24 August 2021

Obrolan Ringan bareng Pak Manyung

Jarum jam menunjuk angka 9 malam. Seharusnya saya beristirahat, tetapi perut ini berteriak-teriak. Maka meluncurlah saya ke sebuah warung tenda pinggir jalan di Gedawang. Warung itu tak bernama. Penjualnya sih sudah pasti punya nama, tapi saya terlalu malas untuk bertanya. Jadi, istri dan saya beri nama sendiri saja: Pak Manyung.

Mengapa kasih nama itu? Begini ceritanya. 

***

Suatu malam sekitar pukul 8.30 istri saya yang sedang hamil merasa lapar. Saya lalu cari makan (nasi, sayur, lauk) ke warung itu. Kebetulan hanya ada satu pembeli. “Sip. Nggak antre. Bungkus, lalu pulang,” pikir saya. Ternyata saya salah. 

Bapak penjual itu ternyata sedang santap malam. Lahaaap sekali. Dia makan langsung pakai tangan telanjang. Sambil kepedesan dia bilang, “Sebentar ya, mas. Tunggu dulu. Saya lagi makan.” Terpaksa, saya duduk manis menunggui pemilik warung makan di depan saya. 

Sesekali dia lap keringat di dahi. Dia makan nikmat betul, seakan tidak sedang ditunggu pelanggan. Mana waktu itu tidak bawa hape. Jadi tidak ada pilihan lain selain melihatnya menghabiskan makan. Bajingan tenan. 

Dengan perasaan yang ditekan-tekan, saya tanya dia makan apa. Dia jawab singkat, “Manyung.” 

Nah, itulah asal mula dan alasan kami beri nama ‘manyung’ ke dia. Selain singkat dan (tidak) menarik, kami kasih nama itu supaya ingat pengalaman manis di Gedawang: nunggoni bakul e madhang! Jingaaan jingan. Sungguh cerita yang teramat penting di masa pandemi ini. 

***

Pak Manyung jualan makanan di atas gerobak seperti angkringan. Namun dia tidak jualan nasi yang dibungkus kecil-kecil itu. Dia jual beraneka sayur dan lauk, persis warteg, tapi di atas gerobak macam angkringan. Buka setiap hari sekitar 6.30 setelah maghrib, tutup tak menentu. Seringnya sih sampai tengah malam. 

Jenis makanan paling enak di warung itu adalah gorengan. Ini serius. Para pembeli sampai rela antre menunggu Pak Manyung bikin adonan dan mencemplungkan ke wajan besar berisi minyak panas. Dia juga menggoreng dengan santai saja, seakan tak takut pelanggan-pelanggan itu pergi. Memang brengsek betul orang itu. Tapi gorengannya memang enak sih. 

Saya jarang sekali ngobrol dengan Pak Manyung karena biasanya dia sibuk melayani pelanggan. Tapi malam itu beda. Saya datang setelah jam 9 malam. Tak ada satupun pembeli. Saya akhirnya sendirian makan di situ sambil ngobrol ngalor ngidul. Saya yang sedang ditinggal istri dan anak mudik ke Jogja, dan dia yang sedang berjualan sendirian, tampaknya senasib: bapak-bapak kesepian. 

Hal yang tak pernah saya duga, ternyata dia bijak dan sederhana. Dia cerita sebelum jualan ini dia kerja sebagai satpam di salah satu pabrik di Semarang. Sudah 6 tahun kerja di sana, tiba-tiba perusahaan tidak perpanjang kontraknya. 

“Padahal aku nggak punya salah fatal, mas,” katanya. Singkatnya, dia didepak oleh manajemen. Tanpa pesangon pula.

Dia bingung karena harus menghidupi istri dan 2 anak saat itu (usia 5 tahun dan masih bayi). Sang istri sampai menangis melihat kondisi ini. Dia lalu kerja ikut-ikut orang jadi tukang bangunan. Sebisanya. Sampai suatu saat dia diajak oleh keponakannya untuk bikin angkringan. 

“Saya mau diajak, tapi saya juga minta diajarin karena sebelumnya nggak pernah jualan,” katanya. 

Awal-awal jualan dia cerita kalau merasa sangat malu. Malu berhadapan dengan pelanggan. Malu juga karena waktu itu dia anggap kalau penjual angkringan itu kurang bergengsi. Dia lalu yakinkan diri untuk tidak perlu malu karena dia sedang  berjualan, bukan jadi maling. 

Singkat cerita, bisnisnya kian berkembang hingga sekarang. Sudah 10 tahun, dan masih terus melaju. 

Saya penasaran, lebih besar mana pendapatan sebagai satpam pabrik dengan berdagang seperti ini? 

“Alhamdulillah besar yang sekarang, mas. Meskipun awalnya juga berat,” katanya. 

Lalu tanpa diminta, dia berbagi pandangannya tentang rezeki. Inilah perbincangan yang akan membuat saya melihat Pak Manyung ini secara berbeda. 

“Rezeki itu nggak bisa dikejar, mas. Mau dihitung-hitung bagaimana, kalau belum jatahnya ya belum,” katanya. 

Pemahaman ini dia dapat, salah satunya, ketika suatu kali ada acara wayangan di dekat tempat dia jualan. Dia buka warung sambil memprediksi akan ada banyak pelanggan yang mampir. Tetapi perkiraan meleset jauh. Orang-orang justru hanya melewati warungnya. Dagangannya tak laku!

Sementara itu di lain hari dia harus pindah beberapa hari dari tempat jualan karena satu hal. Dia khawatir makanannya tidak laku. Tak terduga, jam 9 malam dia sudah bisa sampai rumah. 

“Habis, mas. Ludes,” katanya. 

Saya angguk-angguk saja dan sedikit menimpali selama dia bercerita. Kita boleh saja tidak sepakat dengan keyakinannya tentang rezeki itu. Tapi kalau dengan itu dia menjadi lebih bahagia, mengapa tidak?

Sebenarnya masih ada banyak lagi cerita yang dia bagi ke saya. Cerita yang bikin saya, sekali lagi, akan melihatnya sebagai orang yang berbeda.

Saya tidak tahu siapa yang lebih butuh: apakah dia yang sedang butuh tempat bercerita, atau saya yang sedang butuh dengar cerita dari orang-orang random yang tak saya kenal. Satu hal yang saya tahu pasti: saya tidak tahu namanya, dan dia juga tidak tahu nama saya. Tapi dia mau cerita tentang hidupnya. Sederhana sekali, dan saya suka itu.

 

1 comment:

Baca Tulisan Lain