Skip to main content

Mengais yang Lalu

Saya pernah punya blog dari wordpress.com. Berikut ini daftar tulisan-tulisan yang terlanjur diposting:


1.       Ketika saya ditolak masuk PTN. Untuk yang keempat kalinya.. Ehm.

2.       Ketika pertama kali pergi ke rumah ‘teman hidup’.

3.       Tentang seorang sahabat yang kala itu sibuk dengan urusan duniawi.


4.       Tulisan untuk ‘teman hidup’ saat berulang tahun.

5.       Ketika saya jengah mendengar suara klakson di perempatan jalan.

6.       Terinspirasi dari pengemis di perempatan Kehutanan UGM.

7.       Terinspirasi ketika mengantarkan ‘teman hidup’ ke stasiun KA.

8.      Setelah pulang dari kuliah agama.

9.       Tentang agama dan ‘Adit’.

10.   Ketika saya tertarik untuk mati.

11.    Terinspirasi dari gerakan orang Katolik dalam politik kala itu.

12.    Ketika pertama kali memotret aksi (May Day 2010)

13.    Sempat takjub pada Soe Hok Gie.

14.    Ketika terkejut, dua presiden republik ini dikategorikan sebagai tiran.

15.    Terinspirasi setelah nonton film.

16.    Ketika saya kecewa karena kemacetan kota Jogja.

Semua ditulis belum lama ini, belum sampai bertahun-tahun. Tetaplah menulis, meski berkualitas busuk dan acak-acakan. Setidaknya kemudian kita tahu apa yang ada di otak kita, dan apa yang tidak ada. Dengan demikian kita tidak mengada-ada, yang lebih menyakitkan, hanya pura-pura ada.


Comments

Popular posts from this blog

Mengenang Rama J. B. Hari Kustanto, SJ

Super pakdhe! Sambil berbaring, dia meminta Pakdhe Hari dan saya untuk membantunya duduk di kasur. Setelah duduk di pinggiran, dia menempelkan kedua telapak kakinya di lantai dingin rumah Patangpuluhan. Sambil tetap berpegangan lengan kami, dia menyentakkan kakinya lalu berdiri. Pakdhe Hari bilang ‘Hebat!’ Lalu dia tersenyum sambil menggerak-gerakkan kakinya. Bagi saya, itu adegan terindah yang saya alami bersama Pakdhe Tanto di hari-hari akhirnya. Dia sudah mengidap sakit tumor di organ otak sejak tahun 2007. Pertengahan tahun 2007 itu, Pakdhe Tanto menjalani kemoterapi. Saya, yang masih sekolah di Muntilan, terpaksa ijin barang sehari untuk menemuinya di rumah sakit. Saya tidak begitu ingat bagaimana kondisi Pakdhe Tanto waktu itu. Namun yang saya ingat adalah dukungan semangat dan motivasi dari saudara kandung beliau. “Sesuk natalan bareng ya mas neng nggone mas Hari..” begitulah dukungan mereka. Diam-diam saya mendengar obrolan lirih yang sedih dan singkat....

Obrolan Ringan bareng Pak Manyung

Jarum jam menunjuk angka 9 malam. Seharusnya saya beristirahat, tetapi perut ini berteriak-teriak. Maka meluncurlah saya ke sebuah warung tenda pinggir jalan di Gedawang. Warung itu tak bernama. Penjualnya sih sudah pasti punya nama, tapi saya terlalu malas untuk bertanya. Jadi, istri dan saya beri nama sendiri saja: Pak Manyung. Mengapa kasih nama itu? Begini ceritanya.  

Sowan Dewi Mariyah di Meanjin

Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba foto patung Bunda Maria di sebuah tempat ziarah melintas begitu saja. Dari layar kecil di genggaman, Dia seakan memanggil-manggil. Lalu lahirlah semacam kegelisahan dan kerinduan yang sulit dijelaskan. Tak butuh waktu lama, kami sekeluarga merencanakan pergi sowan Dewi Mariyah di suatu tempat bernama Marian Valley. Perkenalkan, saya Ryan. Saya suami dari seorang istri yang luar biasa. Kami dianugerahi dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Saat ini hingga beberapa tahun ke depan saya menjalani peziarahan keilmuan di pesisir timur Australia, tepatnya di Brisbane.