Sebenarnya
apa sih yang membuat kita tertawa ketika
mendengar orang bicara? Ketika menonton stand up comedy saya tidak selalu
tertawa, bahkan kebanyakan tertawa karena mendengar tawa penonton. Tertular.
18 February 2013
28 December 2012
Natal 2012
Saya hampir merasa bahwa terakhir kali saya merayakan natal adalah ketika saya bertugas menjadi putera altar. Mungkin sekitar sembilan tahun yang lalu. Beruntung, tahun 2o12 ini saya kembali merasa merayakan natal.
17 December 2012
Jawa Ireng
(salaman)
Mas e negro? Papua?
Dudu.
Timur?
Dudu.
Ambon?
Dudu. Aku Jawa asli.
Ah, mbel. (tidak percaya)
Wah, ibue ki ra ngandel (tidak percaya). Aku ki Jawa mung luwih ireng tinimbang liyane.
(dan bibir saya lebih tebal dari Jawa yang lain -- keturunan dari orang tua)
28 October 2012
Cita-Cita Persaudaraan
Aku ingin mereka memahami kebermaknaan hidup kaum kami, berbuat yang wajar
dan tidak mencemooh kami. Tapi nyatanya, masih saja sulit. Aku bingung saja
sekarang ini, tapi pantang buatku untuk mundur.
(Herlinatiens, 2003:29)
Kutipan cerita dari novel berjudul “Garis Tepi
Seorang Lesbian” ini sedikit mewakili perasaan dan harapan dari seorang
lesbian. Mereka merasa tidak dianggap mempunyai hidup yang bermakna oleh
orang-orang di sekitarnya. Mereka merasa mendapat perlakuan yang tidak wajar
dan menerima banyak cemoohan yang membuat suasana menjadi tidak nyaman,
setidaknya bagi kaum mereka. Lesbian dan gay, mereka yang disebut kaum
homoseksual, memang terkadang mendapat perlakuan yang berbeda dari masyarakat
hanya karena perbedaan yang ada dalam diri mereka.
Alternatif
Barangkali memang setiap negara tidak bisa tidak melakukan hubungan-hubungan dengan negara lain. Setiap hubungan yang dijalin bisa saja memiliki motif yang berbeda satu dengan yang lainnya, begitu juga dengan perbedaan yang terjadi pada efek dari hubungan-hubungan tersebut. Harapan utama yang tentu diinginkan setiap hubungan adalah datangnya keuntungan dari kedua belah pihak, maka menjadi menarik ketika terjadi hubungan yang tidak seimbang, hanya menguntungkan satu pihak, dan kemudian disebut dengan istilah kolonialisme.
Kumis Kamso
"Saudara saya tentara semua, saya dulu kepingin tapi tidak ada biaya. Tapi kerja begini juga melebihi tentara, 24 jam saya diminta tolong saya siap komandan!” ujar Kamso menirukan gaya hormat ala militer sambil tertawa.
A. R. Sanjaya
Pak Kamso, begitu warga sekitar Desa Kwarasan mengenali dan menyebut laki-laki yang sudah cukup umur ini. Sosoknya mudah dikenali di antara warga sekitar Desa Kwarasan, kawasan yang terletak di sekitar Jalan Godean km. 4,5 Yogyakarta. Tingginya sekitar 160 sentimeter, berkumis hitam lebat namun tertata rapi, dan yang mudah untuk dikenali adalah pakaian sehari-hari yang ia kenakan: doreng, alias seragam militer TNI Angkatan Darat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Keterlibatan Militer dan Keresahan
Gambar dibuat dengan bantuan Gemini Catatan awal tulisan: Catatan ini bukan tulisan analitis, melainkan sekadar keresahan yang terungkap. ...
-
Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba foto patung Bunda Maria di sebuah tempat ziarah melintas begitu saja. Dari layar kecil...
-
Jarum jam menunjuk angka 9 malam. Seharusnya saya beristirahat, tetapi perut ini berteriak-teriak. Maka meluncurlah saya ke sebuah warung te...
-
Super pakdhe! Sambil berbaring, dia meminta Pakdhe Hari dan saya untuk membantunya duduk di kasur. Setelah duduk di pinggiran, dia ...

