23 July 2012

Supaya Eling

Aku ingat sekali sore itu
ketika kita selesai berseteru,
kita bersanding dengan terbisu,
terpasang wajah-wajah sendu.

Di manakah selembar kertas tisu?
Tempat kita biasa menulis surat
mengukir cinta dengan terburu-buru
dengan hati yang ingin segera terikat.

Tampak tisu tersebar di kamar gelap.
"Halo bunga.. selamat beraktivitas!"
Ada torehan tinta di atas sana
yang segera menghilang tanpa bekas.

Mungkin kamu lupa
apa yang terjadi di kelas sana.
Kamu memasangkan aku cincin di jemari
tepat di jari manis sebelah kiri.

Gunung Merapi pernah bersaksi
betapa perubahan datang tiba-tiba.
Aku terhenti karena sakit
kamu melaju kencang di depan sana.

Ingatkah kamu akan surat terakhir?
Surat yang diiringi bulir-bulir air.
Tak tahu datangnya dari mana
mungkin terbawa angin selaksa.

Dengan sulit kugulung surat itu sangat tebal
kulilit dengan pita warna hijau.
Erat sekali kupegang surat itu sambil berdoa
semoga rasa tidak lekas tersapu.

Aku ingat balasan atas gulungan itu
kamu tersenyum tanpa ragu.
Semesta tidak pernah jahat
tapi ia tahu betul apa yang harus kita perbuat.

Jangan pernah menangis di depanku,
seakan tak ada ruang untuk tertawa.
Tapi isakmu semakin keras,
meski aku tahu itu bukan tangis nyata.

Kini semua berubah
dunia telah berbalik arah.
Aku tenggelam dalam sendiri
kamu tertawa tiada henti.

Terima kasih sudah mewarnai dunia
meski ia tak seindah yang kukira.
Puisi tak lagi perlu ada
juga kehadiranmu di sana.

Semoga kamu bahagia
dengan senyuman yang pernah ada.
Bunga akan segera layu
dan segera membeku.

(Maaf, saya sedang menulis puisi aneh)

Jangan Terlalu Serius

Malam ini adalah malam yang biasa dari dunia magang kerja yang sedang saya lakoni. Tadi teman-teman di kantor merasa tidak punya harapan untuk pulang dengan tenang. Jalur-jalur yang mereka lewati sedang macet parah , dengar-dengar akibat ada aksi demo. Biasa itu.

Yang luar biasa adalah ketika saya berkomunikasi via pesan singkat dengan bapak. Ia pergi ke Bandung malam ini menggunakan kereta api. Di dalam kereta tercium bau cat, menurut ia pada awalnya memang menyenangkan. Namun lama kelamaan bau cat itu ternyata menyengat dan membuat pusing kepala. Pada suatu perjalanan yang lalu juga ada kejadian serupa, namun bau yang menyengat adalah bau badan seorang penumpang. Tak kalah bikin pusing kepala. Lalu saya berkelakar: mambu kringet karo mambu cat, pilih endi? :)

Jawaban atas pertanyaan inilah yang membuat saya berpikir. Bapak menjawab berdasarkan homili seorang romo (pastur) yang ditangkapnya belum lama ini. Dalam homilinya romo itu berkata bahwa akibat dosa asal, manusia selalu ada dalam sisi gelap yang mengakibatkan manusia bereaksi negatif. Tapi ada Yesus, dalam kultur Jawa bisa disamakan dengan kakang kawah, yang selalu membisiki manusia untuk bergeser ke sisi terang supaya bisa beraksi positif. Bapak berjuang bergeser ke sisi terang untuk mencoba mensyukuri bahwa bau cat itu lebih enak dari bau keringat, bau abab (bau mulut), dan bau duren (fyi: ia anti bau duren).

Nah..saya juga pernah menonton acara televisi mengenai seorang yang pernah tertembus besi pagar dari bawah ketiak sampai keluar di dekat leher. Ia masih hidup. Orang-orang berkata kepada dia: "Kamu orang beruntung. Dengan kecelakaan seperti itu, kamu masih bertahan hidup." Tahu apa yang ia jawab? Ia berkata sambil tertawa: "Kalau aku beruntung, aku tidak akan mengalami kejadian ini."
Hal seperti ini yang sering saya dengar dari orang-orang sekitar. Misal, ketika ada orang kecelakaan. Banyak bagian tubuhnya berdarah. Setelah diperiksa, ia 'hanya' luka luar. Orang lalu bilang: untung tidak ada yang patah, untung masih hidup, untung orang yang menabrak masih mau bertanggungjawab. Atau dengan kata lain: bersyukur tulangnya masih utuh, bersyukkur masih hidup, bersyukur orang yang menabrak masih mau bertanggungjawab.

Ngangsu Kawruh ing Litbang Kompas #2

Sekilas saya pernah baca tweet milik seseorang yang diretweet oleh orang yang saya follow. Semoga tidak bingung. Seseorang itu bilang kira-kira begini: "Tuh kan, gak ada lembaga survei yang bisa dipercaya. Dulu bilang paling tinggi Foke, sekarang quick count Jokowi menang jauh."

12 July 2012

Ngangsu Kawruh ing Litbang Kompas #1

Sejak 9 Juli 2012 sampai sebulan ke depan saya mendapat keberuntungan. Keberuntungan itu ialah kesempatan magang kerja di Litbang Kompas. Ketika beberapa teman-teman yang magang di tempat lain mengalami kerja praktek dari mata kuliah terapan, saya mengalami kerja praktek dari mata kuliah penelitian. Penelitian yang sesungguhnya. Bukan seperti penelitian kecil-kecilan di kampus yang penuh dengan 'kreativitas' :)

11 June 2012

Sobat


Hai sobat! 


Masih ingat dengan komitmen untuk tidak saling menjelek-jelekkan diri di depan orang-orang? 


Atau  kamu tidak cukup percaya diri untuk membiarkan orang lain menilai diri tanpa informasi-informasi sepihakmu? 


Atau mencari teman untuk menghilangkan rasa hormat ke aku dan menyukaimu? 


Atau jangan-jangan.. kamu minta dikasihani? 


Dengan menceritakan diri kamu sebagai korban, aku sebagai pelaku kejahatan, dengan merendahkan perbuatanku lalu kamu akan dianggap tinggi dibanding aku? 


Ah, bukan apa-apa, sobat. Aku hanya mengingatkan. 


Karena.. bukan hanya kata-kata lucumu saja yang masuk telinga dan membuat aku tertawa, tapi juga kata-kata yang membuat tawa itu hilang seketika, berganti dengan rasa yang sulit untuk didefinisikan. 


Oh ya, perlu kamu tahu, namamu sering kusebut dalam doa pada Tuhanku, bukan kutukan.


Sama sekali aku tak merasa perlu menceritakan keburukan-keburukanmu. Toh tiap orang punya keburukan, dan orang lain bisa melihat sendiri keburukan itu. 


Sobat yang baik, 
semoga kamu semakin percaya diri dengan membusungkan dada dan bilang “Ini aku! Aku begitu begini karena aku punya kendali atas hidupku!” 


bukannya...


“Itu dia! Dia sukanya begitu begini, sehingga aku...”


Selamat berdamai dengan dirimu dan masa lalumu. 


Tenang, kamu bisa hilangkan aku di sana.






Dari aku untuk kamu.


(Alunan lagu dari Padi sayup-sayup terdengar.
Tidak semakin keras, hanya saja semakin jelas)

07 June 2012

Kebebasan Berpendapat?


Apa kabar? 
Masih berjuang menemukan atau menciptakan tujuan hidup? Bersemangat yang masih berjuang, yang sudah tidak berjuang segera tentukan kapan ingin berjuang lagi. Saya ingin memperjuangkan hidup dengan –salah satunya- menulis. 

Kali ini saya menulis mengenai kebebasan berpendapat yang dimiliki oleh orang-orang di dunia maya alias internet. Apakah orang-orang itu menjadi maya? Ataukah tulisannya saja yang maya? Atau mereka mengomentari hal maya? Atau mereka, tulisan, dan hal yang dikomentari adalah hal nyata yang ada di dunia maya? Sudah, sudah, bukan itu yang saya maksud. 

Langsung baca saja dulu artikel di bawah ini....

Lagi Asyik di Kamar Hotel, 4 Pasangan Diciduk Polisi

05 June 2012

Orang Sukses


Di salah satu sudut kamar yang luar biasa berantakan, saya menemukan selembar kertas kusam. Terlihat kusam memang, bukan karena umur kertasnya, tapi karena tergeletak layaknya sampah di dalam kamar. Di atasnya tertulis begini:

Kesuksesan dimulai dengan anda
Orang yang sukses selalu BERPIKIR POSITIF
Orang yang sukses tahu cara MENGATASI KEGAGALAN
Orang yang sukses memilki VISI
Orang yang sukses menentukan TARGET
Orang yang sukses menggunakan PENGELOLAAN WAKTU
Orang yang sukses menemukan cara untuk MENGATASI STRES

Kesuksesan berlanjut dengan orang lain
Orang yang sukses tahu menghargai HUBUNGAN BAIK
Orang yang sukses mengembangkan KOMUNIKASI
Orang yang sukses percaya akan MOTIVASI
Orang yang sukses memiliki jiwa KEPEMIMPINAN

Setujukah dengan rangkaian kata tersebut?

Fungsi atau Entah Apa Namanya

Dulu saya sempat berpikir segalanya tentang fungsi—atau entah harus apa menyebutnya. Banyak pencapaian akan saya pertanyakan "ke mana i...