21 October 2016

Dari Muke Martabak sampai Otak Penyesat: Bagaimana Rasanya Dibenci, Pak Fadli?

via Tempo.co

Kamis (20/10) pukul 23:45 akun Facebook Tempo Media membagikan berita dari redaksi mereka berjudul “Dua Tahun Jokowi-JK, Fadli Zon Beri Nilai 6, Ini Alasannya” 

Sebagai rakyat, kita tentu tahu Fadli Zon adalah salah seorang wakil rakyat dari fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya. Lebih dari itu, dia menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kendati pintar, kaya, dan punya jabatan mentereng, kita juga tahu tidak semua orang menaruh hormat pada sosok satu ini. Bahkan aroma kebencian kental terasa dari dunia maya melalui kritikan yang lebih mirip hujatan. Saya tertarik untuk meringkas (=memilih) pernyataan-pernyataan hakim Tuhan warga digital tersebut.

Suhermono Sunyoto | Fadli Zonk Menggonggong Jkw. Jalan terussss,anggap sj FZ itu ANJING. GILA,sebaik. Apapun yg bpk JKW buat pasti jelek dimata setan Fadli Zonk ini,ente punya kerja apa MINUS 100.

Hujatan: anjing, gila, setan

M Syarief Pohan | Si zonk pula yg ditanya manusia jelmaan iblis, pasti semua jelek katanya, dasar tempo udah jadi media abal2 sekarang.

Hujatan: jelmaan iblis, media abal-abal (kepada Tempo.co)

Joko Pangaribuan Pangaribuan | Dasar Penyesat! Bukankah para nabi Allah sudah menubuatkan bahwa hidup yg akan datang akan semakin susah? Apa masalahnya sama Jokowi bila masyarakat saat ini semakin susah? Bukankah yg menjadi masalah itu; "Dalam kesusahan saat ini kamu menyesatkan rakyat Indonesia agar tidak percaya lagi sama Pemimpin dan dengan demikian tidak percaya lagi sama Tuhan, bukan?" seolah-olah kamu berkuasa untuk memulihkan kesusahan ini, bukan? Dasar otak Penyesat!

Hujatan: Otak Penyesat

Zirro Chico | Suka suka kau lah muke martabak, aku kalau lihat nih muke ingat martabak terang bulan, pengen di iris dikunyah tapi di makannya bikin eneg dan giyung.

Hujatan: muke martabak

Edi Ang Loe | kasi nol besar sekalian aja setan, org juga kagak demen ama loe bacot septi tank, menjijikkan

Hujatan: setan, bacot septi(c) tank

Charlie Susanto | 99.9% komen di sini, pada nga suka sama ente zonk! Wkwkwk...Rakyat sudah pada pandai skrg & bs menilai koq kinerjanya Presiden qta skrg dibanding kerja kalian DPR useless...

Hujatan: hmm.. enggak ada ya kayaknya? Tapi ini menarik bagi saya karena beliau jadi lembaga survei, atau peneliti analisis isi komentar :p

Muliady Ahai | Kan cara pikirnya sistem OTAK DENGKUL....Ngomongnya juga make mulut ONTA.....Modalnya kagak ada jadi begini klu ngomong...

Hujatan: otak dengkul, mulut onta

STOP! 

Cukup sampai di sini saya meringkaskan, karena semakin lama komentar hujatannya semakin banyak. hahahaha.. tidak perlu dicarilah ya, mudah kok untuk menemukan kata-kata kotor di dunia maya.

Secara umum, saya lihat ada banyak warga digital yang ingin Fadli Zon ini berkaca dan membandingkan kinerja Jokowi dengan kinerjanya dirinya sendiri dan institusi yang dia pikul. Semacam ada logika “hanya koki yang boleh bilang sebuah masakan itu tidak enak.” Tapi Jokowi dan Fadli Zon sama-sama digaji pakai uang rakyat sih, jadi mungkin warga digital merasa tepat untuk membandingkan beliau berdua.

Sebenarnya, tidak hanya Fadli Zon saja yang menilai rapor 2 Tahun Pemerintahan Jokowi ini buruk. Haris Azhar, misalnya, menilai bahwa penegakan HAM selama 2 tahun inimencapai angka “nol besar” karena tidak ada kasus yang selesai. Dia menilai, angka pelanggaran HAM di dua tahun pemerintahan Jokowi ini justru meningkat. Koordinator KONTRAS ini pun tak luput dari kritikan penuh kebencian dari warga digital. 

Divisi Hukum dan Monitoring Indonesia Corruption Watch (ICW) Aradila Caesar juga memberi poin 6 kepada pemerintahan Jokowi dalam hal keseriusan pemberantasankorupsi. Pihaknya menyoroti kasus korupsi di tubuh kepolisian dan kejaksaan yang sebannyak 755 perkara (82 persen) tidak lagi tersentuh. 

Namun kita boleh menghela napas sejenak, karena setidaknya ada dua lembaga survei yang menelurkan hasil riset yang sedikit berbeda. Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menilai tahun kedua ini ada kenaikan kepuasan rakyat atas pemerintahan Jokowi – JK. Sebanyak 41 persen responden mengaku puas pada tahun pertama, sedangkan pada tahun kedua kepuasan itu melonjak hingga 67 persen.

Hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) juga menunjukkan adanya kenaikan tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Jokowi - JK. Responden yang puas pada tahun pertama 50,6 persen, menjadi 66,5 persen pada tahun kedua. Lebih rinci, tingkat kepuasan tersebut ditilik dari empat indikator: ekonomi, hukum, politik, dan maritim.

Lantas.. kita hendak percaya yang mana? Bagi saya sih kebenaran memang kepunyaan (versi) masing-masing yang mengutarakan. Haris Azhar, saya yakin dia punya data pelanggaran HAM yang bisa menguatkan pendapatnya yang soal “nol besar” itu. Begitu juga dengan ICW, yang fokus pada persoalan-persoalan korupsi. Mereka bicara sesuai kapasitasnya sebagai aktivis LSM yang fokus pada satu sektor persoalan pelik bangsa ini.

Sedangkan SMRC dan CSIS memang melakukan survei atas ribuan responden untuk mengeluarkan pernyataan positif tersebut. Tentu saja mereka mempertaruhkan nama besarnya kalau sampai merilis hasil dari proses riset yang tidak valid atau penuh manipulasi. Tentu saja, kita tidak benar-benar tahu bagaimana mereka melakukan riset, apakah ada manipulasi, dan siapa yang mendanai riset tersebut.

Lantas, Fadli Zon? Terus terang, saya sungguh tidak tahu. Saya hanya bisa menduga beliau juga punya data, entah dari stafnya atau dari mana. Kalau beliau sampai tidak punya data tapi bicaranya ngawur dan asal kritik begitu, ya pantas saja kalau rakyat yang diwakilinya mencak-mencak. Selain itu, rakyat tampaknya sudah punya kebencian terlebih dahulu dengan Fadli Zon ini karena kasus yang telah lalu.

Nah.. tapi.. perlukah mengkritik Fadli Zon dengan penuh kebencian dan pakai kata-kata begitu? 

Lebih tepatnya: apakah kata-kata kotor dan rasa benci itu akan membuat Fadli Zon berubah jadi baik (versi mereka), Jokowi - JK sukses mengangkat Indonesia, dan rakyat tak lagi menderita? Tentu saja tidak. Namun setidaknya saya merefleksikan sesuatu: kata-kata kotor dari rasa benci itu akan lebih mudah keluar tatkala seseorang jadi anonim. Silakan didebat, karena tentu anda punya kebenaran juga.


masa penantian,
Jogja 2016

18 October 2016

Realitas Masyarakat Religius: Saat Ini

via funnyjunk.com

“Saat Ini” adalah keterangan waktu yang perlu saya garis bawahi. Kendati kita tak bisa dengan jelas membatasi keterangan tersebut, ijinkan saya memberi batasan: saat ini adalah beberapa tahun belakangan—sejauh saya punya energi untuk mencarinya di media-media online. Tetap tidak jelas bukan? Semoga tetap tidak jelas, supaya Anda sendiri bisa menambahi data yang saya kumpulkan.

Selama ini tulisan-tulisan saya tentang agama adalah mengenai refleksi saya atas ajaran-ajaran agama yang pernah saya tahu. Kali ini berbeda, saya menulis tentang bagaimana belakangan ini media sedang menampilkan wajah spiritual di masyarakat Indonesia. Sayangnya, wajah itu kusam dan bermuka dua: penuh kepentingan lain—terutama soal uang dan kekuasaan.

Saya mengawalinya dari cerita-cerita yang dibangun oleh seorang tokoh pemimpin spiritual yang memiliki pengikut yang tidak hanya berjumlah besar, tetapi juga loyal. Baiknya kita mulai dari:

Eyang Subur || Nama pria kelahiran Jombang, 12 Desember 1946 ini sempat melejit lantaran pemberitaan terus menerus oleh media. Dia dikenal sebagai “guru spiritual” bagi beberapa artis (Adi Bing Slamet, Nurbuat, Rohana, Unang, Tessy, dan banyak lainnya) supaya rejeki mereka dilancarkan. Nah, nama pria satu ini mulai ramai di infotainment tatkala Adi Bing Slamet bercuap-cuap di media, mengatakan bahwa Eyang Subur menyebarkan ajaran sesat. Bumbu-bumbu drama ditabur sana sini, termasuk Arya Wiguna yang sempat kondang dengan “Demi Tuhan”nya. Pada intinya, Eyang Subur populer di media karena dituduh melakukan penistaan agama.

Setahu saya, cerita Eyang Subur ini salah satunya menarik karena dia memiliki banyak istri; dan itu melanggar aturan agama. Seberapa banyak? Tidak tahu pastinya, tetapi berdasarkan laporan Tempo.co pada tahun 2013 Eyang Subur masih mencari istri yang kesembilan. Bagaimana dia bisa beristri banyak dengan kondisi fisik yang tak lagi muda? Tak sedikit yang menduga, harta adalah jawabnya. Liputan6.com melaporkan salah satu kekayaan Eyang Subur tampak dari rumah mewah yang kalau ditaksir harganya bisa mencapai 20 miliar rupiah. Pertanyaannya, dari mana Eyang Subur mendapatkan harga sebanyak itu? Tidak ada yang tahu persis, bahkan keluarganya sendiri pun  mengaku tidak tahu. 

Gatot Brajamusti || Dari Eyang Subur, saya ajak Anda melompat ke tahun 2016. Satu hal yang bikin saya agak terkejut adalah nama lengkap dari pria ini, yaitu Fransiskus Paulus Gatot Brajamusti. Saya tidak asing dengan kata Fransiskus dan Paulus, yang kerap kali disebut dalam perayaan ekaristi di Gereja Katolik setiap harinya. Pria kelahiran tahun 1962 ini bukan akhir-akhir ini saja terkenal. Tahun 2005 namanya diperbincangkan infotainment setelah penyanyi Reza Artamevia tiba-tiba hilang dan ditemukan sedang mondok di Padepokan Brajamusti milik Gatot di Sukabumi, Jawa Barat. Kalau ditelusuri, rupanya Gatot adalah Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) dan juga seorang penyanyi. Setidaknya dia menyanyi lagu "Subhanallah" dan "Lailatul Qodar" yang video klipnya diunggah di Youtube.

Mengapa jelang akhir tahun 2016 ini nama Gatot kembali disebut-sebut? Gatot ditangkap oleh polisi ketika dia menggunakan sabu-sabu di Mataram. Rumah Gatot pun digeledah, dan polisi tidak hanya menemukan barang-barang terkait narkoba, tetapi juga senjata api ilegal. Cerita berkembang menjadi tak hanya soal sabu-sabu dan senjata api, tetapi juga apa yang terjadi di Padepokan Brajamusti. Gatot mengaku ada ritual seks menyimpang bersama para pengikutnya di padepokan, sementara ada juga pengikut yang memolisikan Gatot karena kasus perkosaan.

Padepokan Brajamusti dikabarkan tak pernah sepi lantaran pengikutnya yang selalu berdatangan; termasuk dari kalangan artis. Mereka "diikat" dengan dibuat ketagihan dengan kristal yang diberi nama Aspat; yang sebenarnya adalah sabu. Kristal tersebut dibalut dengan cerita bahwa itu adalah makanan jin yang dikendalikan oleh kemampuan spiritual Gatot. Bahkan, Tempo.co melaporkan ada pandangan yang menyebutkan bahwa dia adalah Malaikat Izrail, titisan Nabi Sulaiman, dan bahkan Tuhan itu sendiri.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi || Nama asli pria berbadan agak subur ini adalah Taat Pribadi. Namun sekitar tahun 2000 salah seorang gurunya memberi tambahan nama "Dimas Kanjeng" yang lalu ditaruh di depan nama asli. Dari sumber yang sama, muncul kabar bahwa dia adalah anak pensiunan seorang polisi yang pernah menjabat sebagai Kapolsek. Taat Pribadi ditangkap September 2016 dengan melibatkan 1.000 personel kepolisian atas tuduhan membunuh dua mantan pengikutnya: Ismail Hidayah dan Abdul Ghani.

Seribu personel untuk menangkap seorang Taat Pribadi? Ya. Tentu saja polisi punya alasan mengapa perlu melibatkan anggota sebanyak itu. Jawaban yang saya duga adalah karena Taat Pribadi adalah orang terpandang, memiliki padepokan, dan tentu saja (ini jawabannya) memiliki pengikut yang jumlahnya mencapai 23 ribu orang. Pengikut sebanyak itu diperoleh dengan menggunakan cara yang menyerupai multilevel marketing: seorang pengikut mencari pengikut lain untuk memercayakan uang mereka.

Sejauh yang saya amati di berbagai media, kasus pembunuhan yang (dituduhkan) diotaki oleh Taat Pribadi ini kalah populer dibanding kemampuannya menggandakan uang. Bisa ditebak, ujung dari kemampuan ini adalah laporan penipuan yang menambah panjang daftar kesalahannya. Beberapa orang mencoba menjelaskan cara penipuan Taat Pribadi menggandakan uang, yang videonya viral tersebut. Ngomong-ngomong, kendati videonya dibuat bercandaan, pengikut Taat Pribadi bukanlah orang sembarangan. Sebutlah Marwah Daud Ibrahim, lulusan Doktoral dari Amerika Serikat, yang saat ini berstatus sebagai saksi.

---------------------
BENANG MERAH
---------------------
Dari ringkasan fenomena tersebut saya mencoba menarik beberapa benang merah. Pertama, tentu saja, mereka adalah orang-orang beragama dan mengakui keberadaan Tuhan—bukan atheis-agnostik. Di luar tudingan ajaran sesat yang dilemparkan banyak pihak (termasuk MUI), mereka kebetulan saja beragama Islam. Tidak jarang mereka tampil mengenakan simbol-simbol Islam (atau Arab) yang memang seringkali bikin silau mata orang-orang. Simbol itu terletak pada pakaian hingga perhiasan termasuk penutup kepala mereka yang ala-ala apalah.

Soal pengakuan agama mereka, sudah pasti ada banyak pihak yang merasa tersinggung karena mereka telah dianggap menistakan agama. Majelis Ulama Indonesia (MUI) misalnya, menuding bahwa Eyang Subur telah menyebarkan ajaran sesat. Pada suatu kali, mereka mendesak Eyang Subur untuk bertobat karena tak lancar baca surat Al Fatihah.

Sedangkan Elma Theana, artis yang adalah mantan pengikut Gatot Brajamusti, terang-terangan mengakui bahwa ajaran Gatot itu sesat. Tak begitu jelas apa yang bikin sesat, tetapi dituliskan “melanggar akidah-akidah normal keislaman yang sesungguhnya.”

Begitu juga MUI Probolinggo yang menuding Taat Pribadi menyebarkan ajaran sesat. Salah satunya karena Taat Pribadi mengajarkan tentang “bank gaib” yang akan mendatangkan uang.

Masalahnya mereka menggunakan jubah agama tersebut untuk mengkultuskan diri mereka sendiri. Membuat diri mereka tampak menjadi sosok yang kudus dan dipercaya yang mampu mengarahkan orang-orang kepada pemahaman agama  yang lebih baik. Lebih dari itu, supaya masyarakat tertarik untuk mendapat kekayaan secara instan dan halal.

Agama juga mereka gunakan sebagai tameng atas “markas” kejahatan mereka yang berupa padepokan. Mereka memanfaatkan ketidaktahuan/ketundukan/keirasionalitasan manusia-manusia (over-)religius di sekitar mereka. Asal sakti, kaya, punya pondok, pakai ayat-ayat suci, sudah pastilah langsung mengkultuskan sosok-sosok itu. Mereka memanfaatkan kematian daya kritis dan kemelorotan daya tahan menghadapi proses dari anggota-anggota masyarakat.

Benang merah kedua, ketiga tokoh tersebut adalah laki-laki. Budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai “kelas atas” rasa-rasanya kental sekali di sini. Oleh karenanya mereka menjadi pemimpin dan punya sekian banyak pengikut. Tentu ini tidak mutlak ya, kalau benar-benar dibaca, peran perempuan dalam fenomena ini bisa dikatakan seimbang.

Bila kita mengingat kasus penistaan agama sekitar 15 tahun lalu oleh Lia Eden, perempuan tampil juga sebagai pemimpin. Dalam kasus yang menimpa Taat Pribadi, ada juga sosok perempuan cerdas yang menjadi Ketua Yayasan Padepokan yaitu Marwah Daud. Selain ketua yayasan tersebut, dia juga tercatat sebagai pengurus MUI pusat (belakangan kabarnya mengundurkan diri) dan salah satu pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

 Ketiga, kegiatan mereka sama-sama terkait dengan aktivitas seksual. Sejauh pengamatan saya, tokoh paling “soft” dalam urusan seksual adalah Taat Pribadi. Dia hanya dikabarkan memiliki lebih dari satu istri dalam padepokannya. Sedangkan Eyang Subur juga memiliki banyak istri berusia muda, meskipun sudah berusia lanjut. Yang paling parah adalah Gatot Brajamusti karena dikabarkan melakukan ritual seks—termasuk dengan para artis yang menjadikannya guru spiritual.

Dari tiga benang merah itu saja dapat dilihat bahwa agama adalah alasan, modus, sekaligus tujuan dari para penganutnya. Kita boleh saja bilang “agama tidak salah, yang salah adalah penganutnya” untuk membela agama. Namun menurut saya kita juga jangan lupa kalau agama lahir—selalu dalam proses dilahirkan kembali—dalam konteks sosial dan budaya kemasyarakatan. Agama tidak bisa dipisahkan dari kondisi masyarakat. Mereka bukan hanya berhubungan, tetapi saling keterhubungan.

Silahkan menambahkan kalau Anda masih berkenan dan punya waktu. Konteksnya masih realitas yang dibentuk oleh media, ya.

Apa? Soal agama yang ramai disebut-sebut dalam bursa politik DKI? Oh iya. Cukup ah, itu melibatkan pasukan-pasukan garis keras sih. Lagipula saya penganut Katolik (berbeda dengan Kristen Protestan) yang biasa-biasa saja. Nanti kalau diajak berdebat pakai dalil agama juga pasti saya bertekuk lutut. Minoritas sih, tapi paling tidak saya tidak merasa terancam :)


[1] Realitas yang saya maksud di sini adalah realitas yang termediasi dalam konten-konten media; baik media cetak, elektronik, ataupun digital.

18 September 2016

Tiga Tahun Lagi

via kolatinformant.com


“Sepuluh tahun setelah lulus SMA, ceritakan pada saya apa yang telah kalian lakukan pada hidup kalian,” kata seorang bruder sekitar 8 tahun yang lalu.

Barangkali tidak banyak yang ingat dengan kata-kata itu. Yang jelas saya tidak sedang mengada-ada biar tulisan ini berbumbu. Seingat saya, kalimat itu terucap ketika beliau sedang bicara di bangsal Asrama Putera.

Saat itu muncul pertanyaan yang biasa saja: kenapa harus sepuluh tahun?

Saya lalu membayangkan, mungkin karena sepuluh tahun setelah lulus SMA, usia kami sekitar 28. Usia itu adalah pertengahan usia 25 dan 30.

Dengar-dengar usia 25 adalah usia rawan, ketika keputusan-keputusan besar serentak mendatangi: mulai dari karir hingga pasangan hidup. Dengar-dengar juga usia 30 adalah penentu, atau menjadi semacam target, bahwa pada usia itu kita sudah menemukan kemapanan atas keputusan yang kita ambil saat usia 25.

Namun, setelah saya pikir lagi, saya memaknainya secara berbeda. Kini saya sudah menyelesaikan satu tahap pendidikan tinggi di usia 25. Perjuangan saya saat ini adalah mencari tempat hinggap yang paling sesuai untuk mengembangkan hidup.

Sementara puluhan hingga ratusan teman seusia saya sudah mulai membangun karir mereka sejak dua hingga tiga tahun yang lalu.

Sementara juga, belasan teman seusia saya baru saja lulus sarjana. Mereka masih perlu mengikuti tes-tes masuk perusahaan untuk bisa bekerja—yang barangkali butuh waktu juga. Beberapa dari mereka juga sudah membangun bisnis sejak masih kuliah.

Nah, inilah yang saya refleksikan dari perkataan bruder tadi. Asumsinya, sepuluh tahun setelah lulus, kami sudah bekerja. Barangkali ada yang baru bekerja 3 tahun, atau mungkin sudah 7 tahun. Berapapun durasinya, posisi kami diasumsikan sama: sudah bekerja.

Ini bukan soal jabatan, gaji, bisnis, ataupun posisi ya. Ini soal waktu. Kami akhirnya selesai bersama di SMA, dan mengawali bersama di bangku kuliah. Namun kami mengakhirinya dalam waktu berbeda, dan mengawali masa setelah kuliah juga dengan waktu yang berbeda.

Bila dilihat dalam jangka waktu puluhan tahun, selisih tiga tahun tidak begitu berarti. Barangkali itulah yang dimaksud bruder pada waktu itu.

Tiga tahun lagi, sekitar bulan sembilan atau sepuluh, saya akan memenuhi permintaan bruder—meskipun dengar kabar kalau sekarang beliau sudah menjadi awam.


Tiga tahun lagi, mau jadi apa kita?

18 August 2016

Usia Mereka 10 Tahun di Bawah Saya

via getpaidforsurveys.co
Pada suatu riset, saya perlu mendatangi beberapa sekolah SMP dan SMA di Jogja. Mereka menjadi responden dan dimintai kerja sama untuk mengisi survei  secara online. Ada dua hal menarik yang saya temukan.

Pertama, saya banyak menemukan anak-anak SMP—SMA yang tidak hapal nomor handphonenya sendiri. Ketika saya bagikan daftar presensi yang—salah satunya—memuat kolom untuk nomor handphone, banyak yang lalu membuka menu kontak dari gadget mereka, lalu mencari nomor mereka sendiri.

Bagi saya—entah bagi orang lain yang segenerasi dengan saya—hal itu cukup mengejutkan. Saya lalu berkaca pada diri sendiri. Sampai sekarang saya hapal nomor handphone orang rumah—bahkan ketika sudah pada punya dua nomor. Bisa begitu karena dulu ketika mereka sudah punya ponsel, saya sendiri yang belum punya. Kalau ada apa-apa dan harus menelepon dari wartel, saya harus hapal.

Barangkali itu kebutuhan saja ya. Mereka tak perlu menghapal karena tiap kali butuh tahu, mereka tinggal buka gadget. Selesai urusan. Untuk apa repot-repot menghapal kalau bisa lihat gadget?

Menurut saya sih tidak masalah kalau memori handphone itu membantu kita untuk mengingat. Asal, kita tidak memindahkan memori kita ke handphone karena takut membebani kerja otak untuk mengingat. Dengar-dengar kapasitas memori otak kita 10 juta GB. Prinsip dari jaringan saraf dan proses belajar juga menjadi inspirasi untuk membuat komputer.

via www.engadget.com
Kedua, saya menemukan satu anak yang tidak mengisi kolom nomor handphone karena dia tidak memilikinya. Namun dia memiliki gadget, dan itu diletakkan persis di sebelah keyboard komputer di depannya.

Ketika saya tanya, dia jawab “Saya 'gak punya nomor telepon mas. Itu kosongan. Saya pakai kalau pas ada wifi aja.”

Apakah anak ini datang dari masa depan? Bisa jadi.


Jogja, delapan 2016 
---------
- Sebuah catatan membantu penelitian
- Saya berurusan dengan teman-teman yang usianya 10 tahun lebih muda dari saya; betul, dunia telah banyak berubah

22 July 2016

Bukan Dirimu, Bukan.

Menulis itu mudah. Menulis itu susah. Kalau mudah, kenapa tak semua orang mampu menulis baik? Kalau susah, mengapa produksi tulisan di media sosial selalu membanjir tiap kedipan mata?

Mereka lalu berdebat di antara kedua pendapat itu. Bagi saya, menulis itu soal kebiasaan. Saya sepakat dengan rentetan manfaat dari menulis: melegakan, rekreatif, menyembuhkan gangguan psikologi, melatih berpikir, dan masih banyak lainnya.

Namun, hati-hati. Sudah pernah dengar ungkapan “Jebakan dari orang yang berdoa adalah dia merasa suci”? Menulis barangkali juga demikian. Saya habis baca tulisan menarik di Twitter.

Menulis: untuk merawat kewarasan.
Membaca: untuk menyelami pikiran orang-orang waras.

Bagaimana menurut anda? Sekilas, bagi saya, tulisan itu sombong. Itu kesombongan penulis. Penulis adalah orang—yang mengklaim dirinya—waras, lalu dirawat kewarasannya. Pertanyaannya, apakah berarti orang yang tidak menulis itu tidak merawat kewarasan?

Sedangkan apa-apa yang tidak dirawat punya dua pilihan: mati; atau tumbuh tak terkendali—dan seringkali justru mematikan yang lain. Apakah orang yang seumur hidupnya tak pernah menulis akan berhadapan dengan kedua pilihan itu?

Setelah saya pikir-pikir lagi, itu bukan hanya sombong, tetapi juga naif alias lugu. Bagaimana dengan para penulis koran Lampu Hijau? Penulis situs-situs Islam radikal abal-abal yang isinya hoax semua? Penulis akun media sosial Katolik yang isinya menyerang agama lain sana sini dengan brutal? Penulis informasi sesat lalu disebar melalui Whatsapp dan membuat teror di mana-mana?

Di mana letak “perawatan kewarasan” dari para penulis-penulis itu?

Jaman 50 hingga 100 tahun lalu, aktivitas menulis barangkali memang milik kaum intelektual-teknokrat. Mereka berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga mapan, dan punya posisi setara dengan bangsawan di tengah-tengah masyarakat. Bolehlah menjadi sombong karena bisa menulis pada saat itu. Terserah saja.

Sekarang? Setiap orang bisa menulis dengan mudah di setiap tempat, bahkan dalam genggaman mereka. Tidak ada yang perlu disombongkan dengan kemampuan menulis.

Bukankah lebih baik menyombongkan karya tulisan kita, dari pada menyombongkan kita yang menelurkan karya tersebut? 

Sombongkan karya tulis kita. Pamerkan di media sosial. Kirim tautan blogmu ke akun-akun pribadi. Kirim tulisanmu ke koran dan majalah. Ikuti lomba-lomba dan kejarlah juaranya. Karya adalah—semacam—anakmu, banggakan dia, bukan dirimu!

04 July 2016

persoalan detik


"..mintalah padaku jam tangan termahal,
dia tak berarti tanpa waktuku."

08 June 2016

Denggung yang Selalu Tanpa Kata

"Dermolen" (atau sebagian orang menyebutnya "bianglala") mini yang masih terbungkus kain putih.

Topi warna merah yang dia kenakan telah memudar. Bukan jingga, bukan pula merah muda. Masih merah memang, tapi tercampur warna putih dan noda lusuh di sana sini.

Warna itu ditabrakkan dengan kaos buluk yang dibagikan oleh sebuah korporasi busuk tatkala mereka mengadakan acara. Kaos itu terlihat tipis, penuh logo sponsor, warna biru yang mulai pudar, dan terlihat tak menyerap keringat.

Dia berjalan pelan di depan deretan warung sebelah utara lapangan Denggung yang diselimuti mendung pagi itu. Langit memang abu-abu semenjak fajar, seusai saudara Muslim pulang dari subuhan di masjid belakang rumah.

Mobil-mobilan listrik untuk anak kecil sedang dibersihkan, siap untuk disewakan.
Siapkan 5.000 rupiah untuk dua kali putaran kecil.

Berhenti di depan sebuah warung, dia hanya menganggukkan kepala sejenak ke arah pemilik warung.

Tanpa sepatah kata juga, pemilik warung masuk dan membuka gentong air. Pria bertopi merah dengan usia 65an tahun itu lalu mengangkat jeriken air yang dia bawa dengan gerobak. Sebuah gerobak sederhana dari kayu-kayu yang ditempel sana sini asal kuat.

Satu jeriken itu barangkali berisi 15 liter air. Dia mengangkat satu demi satu, menuangkan isinya ke gentong penyimpanan air dalam warung.

“Air sumur atau air ledeng itu?”

“Sumur. Itu yang di belakang rumah,” katanya sambil menunjuk ke arah utara.

Dua jeriken yang telah kosong itu lalu dia taruh kembali di atas gerobak, bersama satu jeriken yang sebelumnya telah kosong. Dengan tangan yang keriput, dia menarik kembali gerobak itu menjauh dari deretan warung.

Gerobak sederhana isi tiga jeriken kosong.

Gerobak itu diparkirkan begitu saja di belakang sepeda hitam. Lalu dia pergi duduk di warung lain untuk memesan kopi dan sebatang rokok.

Lantas aktivitas di lapangan Denggung bergulir seperti hari-hari biasanya.

Setiap pagi air di kolam dan apa-apa yang mengapung di dalamnya harus dibersihkan.

 Tempat itu biasa disinggahi keluarga untuk berteduh di bawah pohon-pohon rindangnya. Atau sekadar dilewati oleh roda-roda angkuh yang melaju kencang.

Barangkali mereka tak pernah tahu,
di Denggung sana,

ada sesosok yang tiap hari menawarkan
air bersih jualannya. 

Tanpa kata.

Jogja
08.06.2016

Keterlibatan Militer dan Keresahan

Gambar dibuat dengan bantuan Gemini   Catatan awal tulisan: Catatan ini bukan tulisan analitis, melainkan sekadar keresahan yang terungkap. ...