10 April 2018

Untung Pakai BPJS Kesehatan (Bagian 1)


via sportsmd.com
Saya Ryan Sanjaya, warga negara yang biasa-biasa saja. Sebagai warga negara yang biasa, saya turut sok-sokan memberi komentar-komentar di medsos kalau ada kebijakan pemerintah yang menurut saya merugikan. Nah, supaya adil dan seimbang, kali ini saya akan membagikan cerita “kepuasan” saya sebagai warga negara, yaitu menjadi peserta BPJS Kesehatan (selanjutnya saya sebut BPJS saja).

Senjakala Facebook, Kemenangan Politik Kita?


via batamnews.co.id
Beberapa pekan lalu perusahaan raksasa Facebook sedang kelimpungan dihajar pasar. Mereka rugi sekitar 60 milliar dolar AS di pasar saham setelah harganya anjlok lantaran skandal pencurian 50 juta data pelanggan Facebook.

Adalah Cambridge Analytica (CA), sebuah firma analisis data yang mencuri data pelanggan tersebut dalam misi pemenangan Presiden Donald Trump pada pemilu tahun 2016 lalu. CA mengumpulkan data identitas pengguna, jaringan pertemanan, serta jumlah “like” dari pengguna terkait.

05 February 2018

KUTUKAN SERAMPANGAN ALA WARGANET

via www.collegexpress.com
“Itulah azab yang harus diterima oleh orang yang kerja di sistem riba..”
“Itu yang bego suaminya. Tau istrinya stress kerjaan kok didiemin aja. Diajak jalan-jalan kek. Gak becus amat jadi suami..”

Persoalan yang ada pada fenomena penggunaan Internet di Indonesia ada begitu banyak. Kalaupun tidak banyak, sifatnya mendalam dan akut.

Selain soal rendahnya kemampuan mengidentifikasi hoaks, persoalan yang mengusik belakangan ini adalah soal penghakiman, kutukan, atau barangkali ada istilah lain yang lebih pas untuk itu.

Dua kutipan di atas adalah komentar yang saya temukan di Facebook. Komentar itu menanggapi berita tentang seorang karyawati bank yang bunuh diri di Jakarta dengan cara melompat dari lantai 10. Kebetulan, korban tersebut adalah warga Yogyakarta. Beberapa teman saya mengenalnya dengan baik.

Alih-alih berempati dan membahas soal penanganan depresi, segelintir (atau justru sebagian besar) warganet justru menghakimi korban dan orang-orang dekat korban. Bagi saya, itu kejahatan.

Orang-orang barangkali bisa berkata “terserah orang mau bilang apa” dan ungkapan-ungkapan sejenisnya, tetapi itu tak menyelesaikan persoalan. Sependek yang saya amati, ada dua persoalan bertingkat yang menjangkiti sebagian warganet. Pertama adalah persoalan rendahnya pengetahuan dan empati. Kedua adalah persoalan pengungkapan pendapat itu sendiri di dunia maya.

Tak tahukah warganet bahwa depresi itu tidak bisa disepelekan? Penanganan orang depresi tidak dapat diselesaikan dengan memeluk korban depresi lalu mengatakan “rileks sajalah, hidup hanya sekali, dibikin hepi saja..” Tidak. Itu terlalu lugu dan sederhana—jika tidak dikatakan konyol.

Tak tahukah warganet kondisi psikologis orang-orang terdekat korban bunuh diri? Apakah warganet tak punya kemampuan untuk mengimajinasikan berada pada posisi-posisi tertentu untuk mengolah kepekaan persepsinya? Terlalu sulitkah untuk membayangkan sahabat terdekat bunuh diri? Pasangan? Saudara?

Berkata sinis dan tidak hormat, atau lebih dari itu: mengutuk pakai dalil agama, kepada korban dan orang-orang terdekat adalah realitas yang menjangkiti warganet. Kita tak bisa mengelak lagi atas tuduhan ini. Buktinya banyak dan bertebaran di mana-mana.

Barangkali persoalan ini berakar pada terbatasnya pengetahuan dan gagal dalam berempati. Tentu akan sangat ironis ketika kita sadar bahwa persoalan ini muncul dari masyarakat yang konon berkarakter komunal, agamis, menjunjung tinggi sopan santun, dan mengagungkan “rasa” dalam bertindak.

Soal yang lebih parah adalah soal pengungkapan di dunia maya. Tidakkah warganet punya kebijaksanaan dalam diri untuk menyaring apa-apa yang perlu diutarakan di dunia maya? Tak cukup luaskah pikiran mereka untuk menampung segala hal hingga semua-muanya harus diungkapkan dalam dunia maya?

Konsep “kebebasan berpendapat” tidak selayaknya digunakan untuk membenarkan dua kutipan di atas. Konsep itu barangkali lebih tepat digunakan dalam konteks politik, mengenai warga yang kini lebih mampu bersuara dibandingkan dengan era pembungkaman ala Orde Baru.

Jika suara-suara kutukan dan tidak berempati itu terdengar santer di media sosial, mana deskripsi yang lebih tepat untuk menggambarkannya: orang-orang bodoh yang bersuara keras atau orang-orang bijak yang memilih diam?



28 November 2017

Semua Akan (P)indah Pada Waktunya

Nelayan melintasi sabuk pantai bambu di Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Emas, Semarang Utara, Rabu 6 Agustus 2014. Mayoritas kondisi sabuk pantai di pantai utara Jawa mengalami kerusakan cukup parah. | via TribunJateng: Wahyu Sulistyawan | jateng.tribunnews.com

Untuk pertama kalinya saya masuk ke kawasan Universitas Diponegoro (UNDIP) di daerah Tembalang (21/10). Di sana sudah berkumpul puluhan mahasiswa dari berbagai universitas yang tergabung dalam organisasi Nationwide University Network in Indonesia (NUNI). Saya diminta untuk bicara di depan para intelektual muda ini soal penulisan kritis.

Panitia sudah merancang acara ini dengan begitu baik. Mahasiswa diberi pembekalan macam-macam sebelum keesokan harinya diajak untuk observasi di daerah Tambaklorok, Semarang. Di sana mereka diajak untuk mengidentifikasi permasalahan, kemudian menelurkan ide-ide untuk mengatasi permasalahan tersebut.

22 November 2017

Kejenakaan Kerja di Jalur 2 Kilometer

via www.kompas.com

Beberapa bulan ini ban sepeda motor menggelinding ke rutinitas jalur yang berbeda. Bukan lagi Jalan Godean hingga Babarsari. Ataupun Jalan Godean hingga Bulaksumur. Tetapi Jatingaleh hingga Pawiyatan Luhur. Jarak tempuhnya hanya sekitar 2 kilometer.

24 October 2017

Oktober yang Basah di Gunung Gede

10 September malam, ketika notifikasi aplikasi obrolan di handphone berbunyi.

“Jay, kalau berkenan tanggal 6 aku sama Gultom mau naik Gede. Siapa tau kita bisa mengabadikan foto lagi biar kayak orang-orang kekinian. Hehe..”

Dennis, kawan semasa SMA menghubungi dengan kata-kata itu. Meski sedang meriang dan banyak kekhawatiran soal kekuatan fisik, saya sulit menolak ajakan itu. Sedangkan Gultom, adalah kawan SMA juga. Kami bertiga beberapa kali satu rombongan dalam pendakian, salah satunya ke Merapi.

14 September malam (masih meriang), akhirnya ajakan tersebut saya terima dengan semangat. Energi saya jadi melimpah ruah ketika tahu bahwa sahabat-sahabat saya yang lain (Bayu dan Gida) juga ikut dalam pendakian kali ini. “Sekalian reuni,” pikirku.

Celakanya, meriang ini masih berlanjut lama. Untungnya, saya merasa betul-betul sembuh kurang dari seminggu jelang tanggal yang kami sepakati.

Atas kebaikan Bayu dan Dennis, serta jasa baik om Yohanes, semua logistik kelompok, urusan transportasi, dan perijinan sudah beres semua sejak sebelum saya berangkat dari Semarang. Betul-betul malaikat penolong !

6 Oktober pagi, setelah saya memacu sepeda motor ke kampus untuk presensi sidik jari, saya segera pesan Go-Jek untuk ke Stasiun Tawang, Semarang. Di sana sudah menunggu kereta untuk mengangkutku ke Stasiun Pasar Senen, Jakarta.

Sampai di Jakarta, saya menuju ke kantor Heni (kekasih) untuk sekalian menjemputnya pulang ke kos. Atas kebaikannya pula, saya bisa cari logistik, tali, serta pinjaman gelas dan sendok. Malam hari sekitar pukul 21 baru saya ke rumah Bayu yang kami sepakati sebagai titik kumpul.

Singkat cerita, kami sampai di basecamp Gunung Putri sekitar pukul 4 pagi menggunakan mobil om Yohanes. Total kami berangkat 6 orang: Gultom, Dennis, Bayu, Gida, Adi Bleki, dan saya sendiri. Di sana kami langsung disambut orang dalam, lalu diberi tempat untuk rebahan sejenak sambil persiapan.

Berakhirnya sarapan adalah awal dari perjuangan pendakian ini. Kami awali pendakian ini dengan berdoa, memohon keselamatan dan perlindungan supaya semua kembali dengan utuh, sehat, dan selamat.

11 October 2017

Kebingungan yang Berakhir Omong Kosong

via www.sansbullshitsans.com

Terjun langsung ke dunia pendidikan membuat pikiran saya semakin mengawang-awang. Membaca tulisan-tulisan lawas di blog ini, saya merasa dulu saya adalah mahasiswa yang idealis.
Jangan salah, idealis yang saya maksud bukanlah menjadi mahasiswa yang ideal: nilai aman, aktif berorganisasi, rajin riset, doyan baca buku, produktif dalam menulis dan berkarya, jatuh cinta berkali-kali, serta tak lupa naik gunung, nongkrong setiap malam—ditemani rokok, alkohol, gitar, dan film.

Pendewaan Scopus dan Standardisasi Kebanggan

Ada seorang akademisi menulis di Thread:  "Akademisi kita begitu mendewakan Scopus tapi anehnya, jarang tulisan hasil risetnya dikutip ...