Showing posts with label Religion. Show all posts
Showing posts with label Religion. Show all posts

14 June 2026

Mengenai Cuma-Cuma


Suatu ketika Yesus memanggil para murid, lalu memberi kuasa kepada mereka untuk melakukan beberapa hal, termasuk mengusir roh-roh jahat. Setelah itu, mereka mengutus mereka "Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan" (lihat Matius 10:8). Menariknya, ayat itu tidak  berhenti di sini. Ayat ini berlanjut dengan satu kalimat yang menantang benak "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma."

27 July 2025

Sowan Dewi Mariyah di Meanjin

Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba foto patung Bunda Maria di sebuah tempat ziarah melintas begitu saja. Dari layar kecil di genggaman, Dia seakan memanggil-manggil. Lalu lahirlah semacam kegelisahan dan kerinduan yang sulit dijelaskan. Tak butuh waktu lama, kami sekeluarga merencanakan pergi sowan Dewi Mariyah di suatu tempat bernama Marian Valley.

Perkenalkan, saya Ryan. Saya suami dari seorang istri yang luar biasa. Kami dianugerahi dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Saat ini hingga beberapa tahun ke depan saya menjalani peziarahan keilmuan di pesisir timur Australia, tepatnya di Brisbane.

09 December 2019

Sambat kepada Yesus: Saya Meragukan Angka


Sumber: amazon.com
Yesus telah mati ribuan tahun lalu. Namun ajarannya masih hidup dan dihidupi manusia sampai saat ini. Mereka bercita-cita mengikuti Yesus, menjadi murid Yesus, meneladan Yesus. Untuk yang terakhir ini, mungkinkah mereka betul-betul mampu meneladani Yesus?

06 June 2019

Setelah Mati, Lalu Apa?



Apa yang akan kita alami setelah kita mati? Tubuh kita pasti membusuk—kecuali satu dan lain hal (misalnya tubuh kita diawetkan / terawetkan secara alami). Namun apa yang terjadi pada kesadaran kita? Roh, jiwa, atau apapun itu namanya, ke mana mereka akan pergi?

01 January 2017

Kuikhlaskan Dirimu Berlalu

“Tuhanmu tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti..”

Begitu lirik lagu rohani yang pertama kali saya dengar kala seusia SMP. Berbelas-belas tahun kemudian, lagu tersebut masih sering saya dengar di perayaan-perayaan ekaristi.

Sekilas, lirik tersebut menenangkan. Tuhan, yang adalah tempat meminta, dan dengan demikian juga sumber pemberian, tidak akan salah memberi.

Kalaupun terasa salah, tentu itu bukan kesalahan Tuhan, tetapi kitanya yang perlu memaknai ulang pemberian tersebut.

Sampai-sampai, hidup ini seakan jeda singkat yang diisi dengan jutaan pemaknaan ulang yang dijejalkan dalam 24 jam sehari tujuh hari seminggu.

Namun berdasarkan hari-hari yang saya rasakan, lirik itu tak berarti Tuhan akan memberikan roti pada mereka yang minta roti. Tentu saja, ini perumpamaan.

Pada saya yang minta roti, Tuhan memberi saya nasi, sayuran pecel, dan tempe bacem yang manis. Pecel itu lengkap dengan tauge yang tinggi protein dan daun pepaya  yang pahit, tak lupa berliter-liter teh manis hangat digelontorkan—minta untuk disruput pelan.

Lagi-lagi, ini adalah perumpamaan.

Tahun 2016 yang baru saja berlalu adalah tahun ketika saya menggenapi dan mengalami perumpamaan-perumpamaan tersebut. Dia tak selalu memberi apa yang saya minta, tetapi kalau sudah memberi, waduh, nyaris tenggelam saya dalam kebahagiaan.

Bagaimana tidak. Ibu dinyatakan sembuh dari sakit kanker. Saya selesai sekolah. Doktor melekat di depan nama bapak. Serta cinta yang tumbuh dari persahabatan kawan masa sekolah di Muntilan sejak sepuluh tahun lalu.

Untuk 2016. Atas kejutan-kejutan yang menyegarkan, terima kasih. Atas tantangan-tantangan yang bikin keringat dingin, terima kasih. Atas cinta dan pengalaman berharga yang kubawa sampai nanti, terima kasih.

Kuikhlaskan dirimu berlalu, 2016.


akhir tahun di kota asal,
di antara parangtritis dan kembang api


28 December 2016

Pilihan adalah Ilusi

cinta dan benci
kita berjalan di satu kutub ke kutub lain
pada jalan cinta kita bawa benci
pada jalan benci kita bawa cinta

kala tidak jalan, kita tak bawa apa.apa dan sudah itu mati

tak selalu kita bisa pilih mereka,
angkut semuanya !


02 December 2016

Hati Orang, Siapa yang Tahu?

via republika.co.id
Hanya mau mencatat saja kalau hari ini (2/12) ada aksi super damai di kawasan Monas, Jakarta. Bentuk aksi tersebut adalah salat Jumat bersama. Dari sejumlah informasi yang beredar di lewat online (awas HOAX!) jumlah peserta bisa mencapai 2 hingga 3 juta orang.

Jelas, ini peristiwa luar biasa. Hampir semua media meliput, termasuk media-media internasional. Beberapa kedutaan juga bereaksi dengan meningkatkan keamanan.

Bagaimanapun, sebagai pemuda pengangguran di sebuah kota kecil, saya merasa perlu untuk mencatat beberapa hal.

Istilah Aksi

Ketua GNPF MUI Habib Rizieq dalam siaran pers Jumat (25/11) lalu mengatakan bahwa ini adalah aksi super damai. Beberapa media turut menyebut aksi ini juga dengan istilah “aksi super damai,” ada juga yang menyebutnya “aksi damai” saja.

Presiden Jokowi menyebutnya berbeda. "Kan gak ada demo, siapa bilang akan ada demo. Yang ada doa bersama, bukan demo ya," tegasnya di depan para awak media.

Setahu saya, hanya Kompas TV yang turut menyebut aksi 212 ini (istilah apa lagi ini) dengan “doa bersama.” Barangkali ada media lain yang menyebut serupa, mohon dikoreksi.

Ada yang bilang aksi Bela Islam III. Aksi 212. Tampaknya kalau ini mau dijadikan sejarah, memang perlu ada penyeragaman ya. Atau nggak perlu? Kayaknya generasi ini udah jengah sih dengan penyeragaman, tapi enggak tahan juga dengan keberagaman. Ah sudahlah.

Salkus

Seperti biasa, selalu ada yang bikin salkus alias salah fokus. Pertama, tentu saja, payung biru yang digunakan Jokowi dan rombongannya untuk melindungi diri dari rintik hujan yang menemani untaian doa.

Oh ya, dengar-dengar sudah ada open order. Payung warna biru di luar, abu-abu di dalam. Serius? Setelah jaket bomber? Yeah, ini serius.

Kedua, bapak polisi ganteng yang bagi-bagi air mineral. Dilihat-lihat emang ganteng sih, beliau putih dan bersih gitu. Namun saya belum tertarik, sejauh ini saya masih terangsang kalau lihat perempuan saja.

Ketiga, keempat, kelima, keenam, silakan tambahi sendiri.

Kalau ada salah fokus, lantas fokusnya apa? Sekadar mengingatkan saja, Habib Rizieq menuturkan, "Target kami adalah tetap saudara Basuki Tjahaja Purnama ditahan."

Dengan cara gelar sajadah, salat Jumat bersama, berdoa dan menyebut kebesaran nama Sang Pencipta, dengan tujuan hukum yang spesifik: Ahok ditahan.

Tentu saja, aksi super damai ini tak hanya berisi doa bersama seperti yang dibilang Presiden Jokowi. Bagaimanapun, ini adalah bagian dari unjuk rasa, lengkap dengan yel-yelnya: “Tangkap tangkap tangkap si Ahok. Tangkap si Ahok sekarang juga!”

Tangkap.. hap! Oh. Bukan.. itu bang Ipul.

Pidato Kapolri

Nah, ini yang menarik. Media banyak mengabarkan soal pidato Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang diinterupsi. Namun bagi saya, dan tentu buanyak orang lain, ada yang lebih menarik: cara bapak ini menyinggung KPK.

Beliau mengatakan dalam pidatonya, “Apa yang kami lakukan sudah cukup maksimal. Kenapa? Karena bayangkan, beberapa kali juga [Ahok] diperiksa KPK tidak bisa jadi tersangka. Tapi, setelah ditangani oleh Polri, bisa menjadi tersangka."

Tentu Anda bisa menebak kata-kata apa yang dipekikkan bersama-sama dengan lantang oleh para peserta. Saya nggak mau nyebut. Saya Katolik. Berrisiko dibui, bung, saya belum kawin pula.

Em.. entah apa yang ada di pikiran bapak ini. Belakangan beliau dipuji dan diapresiasi karena berhasil mencapai kesepakatan yang sangat baik dengan GNPF MUI. Namun saya pantau di media sosial, banyak pihak kecewa dengan pernyataan yang satu ini. Seakan gendang perang dengan KPK ditabuh kembali.... kan ngeri.

Kebersamaan

Ini yang luar biasa. Banyak masyarakat turun tangan menyumbang apapun yang mereka bisa. Mulai dari memasak, membagikan bekal nasi atau roti kepada para peserta. Tak lupa konsumsi air putih yang tentu saja sangat dibutuhkan. Bahkan panitia aksi juga menyediakan colokan listrik bagi peserta yang butuh mengisi ulang daya baterai ponselnya. Sumber listriknya? Sumbangan pribadi. Keren kan?

Terus juga ada cerita para santri yang berjalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta. Mereka berjalan bersama rombongan dan dikawal patroli macam-macam. Ini tidak main-main, bung. Berdasarkan pencarian di Google Maps (lihat gambar di bawah), jarak tempuh mereka bisa mencapai 270 kilometer.




Ada juga momen kebersamaan (dan tanggung jawab) yang tak kalah keren, yaitu bersih-bersih sampah. Baik di jalur pendakian maupun di jalanan metropolitan, hukumnya selalu sama: di mana ada manusia, di situ ada sampah. Ya, kadang ini agak lebay. Tapi memang betul ‘kan? Buktinya ada banyak sampah yang dipunguti bersama-sama. Ini contoh yang baik dalam unjuk rasa. Serius. Komitmen ini patut sekali dicontoh.

Jelas, kebersamaan muncul dan terlihat. Apapun konteks dan tujuannya, apapun cara dan modus-modusnya, nyatanya kebersamaan itu terlihat. Aksi ini nyatanya mengundang banyak pihak untuk turut terlibat. Bukan hanya di Jakarta, aksi serupa dikabarkan juga ada di daerah lain, bahkan di luar negeri.

Bagaimanapun, tetap ada sekelompok orang yang resisten. Mereka tak terpengaruh. Kendati biasa ikut unjuk rasa, mereka tetap fokus pada perjuangan mereka. Siapakah? Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (KSPN) salah satunya.

Organisasi ini fokus pada isu buruh, yaitu pengupahan. Dalam setiap aksinya, isu tersebut selalu menjadi agenda tuntutan kepada pemerintah. Isu politik, eh, agama seperti ini, menurut mereka, tidak terkait dengan tuntutan yang mereka perjuangkan.

“Kami memandang aksi 2 Desember sudah bergeser ke isu politik dan soal ras, di mana banyak pihak yang terindikasi sudah sengaja ‘menggoreng’ isu aksi tersebut untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya,” tutur Ketua KSPN Rustadi sebagaimana dikutip wartawan Tempo.

Barangkali ini memang kuncinya: memandang.

KSPN memandang isu penistaan ini bergeser ke isu politik dan soal ras. Kelompok lain melihat ini murni isu politik yang diserang menggunakan isu agama dan ras.

Sedangkan kelompok lainnya lagi, saya sendiri tak pernah tahu seberapa banyak, memandang ini murni isu penistaan agama. Nggak ada lah itu kaitan dengan politik dan ketakutan terhadap dominasi ras tertentu.

Soal kelompok yang terakhir, rasanya ini yang paling banyak. Setidaknya, banyak sekali nih di teman-teman di media sosial bilang “tergetar hatiku” atau “merinding” melihat jemaat salat Jumat bersama dalam jumlah yang sebanyak itu. Diguyur hujan pula.

Singkatnya, para peserta aksi Bela Islam III itu berangkat dari panasnya penistaan agama. Disejukkan oleh kebersamaan dan untaian doa. Lantas dibakar kebencian lewat kata-kata “Tangkap Ahok!”

Tentu orang boleh memandang dan berkata macam-macam soal aksi ini. Tapi, hati orang, siapa yang tahu? (*)


Desember di Jogja,
sembari menanti Natal

18 October 2016

Realitas Masyarakat Religius: Saat Ini

via funnyjunk.com

“Saat Ini” adalah keterangan waktu yang perlu saya garis bawahi. Kendati kita tak bisa dengan jelas membatasi keterangan tersebut, ijinkan saya memberi batasan: saat ini adalah beberapa tahun belakangan—sejauh saya punya energi untuk mencarinya di media-media online. Tetap tidak jelas bukan? Semoga tetap tidak jelas, supaya Anda sendiri bisa menambahi data yang saya kumpulkan.

Selama ini tulisan-tulisan saya tentang agama adalah mengenai refleksi saya atas ajaran-ajaran agama yang pernah saya tahu. Kali ini berbeda, saya menulis tentang bagaimana belakangan ini media sedang menampilkan wajah spiritual di masyarakat Indonesia. Sayangnya, wajah itu kusam dan bermuka dua: penuh kepentingan lain—terutama soal uang dan kekuasaan.

Saya mengawalinya dari cerita-cerita yang dibangun oleh seorang tokoh pemimpin spiritual yang memiliki pengikut yang tidak hanya berjumlah besar, tetapi juga loyal. Baiknya kita mulai dari:

Eyang Subur || Nama pria kelahiran Jombang, 12 Desember 1946 ini sempat melejit lantaran pemberitaan terus menerus oleh media. Dia dikenal sebagai “guru spiritual” bagi beberapa artis (Adi Bing Slamet, Nurbuat, Rohana, Unang, Tessy, dan banyak lainnya) supaya rejeki mereka dilancarkan. Nah, nama pria satu ini mulai ramai di infotainment tatkala Adi Bing Slamet bercuap-cuap di media, mengatakan bahwa Eyang Subur menyebarkan ajaran sesat. Bumbu-bumbu drama ditabur sana sini, termasuk Arya Wiguna yang sempat kondang dengan “Demi Tuhan”nya. Pada intinya, Eyang Subur populer di media karena dituduh melakukan penistaan agama.

Setahu saya, cerita Eyang Subur ini salah satunya menarik karena dia memiliki banyak istri; dan itu melanggar aturan agama. Seberapa banyak? Tidak tahu pastinya, tetapi berdasarkan laporan Tempo.co pada tahun 2013 Eyang Subur masih mencari istri yang kesembilan. Bagaimana dia bisa beristri banyak dengan kondisi fisik yang tak lagi muda? Tak sedikit yang menduga, harta adalah jawabnya. Liputan6.com melaporkan salah satu kekayaan Eyang Subur tampak dari rumah mewah yang kalau ditaksir harganya bisa mencapai 20 miliar rupiah. Pertanyaannya, dari mana Eyang Subur mendapatkan harga sebanyak itu? Tidak ada yang tahu persis, bahkan keluarganya sendiri pun  mengaku tidak tahu. 

Gatot Brajamusti || Dari Eyang Subur, saya ajak Anda melompat ke tahun 2016. Satu hal yang bikin saya agak terkejut adalah nama lengkap dari pria ini, yaitu Fransiskus Paulus Gatot Brajamusti. Saya tidak asing dengan kata Fransiskus dan Paulus, yang kerap kali disebut dalam perayaan ekaristi di Gereja Katolik setiap harinya. Pria kelahiran tahun 1962 ini bukan akhir-akhir ini saja terkenal. Tahun 2005 namanya diperbincangkan infotainment setelah penyanyi Reza Artamevia tiba-tiba hilang dan ditemukan sedang mondok di Padepokan Brajamusti milik Gatot di Sukabumi, Jawa Barat. Kalau ditelusuri, rupanya Gatot adalah Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) dan juga seorang penyanyi. Setidaknya dia menyanyi lagu "Subhanallah" dan "Lailatul Qodar" yang video klipnya diunggah di Youtube.

Mengapa jelang akhir tahun 2016 ini nama Gatot kembali disebut-sebut? Gatot ditangkap oleh polisi ketika dia menggunakan sabu-sabu di Mataram. Rumah Gatot pun digeledah, dan polisi tidak hanya menemukan barang-barang terkait narkoba, tetapi juga senjata api ilegal. Cerita berkembang menjadi tak hanya soal sabu-sabu dan senjata api, tetapi juga apa yang terjadi di Padepokan Brajamusti. Gatot mengaku ada ritual seks menyimpang bersama para pengikutnya di padepokan, sementara ada juga pengikut yang memolisikan Gatot karena kasus perkosaan.

Padepokan Brajamusti dikabarkan tak pernah sepi lantaran pengikutnya yang selalu berdatangan; termasuk dari kalangan artis. Mereka "diikat" dengan dibuat ketagihan dengan kristal yang diberi nama Aspat; yang sebenarnya adalah sabu. Kristal tersebut dibalut dengan cerita bahwa itu adalah makanan jin yang dikendalikan oleh kemampuan spiritual Gatot. Bahkan, Tempo.co melaporkan ada pandangan yang menyebutkan bahwa dia adalah Malaikat Izrail, titisan Nabi Sulaiman, dan bahkan Tuhan itu sendiri.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi || Nama asli pria berbadan agak subur ini adalah Taat Pribadi. Namun sekitar tahun 2000 salah seorang gurunya memberi tambahan nama "Dimas Kanjeng" yang lalu ditaruh di depan nama asli. Dari sumber yang sama, muncul kabar bahwa dia adalah anak pensiunan seorang polisi yang pernah menjabat sebagai Kapolsek. Taat Pribadi ditangkap September 2016 dengan melibatkan 1.000 personel kepolisian atas tuduhan membunuh dua mantan pengikutnya: Ismail Hidayah dan Abdul Ghani.

Seribu personel untuk menangkap seorang Taat Pribadi? Ya. Tentu saja polisi punya alasan mengapa perlu melibatkan anggota sebanyak itu. Jawaban yang saya duga adalah karena Taat Pribadi adalah orang terpandang, memiliki padepokan, dan tentu saja (ini jawabannya) memiliki pengikut yang jumlahnya mencapai 23 ribu orang. Pengikut sebanyak itu diperoleh dengan menggunakan cara yang menyerupai multilevel marketing: seorang pengikut mencari pengikut lain untuk memercayakan uang mereka.

Sejauh yang saya amati di berbagai media, kasus pembunuhan yang (dituduhkan) diotaki oleh Taat Pribadi ini kalah populer dibanding kemampuannya menggandakan uang. Bisa ditebak, ujung dari kemampuan ini adalah laporan penipuan yang menambah panjang daftar kesalahannya. Beberapa orang mencoba menjelaskan cara penipuan Taat Pribadi menggandakan uang, yang videonya viral tersebut. Ngomong-ngomong, kendati videonya dibuat bercandaan, pengikut Taat Pribadi bukanlah orang sembarangan. Sebutlah Marwah Daud Ibrahim, lulusan Doktoral dari Amerika Serikat, yang saat ini berstatus sebagai saksi.

---------------------
BENANG MERAH
---------------------
Dari ringkasan fenomena tersebut saya mencoba menarik beberapa benang merah. Pertama, tentu saja, mereka adalah orang-orang beragama dan mengakui keberadaan Tuhan—bukan atheis-agnostik. Di luar tudingan ajaran sesat yang dilemparkan banyak pihak (termasuk MUI), mereka kebetulan saja beragama Islam. Tidak jarang mereka tampil mengenakan simbol-simbol Islam (atau Arab) yang memang seringkali bikin silau mata orang-orang. Simbol itu terletak pada pakaian hingga perhiasan termasuk penutup kepala mereka yang ala-ala apalah.

Soal pengakuan agama mereka, sudah pasti ada banyak pihak yang merasa tersinggung karena mereka telah dianggap menistakan agama. Majelis Ulama Indonesia (MUI) misalnya, menuding bahwa Eyang Subur telah menyebarkan ajaran sesat. Pada suatu kali, mereka mendesak Eyang Subur untuk bertobat karena tak lancar baca surat Al Fatihah.

Sedangkan Elma Theana, artis yang adalah mantan pengikut Gatot Brajamusti, terang-terangan mengakui bahwa ajaran Gatot itu sesat. Tak begitu jelas apa yang bikin sesat, tetapi dituliskan “melanggar akidah-akidah normal keislaman yang sesungguhnya.”

Begitu juga MUI Probolinggo yang menuding Taat Pribadi menyebarkan ajaran sesat. Salah satunya karena Taat Pribadi mengajarkan tentang “bank gaib” yang akan mendatangkan uang.

Masalahnya mereka menggunakan jubah agama tersebut untuk mengkultuskan diri mereka sendiri. Membuat diri mereka tampak menjadi sosok yang kudus dan dipercaya yang mampu mengarahkan orang-orang kepada pemahaman agama  yang lebih baik. Lebih dari itu, supaya masyarakat tertarik untuk mendapat kekayaan secara instan dan halal.

Agama juga mereka gunakan sebagai tameng atas “markas” kejahatan mereka yang berupa padepokan. Mereka memanfaatkan ketidaktahuan/ketundukan/keirasionalitasan manusia-manusia (over-)religius di sekitar mereka. Asal sakti, kaya, punya pondok, pakai ayat-ayat suci, sudah pastilah langsung mengkultuskan sosok-sosok itu. Mereka memanfaatkan kematian daya kritis dan kemelorotan daya tahan menghadapi proses dari anggota-anggota masyarakat.

Benang merah kedua, ketiga tokoh tersebut adalah laki-laki. Budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai “kelas atas” rasa-rasanya kental sekali di sini. Oleh karenanya mereka menjadi pemimpin dan punya sekian banyak pengikut. Tentu ini tidak mutlak ya, kalau benar-benar dibaca, peran perempuan dalam fenomena ini bisa dikatakan seimbang.

Bila kita mengingat kasus penistaan agama sekitar 15 tahun lalu oleh Lia Eden, perempuan tampil juga sebagai pemimpin. Dalam kasus yang menimpa Taat Pribadi, ada juga sosok perempuan cerdas yang menjadi Ketua Yayasan Padepokan yaitu Marwah Daud. Selain ketua yayasan tersebut, dia juga tercatat sebagai pengurus MUI pusat (belakangan kabarnya mengundurkan diri) dan salah satu pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

 Ketiga, kegiatan mereka sama-sama terkait dengan aktivitas seksual. Sejauh pengamatan saya, tokoh paling “soft” dalam urusan seksual adalah Taat Pribadi. Dia hanya dikabarkan memiliki lebih dari satu istri dalam padepokannya. Sedangkan Eyang Subur juga memiliki banyak istri berusia muda, meskipun sudah berusia lanjut. Yang paling parah adalah Gatot Brajamusti karena dikabarkan melakukan ritual seks—termasuk dengan para artis yang menjadikannya guru spiritual.

Dari tiga benang merah itu saja dapat dilihat bahwa agama adalah alasan, modus, sekaligus tujuan dari para penganutnya. Kita boleh saja bilang “agama tidak salah, yang salah adalah penganutnya” untuk membela agama. Namun menurut saya kita juga jangan lupa kalau agama lahir—selalu dalam proses dilahirkan kembali—dalam konteks sosial dan budaya kemasyarakatan. Agama tidak bisa dipisahkan dari kondisi masyarakat. Mereka bukan hanya berhubungan, tetapi saling keterhubungan.

Silahkan menambahkan kalau Anda masih berkenan dan punya waktu. Konteksnya masih realitas yang dibentuk oleh media, ya.

Apa? Soal agama yang ramai disebut-sebut dalam bursa politik DKI? Oh iya. Cukup ah, itu melibatkan pasukan-pasukan garis keras sih. Lagipula saya penganut Katolik (berbeda dengan Kristen Protestan) yang biasa-biasa saja. Nanti kalau diajak berdebat pakai dalil agama juga pasti saya bertekuk lutut. Minoritas sih, tapi paling tidak saya tidak merasa terancam :)


[1] Realitas yang saya maksud di sini adalah realitas yang termediasi dalam konten-konten media; baik media cetak, elektronik, ataupun digital.

23 April 2016

Gusti di Jempol Kaki Kananku

Aku yakin Tuhan ada di mana-mana. Kadang mewujud banci ngamen, pekerja seks di Pasar Kembang, atau ustadz yang khotbahnya menyejukkan. Sore tadi Tuhan hinggap di jempol kaki kananku.

Untuk pertama kali, aku jadi sopir keluarga. Dari Bandara Adisucipto, Grand Livina meluncur di bawah kendaliku. Mendekati pertigaan ke ringroad, ada mbak-mbak bersepeda motor yang memotong jalan di depanku. Bukan hanya tanpa lampu sein, rupanya dia juga sambil pegang hape.

Untunglah jempol kaki kananku dengan cepat menginjak tuas tengah. Keras dan mendadak. Mbak-mbak tadi lolos dari tertabrak laju mobil keluargaku. Kami juga tak jadi harus ganti rugi. Terima kasih, Gusti.

06 February 2016

The Hidden Harmony

I was baptized at Rome Catholic church when three months old. Until now I pray using Catholic tradition, and never use another religion tradition. But live as minority in the middle of Moslem make me know some of their tradition, include how they pray five times a day.

25 August 2015

Pantaskah Kita Bersyukur Saja?


“Kamu kenapa, yan? Kayak lagi kepikiran apa,” tanya Samdy suatu sore. Dia reporter harian bisnis ternama di Ibu Kota. Orangnya agak kaku, kadang bertindak sesuka hati, tapi perlakuan dia ke saya sangat baik. Beberapa hari kemudian dia menghubungi lewat telepon ketika saya “bersemedi” di kamar kos. Seingat saya, dia satu-satunya kawan yang menelepon ketika itu.

27 April 2015

Reading. Writing. Repeat.

Judulnya semacam kekinian yang kemaki ya? Kalau anda pernah baca tulisan semacam ini dengan latar belakang warna polos, anda mungkin seumuran dengan saya. Atau lebih muda sedikit. Atau juga lebih tua sedikit.

05 March 2015

Mengenang Rama J. B. Hari Kustanto, SJ

Super pakdhe!

Sambil berbaring, dia meminta Pakdhe Hari dan saya untuk membantunya duduk di kasur. Setelah duduk di pinggiran, dia menempelkan kedua telapak kakinya di lantai dingin rumah Patangpuluhan. Sambil tetap berpegangan lengan kami, dia menyentakkan kakinya lalu berdiri. Pakdhe Hari bilang ‘Hebat!’ Lalu dia tersenyum sambil menggerak-gerakkan kakinya.

Bagi saya, itu adegan terindah yang saya alami bersama Pakdhe Tanto di hari-hari akhirnya. Dia sudah mengidap sakit tumor di organ otak sejak tahun 2007.

Pertengahan tahun 2007 itu, Pakdhe Tanto menjalani kemoterapi. Saya, yang masih sekolah di Muntilan, terpaksa ijin barang sehari untuk menemuinya di rumah sakit. Saya tidak begitu ingat bagaimana kondisi Pakdhe Tanto waktu itu. Namun yang saya ingat adalah dukungan semangat dan motivasi dari saudara kandung beliau.

“Sesuk natalan bareng ya mas neng nggone mas Hari..” begitulah dukungan mereka.

Diam-diam saya mendengar obrolan lirih yang sedih dan singkat. Obrolan tentang harapan sekaligus rasa pesimis yang beradu. Dilihat dari sakit yang dialami saat itu, bisa kembali natalan bersama keluarga adalah sebuah keajaiban. Belakangan saya baru sadar, keajaiban itu terus saja terjadi hingga awal Maret 2015 lalu.

○○○

Pertengahan tahun 2012 saya magang kerja di Jakarta. Kebetulan saat itu Budhe Rini, yang tinggal di Bekasi, harus masuk rumah sakit di daerah Jakarta. Bertiga, Pakdhe Tanto, bapak, dan saya, naik mobil menyusuri jalan-jalan besar di Ibukota. Ketika lewat tol, mau tak mau mobil Xenia yang kami tumpangi harus melaju di atas 80 km/jam. Agak menegangkan, karena Pakdhe Tanto yang memegang kemudi mobil 1.000 cc itu.

Mengapa harus menegangkan?

Tahun 2007 terdeteksi ada tumor yang mendesak otak kanan Pakdhe Tanto. Desakan itu sampai membuat garis tengah otaknya tidak terlihat. Pakdhe Tanto lalu menjalani pengobatan, yang memang membuatnya ‘sembuh’ hingga empat tahun kemudian.

Menjelang perayaan 20 tahun ditahbiskan (2011), Pakdhe Tanto berencana berangkat ke Amerika Serikat. Namun sayang, beberapa saat sebelum berangkat, keluarga mendapati hal-hal ganjil yang dialami Pakdhe Tanto. Misalnya, tertidur dengan cepat, koordinasi gerak yang tidak baik, dan sebagainya.

Keluarga memutuskan untuk memeriksakan Pakdhe Tanto. Hasilnya mengejutkan. Rupanya ada desakan lagi di dalam kepala, tapi kali ini wujudnya adalah cairan. Dokter memutuskan untuk melarang Pakdhe Tanto berangkat ke Amerika Serikat. Beliau juga melakukan bedah untuk memasang semacam selang untuk mengalirkan cairan yang ada di dalam kepala.

Dengan kondisi kesehatan otak yang demikian, Pakdhe Tanto rupanya masih sering bepergian sendiri naik mobil di Jakarta. Dia memang mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Namun, beberapa aktivitasnya juga mengharuskan dia bepergian mengendarai mobil, termasuk mengantar bapak dan saya menjenguk Budhe Rini seperti saat itu. Inilah yang menegangkan dan membuat keluarga khawatir kalau terjadi apa-apa di jalan.

Perjalanan menjenguk Budhe Rini itu sangat berkesan bagi saya. Setidaknya saya melihat sifat Pakdhe Tanto yang ‘mental juara’ banget. Bagaimana tidak? Pakdhe Tanto naik mobil menggilas jalan-jalan di Jakarta dengan kondisi demikian. Di perjalanan, kami bahkan ikut terjebak macet di Pasar Tanah Abang selama lebih dari sejam.  Akibat lelah karena macet itu, kami beberapa kali salah jalan. Akhirnya kami mampir dulu untuk makan di foodcourt sebuah mall.

Setelah makan, saya mengira akan langsung pulang saja. Ternyata tidak. Pakdhe Tanto masih mau mencoba sekali lagi. Singkat kata, dia berhasil! Kami sampai di tempat Budhe Rini dengan membawa cerita dan keyakinan: Pakdhe Tanto punya mental juara!

○○○

Rupanya “Sing Gawe Urip” masih memperkenankan Pakdhe Tanto unjuk kekuatan mentalnya. Bukan untuk sombong, melainkan untuk menginspirasi kami yang masih bau kencur ini. Bertahun-tahun Pakdhe Tanto bertahan dengan sakitnya. Secara rutin dia datang ke Yogyakarta untuk melakukan pengobatan. Secara rutin juga ibu mengirimkan obat-obatan dari Yogyakarta ke Jakarta. Beberapa kali saya yang diminta membungkuskan dan mengirimkan obat-obatan itu ke Jakarta lewat perusahaan pengiriman.

Menjelang akhir tahun 2014, keluarga mengalami guncangan. Pakdhe Tono, adik dari Pakdhe Tanto, harus masuk rumah sakit karena selama sekitar tiga tahun ini mengidap sakit kanker darah (Suatu saat akan saya kisahkan pengalaman dengan Pakdhe Tono di tulisan lain). Hanya sepuluh hari di rumah sakit, Pakdhe Tono akhirnya dipundhut Gusti

Keluarga amat sangat bersedih, tak terkecuali Pakdhe Tanto. Lelaki berbadan tinggi besar dan biasanya terlihat gahar itu tidak mampu menyembunyikan kesedihan di mukanya. Ketika turut memimpin ekaristi pemberkatan jenazah di Kapel Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, saya melihat Pakdhe Tanto terus saja menangis di altar.

Belakangan baru saya tahu kalau saat itu kondisi kesehatan Pakdhe Tanto sedang buruk. Kondisi yang begitu buruk, ditambah kesedihan ditinggal oleh adiknya, membuat Pakdhe Tanto harus dirawat di rumah sakit. Rentang waktu antara Pakdhe Tono meninggal dan Pakdhe Tanto masuk rumah sakit itu tidak lama, kira-kira seminggu.

Hasil pemeriksaan kali ini menambah guncangan di hati keluarga. Sel tumor yang disangka telah mati karena pengobatan tahun 2007 lalu ternyata kini sangat aktif dan mendesak otak kanan lagi. Hal ini membuat koordinasi gerak tubuh bagian kiri menjadi lemah. Itulah mengapa ketika pemakaman Pakdhe Tono, Pakdhe Tanto terlihat berjalan miring dan cenderung menyeret kaki kiri ketika berjalan.

Keluarga lalu mencari cara pengobatan yang terbaik. Pakdhe Hari, yang seorang Profesor di Kedokteran UGM, akhirnya memutuskan membeli obat kanker di Malaysia. Dengar-dengar, obat itu memang tidak ada di Indonesia. Akhirnya pengobatan dilakukan kepada Pakdhe Tanto. Segala risiko pengobatan siap ditanggung.

Entah karena pengobatan atau karena memang sakit pada organ otaknya, Pakdhe Tanto selalu menjadi kacau setelah obatnya dimasukkan. Dia sering berhalusinasi dan memorinya tercampur-campur. Suatu saat dia menonton televisi dan melihat pembaca acara sedang bicara. Tiba-tiba dia bilang,

”Itu orang Indonesia itu.” 

Pakdhe Tanto merasa saat itu dia sedang tidak berada di Indonesia. Memang dia sempat tinggal di Amerika Serikat beberapa tahun, dan rupa-rupanya pengalaman itu sangat berkesan dan membekas di ingatannya.

Kadang kacau, kadang kembali normal. Suatu saat saya pernah ditanyai dalam bahasa Jawa.

“Kamu ngapain ke sini?”

saya tidak mau bilang sedang menjenguk pakdhe, 
takut dia sadar kalau dirinya sedang sakit
“Em.. menjemput ibu, pakdhe.”

“Ibumu kenapa?”

"Ibu kerja, Pakdhe.”

“Oh.. ibumu kerja di mana?”

“Kerja di Panti Rapih.”

“Panti Rapih itu di mana?”

“Di Jogja.”

○○○

Pembicaraan tersebut berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang agak menggelikan, meski saya sukar tertawa karena melihat penderitaan pakdhe kala itu. Dia berpikir tidak sedang di rumah sakit Panti Rapih. Dan dia berpikir Panti Rapih itu bukan di Yogyakarta. 

Dia juga pernah bertanya ke saya.

“Tonijo neng endi iki Tonijo? Kok durung mrene. Isih neng Jogja kan?”

“Masih, pakdhe. Mungkin baru sibuk, habis ini pasti sempat kemari kok.”

Anda tahu Tonijo? Tonijo adalah sebutan untuk Pakdhe Tono. Saya rasa hanya Pakdhe Tanto yang menyebutnya demikian, ungkapan kedekatan sebagai sepasang kakak adik yang sama-sama menjadi imam Katolik. Pakdhe Tanto agaknya lupa. Pakdhe Tono, yang dia harapkan kedatangannya itu, sudah meninggal beberapa pekan lalu.

Namun, jangan salah, bagaimanapun Pakdhe Tanto adalah seorang akademisi. Di STF Driyarkara dia dikenal menguasai bidang Antropologi. Teori-teori sosial dan budaya sudah merasuk, terutama sejak pendidikannya di Amerika Serikat beberapa tahun lalu. 

Suatu saat saya menunggui Pakdhe Tanto di rumah sakit sambil belajar. Waktu itu kebetulan saya sedang baca Teori Sistem yang digagas Talcott Parsons. Rupanya pakdhe mengerti teori-teori yang diajarkan Parsons, lalu mulai menguliahi saya sambil tiduran di atas tempat tidur rumah sakit. Tentu hanya beberapa menit, lalu tertidur.

Ketika terbangun, dia langsung mengajar lagi, kali ini bukan tentang Parson. Ibu, yang saat itu berada di dekatnya, bingung dan bertanya pelan ke saya,

”Iki pakdhe ngendika apa?”

○○○

Pakdhe Tanto sedang unjuk kekuatan mental. Atau ini adalah keajaiban seperti yang saya tulis di atas? Entah. Setelah beberapa lama di bangsal Carolus, Pakdhe Tanto harus dibawa ke ICU supaya perawatan bisa lebih intensif. Beberapa saat di sana, pakdhe kembali ke bangsal. Karena kondisi membaik dan bisa dirawat di rumah, Pakdhe akhirnya dibawa pulang ke rumah keluarga di Patangpuluhan. Pakdhe dirawat di kamar yang dulu ditempati Eyang kakung di hari-hari akhirnya.

Di kamar itulah pengalaman berkesan di awal tulisan ini terjadi.

Rasanya betul-betul seperti keajaiban. Pakdhe Tanto yang beberapa bulan ini hanya bisa tiduran, kini bisa berdiri di samping saya. Dia bisa tertawa ketika kami memujinya “Hebat!”

Selama di Patangpuluhan itu  dia bisa mengikuti misa Natal di Ganjuran. Dia datang natalan keluarga di rumah Pakdhe Hari, meskipun di kamar saja. Dia juga datang di midodareni dan pernikahan kedua keponakannya. Meski sedikit kerepotan karena harus membawa kursi roda dan sebagainya, saya yakin keluarga tidak berkeberatan dengan hal ini.

○○○

Januari hingga Februari. Yogyakarta sering hujan, kadang disertai angin kencang

Tidak lama berada di rumah, keluarga mendapati hal-hal ganjil. Pakdhe Tanto mudah sekali tertidur. Rasanya seperti tertidur terus sepanjang hari. Pandangan matanya juga seringkali kosong. Hal ini membuat proses fisioterapi tidak berjalan lancar. Keputusan akhirnya mantap, Pakdhe Tanto harus diperiksa lagi. Kalau perlu, menginap di bangsal Carolus lagi.

Hasil pemeriksaan membuat hati keluarga lagi-lagi runtuh. Obat kanker sangat keras yang diberikan pada Pakdhe Tanto beberapa waktu lalu memang membuat tumornya hancur. Beberapa saat memang kondisi Pakdhe Tanto terpantau membaik. Namun rupanya ada segelintir sel tumor yang resisten atau ‘pintar’ ketika obat itu menyerang. Intinya sel-sel tumor itu bisa bertahan, bahkan marah. Benar-benar marah. Setelah pengobatan dihentikan, tumor yang marah itu tidak hanya mendesak otak kanan, tapi juga otak kiri. Bahkan terancam juga mendesak batang otak, yang berpotensi menyebabkan pasien menjadi gagal nafas.

Pakdhe Tanto masuk ICU. Dengan nada yang sedih sekaligus tegar, Pakdhe Hari menjelaskan apa yang dialami Pakdhe Tanto ke saya. 

“Kalau sampai mendesak batang otak, bisa gagal nafas. Kira-kira paling lama bisa bertahan sampai tiga bulan,” jelas Pakdhe Hari. 

Terlihat dia berusaha tegar ketika mengatakannya. Saya hanya bisa menelan ludah, sambil menahan air mata.

Bangsal Carolus kembali menjadi tempat tidur Pakdhe Tanto. Saya termasuk keponakan yang jarang datang ke sana. Namun, ibu saya hampir setiap hari tidur menginap menunggui Pakdhe Tanto. Keluarga besar tahu bahwa Pakdhe Tanto ini punya hubungan khusus dengan adiknya yang satu ini. Entah kenapa, rasanya lebih care, termasuk ke Mbak Karin, kakak saya.

Sementara itu, keluarga besar masih mencari alternatif tindakan yang mungkin dapat dilalui Pakdhe Tanto. Mulai dari operasi, pemotongan pakai sinar, dan pengobatan-pengobatan lain yang rasanya asing sekali buat saya. Mohon maaf kalau proses pengobatannya tidak saya ceritakan dengan detil. Saya hanya bisa cerita banyak tentang apa yang saya alami saja.

Di akhir hidupnya, Pakdhe Tanto sudah jarang membuka mata. Dia makan melalui selang. Dia juga jarang berbicara. Karena kerongkongannya berlendir, suara Pakdhe Tanto ketika bicara malah terdengar seperti geraman. Awalnya saya merasa ngeri. Seperti orang marah, menggeram, tapi terasa lemah. Meski begitu, saya yakin, Pakdhe Tanto bisa bertahan selama ini karena dia adalah Pakdhe Tanto. 

Barangkali Gusti memberi kesempatan ke Pakdhe Tanto untuk mengajari kami—yang masih hidup—agar membangun mental baja macam dia.

○○○

Suatu Minggu pagi, 1 Maret 2015. Minggu pagi biasanya indah, tidak kali ini. Ibu, yang malam sebelumnya bisa pulang ke rumah, ditelepon untuk segera datang ke rumah sakit. Kami segera mandi dan berangkat. Ban mobil baru menggelinding beberapa meter, telepon kembali berdering. “Mas Tanto wis dipundhut,” kata Budhe Tini di ujung telepon.

Seketika ibu menangis. “Mas Tanto kok ora ngenteni aku..” katanya tersedu.

 ○○○

Pakdhe Tanto sudah kembali ke rumah yang abadi. Rumah yang selama hidupnya dia wartakan melalui berbagai cara. Dia sudah bertemu Tonijo, sosok super sederhana yang dia cari selama sakitnya. Mungkin mereka sedang ribut-ribut sekarang. Pakdhe Tanto mungkin sedang memarahi adiknya yang masih saja merokok sambil melukis wajah cantik Bunda Maria.

Pakdhe Tanto sudah bertemu bapak dan ibunya. Keduanya meninggal dan dimakamkan tanpa kehadiran dirinya. Mungkin Pakdhe Tanto, Eyang Putri, dan Eyang Kakung sedang mengobrol santai di teras rumah. Sambil ngeteh, atau sambil minum Fanta hijau kesukaan Eyang Putri. Sesuatu yang sepertinya jarang dilakukan di perjalanan ini.

Bagi saya, Pakdhe Tanto meninggalkan narasi tentang mental juara. Tentang sikap hidup yang tetap bergairah meski lemah, tetap mendongak ketika dihajar dunia, tetap berharap meski peluang itu sangat kecil atau bahkan tak ada.

Semoga bahagia, Pakdhe Tanto. Selamat menonton sepak terjang keluargamu dari jauh. Jangan lupa berteriak menyemangati kami ketika kami jatuh tersungkur. Sampai bertemu lagi di sana :’)



Dari Ryan,

keponakan.

28 February 2015

"merebut pacar"

Di mana-mana kita sering melihat tindakan tidak manusiawi, tidak berperikemanusiaan. Pokoknya hal-hal yang sering dilekatkan pada upaya dehumanisasi, penghilangan harkat manusia (KBBI). Contohnya ya penyembelihan yang dilakukan ISIS, pembegalan di jalan-jalan sepi, penyiksaan yang dilakukan majikan kepada pembantu, pemerkosaan (baik kepada perempuan maupun laki-laki!), dan sebagainya.

05 January 2015

Harga Diri

Suatu sore seorang pakdhe bilang,

”Kita ini wong cilik. Kita tidak punya apa-apa kecuali harga diri. Sampai kita mengorbankan harga diri itu, kita benar-benar tidak punya apa-apa.”

03 January 2015

Patah Hati, Soe Hok Gie, dan Umur 18 Kita

Gambar diambil tanpa ijin dari uniqpost.com

Saya sering patah hati. Bukan [hanya] karena perempuan, tapi juga karena ketidaktahuan orang akan sesuatu yang saya anggap mereka seharusnya tahu. Patah hati ini makin menjadi-jadi ketika sesuatu yang tidak mereka ketahui itu adalah hal yang saya idolakan. Mungkin terdengar terlalu ‘maksa’ dan kekanakan, tapi ini masalah hati. *malah curhat* Begini salah satu kisah patah hati saya. 

04 November 2014

Doa dan Kata

Sumber: www.wheatlandmission.com
Sekitar tahun 2004 saya mengalami kegelisahan. Waktu itu saya merasa tidak sreg ketika melihat sekumpulan orang Katolik yang sedang berdoa. Satu yang saya ingat, mereka mendaraskan doa Salam Maria dengan sangat lancar, bertempo relatif cepat, dan dengan nada yang monoton. Mereka seakan tidak memaknai kata-kata dalam doa dan sekadar mengucapkannya bak mengucap mantra.

02 March 2014

Letupan Rasa

R
asa-rasanya dunia ini makin absurd dan palsu. Lihatlah media, alat pembentuk realitas di benak publik yang diperkosa pemiliknya. Lihatlah media sosial, tempat berbagai macam kebencian disuburkan.

08 August 2013

Idul Fitri

Sumber: http://en.tempo.co/read/news/2013/08/08/114503226/How-Yogyakarta-Celebrates-Eid-al-Fitr

Untuk kali ini saya ingin menulis dengan keras, bodoh, nylekit, dan pesimis terhadap hidup. Sebelum melangkah lebih jauh saya perlu menekankan bahwa saya tidak membenci agama Islam atau agama manapun, saya menghormati semua agama dan ajarannya sebagai nilai yang diyakini manusia para pengikut agama itu.

Kalimat utama yang perlu saya sampaikan adalah saya tidak suka momen lebaran.

Pendewaan Scopus dan Standardisasi Kebanggan

Ada seorang akademisi menulis di Thread:  "Akademisi kita begitu mendewakan Scopus tapi anehnya, jarang tulisan hasil risetnya dikutip ...