Skip to main content

Jangan Terlalu Serius

Malam ini adalah malam yang biasa dari dunia magang kerja yang sedang saya lakoni. Tadi teman-teman di kantor merasa tidak punya harapan untuk pulang dengan tenang. Jalur-jalur yang mereka lewati sedang macet parah , dengar-dengar akibat ada aksi demo. Biasa itu.

Yang luar biasa adalah ketika saya berkomunikasi via pesan singkat dengan bapak. Ia pergi ke Bandung malam ini menggunakan kereta api. Di dalam kereta tercium bau cat, menurut ia pada awalnya memang menyenangkan. Namun lama kelamaan bau cat itu ternyata menyengat dan membuat pusing kepala. Pada suatu perjalanan yang lalu juga ada kejadian serupa, namun bau yang menyengat adalah bau badan seorang penumpang. Tak kalah bikin pusing kepala. Lalu saya berkelakar: mambu kringet karo mambu cat, pilih endi? :)

Jawaban atas pertanyaan inilah yang membuat saya berpikir. Bapak menjawab berdasarkan homili seorang romo (pastur) yang ditangkapnya belum lama ini. Dalam homilinya romo itu berkata bahwa akibat dosa asal, manusia selalu ada dalam sisi gelap yang mengakibatkan manusia bereaksi negatif. Tapi ada Yesus, dalam kultur Jawa bisa disamakan dengan kakang kawah, yang selalu membisiki manusia untuk bergeser ke sisi terang supaya bisa beraksi positif. Bapak berjuang bergeser ke sisi terang untuk mencoba mensyukuri bahwa bau cat itu lebih enak dari bau keringat, bau abab (bau mulut), dan bau duren (fyi: ia anti bau duren).

Nah..saya juga pernah menonton acara televisi mengenai seorang yang pernah tertembus besi pagar dari bawah ketiak sampai keluar di dekat leher. Ia masih hidup. Orang-orang berkata kepada dia: "Kamu orang beruntung. Dengan kecelakaan seperti itu, kamu masih bertahan hidup." Tahu apa yang ia jawab? Ia berkata sambil tertawa: "Kalau aku beruntung, aku tidak akan mengalami kejadian ini."
Hal seperti ini yang sering saya dengar dari orang-orang sekitar. Misal, ketika ada orang kecelakaan. Banyak bagian tubuhnya berdarah. Setelah diperiksa, ia 'hanya' luka luar. Orang lalu bilang: untung tidak ada yang patah, untung masih hidup, untung orang yang menabrak masih mau bertanggungjawab. Atau dengan kata lain: bersyukur tulangnya masih utuh, bersyukkur masih hidup, bersyukur orang yang menabrak masih mau bertanggungjawab.


Orang yang kecelakaan bisa saja bilang 'Kalau beruntung ya aku tidak mengalami kecelakaan, jatuh, dan bersimbah darah.', tapi saya yakin tak sedikit juga yang mengamini omongan orang-orang di sekitarnya untuk merasa bahwa dia beruntung dan harus bersyukur dengan luka-luka luarnya itu.

Saya hanya menduga, bahwa orang perlu referensi atau pembanding dari arasi lain (entah fiktif atau empiris) untuk bersyukur. Narasi yang lain itu adalah narasi yang lebih buruk dari narasi yang sedang ia hadapi. Tapi betulkah itu? Betulkah kita perlu menciptakan narasi lain untuk bersyukur, atau setidaknya merasa beruntung? Tidak bisakah kita merasa beruntung dan mengucap syukur tanpa menggunakan narasi yang lebih buruk?

By the way, saya lalu bertanya kepada bapak. Kalau ajaran Katolik bilang bahwa yang membuat manusia bereaksi negatif adalah dosa asal, lalu yang menyelamatkan adalah Yesus, bagaimana dengan ajaran Jawa? Kalau yang 'menyelamatkan' adalah kakang kawah, siapakah atau apakah yang membuat manusia bereaksi negatif? Lalu jawaban bapak begini: aja terlalu serius, iku teologi awur-awuran. Mbok menawa sing dimaksud dosa asal dalam kultur Jawa ya semacam 'gawan bayi'.

Baiklah, jangan terlalu serius. Saya masih beberapa minggu di Jakarta, mengalami magang di perusahaan media yang cukup besar. Saya melakukan ini dalam rangka kuliah. Artinya apa? Artinya yang pertama, saya bisa kuliah. Saya bisa tinggal di Jakarta, menyewa sebuah kamar yang sumuk dengan harga sewa ratusan ribu per bulan. Saya juga diberi uang saku yang cukup untuk makan sebulan. Perlukah saya menggunakan narasi lain untuk bersyukur? Saya sangat ingin tidak menggunakan narasi lain untuk membuat saya lebih bersyukur. Tapi bukankah narasi salah satunya ada untuk hal-hal semacam ini?
Ah, baiklah, jangan terlalu serius. Angkat alis, nyamankan badan, mari istirahat.

(18-07-2012; 22:55; kamar kos nomor 4 di sebuah rumah di Palmerah)

Comments

Popular posts from this blog

Mengenang Rama J. B. Hari Kustanto, SJ

Super pakdhe! Sambil berbaring, dia meminta Pakdhe Hari dan saya untuk membantunya duduk di kasur. Setelah duduk di pinggiran, dia menempelkan kedua telapak kakinya di lantai dingin rumah Patangpuluhan. Sambil tetap berpegangan lengan kami, dia menyentakkan kakinya lalu berdiri. Pakdhe Hari bilang ‘Hebat!’ Lalu dia tersenyum sambil menggerak-gerakkan kakinya. Bagi saya, itu adegan terindah yang saya alami bersama Pakdhe Tanto di hari-hari akhirnya. Dia sudah mengidap sakit tumor di organ otak sejak tahun 2007. Pertengahan tahun 2007 itu, Pakdhe Tanto menjalani kemoterapi. Saya, yang masih sekolah di Muntilan, terpaksa ijin barang sehari untuk menemuinya di rumah sakit. Saya tidak begitu ingat bagaimana kondisi Pakdhe Tanto waktu itu. Namun yang saya ingat adalah dukungan semangat dan motivasi dari saudara kandung beliau. “Sesuk natalan bareng ya mas neng nggone mas Hari..” begitulah dukungan mereka. Diam-diam saya mendengar obrolan lirih yang sedih dan singkat....

Obrolan Ringan bareng Pak Manyung

Jarum jam menunjuk angka 9 malam. Seharusnya saya beristirahat, tetapi perut ini berteriak-teriak. Maka meluncurlah saya ke sebuah warung tenda pinggir jalan di Gedawang. Warung itu tak bernama. Penjualnya sih sudah pasti punya nama, tapi saya terlalu malas untuk bertanya. Jadi, istri dan saya beri nama sendiri saja: Pak Manyung. Mengapa kasih nama itu? Begini ceritanya.  

Sowan Dewi Mariyah di Meanjin

Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba foto patung Bunda Maria di sebuah tempat ziarah melintas begitu saja. Dari layar kecil di genggaman, Dia seakan memanggil-manggil. Lalu lahirlah semacam kegelisahan dan kerinduan yang sulit dijelaskan. Tak butuh waktu lama, kami sekeluarga merencanakan pergi sowan Dewi Mariyah di suatu tempat bernama Marian Valley. Perkenalkan, saya Ryan. Saya suami dari seorang istri yang luar biasa. Kami dianugerahi dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Saat ini hingga beberapa tahun ke depan saya menjalani peziarahan keilmuan di pesisir timur Australia, tepatnya di Brisbane.