06 July 2015

Jam Terbang

Selama saya kuliah, sering ada pertanyaan yang tak pernah terungkap, “Mengapa para dosen bisa begitu pintar? Berapa banyak buku yang mereka baca? Berapa jam dalam sehari mereka membaca?”
Lalu saya membuat niat bodong, alias tak pernah terjadi. Niat itu adalah rajin membaca hingga sebelum lulus kuliah bisa sepandai mereka.
Sebuah kenyataan menghampiri saya. Paling tidak menyadarkan bahwa saya tidak usah terobsesi sampai segitunya.
Mereka para dosen itu memang sudah lama belajar ilmu ini. Mereka sudah mulai mendengar nama Lasswell sejak tali pusar saya belum puput, atau sejak dalam kandungan, atau sejak bapak ibu masih mengusahakan saya untuk ada.
Tidak, itu tidak menghentikan aktivitas membaca saya. Kenyataan itu membuat saya lebih realistis dan menyadari: barangkali memang jam terbanglah yang berbicara.

No comments:

Post a Comment

Pertemuan Dua Mingguan di Australia: Ringkas, Berisi, dan Tanpa Lembar Presensi

Kemarin aku ikut pertemuan rutin dua mingguan ( fortnight ) program Digital Public* di kampus tempatku kuliah: Queensland University of Tec...