
Gambar Diproduksi dengan Bantuan Gemini AI
Penulis buku “Antara Kabut dan Tanah Basah” menceritakan ada dua musuh jiwa, yaitu kebosanan dan kesombongan. Bertahun-tahun saya mengamini cerita ini. Namun beberapa bulan terakhir ini keyakinan saya berubah. Kebosanan barangkali masih jadi musuh jiwa, tetapi kesombongan rasanya sudah sangat menjauh. Musuh yang sekarang nyata dihadapi justru rendah diri. Begini ceritanya.
Kutipan dari buku tersebut:
“Dua musuh jiwa: kebosanan dan kesombongan. Kebosanan akan menarik jiwa dari segala keterlibatan dan mengurungnya dengan jerat yang sulit ditembus. Sebaliknya, kesombongan menutupi mata jiwa sehingga jiwa tidak bisa lagi mengenali siapa dirinya sesungguhnya. Mereka menggunakan racun yang sama, yakni yang membuat jiwa beranggapan bahwa dirinya adalah yang terpenting dari segalanya.”
Apa definisi dari bosan dan sombong? Mari kita periksa arti bosan dan sombong menurut KBBI daring
Bosan berarti ‘sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak; jemu’
Sombong berarti ‘menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah’
Melihat definisi tersebut saya akan mengasosiasikan bosan dengan situasi yang berulang. Bisa aktivitas, makanan, pemandangan, bahan pembicaraan, dll. Sementara sombong ini perihal memandang diri sendiri dan orang lain. Menghargai diri secara berlebihan biasanya satu tarikan nafas dengan memandang rendah orang lain.
Situasi saya saat ini yang sedang studi lanjut rentan sekali menghadapi kebosanan. Baca ratusan makalah dan buku, buat catatan, refleksikan. Lalu tulis pelan-pelan di dokumen hingga jadi deretan paragraf–yang akan dipertanyakan dan diminta hapus oleh supervisor. Akan begini terus hingga tiga tahun.
Sebelum studi lanjut, saya terbiasa kerjakan beberapa hal dalam waktu yang sama. Memang berat mengejar kualitas yang sempurna, tetapi jarang berhadapan dengan kebosanan. Kalau merasa jenuh dengan pekerjaan A, bisa pindah ke pekerjaan B hingga tiba-tiba deadline mengetuk pintu. Habis itu ada pekerjaan lagi yang bisa diselesaikan dalam hitungan bulan.
Konon, program PhD tidak begitu. Ini adalah perjalanan panjang yang butuh ketekunan, disiplin, persistensi, dan strategi berdamai dengan kebosanan.
Lantas, bagaimana dengan kesombongan? Bagi saya, kesombongan ini adalah musuh yang sudah pulang ke baraknya. Jangankan merasa sombong, untuk membangun percaya diri saja rasanya sulit betul!
Saya sangat diberkati dengan diberi kesempatan menempuh studi lanjut tingkat doktoral di Australia. Biaya pendidikan dan hidup keseharian saya juga ditanggung oleh kampus tempat saya belajar: Queensland University of Technology (QUT). Limpahan berkat ini mestinya bikin saya percaya diri, tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Saya merasa harus bekerja berkali-kali lipat daripada kolega karena persoalan bahasa. Mereka juga lebih terbiasa membaca dan menulis. Lalu kedua supervisor saya adalah orang-orang yang sangat berdedikasi dalam bekerja. Saya merasa sulit mengimbangi harapan mereka. Selain itu, semakin banyak hal yang saya baca, semakin saya merasa tidak mengerti dan tidak menguasai apa-apa.
Saya makin sadar dengan rasa rendah diri ini setelah beberapa waktu lalu menolak undangan untuk jadi pembicara di acara diskusi sebuah kampus di Indonesia. Topiknya adalah ‘AI dan jurnalisme’ yang sebetulnya masih ada hubungannya–meski sedikit–dengan yang saya pelajari. Namun saya menolak karena beberapa kali baca makalah tentang topik ini dan merasa ada banyak sekali hal yang tidak saya tahu.
Andaikan undangan ini datang ketika saya masih jadi dosen, pasti sudah saya ambil.
Mengapa begitu? Saya juga tidak tahu pasti jawabnya. Namun rendah diri itu nyata. Banyak orang mengingatkan perlunya kewaspadaan tentang impostor syndrome. Barangkali ini alasan mengapa peringatan itu muncul.
Bagaimanapun, musuh yang sudah pulang ke barak bukan berarti mati. Dia bisa kembali menyerang kapan saja. Maka, menurut saya musuh jiwa yang lain adalah lengah atau kurang waspada.
No comments:
Post a Comment