16 September 2012

Pendakian Merapi


“Saya menyarankan sampai Pasar Bubrah aja, silahkan kalau mau muncak, tapi resiko tanggung sendiri”, kata seorang pemuda yang sepertinya tahu betul kondisi di Merapi.


Saya ingin menulis tentang pengalaman mendaki gunung yang baru saja saya lakukan pada tanggal 14-15 September 2012 lalu. Seingat saya baru tiga gunung yang pernah saya daki: Merbabu, Lawu, dan Merapi. Semua lewat jalur yang menurut orang-orang lebih “mudah” untuk dilalui.

Sebenarnya keinginan untuk mendaki gunung ini sudah terasa sejak saya masih berstatus sebagai mahasiswa magang di Litbang Kompas, Jakarta. Pertengahan September ini akhirnya kesempatan tiba. Awalnya hanya ada Gultom dan saya, dengan keinginan nekat untuk naik gunung Merbabu meski hanya berdua saja. Namun menjelang tanggal yang ditentukan mulai berkumpul tiga teman SMA lain: Dicky, Dennis, dan Cabul.


Hari Kamis tanggal 13 September 2012 saya iseng googling lalu membaca bahwa Merbabu sedang kebakaran. Saya lalu menelepon pengawas resmi, dia mengatakan semua jalur ditutup. Gunung Lawu juga mengalami hal yang sama. Akhirnya saya telepon petugas untuk Gunung Merapi, satu-satunya jalur yang dibuka adalah di Kecamatan Selo, Boyolali. Akhirnya perjalanan itu dimulai!

Kami berlima naik motor sendiri-sendiri ke Muntilan, mampir ke SMA sempat jadi rumah kami. Dari sana kami lanjut ke basecamp Selo. Sampai di basecamp sekitar pukul 15.30, kami lalu mendaftarkan diri, istirahat sebentar dan berjalan ke Joglo, tempat yang bertuliskan “NEW SELO”. Jalanan aspal dan naik. Bisa ditebak, saya sudah ngos-ngosan sebelum sampai sana.

Sampai Joglo kami beli nasi pecel. Lalu mulai mendaki sekitar pukul 17.00. Jalanan berupa tanah yang debunya beterbangan ke hidung. Saya agak kurang ingat, sepertinya sebelum jalan tanah itu berakhir kami ambil jalur ke kanan, melewati ladang penduduk. Melewati seperti gapura kecil yang isinya ucapan selamat datang. Kami mengikuti jalan setapak sambil mengira-ira jalan mana menuju ke puncak.

Sungguh, kami hanya mengira-ira. Dari lima orang hanya Dicky dan saya yang sudah pernah melewati jalur Selo. Waktu itu saya terkilir dan berhenti di tengah, sedangkan Dicky sampai puncak. Ingatan Dicky dan saya yang waktu itu berjalan di malam hari tentu tidak bisa diandalkan, maka kami hanya bisa mengira-ira.

Sampai di sana lalu jalan terus menanjak berbatu. Entah berapa lama, lalu kami melewati lagi jalan tanah yang terus menanjak jauh. Kami sering berhenti untuk istirahat. Hampir selalu saya yang minta berhenti untuk mengatur napas J

Lalu jalan mulai berbatu-batu. Beberapa tempat kami berhenti merupakan tempat terbuka yang anginnya cukup menusuk. Jalan tetap menanjak, saya semakin sering minta berhenti barang sejenak untuk mengatur napas sambil menurunkan detak jantung. Sepertinya kemampuan tubuh saya tidak terlalu kuat, saya sempat merasa agak pusing. Namun perjalanan terus dilanjutkan.

Kami tidak tahu ada berapa pos, ada penanda apa saja untuk sampai puncak, meski beberapa di antara kami sudah membaca pengalaman pendaki lain ketika mendaki ke Merapi. Pokoknya kami asal melewati jalur yang ada bekas tapak sepatu orang lain.
Saya ingat betul, tujuan kami saat itu hanya satu: Pasar Bubrah. Belakangan saya bersyukur tidak sampai tempat itu, sebab jalurnya lumayan berat.

Setelah sekian lama waktu istirahat kami mulai semakin panjang. Sempat 15 menit lebih, padahal sebelumnya hanya beberapa menit. Ketika sudah mulai mengantuk kami lalu mencari-cari tempat landai untuk mendirikan tenda dan tidur. Sungguh beruntung, tak lama kami memutuskan hal itu, kami melihat ada tenda di depan kami. Beruntung lagi di sebelah tenda itu ada tempat yang cukup untuk mendirikan tenda kami. Kami lalu mendirikan tenda, memasak, dan mulai tidur dengan posisi yang menjijikkan J

Oh ya, saya harus berterima kasih kepada mas Wungkal yang pernah mengajari kami tentang prinsip ‘simbah manggung’. Jadi, meski angin bertiup kencang, kala itu kami tidak kedinginan.

Ketika langit mulai terang saya terbangun dan merasa senang sebab puncak sudah terlihat semakin dekat. Pasar Bubrah juga hanya tinggal melewati satu bukit lagi. Kami beres-beres tenda dan packing ulang lalu menuju Pasar Bubrah. Perjalanan kurang lebih satu hingga satu setengah jam, akhirnya kami sampai Pasar Bubrah.


Saya takjub.. Ini pemandangan luar biasa. Terbentang tempat sangat luas berisi batu-batu besar dan kecil, dengan latar belakang gundukan batu dan pasir membentuk apa yang dinamakan puncak Merapi. Kelelahan tadi malam seakan terbayar ketika melihat ini semua.
Kami mulai mencari batu besar untuk menahan angin, sebab kami akan memasak. Setelah itu kami, kecuali Dicky, berjalan menuju puncak. Ini adalah perjalanan tersulit. Sejak letusan tahun 2010 lalu jalur menuju puncak Merapi sudah berubah. Hanya ada satu jalur di sisi kiri yang bisa dilewati.

Jalan itu awalnya berupa batu-batu yang mudah longsor. Lalu melewati pasir yang membuat sepatu kita terbenam tiap menginjak. Dennis yang ada berada di belakang saya berhenti sampai sebelum pasir itu, dia merasa ada yang tidak beres dengan kakinya. Setelah pasir dilewati kami dihadapkan pada semacam dinding batu yang sudut kemiringannya 45 derajat atau lebih.

Sungguh, ini jalur yang membuat saya takut. Bagaimana tidak, saya berada di antara batu-batu muda yang jatuh bila diinjak. Ini pula yang dirasakan oleh dua teman di atas saya: Gultom dan Cabul. Dengan posisi memanjat yang tidak bisa dibayangkan, kami berdiskusi sebentar dan akhirnya tidak melanjutkan ke atas. Padahal rasanya puncak sudah dekat sekali, sudah hampir tergapai. Tapi tampaknya pengetahuan, kemampuan, nyali, ketahanan fisik, dan waktu kami miliki belum cukup untuk mengantar sampai puncak.


Sampai di Pasar Bubrah lalu saya iseng bertanya: “Sebenarnya esensi naik gunung itu sampai puncak gak sih?” Spontan Gultom menjawab, “Enggaklah, esensi naik gunung itu sampai rumah (dengan selamat).” Awalnya kami tertawa, tapi akhirnya kami menyepakati itu. Tentu, ini bukan semacam hiburan karena kami tak sampai puncak. Hanya kami sadar diri dan mencoba rasional, jika lima hal yang tadi saya sebutkan tidak dimiliki dengan optimal, kami harus menanggung resiko yang besar. Bukan tidak mungkin kami tidak sampai rumah.

Akhirnya kami turun dengan disusul para pendaki yang ketahanan fisiknya hebat-hebat. Sampai di NEW SELO merupakan kelegaan yang luar biasa. Akhirnya saya hanya bisa berkata bahwa pendakian selalu mengingatkan saya bahwa manusia itu sangat kecil dibandingkan alam. Oh ya, ada satu pelajaran besar untuk saya yang mungkin berguna juga untuk anda yang membaca: jangan naik gunung dengan membawa dua tas besar. Saya bawa carrier di punggung, lalu bawa tas daypack di depan. Ini sungguh merepotkan diri sendiri dan teman sekelompok.

Semoga masih ada kesempatan naik gunung lagi. Sampai bertemu kapan-kapan!


No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain