29 July 2013
di Sadap
Hari ini (29/7) pukul 9:47 WIB saya membuka halaman facebook. Di post paling atas tampak postingan dari akun Kompas.com.
Tulisan "SBY di Sadap Australia" rasanya lebih mengganggu dari sambal pedas yang saya makan semalam.
Saya lalu gugling kata itu. Ini hasil yang muncul:
Bukankah ini seharusnya pertanyaan yang sama yang diajukan audiens ke Kompas.com?
Terima kasih saya ucapkan kepada Kompas.com yang turut menyumbang keMAJEMUKan bahasa Indonesia.
Terima kasih sekali lagi.
26 July 2013
Terlalu Percaya Diri
Ketika dia punya segalanya,
aku harus siap ditinggalkan.
Ketika segalanya sudah lenyap,
aku harus siap menerima dia kembali.
Tetapi suatu saat nanti dia harus siap,
bahwa segalanya akan pergi dan tak kembali.
Itu adalah saat aku mati.
aku harus siap ditinggalkan.
Ketika segalanya sudah lenyap,
aku harus siap menerima dia kembali.
Tetapi suatu saat nanti dia harus siap,
bahwa segalanya akan pergi dan tak kembali.
Itu adalah saat aku mati.
11 May 2013
Sebuah Kritik
Sebenarnya mana yang sebaiknya dilakukan:
Menyebut diri sebagai penyanyi, baru setelah itu (sambil jalan) belajar bernyanyi;
atau belajar bernyanyi sesuai karakter suara hingga merdu, lalu menyebut diri sebagai penyanyi?
Berat untuk bicara ini, tapi tampaknya teknologi mendorong orang muda untuk nyampah. Ada yang mengaku penulis fiksi mini, namun setelah dibaca ceritanya seragam dan tidak mengigit. Ada yang mengaku street photographer, padahal hanya foto keramaian orang di jalan yang di-hitamputih-kan.
Parahnya lagi, yang terakhir tadi sudah memberikan tips-tips dalam akun media sosial, layaknya ahli fotografi betulan. Masalah yang lebih penting adalah...tips-tips itu adalah hasil copy paste. Ah, sampah.
Banyak sekali sampah, tulisan ini mungkin di antaranya.
Menyebut diri sebagai penyanyi, baru setelah itu (sambil jalan) belajar bernyanyi;
atau belajar bernyanyi sesuai karakter suara hingga merdu, lalu menyebut diri sebagai penyanyi?
Berat untuk bicara ini, tapi tampaknya teknologi mendorong orang muda untuk nyampah. Ada yang mengaku penulis fiksi mini, namun setelah dibaca ceritanya seragam dan tidak mengigit. Ada yang mengaku street photographer, padahal hanya foto keramaian orang di jalan yang di-hitamputih-kan.
Parahnya lagi, yang terakhir tadi sudah memberikan tips-tips dalam akun media sosial, layaknya ahli fotografi betulan. Masalah yang lebih penting adalah...tips-tips itu adalah hasil copy paste. Ah, sampah.
Banyak sekali sampah, tulisan ini mungkin di antaranya.
Merapi 4-5-2013
Tanggal 4 Mei 2013 adalah pendakian di Merapi untuk ketiga kalinya. Saya bergabung dalam tim yang berjumlah enam orang, dua di antaranya baru pertama kali naik gunung. Enam orang itu adalah: Dennis, Dicky, Cabul, Prety, Dimas, dan saya sendiri.
Prestasi saya masih sama seperti pendakian sebelumnya, menjadi anggota tim yang paling sering minta berhenti. hehe.. Padahal saya sudah cukup lama mempersiapkan fisik. Meski begitu nampaknya fisik saya belum cukup kuat untuk naik. Selain itu ada faktor-faktor yang saya rasa cukup berpengaruh.
Pertama, kami tidak tidur semalaman. Jadi hari Jumat (3/5) malam kami berada di rumah Pak Leo (seorang pemilik warung makan) di Muntilan. Pukul 00:30 kami berangkat ke basecamp pendakian Selo. Pukul 02:15 kami beranjak dari New Selo, lalu istirahat sangat panjang di gapura selamat datang. Di sana menahan hawa dan angin dingin, sambil karaokean dengan lagu rohani. Suci sekali -.-
Di tempat itu kami berhenti lebih dari satu jam. Lama sekali. Lalu berjalan dengan sangat perlahan dan suantai hingga sampai di Pasar Bubrah pukul 09:15. Di sana kami tidur-tiduran berjejer di bawah batu pada pukul 10:00 hingga 11:00. Pukul 11:20 kami beranjak turun dan baru sampai New Selo lagi pada pukul 15:00.
Kedua, saya kurang makan. Awalnya saya berencana bawa nasi bungkus. Tetapi setelah ngobrol-ngobrol, akhirnya cuma bawa roti dan selai. Teman-teman lain juga demikian, mereka bawa roti, gula jawa, dan sebagainya. Menurut saya, makanan-makanan itu tidak bikin tubuh berlemak saya menjadi bertenaga -.- mungkin seharusnya saya bawa apel, atau pisang, yang katanya memulihkan tenaga dengan lebih cepat.
Pendakian kali ini mengingatkan saya untuk mempersiapkan fisik dengan lebih keras dan lebih teratur. Meski saya ingin mencoba naik lagi, namun sepertinya saya harus membatasi diri dan membuat janji. Misalnya, tidak naik gunung lagi sebelum pendadaran skripsi. Besok setelah pendadaran, jelas saya berencana menghadiahi diri lagi dengan mendaki lagi :)
Sekian dulu tulisan pendakian, saya mau melanjutkan bab ke sekian.
NB: Proficiat untuk Prety dan Dimas yang akhirnya sudah mendaki gunung. Selamat mendaki gunung-gunung yang lain :)
Prestasi saya masih sama seperti pendakian sebelumnya, menjadi anggota tim yang paling sering minta berhenti. hehe.. Padahal saya sudah cukup lama mempersiapkan fisik. Meski begitu nampaknya fisik saya belum cukup kuat untuk naik. Selain itu ada faktor-faktor yang saya rasa cukup berpengaruh.
Pertama, kami tidak tidur semalaman. Jadi hari Jumat (3/5) malam kami berada di rumah Pak Leo (seorang pemilik warung makan) di Muntilan. Pukul 00:30 kami berangkat ke basecamp pendakian Selo. Pukul 02:15 kami beranjak dari New Selo, lalu istirahat sangat panjang di gapura selamat datang. Di sana menahan hawa dan angin dingin, sambil karaokean dengan lagu rohani. Suci sekali -.-
Di tempat itu kami berhenti lebih dari satu jam. Lama sekali. Lalu berjalan dengan sangat perlahan dan suantai hingga sampai di Pasar Bubrah pukul 09:15. Di sana kami tidur-tiduran berjejer di bawah batu pada pukul 10:00 hingga 11:00. Pukul 11:20 kami beranjak turun dan baru sampai New Selo lagi pada pukul 15:00.
Kedua, saya kurang makan. Awalnya saya berencana bawa nasi bungkus. Tetapi setelah ngobrol-ngobrol, akhirnya cuma bawa roti dan selai. Teman-teman lain juga demikian, mereka bawa roti, gula jawa, dan sebagainya. Menurut saya, makanan-makanan itu tidak bikin tubuh berlemak saya menjadi bertenaga -.- mungkin seharusnya saya bawa apel, atau pisang, yang katanya memulihkan tenaga dengan lebih cepat.
Pendakian kali ini mengingatkan saya untuk mempersiapkan fisik dengan lebih keras dan lebih teratur. Meski saya ingin mencoba naik lagi, namun sepertinya saya harus membatasi diri dan membuat janji. Misalnya, tidak naik gunung lagi sebelum pendadaran skripsi. Besok setelah pendadaran, jelas saya berencana menghadiahi diri lagi dengan mendaki lagi :)
Sekian dulu tulisan pendakian, saya mau melanjutkan bab ke sekian.
NB: Proficiat untuk Prety dan Dimas yang akhirnya sudah mendaki gunung. Selamat mendaki gunung-gunung yang lain :)
22 April 2013
#mbulet
"Goblok", kata seorang dosen sambil mencoret-coret hasil ketikan seorang mahasiswa. Ketikan itu bernama skripsi.
Kejadian terus saja berulang. Coret-coretan. Kata goblok.
Untung sekarang saya sudah jarang lihat kejadian itu, karena saya sendiri sedang mengerjakan skripsi, dan saya anak dari dosen tadi.
#mbulet
18 April 2013
Ladang
Suatu sore di kala hujan saya berteduh di rumah simbah.
Saya bercerita, "Sakniki kula namung saged maca lan ngetik." Jawab simbah, "Ya dilakoni, le, kuwi ladangmu."
Lalu saya segera pergi ke ladang, meski tidak dari pagi hingga sore. Dalam hati saya berniat untuk meladang hingga peluh menggenang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Keterlibatan Militer dan Keresahan
Gambar dibuat dengan bantuan Gemini Catatan awal tulisan: Catatan ini bukan tulisan analitis, melainkan sekadar keresahan yang terungkap. ...
-
Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba foto patung Bunda Maria di sebuah tempat ziarah melintas begitu saja. Dari layar kecil...
-
Jarum jam menunjuk angka 9 malam. Seharusnya saya beristirahat, tetapi perut ini berteriak-teriak. Maka meluncurlah saya ke sebuah warung te...
-
Super pakdhe! Sambil berbaring, dia meminta Pakdhe Hari dan saya untuk membantunya duduk di kasur. Setelah duduk di pinggiran, dia ...

