetnya dikutip ...