Skip to main content

Manusia-Manusia Perpustakaan

Ya, mereka manusia-manusia perpustakaan.
Bukan para pegawai perpustakaan,
namun mereka yang menghabiskan sore ini di perpustakaan.

Lihatlah mereka:
duduk tegak;
kepala tenang;
ekspresi wajah mulai dari terkantuk-kantuk hingga mencoba menyatukan kedua alisnya, semua ada.

Sang bijak berkata: apa yang anda baca, itulah isi otak anda.
Lihatlah bacaan mereka:
buku-buku agama;
jurnalisme dan komunikasi;
kebijakan publik;
semua berserakan di banyak meja yang disediakan.
Itukah isi otaknya? Entah.



Maaf,
ternyata tidak hanya buku di sini.
Dari 9 pengunjung yang bersama saya,
3 pengunjung hanya berhadapan dengan kertas dan buku.
Laptop pribadi ada di depan 6 pengunjung lainnya.
File-file di laptop adalah isi otaknya? Entah juga.

Sayang sekali..
Di sudut ruang ber-AC ini ada orang tidak tahu diri.
Pekerja tua yang dengan pongahnya menyalakan rokok,
meninggalkan bau asap ke seluruh ruangan.
Asap yang segera tercium segera menginterupsi barisan-barisan kata yang berjejalan masuk ke dalam otak.
Mungkin dia kedinginan.
Sangat dan terlalu kedinginan, hingga otaknya membeku.

Perpustakaan adalah gudang buku, sedang buku adalah gudang ilmu.

Ilmu yang tersimpan rapi di rak-rak yang berjajar membisu.
Membisu pasrah dililit debu dan abu.

Ilmu yang berdebu dan berwarna kuning.
Persis sinar matahari yang tertutup awan kelabu.

Ilmu yang tak lama lagi habis dimakan rayap.
Rayap yang mengubah ilmu menjadi setumpuk kotoran bau.

Ilmu yang menjadi saksi atas mereka:
manusia-manusia perpustakaan.
Manusia yang enggan untuk merasa enggan.

Comments

Popular posts from this blog

Mengenang Rama J. B. Hari Kustanto, SJ

Super pakdhe! Sambil berbaring, dia meminta Pakdhe Hari dan saya untuk membantunya duduk di kasur. Setelah duduk di pinggiran, dia menempelkan kedua telapak kakinya di lantai dingin rumah Patangpuluhan. Sambil tetap berpegangan lengan kami, dia menyentakkan kakinya lalu berdiri. Pakdhe Hari bilang ‘Hebat!’ Lalu dia tersenyum sambil menggerak-gerakkan kakinya. Bagi saya, itu adegan terindah yang saya alami bersama Pakdhe Tanto di hari-hari akhirnya. Dia sudah mengidap sakit tumor di organ otak sejak tahun 2007. Pertengahan tahun 2007 itu, Pakdhe Tanto menjalani kemoterapi. Saya, yang masih sekolah di Muntilan, terpaksa ijin barang sehari untuk menemuinya di rumah sakit. Saya tidak begitu ingat bagaimana kondisi Pakdhe Tanto waktu itu. Namun yang saya ingat adalah dukungan semangat dan motivasi dari saudara kandung beliau. “Sesuk natalan bareng ya mas neng nggone mas Hari..” begitulah dukungan mereka. Diam-diam saya mendengar obrolan lirih yang sedih dan singkat....

Obrolan Ringan bareng Pak Manyung

Jarum jam menunjuk angka 9 malam. Seharusnya saya beristirahat, tetapi perut ini berteriak-teriak. Maka meluncurlah saya ke sebuah warung tenda pinggir jalan di Gedawang. Warung itu tak bernama. Penjualnya sih sudah pasti punya nama, tapi saya terlalu malas untuk bertanya. Jadi, istri dan saya beri nama sendiri saja: Pak Manyung. Mengapa kasih nama itu? Begini ceritanya.  

Sowan Dewi Mariyah di Meanjin

Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba foto patung Bunda Maria di sebuah tempat ziarah melintas begitu saja. Dari layar kecil di genggaman, Dia seakan memanggil-manggil. Lalu lahirlah semacam kegelisahan dan kerinduan yang sulit dijelaskan. Tak butuh waktu lama, kami sekeluarga merencanakan pergi sowan Dewi Mariyah di suatu tempat bernama Marian Valley. Perkenalkan, saya Ryan. Saya suami dari seorang istri yang luar biasa. Kami dianugerahi dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Saat ini hingga beberapa tahun ke depan saya menjalani peziarahan keilmuan di pesisir timur Australia, tepatnya di Brisbane.