Skip to main content

Buku Murahan!


[Buku adalah jendela dunia”. Dengan membaca buku, atau tulisan apapun kita bisa bla..bla..bla..] saya dengar itu pertama kali ketika SD.

Setidaknya persepsi mengenai buku masih baik di mata saya hingga akhir semester ini. Seorang dosen memberi kami tugas menulis esai sepanjang 1 halaman A4 dengan spasi 1,5. Esai yang sedikit ini rencananya akan dibukukan. Lalu apa masalahnya?

Pertama, saya tidak melihat hasrat dari mahasiswa untuk membuat tulisan itu menjadi sebuah buku. Anggapan, yang belum tentu benar, ini terlihat dari cara mereka menulis essai: copy-paste dari situs internet, mengerjakan asal-asalan, dan naif. Asal-asalan dan naif mungkin berkaitan dengan kapasitas intelektual dan mental masing-masing, tapi kalau copy-paste (apalagi tanpa menyebutkan sumber!) ? Memalukan.

Kedua, dosen tersebut terlalu memaksakan kehendak. Banyak komentar sinis yang mengatakan: dia hanya ingin melihat namanya terpampang di cover buku sebagai editor. Bagaimana tidak, saya sudah menyampaikan saran agar dia melakukan seleksi terhadap tulisan, karena saya menemukan tulisan yang diindikasikan hasil copy-paste. Sebuah buku, ditulis mahasiswa sekelas, isinya jiplakan dari internet? Buku yang memalukan.

Ketiga, dosen menganggap seluruh mahasiswa mampu membeli buku, setidaknya membeli (mencetak)  buku mereka sendiri. Mampu sih mampu, tapi apakah mahasiswa menganggarkan dana untuk itu? Buku-buku penting saja tidak dibeli, apalagi buku buatan teman-teman sekelas yang isinya jiplakan dari internet? Hanya satu alasan yang paling banyak dipakai: buku itu sebagai portofolio. Layakkah konten buku itu dijadikan portofolio?

Oh ya, harga cetak buku ini sekitar Rp 20.000,00-an. Mahal atau murahkah? Tergantung. Bisa untuk beli pulsa, rokok, makan, bensin, jajan, nonton, shopping, dan sebagainya. Tapi sekali lagi bukan masalah harga buku secara nominal, teman-teman.. melainkan “harga” yang diletakkan pada konten buku itu, apa pesan yang hendak disampaikan, dan bagaimana pesan itu dirangkai dalam tulisan yang diletakkan pada halaman per halaman.

Terus terang, buat saya, buku itu buku murahan. Berat untuk membeli buku murahan dengan harga Rp 20.000,00-an. Tetapi bagaimanapun, isi buku itu adalah karya. Tiap karya layak untuk diapresiasi. Berat untuk mengapresiasi karya jiplakan dari intelektual muda yang gayanya luar biasa hebat?  Hmm.. itu masalah lain.

Comments

Popular posts from this blog

Mengenang Rama J. B. Hari Kustanto, SJ

Super pakdhe! Sambil berbaring, dia meminta Pakdhe Hari dan saya untuk membantunya duduk di kasur. Setelah duduk di pinggiran, dia menempelkan kedua telapak kakinya di lantai dingin rumah Patangpuluhan. Sambil tetap berpegangan lengan kami, dia menyentakkan kakinya lalu berdiri. Pakdhe Hari bilang ‘Hebat!’ Lalu dia tersenyum sambil menggerak-gerakkan kakinya. Bagi saya, itu adegan terindah yang saya alami bersama Pakdhe Tanto di hari-hari akhirnya. Dia sudah mengidap sakit tumor di organ otak sejak tahun 2007. Pertengahan tahun 2007 itu, Pakdhe Tanto menjalani kemoterapi. Saya, yang masih sekolah di Muntilan, terpaksa ijin barang sehari untuk menemuinya di rumah sakit. Saya tidak begitu ingat bagaimana kondisi Pakdhe Tanto waktu itu. Namun yang saya ingat adalah dukungan semangat dan motivasi dari saudara kandung beliau. “Sesuk natalan bareng ya mas neng nggone mas Hari..” begitulah dukungan mereka. Diam-diam saya mendengar obrolan lirih yang sedih dan singkat....

Obrolan Ringan bareng Pak Manyung

Jarum jam menunjuk angka 9 malam. Seharusnya saya beristirahat, tetapi perut ini berteriak-teriak. Maka meluncurlah saya ke sebuah warung tenda pinggir jalan di Gedawang. Warung itu tak bernama. Penjualnya sih sudah pasti punya nama, tapi saya terlalu malas untuk bertanya. Jadi, istri dan saya beri nama sendiri saja: Pak Manyung. Mengapa kasih nama itu? Begini ceritanya.  

Sowan Dewi Mariyah di Meanjin

Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba foto patung Bunda Maria di sebuah tempat ziarah melintas begitu saja. Dari layar kecil di genggaman, Dia seakan memanggil-manggil. Lalu lahirlah semacam kegelisahan dan kerinduan yang sulit dijelaskan. Tak butuh waktu lama, kami sekeluarga merencanakan pergi sowan Dewi Mariyah di suatu tempat bernama Marian Valley. Perkenalkan, saya Ryan. Saya suami dari seorang istri yang luar biasa. Kami dianugerahi dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Saat ini hingga beberapa tahun ke depan saya menjalani peziarahan keilmuan di pesisir timur Australia, tepatnya di Brisbane.