Skip to main content

M o v e O n !

Move on. Tenar sekali bukan istilah itu? Setidaknya saya sering dengar di percakapan antarmahasiswa sejak satu atau dua tahun lalu. Istilah itu sering dipakai untuk mengingatkan seorang teman yang belum bisa melupakan mantan pacarnya. “Move on dong,” kata mereka. Atau “Aku belum bisa move on nih,” kata teman yang curhat. Sebenarnya tidak hanya pacar sih, bisa juga ke hal lain seperti merk, kenangan, dan sebagainya.
 
Kali ini saya memperkenalkan website bernama moveon.org. Saya akan dengan mudah menduga website itu berisi tentang tips-tips move on, kisah perjuangan untuk move on, mengapa kamu harus move on, dan sebagainya. Sayangnya saya tidak menduga begitu karena saya dapat info tentang situs itu dari jurnal hasil penelitian tentang online social movement. Ya, website itu semacam tempat para aktivis di  Amerika sana untuk menggalang massa, pembuatan petisi online, dan intinya sebagai perwujudan demokrasi. Mungkin Anda tahu change.org yang sedang naik daun? Nah, kelihatannya mereka berasal dari semangat dan penggunaan teknologi yang sama. Keren kan?


Lagi-lagi ini masalah penggunaan bahasa dan rasa-rasa yang muncul ketika menggunakan bahasa. Istilah move on yang sebenarnya keren, di Indonesia  malah sering dipakai untuk hal-hal remeh temeh macam melupakan mantan pacar atau orang yang dicintai tapi tak bisa bersama meski saya tahu itu tidak mudah. Ah, malah alay. Besok saya sambung dengan masalah yang lain.

Popular posts from this blog

Mengenang Rama J. B. Hari Kustanto, SJ

Super pakdhe! Sambil berbaring, dia meminta Pakdhe Hari dan saya untuk membantunya duduk di kasur. Setelah duduk di pinggiran, dia menempelkan kedua telapak kakinya di lantai dingin rumah Patangpuluhan. Sambil tetap berpegangan lengan kami, dia menyentakkan kakinya lalu berdiri. Pakdhe Hari bilang ‘Hebat!’ Lalu dia tersenyum sambil menggerak-gerakkan kakinya. Bagi saya, itu adegan terindah yang saya alami bersama Pakdhe Tanto di hari-hari akhirnya. Dia sudah mengidap sakit tumor di organ otak sejak tahun 2007. Pertengahan tahun 2007 itu, Pakdhe Tanto menjalani kemoterapi. Saya, yang masih sekolah di Muntilan, terpaksa ijin barang sehari untuk menemuinya di rumah sakit. Saya tidak begitu ingat bagaimana kondisi Pakdhe Tanto waktu itu. Namun yang saya ingat adalah dukungan semangat dan motivasi dari saudara kandung beliau. “Sesuk natalan bareng ya mas neng nggone mas Hari..” begitulah dukungan mereka. Diam-diam saya mendengar obrolan lirih yang sedih dan singkat....

Obrolan Ringan bareng Pak Manyung

Jarum jam menunjuk angka 9 malam. Seharusnya saya beristirahat, tetapi perut ini berteriak-teriak. Maka meluncurlah saya ke sebuah warung tenda pinggir jalan di Gedawang. Warung itu tak bernama. Penjualnya sih sudah pasti punya nama, tapi saya terlalu malas untuk bertanya. Jadi, istri dan saya beri nama sendiri saja: Pak Manyung. Mengapa kasih nama itu? Begini ceritanya.  

Sowan Dewi Mariyah di Meanjin

Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba foto patung Bunda Maria di sebuah tempat ziarah melintas begitu saja. Dari layar kecil di genggaman, Dia seakan memanggil-manggil. Lalu lahirlah semacam kegelisahan dan kerinduan yang sulit dijelaskan. Tak butuh waktu lama, kami sekeluarga merencanakan pergi sowan Dewi Mariyah di suatu tempat bernama Marian Valley. Perkenalkan, saya Ryan. Saya suami dari seorang istri yang luar biasa. Kami dianugerahi dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Saat ini hingga beberapa tahun ke depan saya menjalani peziarahan keilmuan di pesisir timur Australia, tepatnya di Brisbane.