Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

24 February 2017

Surat tentang Tante

:  dibaca pelan-pelan saja

Rasanya seperti dicemplungkan dalam beberapa adegan film “50 First Date” versi Jawa. Masa-masa awal jalan bersama gadis ini diisi dengan menunaikan tiga ibadah wajib. Satu, saling cerita soal apa-apa yang turut mengantar diri hingga sampai di masa ini. Dua, bicara soal impian dan rencana di masa depan. Tiga, mengingat-ingat apa yang telah kami lakukan selama sepuluh tahun terakhir.

Belakangan, yang terakhir ini rupanya butuh banyak energi. Adegan yang ingin kami munculkan tersendat-sendat bak nonton Youtube di persawahan Godean. Celakanya, sebagian detil adegan hanya tersimpan di benak diri ini saja, tidak di benaknya. Alhasil, seringkali ada cerita yang perlu direka ulang dalam kata guna memancing ingatan. Kadang berhasil, tetapi lebih sering tidak. Itu bedanya dengan film yang tadi.

Melalui deretan kata ini, ijinkan saya berbagi sedikit. Semoga tuan puan sudi membaca.

Adalah gadis itu, yang pertama kali saya ajak keluar malam-malam. Berdua saja. Satu dekade lalu. Sepeda motor Astrea yang bertenaga. Hawa dingin dan romantisme lampu kota Yogyakarta. Alun-alun Kidul, Mirota Kampus, hingga bintang-bintang yang mengintip dari halaman Candi Ganjuran.

Dalam perjalanan ke Alun-alun Kidul kami melewati rumah-rumah lawas. Daerahnya sepi. Gelap. Berseberangan dengan benteng putih tinggi tinggalan penjajahan Belanda. “Rumahnya bagus ya,” katanya di jok belakang.

Lalu sepasang remaja itu bercerita tentang rumah impian. Cerita yang tiba-tiba berhenti begitu saja ketika sampai tujuan. Kami lantas duduk di tikar, di atas rerumputan basah, sambil menyeruput ronde. Di depan sana wisatawan sedang menutup mata sambil berjalan di antara dua beringin. Mitosnya, segala harapan akan terkabul ketika berhasil melakukannya.

Saat itu, sekadar berharap saja sudah gemetar lutut.

Singkat cerita, saya jadi salah satu tempat teraman untuk narasi sedih dan keluh kesahnya. Sering telinga ini jadi yang pertama; barangkali juga satu-satunya. Sore hari di depan ruang band. Jumper abu-abu yang basah untuk menyeka air mata. Siang hari di depan kapel, dekat menara air. “Kamu orang pertama di van Lith yang tahu cerita ini,” katanya setengah berbisik.

Selama bertahun-tahun kemudian, cerita-cerita hidupnya dititipkan pada sepasang telinga lain. Selama itu pula ada cerita hidup milik hati lain yang dititipkan pada telinga ini.

Delapan tahun setelah pertama kali kenal, semesta mempertemukan kami di Ibu Kota. Selepas mencatat kata-kata Bapak Menteri di dekat Monas, saya diminta meluncur ke Cilandak. Kami lalu mencari kamar sewa untuknya yang dalam hitungan hari sudah masuk kerja. Berdua saja. Sepeda motor Supra yang masih ‘greng’ meski usang. Asap knalpot pekat. Langit Jakarta yang gelap dan buram.

Tak lama, perpisahan singkat terjadi. Lapo Codian Mayasari dan pemuda bersuara merdu dengan gitarnya. Tuak yang manis dan kecut, tetapi saya suka. Rumah Uda di Lubang Buaya yang sepi. Berdua saja. Berpamitan diam-diam pada empunya rumah.

Kali itu tidak bicara rumah impian. Namun, gentar belum beranjak pergi.

Dua tahun berlalu. Kami berangkat rombongan ke Sendangsono di bulan lima. Di mobil, rambut kepalanya tak bisa terlepas dari tangan kotor ini. Ada listrik yang menyengat dan bikin gelisah tiap kali dua benda itu terhubung. Entah bagaimana harus menyebutnya.

Esoknya, dinding kokoh gereja Kotabaru meruntuhkan pertahanan. Batas-batas persahabatan terkoyak oleh angin entah. Tanpa kata, apalagi meminta, ini mata tak bisa lepas dari semua yang melekat padanya.

Dalam perjalanannya ke Ibu Kota, saya menemukan nada suara yang berbeda di ujung telepon. Suara sedikit manja yang bersaing deru mesin kereta. Sejak saat itu, malam tak pernah terlewati tanpa panggilan suara. XL Axiata adalah kongsi paling beruntung. Mereka punya dua pelanggan lama yang kini rajin isi pulsa mereka banyak-banyak.

Obrolan tentang rumah impian kembali terjadi. Seakan menyambung kalimat sepuluh tahun lalu yang enggan diberi titik. Kali ini ragu-ragu pergi jauh-jauh. Karena tak ada yang lebih aman selain menangis dan tertawa rumah sendiri. 

Semoga rumah ini tetap terawat dan jadi tempat yang ideal untuk menumbuhkan sabda-sabda yang telah ditabur-Nya. Amin? Amin. (*)

Selamat ulang tahun, gadis dua enam. Semoga kian tangguh merawat dunia, selalu jadi bahagia di mata-mata yang suram, dan tetap bersyukur atas segala talenta yang dititipkan.


24 January 2017

Gerimis

Gerimis

pada matamu, tuan puteri, aku melihat hujan yang tidak deras.

orang-orang tua senantiasa bertutur ke anaknya
kalau gerimis jangan hujan-hujanan, nanti pusing
di luar gerimis, jangan ngebut, jalanan licin

gerimis itu menerjang mataku tanpa aku sempat menghindar
tubuhku jadi aliran gerimis yang suka mengajak angin mampir
dari mata, air tipis itu mengalir turun sesuai takdirnya

itulah kenapa berdada-dada gadis sendu datang kepadaku bilang
aku ingin merasakan gerimis di pelukanmu, atau
bolehkah aku mencicipi gerimis di perutmu yang berbulu?

boleh, boleh, semuanya boleh
tapi setelah ini kalian harus pergi
aku juga akan pergi kembali mencari asal muasal gerimis yang
gemar sekali menghindar dari sapuan mata ini

empat puluh tiga ribu delapan ratus hari kemudian
semenjak matamu meninggalkan noda di embun dingin muntilan
gerimis itu masih mengalir dari mataku

pada matamu, tuan puteri, aku tidak lagi melihat gerimis yang dulu;
aku hanya melihat diriku.

gerimisku masih bikin pusing dan terpeleset licin;
mari rebahan di sini, sayang.


Jangan Menggodaku, Kopi

sebermula kopi itu memercik di dadamu
kau mengusap nodanya, aku melihat saja

“kenapa diam saja?” 
ujarmu memanggil.


17 December 2016

Seperti Kucing

“I wish my God you’d stay, kanca kenthelku..”

seperti kucing putih yang selalu diusir bapak di teras depan rumah tiap pagi. tak peduli betapa kotor dan berdebunya teras rumah kami, kursi paling timur selalu jadi tempat tidurnya. dia hanya pergi sebentar tapi pasti kembali lagi. tiap kali dia pergi selalu ada jejak tapak kaki kucing yang aku tak tahu bagaimana caranya meninggalkan jejak menjemukan itu

gagang sapu
semprotan air
guyuran gayung
bentakan serak kasar
kurang satu yang belum kami lakukan: meracuninya

sebangsat.bangsatnya kucing itu, kami tak mungkin membunuhnya. perlahan atau secepat kilat, kejam atau penuh kasih, pokoknya tak mungkin. di leher kucing putih ngantukan itu ada kalung merah dengan lonceng kecil, tanda kalau dia dimiliki oleh suatu kampret yang lebih pantas mengakhiri hidupnya

“Just enjoy your life, kanca kenthelku..”

seperti kucing putih yang egois dan tak pernah tak terlihat mengantuk di teras depan rumah. dia bangun hanya untuk mengolet dan mengubah posisi tidur. dari telungkup menjadi miring, dari miring menjadi telentang

“aku berangkat kerja, kamu tidur.
aku pulang kerja, kamu tidur juga.
kok penak banget uripmu cing?”
tanya ibu suatu sore.

apa jawab kucing?

dia buka mata sebentar dengan sayu, memastikan bahwa ibu bukan sosok berbahaya untuknya, lalu kembali melanjutkan mimpinya yang tertunda tadi. ah, di mana ikan yang di meja tadi? oh bukan, itu bukan mimpinya, dia sedang mimpi bercinta dengan kucing cantik yang adalah putri kerajaan di barat laut sana. “dekat danau toba,” katanya

“Just relax like always, kanca kenthelku..”

seperti kucing putih yang birahi pada bulan.bulan yang biasa bagi kami. kala musim bercinta dia mengeong keras tanpa peduli kami bahagia atau meringkuk sedih ditemani mendung.

suaranya sama
lapar
terangsang
marah
memohon kawin

suaranya seperti bayi menangis, padahal dia ingin kawin. barangkali seperti desahan.desahan kita waktu dewa cinta sedang memahat nikmat di tubuh yang sebentar ini

aku ingin

ingin

kekancan sing luwih kenthel


Sleman
seminggu sebelum kekasih pulang


16 December 2016

Jreng

begini cara kerja ingatan, sayang
kursi tamu budhe dan ciuman pertama
jok motor bebek yang sisa banyak
pelukmu erat pada pinggang
seragam putih biru dan nilai 10

sosok yang bicara dari masa lalu tapi
gemanya masih terurai dalam tiap kucekan
tanganmu ke pakaian yang tiap hari kau
cuci sehabis mandi

inginlah menggondolmu dengan paksa
ke jalanan licin stockholm pinggir pantai
dan napak tilas ke cardiff yang ramai
suara bule beraksen british kental

tapi itu jauh dari jatiningsih..
terlalu jauh

“wajar, aku butuh teman..”
“iya..”
“tenang, it’s so yesterday..”
“iya..”

lalu aku diam dan melihat kotoran hitam di kuku
kalau kucungkil dalam.dalam nanti malah luka
atau semakin dalam
lantas makin banyaklah hitam.hitam yang hinggap

sementara angin bersenandung kecut sambil
sembunyi macam pengecut

“Hold back the night.. light up the sky..”

jreng.

Sleman dini hari
16122016

15 December 2016

BUKAN DESEMBER

: teringat mariyah dan jabang bayinya

bukan desember gerimis ini yang meletupkan aroma.aroma sepi mengharu biru di antara sepatu tracking penuh lendutmu, tetapi adalah sesembahanmu yang kepada pencipta yang memekakkan cuping telinga bayi yang baru lahir prucut dari rahim bundanya yang kesakitan

engkau maha besar !
engkau pantas dibela !

monas, bandung, spanduk, nista, dan deretan kata.kata sakti lainnya sigap memenuhi lini masa atas kuasa ujung pena penulis. semacam tsunami kata dan informasi yang sama sekali tak bikin harga sayuran bawang dan cabai naik lalu memantaskan hidup petani kecil (?)

pun juga pekikan gantung ! bunuh ! sate ! sekarang juga ! kepada si kafir yang diam.diam membangun persinggahan suci dan menjernihkan sungai.sungai yang mengalir menuju muara kepala batumu

bukan desember gerimis ini yang melahirkan gemertakan gigi susu dan kerutan ujung jari yang mati dilahap dingin, tetapi adalah perginya kesehatan akal yang tergusur oleh tarik.tarikan antara: benci dan hasrat cari muka di hadapan sesembahanmu

sementara air mata kecewa kau sebut drama

sementara hari penghakiman betul.betul telah tiba dan memenjarakan keluasan akal yang melekat pada diri sejak sel sperma bapakmu merangsek masuk ke sel telur ibumu

damai yang kau lontarkan tak lebih dari kemenangan egomu, yang juga kedigdayaan politik milik daun.daun muda penuh kepentingan yang merasa layak kau pilih jadi pemimpin

adalah desember gerimis ini yang tak memadamkan api intoleranmu

dan ya, adalah desember gerimis ini yang melahirkan penista Allah  yang kelak (?) mati tergantung di kayu salib dengan ribuan luka menganga di sekujur tubuh

semoga persalinanmu lancar, dewi mariyah

bersiaplah menerangi gelap ini, tus. toss !



Jalan Kabupaten Sleman,
bersama olah.olahan daun


SAMI ASIH GROUP

aku masih duduk melamun di warung
kuning merah bertirai hijau buluk itu.
warung di depan kedai jus pak lebah
yang harganya tak menyengat.

"nastel ak?" sapa pemuda Sunda
dengan mata jenaka. badannya kecil,
dengan urat-urat tangan yang
tampak jelas menghias.

"iya, sama es teh," jawabku otomatis.
tanpa sedikitpun berpikir.
persis pegawai minimarket tiap kali
pelanggan mendorong pintu kaca.

keisengan tak luput mendatangi
pembeli. sering si aa' menaruh
sepasang sendok di satu piring,
dan sepasang garpu di piring pembeli lain.
mereka lantas makan dengan muka masam
meski terhibur. sedikit.

tapi, itu dulu. tujuh tahun yang lalu.
kala warung ini masih kumuh; dengan
alas tanah yang becek di kala hujan.

tiap tahun gadjah mada menahbiskan
putra-putrinya jadi sekrup pabrik yang
luar biasa handal menjalankan negeri ini.

rupanya, seiring pembeli berganti, 
pemuda jenaka itu berganti pula.
dengan rela, ataupun terpaksa.

lantai warung kini keras. dinding bambu
juga berganti semen angkuh. es tehku
tak lagi manis, dan nastel kita kurang
berminyak.

bagaimanapun, aku masih duduk di situ. 
melamun. sambil menerka-nerka apa lagi hal
yang akan berganti di hidup.

semoga bukan kejenakaan kita.


Yogyakarta,
tanggal akhir yang semoga


30 November 2016

Orang di Sela-Sela

Pemandangan dari samping kamar kos Andre.

Jumat sore saya duduk-duduk di teras samping kos kawan saya di Semarang, namanya Andre. Dari tempat itu saya bisa lihat pemandangan rumah dan bangunan lain yang tumbuh subur berjejalan.

Di sela-sela rumah itu ada puluhan, ratusan, jalan-jalan kecil yang telah halus beraspal. Sebagaimana jalan lain di kota itu, jarang ditemui jalanan datar. Rasanya setiap kali melibas aspal kok jalannya turun atau naik, meski hanya sekian derajat saja.

Sayup-sayup saya dengar suara anak-anak kecil yang tertawa riang sekali.

Langit sore dan suara anak-anak kecil yang tertawa riang, bukankah itu kemegahan gratis?

Saya maju ke batas pagar kos dua lantai itu dan melongok ke bawah. Terlihat gerombolan anak laki-laki yang main bola di jalan-jalan. Tentu saja, mereka pilih sepotong jalan yang agak datar. Mereka asyik sekali bermain, sambil sesekali berhenti  tatkala ada pengendara sepeda motor mau melintas.

Selang dua rumah di samping arena mereka bermain terlihat juga anak-anak perempuan yang bawa sepeda mini kesayangan mereka. Rombongan, mereka hampiri satu-satu rumah anak-anak perempuan lain untuk diajak bermain bareng.

“Anak kecil memang paling ahli menemukan kebahagiaan mereka, bahkan di sela-sela kepadatan rumah sekalipun,” pikir saya.

Sedetik kemudian saya sadar bahwa kita memang tak bisa jauh-jauh dari sela-sela—bahkan kitapun hidup di sela-sela!

Dalam wujud sperma, kita dilepaskan di sela-sela vagina ibunda. Setelah menemukan separuh kita (sel telur) lantas kita hinggap di sela-sela rongga dalam rahim.

Dari rahim itu kita keluar  lagi dari sela-sela vagina ibunda. Sebagian dari kita mungkin lahir dengan operasi, keluar dari sela-sela sobekan yang dibuat dokter (/bidan) di perut ibunda.

Begitu terus. Seterusnya. Hingga kita tahu bahwa hidup manusia itu ada di sela-sela keadaan dan ketiadaan. Dari tiada, menjadi ada, kemudian tiada lagi. Tak lebih dari itu.

Sekaya-kayanya kita, semelarat-melaratnya kita, kita lahir dari proses pembuahan di rahim ibunda, dan akan mati terurai menjadi entah. Sebagian orang bilang jadi tanah, sebagain lagi bilang jadi abu/debu. Sebagian lagi bilang kita akan dimakan cacing. Jelasnya, kita hanyalah proses kecil dari semesta yang maha segalanya ini.

Di antara sela-sela itu, di dalam ruang kosong yang tercipta, anehnya kita justru menciptakan makna. Dinding dilubangi jadi pintu dan jendela. Bisakah hidup tanpa pintu dan jendela? Di sela-sela antar dinding ada ruang. Bisakah beraktivitas tanpa ruang?

Namun memang, kadang dunia tak seindah itu. Di sela-sela los dagangan pasar banyak pencopet. Mereka ambil recehan orang lain diam-diam. Di sela-sela gedung pencakar langit Ibukota juga ada jalan-jalan besar,  yang malah digunakan untuk aksi demo. Demo yang awalnya damai dan berakhir ricuh.

Tiba-tiba dan tanpa diduga.. 

Di sela-sela awan sore di depan saya, sinar matahari berebutan masuk. Mereka cari celah untuk tetap turun ke bumi meski mereka sudah melorot jauh ke barat.

Seakan mereka ingin bilang, “Kami akan hilang diganti bulan, tapi tenang, besok kami kembali datang,” sebagai salam perpisahan.

Sayangnya tak ada lambaian tangan atas salam itu. Anggukan pun tak ada.

Anak-anak kecil tetap bermain dengan riang, tak peduli dengan pamitan matahari. Akhirnya saya lah yang melambaikan tangan sendirian. Pelan-pelan sambil lirik kiri kanan.

“Besok pagi saya akan menjumpaimu di Ibukota, matahari. Saya akan perkenalkan kau dengan kekasihku,” gumamku sambil menenggak air mineral yang hampir ludes.

Lantas hidup terus berlanjut di sela-sela waktu yang tak banyak.

The trouble is you think you have time,” tutur Jack Kornfield kala menginterpretasi ajaran Budha.

"Di sela-sela saat ini hingga ajal nanti, saya masih ingin memperkenalkan kekasihku kepadamu, matahari. Berulang-ulang, setiap hari, dan jangan pernah bosan."

Ah. Entah mengapa sore di kota orang menjadi sesentimentil ini.


25.11.2016
Semarang

04 July 2016

persoalan detik


"..mintalah padaku jam tangan termahal,
dia tak berarti tanpa waktuku."

23 May 2016

Mengkritik Para Tukang Kritik

Sementara otak di belakang mata sibuk menyusun kalimat runtut dari semesta ide yang begitu chaos, jutaan informasi di Facebook malah sedang gemar bikin rusuh.

Mereka, para anggota golongan yang dianggap pintar, tampaknya memang dituntut untuk melihat dari sisi lain. Dari akun Facebook itu mereka pamer pandangannya yang beda dari orang kebanyakan.

Itu buruk? Itu bagus. Kita butuh bantuan untuk melepaskan diri dari jerat pandangan dominan yang seringkali angkuh dan dungu.

Namun kadang kapasitas mereka kurang untuk itu. Sebenarnya sih pantas-pantas saja untuk punya pandangan berbeda. Asal.... asal mereka bisa menjelaskan argumennya dengan runtut dan terang.

Bayangkan kalau tidak? Mereka tak beda dengan pemuda seusia SMA yang sedang nakal-nakalnya dan pokoknya “waton beda” kalau sedang dinasehati guru.

Ya.. semacam inilah, orang-orang yang ikut-ikutan tokoh terhormat seperti Gus Dur yang senang bilang “Gitu aja kok repot?”

Pastikan kapasitas intelektual kita setara dengan Gus Dur, baru pantas bilang begitu. Bukan apa-apa, tapi menurut saya ungkapan itu muncul dari hasil kompleksitas berpikir, bukan malas dan terbatas.

Ungkapan itu tak hanya hasil dari melahap segudang buku dan diskusi, tetapi juga pengolahan batin yang taat.

Jadi, pantaskan diri dululah.

Tapi kan tetap bebas mas nulis di Facebook? Akun akun saya ini, enggak suka tinggal delete friend beres.

Iyo wis, betul. Biar cepet.

Ha trus kamu ini ngapain mas? Kerja enggak, tugas akhir enggak rampung-rampung, malah mengkritik mereka yang tukang kritik. Emang kapasitasmu udah pantas buat melontarkan kritik? Argumenmu apa mas? Mas?? Mas!? Woo.. AS*!!

.... (kencangkan suara musik)...


Jogja 

23052016

20 May 2016

Cakar Kucing

Cakar Kucing

: katamu kau malu dengan kalungmu yang bernama? santailah dulu sobat..
biar kukatakan sajaksajak tentangmu, tentang puisi yang lamatlamat menyengat

berlalulah tibatiba waktu 
yang menuakan wajahmu;
tempatku berhenti sejenak 
dari memandang papan tulis 
yang bau tinta spidol.

aku singgah ke kedalaman matamu

tempat kita sering duduk berjejer
di kelas bahasa indonesia, atau kelas
sejarah. sementara para begundal itu
pilih berlelap di baris belakang

tanganku pernah berdarah (persis
dicakar kucing!) setelah gojeg kere
denganmu di kelas agama. 

sesampai di asrama kotor itu
barulah kutahu di antara kancing ketiga 
baju seragamku juga ada darah.

kini waktu mengeringkan darah
membuatnya jadi subur dan apaapa yang
disebar di sana akan tumbuh.

dan kini aku juga punya rapalan mantra baru
yang semoga tidak berlebihan.

huhuhuhu .-.

Jogjakarta,

20052016

02 January 2016

Tentang Cinta yang Singkat

Kita berdua menuruni bukit dengan agak kesulitan. Tangan kita memegang masing-masing sisi plastik berisi sampah. 

Harus kompak, harus erat. 

Kalau salah satu melepaskan pegangan, sampah akan tumpah. Karena kita tahu, memungut kembali sampah itu tak menyenangkan.

02 November 2015

Maaf, Sandalnya Sedang Pergi

Maaf, Sandalnya Sedang Pergi

bukanlah muntilan, apalagi merapi,
yang membuat kita jalan di atas
sandal yang sama

sandal itu butut, bau, dan tiap
sudutnya punya tanda kalau kita
berjalan lewat medan yang kasar,
berat, dan tak kenal ampun

kadang berendam di air sejuk
lalu dihajar di panas aspal kota
lantas mendarat di mulut kita
yang kian pandai mengumpat

sebilah sandal tak pernah kekal,
layaknya tiap hal kecil di sudut
semesta ini

kini kau berganti sandal,
melompat anggun ke kaki lain
yang lebih kuat,
lebih hangat

lantas aku lelehkan sandal
pakai air mata mendidih,
sambil belajar terbang

2015

bangun tidur

01 November 2015

Ijinkan Aku Mengingatmu

Ijinkan Aku Mengingatmu

dengan air mata bisu
dengan lambaian tangan
yang enggan mengeluh

berkemaslah, kenangan,

pergilah.

2015

10 October 2015

Manusia Tanpa Titik

Manusia Tanpa Titik

"aku lelah" katamu dalam
deretan panjang gatra
sombong sarat nafsu

07 October 2015

Jogja Hari Ini

Jogja Hari Ini

hari ini jogja berulang tahun
sudah 259 usianya
#HUT259Jogja tulis mereka
di akun-akun dunia maya

04 October 2015

Rindu Berpisah

Rindu Berpisah

pagi tadi air menjelma
kabut yang kau titipkan
kala debu kaliurang
terkibas dari kakimu

dingin kala disentuh,
hangat kala diseduh

mereka terampil mengail
rindu yang senang
berenang-renang
di kubangan kata;

juga rindu yang tersesat
pada desah singkat
yang samar terdengar
kala kita bercinta

kini temu tak lagi manjur
merawat ingat yang kau
lekatkan ke jidat,
juga ke pintu kamar
yang kepadanya kita pantas
bilang: matur nuwun.

jelang siang air menyerupa
recehan yang enggan
kulepas kala ibu tua
meminta melas.

kini rindu tak terbasuh temu,
jiwa melayang-menggelandang,
dan resahmu terjun ke entah.

barangkali.. itu cara terindah
untuk mengucap pisah.

Besole,
wetan cakruk

2015

10 September 2015

titik dua petik tunggal kurung tutup adalah selamat tinggal

Tante pegawai punya media sosial. Dia pakai akun itu untuk buku harian dan album fotonya. Setiap hari dia cerita kalau dia sedang bahagia, kecewa, hingga marah. Dia juga cerita soal pacar, mantan(nya) pacar, teman kantor, hingga orang rumah. Pernah dia cerita kalau habis gajian, katanya bikin semangat kerja. Pernah juga dia unggah capture-an obrolan di grup karena dia habis menyapa anggota grup satu-per-satu.

16 July 2015

Kisah Sedih di Hari Hari Biasa

ibu kondhur banjur muwun
atine remuk tanpa wujud.


ngendikane ibu,



neng kidul desa ana

wong kere dipakake asu.

Juli 2015

Keretasu

Keretasu

stasiun dan kamu punya
kisah kisah biasa
yang tak pernah aku suka.

gerbong kereta selalu tega
mengangkut cinta yang
sebentar kemudian berpamitan.

sedang aku hanya berdiri
menatap lari detik
yang mengundang perih.

dekap aku, kamu

sebelum roda besi
menggelinding angkuh
ke timur yang jauh

sebelum kelam menelan
teduh yang kita cipta.

Juli 2015

Pendewaan Scopus dan Standardisasi Kebanggan

Ada seorang akademisi menulis di Thread:  "Akademisi kita begitu mendewakan Scopus tapi anehnya, jarang tulisan hasil risetnya dikutip ...