30 May 2016

Dengan atau Tanpa Nama, Mari Kita Berjumpa !

via techbloke.com

Banyak orang merasa perlu dikenal. Lalu nama (dan ‘nama’) menjadi begitu penting untuk mereka sebarkan dengan banyak cara: mulai dari cara yang halus dan elegan, sampai cara yang murahan dan umpak-umpakan. Tujuannya sama, supaya mereka tidak menjadi nobody di tengah kumpulan manusia yang plural ini; supaya mereka punya identitas.

Namun janganlah jauh-jauh ke persoalan identitas, mari bicara dahulu soal nama.

Para calon anggota legislatif menempelkan nama (termasuk foto dan nomor urut) mereka di setiap ruang publik.

Nama anak digunakan sebagai merek bakpia di daerah Patuk, Jalan KS Tubun, Yogyakarta.

Nama ibu atau nama sendiri (biasa pakai kata ‘mbok’) digunakan sebagai merek gudeg di banyak tempat di Yogyakarta.

Kantor hukum dan law firm menggunakan nama besar pengacara sebagai merek mereka. Biasanya dua nama, atau satu nama saja dengan ditambahi ‘dan partner.’ Biasanya hlo ya.

Di kalangan anak-anak nongkrong pun mereka saling bersalaman lalu menyebut nama masing-masing.

Dengan mengingat dan menyebut nama, orang dianggap menghargai orang lain. Kadang, mengingat nama juga adalah tanda keakraban.

“Maaf saya ingat kamu, tapi lupa namamu,” jadi sering diucapkan. Lupa nama seseorang adalah kesalahan.
 
via angkringansegokucing.blogspot.co.id
Namun dunia tak sesempit itu.

Di Yogyakarta, penting tidaknya sebuah nama bisa jadi sangat cair - setidaknya itu yang saya rasakan.

Kira-kira begini. Para wisatawan, atau pendatang baru, biasa cari makan di angkringan yang sudah punya nama besar. Terkenal. Apalagi instagramable.

Namun orang Jogja, atau yang sudah lama tinggal di Jogja, biasanya tak ambil pusing. Mereka sangat menikmati makan di angkringan-angkringan kecil tak bernama. Angkringan yang hanya menyediakan dua jenis nasi kucing, dengan lauk-lauk yang biasa saja.

Di dalamnya bertemu dengan penjual dan pembeli, lalu ngobrol soal cuaca sampai politik. Memanggil penjual dengan ‘lik’ (singkatan dari ‘pak lik’; ‘bapak cilik’) yang artinya paman. Bilang ‘amit’ kalau mau ambil sendok atau gorengan di depan orang. Berpamitan kalau mau pulang duluan.

Rasanya hangat, dekat, dan bersahabat. Lebih penting lagi, mereka belum tentu mengetahui nama satu sama lain. Mereka juga tak tahu apakah mereka akan bertemu lagi di angkringan yang sama suatu saat nanti.

Jadi, mengenal dan mengingat nama tidak penting?

Penting. Namun dalam konteks tertentu, perjumpaanlah yang membuat kita lebih mengenal orang lain. Dengan mengenal, kita menghargai. Dengan menghargai, kita memanusiakan manusia. 

Bukankah tugas kita memang untuk menjadi manusia seutuhnya?

Jadi.. mari kita segera berjumpa; dengan atau tanpa nama.

23 May 2016

Mengkritik Para Tukang Kritik

Sementara otak di belakang mata sibuk menyusun kalimat runtut dari semesta ide yang begitu chaos, jutaan informasi di Facebook malah sedang gemar bikin rusuh.

Mereka, para anggota golongan yang dianggap pintar, tampaknya memang dituntut untuk melihat dari sisi lain. Dari akun Facebook itu mereka pamer pandangannya yang beda dari orang kebanyakan.

Itu buruk? Itu bagus. Kita butuh bantuan untuk melepaskan diri dari jerat pandangan dominan yang seringkali angkuh dan dungu.

Namun kadang kapasitas mereka kurang untuk itu. Sebenarnya sih pantas-pantas saja untuk punya pandangan berbeda. Asal.... asal mereka bisa menjelaskan argumennya dengan runtut dan terang.

Bayangkan kalau tidak? Mereka tak beda dengan pemuda seusia SMA yang sedang nakal-nakalnya dan pokoknya “waton beda” kalau sedang dinasehati guru.

Ya.. semacam inilah, orang-orang yang ikut-ikutan tokoh terhormat seperti Gus Dur yang senang bilang “Gitu aja kok repot?”

Pastikan kapasitas intelektual kita setara dengan Gus Dur, baru pantas bilang begitu. Bukan apa-apa, tapi menurut saya ungkapan itu muncul dari hasil kompleksitas berpikir, bukan malas dan terbatas.

Ungkapan itu tak hanya hasil dari melahap segudang buku dan diskusi, tetapi juga pengolahan batin yang taat.

Jadi, pantaskan diri dululah.

Tapi kan tetap bebas mas nulis di Facebook? Akun akun saya ini, enggak suka tinggal delete friend beres.

Iyo wis, betul. Biar cepet.

Ha trus kamu ini ngapain mas? Kerja enggak, tugas akhir enggak rampung-rampung, malah mengkritik mereka yang tukang kritik. Emang kapasitasmu udah pantas buat melontarkan kritik? Argumenmu apa mas? Mas?? Mas!? Woo.. AS*!!

.... (kencangkan suara musik)...


Jogja 

23052016

20 May 2016

Cakar Kucing

Cakar Kucing

: katamu kau malu dengan kalungmu yang bernama? santailah dulu sobat..
biar kukatakan sajaksajak tentangmu, tentang puisi yang lamatlamat menyengat

berlalulah tibatiba waktu 
yang menuakan wajahmu;
tempatku berhenti sejenak 
dari memandang papan tulis 
yang bau tinta spidol.

aku singgah ke kedalaman matamu

tempat kita sering duduk berjejer
di kelas bahasa indonesia, atau kelas
sejarah. sementara para begundal itu
pilih berlelap di baris belakang

tanganku pernah berdarah (persis
dicakar kucing!) setelah gojeg kere
denganmu di kelas agama. 

sesampai di asrama kotor itu
barulah kutahu di antara kancing ketiga 
baju seragamku juga ada darah.

kini waktu mengeringkan darah
membuatnya jadi subur dan apaapa yang
disebar di sana akan tumbuh.

dan kini aku juga punya rapalan mantra baru
yang semoga tidak berlebihan.

huhuhuhu .-.

Jogjakarta,

20052016

12 May 2016

Bacalah Saja, Ipul, Jangan Ragu-Ragu

Sumber: www.pinterest.com

Ipul; pemuda aktivis surau yang tekun di desa sebelah. Sejak bangunan masih kecil, hingga kini bertingkat dua (karena bantuan dana dari calon anggota DPRD), dia masih jadi petugas yang bekerja tanpa pamrih.

Dia tidak lulus SMP karena kurang pandai. Tiap hari dia berusaha baca Quran, tapi tetap tak satupun kata yang dia pahami. Namun dia tak jadi berandalan seperti kawan sebayanya. Dengan tutur halus dan suara lembut, dia memilih nongkrong di surau daripada menarik gas di motor-motor dua tak—sebagaimana dilakukan kawan-kawannya.

Kelebihannya itu lalu disadari oleh kelompok bapak-bapak di desa.

“Meski bodoh, Ipul itu tekun. Suaranya juga lembut. Bagaimana kalau dia kita jadikan pembaca pengumuman di surau? Warga pasti akan sangat senang tiap kali Ipul bicara,” usul seorang bapak berpeci lusuh.

“Dia bodoh. Bagaimana orang bodoh bisa bicara lancar untuk mengumumkan? Janganlah tugas sepenting itu diberikan orang bodoh!” sanggah yang lain.

“Dia sudah bisa baca. Kita tulis saja dengan lengkap, lalu biarkan dia baca sampai habis,” tutur seorang bapak di sudut sambil menepis abu dari rokok yang dia jepit.

Lalu jadilah Ipul—sang pembaca pengumuman di surau desa sebelah.

Dia bekerja dengan gembira. Setiap kali mulutnya berada di depan pengeras suara, dia merasa jadi orang paling berarti. Setiap kali dia baca salam pembuka “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..” rasanya kedamaian betul-betul menjalar di hati tiap warga.

Dengan secarik kertas, dia baca pengumuman. Dua minggu sekali, dia baca pengumuman: ajakan kepada warga untuk kerja bakti. Lalu pada waktu-waktu tertentu dia baca pengumuman mengenai kabar lelayu. Kabar lelayu itu tidak hanya dari desa sebelah, tetapi juga beberapa desa di sekelilingnya. Biasalah, desa-desa itu biasanya masih dihuni oleh keluarga besar—teramat besar. Jadi mereka saling kenal.

Lama kelamaan Ipul bosan. Dia mulai baca kertas tanpa berpikir. Dia baca saja tulisan di kertas sampai habis. Bahkan karena kebodohannya, dia berulang kali baca kertas pengumuman yang sama.

Suatu malam minggu yang biasa, desa sebelah geger. Sekumpulan pemuda dari luar teler karena air mabuk murahan. Parahnya, mereka bikin rusuh dan masuk ke desa sebelah.

Tawuran tak terhindarkan. Batu-batu beterbangan tanpa arah, kayu dan bambu haus akan darah di kepala,  dan pisau-pisau dapur giat menyabet tiap-tiap anggota tubuh. Dalam sekejap, bau anyir darah memenuhi seisi desa. Ketika pertempuran berhenti, sisa rintihan luka dan tangisan bayi masih saja terdengar.

Keesokan harinya, Ipul bangun pagi dan mendapati secarik kertas di surau. Isinya berita duka, tentang nama-nama pemuda yang jadi korban jiwa atas tawuran murahan itu.

Ipul berulang kali baca kertas itu, tapi tak sedikitpun suara keluar dari pengeras suara. Dia lalu resah dan  hampir putus asa. Barangkali Ipul memang terlalu bodoh, berulang kali namanya sendiri dia baca pagi itu.



fiksi.
Jogja, 2016

08 May 2016

Rantau dan Studio Musik: Tempat Kami Menemui Kami

Seusai melepas rindu selama empat jam di studio musik, kami makan di burjoan dekat sana. Biasalah, tradisi alumnus mahasiswa Jogja. Kami (sebut saja Cahyadi, Adiputro, Budi, dan saya) makan sambil cerita banyak soal hidup yang sedang kami jalani. Khususnya, hidup yang sedang mereka jalani di luar Jogja, salah satu kota tempat mereka merasa pulang.

Atmosfer besar yang melingkupi cerita mereka adalah mereka merasa enggan untuk pergi dari Jogja. H-sekian, belum beli tiket untuk pergi. Belakangan saya tahu kalau Budi langsung berangkat sore itu. Namun, mau tak mau, mereka harus pergi untuk melanjutkan hidup dan karya-karya mereka.

» Bandung, Jawa Barat

Saya awali dari Cahyadi. 1991 dia lahir dan besar di Duri, Riau. Semenjak 2006 dia merasakan hidup nyantri di sebuah asrama di Muntilan, Jawa Tengah. Lulus 2009, dia  lalu melanjutkan kuliah di Jogja. Di kota ini dia merasakan banyak kenyamanan dan kenangan yang pasti enggan dilupakan. Tahun 2015 dia bekerja beberapa bulan di Duri, lalu memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Bandung.

Di sinilah cerita Cahyadi berawal. Dia merasa Bandung adalah kota dengan biaya hidup yang lebih mahal dari Jogja. Barangkali memang demikian adanya. Dia bercerita jarang mau diajak nongkrong bersama teman-teman kuliah, lantaran tempatnya mahal.

Sebagai gambaran, hampir setiap hari dia makan di warteg. Untuk makan sekali dengan lauk yang biasa-biasa saja, dia harus keluar uang belasan ribu. Sedangkan dia tidak mungkin diajak nongkrong teman-teman kuliah di warteg.

“Kalau jalan-jalan aja nggak usah beli kan jadi irit?” tanyaku. Cahyadi mengiyakan. Dia memang beberapa kali pergi sendirian naik sepeda motor ke arah entah di Bandung. Hanya keliling saja lalu pulang kos sambil mampir sebentar di warteg.

“Kok sendirian? Kamu nggak cari cewek di Bandung? Katanya di sana ‘kan cantik-cantik,” tanyak kami penasaran. “Aku enggak bawa mobil,” jawabnya yakin.

Harga yang murah, adalah satu hal. Hal lain adalah tempat hiburan. Bandung kurang hiburan apa sih dibanding Jogja? Mau liburan bernuansa alam? Ada. Kota? Ada. Budaya, sejarah, dan arsitektur? Banyak. Namun harganya mahal. Untuk naik sampai Tangkuban Perahu, wisatawan harus keluar uang Rp75 ribu untuk masuk.

Di Jogja, uang sebesar itu barangkali bisa untuk isi bensin motor, naik ke Kaliurang atau bahkan Kaliadem, lalu susur pantai-pantai perawan di Gunungkidul. Jadi memang urusan kembali lagi ke uang.

Sebenarnya ada banyak kenikmatan  yang dia peroleh di Bandung. Namun karena konteks cerita ini adalah “malas untuk pergi dari Jogja”, maka yang dia ceritakan adalah kelebihan dari Jogja.

» Semarang, Jawa Tengah

Berikutnya Adiputro. 1990 dia lahir dan besar di Duri, Riau. Dia sempat bersekolah hingga SMA di sana, tetapi pada tahun ke dua dia pindah sekolah di Jogja. 2008 dia melanjutkan kuliah di kota yang sama hingga kira-kira dua tahun lalu mulai bekerja di Semarang.

Kepribadian Adiputro ini tak bisa ditebak. Kadang dia terlihat serius, kadang pula bicaranya seputar komedi-komedi mesum.

Menurut Adiputro, kondisi kota di Semarang mirip dengan Jogja. Karakter masyarakatnya juga mirip, tipikal orang Jawa. Namun memang, di Semarang akan lebih mudah untuk menemui etnis Tionghoa bila dibandingkan di Jogja.

Meskipun rata-rata biaya nongkrong dan makan di Semarang hanya selisih sedikit dengan Jogja, Adiputro mengaku jarang keluar kos kalau sedang libur akhir pekan. “Di mana-mana panas,” katanya.

“Wisata alam gimana?” tanya kami. “Kalau Semarangnya sih sedikit, tetapi kalau naik ke Ungaran kan ada gunung,” jawabnya.

“Lalu apa yang bikin Jogja lebih nyaman?” kejar kami. Adiputro mengeluhkan beberapa hal lain selain kondisi udara yang lebih panas. Pertama adalah persoalan studio musik. Menurut dia studio musik di Semarang itu sulit ditemukan, tidak sebanyak di Jogja. Sekalipun ada, harganya mahal. Dia pernah menemukan studio musik dengan keadaan lebih buruk dari tempat kami biasa main, tetapi dengan harga sewa dua kali lipat lebih mahal. Entah alasan ini serius atau tidak, tetapi dia menyebutkan hal ini sampai dua kali.

Kedua adalah jarangnya warnet  yang menyediakan film. Di Jogja, ada beberapa lokasi warnet yang jadi jujugan para mahasiswa ketika mereka ingin meng-copy film. Di Babarsari ada, di jalan Palagan ada, di daerah Tamansiswa juga ada, juga di daerah-daerah lainnya. Menurut Adiputro, tempat-tempat ini jarang ditemukan di Semarang.

Mengapa dia butuh film? Begini. Dia bekerja Senin—Sabtu. Pekerjaannya sebagai akuntan membuatnya harus bekerja keras. Seminggu bekerja akan membuat dia lelah. Ketika keluar kos pun malas (karena panas) maka menonton film adalah aktivitas yang cukup menyenangkan.

Sama seperti Cahyadi, Adiputro mendapatkan hal menarik selama di Semarang. Dia merasa mendapat ilmu yang amat sangat banyak dari pekerjaannya ini. Barangkali, ilmu sebanyak ini akan sulit diperoleh ketika dia masih di Jogja.

» Cikarang, Jawa Barat

Beralih ke Budi. 1991 dia lahir dan besar di lingkungan masyarakat Jawa—Katolik di Sendangsono, Jogja. 2006 dia juga merasakan nyantri di Muntilan dan lanjut berkuliah di Jogja tahun 2009. Dia sempat kuliah sambil bekerja di sebuah cafe. Pernah juga kuliah sambil berbisnis minuman “perjamuan” untuk mencukupi kebutuhannya.

Seingat saya, Cikarang ini tempat ketiga dia bekerja setelah lulus kuliah. Tempat pertama saya lupa, tapi dia bertahan sebentar saja karena hatinya tak sepakat dengan cara kerja yang “kotor.” Tempat kedua di sebuah toko besar di Cirebon. Dia bertahan kira-kira setahun di tempat itu. Setelah itu baru dia bekerja di Cikarang, baru tiga minggu dia bekerja di sana.

“Aku tidak mau menghabiskan masa tua di sana,” tuturnya sebelum kami bertanya. Saya penasaran. Jakarta, Bandung, Semarang, saya pernah ke sana, tapi Cikarang belum pernah.

Di Cikarang, menurut Budi, kita akan menemukan banyak pabrik. Sebagian besar masyarakat sana adalah pekerja, dan sebagian besar dari pekerja itu adalah juga orang-orang Jawa yang merantau. Jadi memang orang pergi ke Cikarang hanya untuk bekerja, mencari penghidupan yang lebih baik. Upah minimum di sana memang relatif besar, dengar-dengar malah lebih besar dari Jakarta.

Soal tempat nongkrong, di sana ada banyak dan harganya tidak mahal. Yang juga banyak ditemui adalah karaoke, tentu dengan fasilitas plus plus. “Mungkin karena pekerja stress dengan kerjaan mereka, satu-satunya hiburan adalah tempat seperti itu,” katanya.

Budi mengaku belum pernah mencoba layanan itu. Menurut dia, hal seperti itu tidak menghibur. Kami berempat sepakat. Bagi Budi, hiburan dia kali ini adalah melihat pemandangan hijau yang luas. Sejauh mata memandang adalah bukit-bukit hijau. Sebenarnya tempat dia lahir dan besar penuh dengan pesona alam, kini dia baru menyadari indahnya pemandangan seperti itu.

Sama seperti Adiputro, Budi juga memilih untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan dengan menonton sejumlah film. Namun dia tidak bisa selalu melakukannya karena pacarnya, Christiana, lebih senang untuk jalan-jalan daripada berdiam diri di kos.

Di Cikarang, Budi juga menemukan kenyamanannya. Selain karena jam kerja tertib (Senin—Jumat; 8-17) gajinya juga lebih besar dari tempat dia sebelumnya bekerja. Selain itu kantornya juga menyediakan fasilitas antar—jemput dari tempat tinggal hingga kantor (dan sebaliknya) bagi karyawan.

●●●●

Kami lalu berdiam dan tak menyimpulkan apa-apa dari perbincangan kami. Namun diam-diam saya teringat dengan homili Imam ketika hari Kamis kemarin. Beliau memaknai kata-kata dalam Alkitab “Hai orang Galilea, mengapa kamu berdiri di sini memandang ke langit?” dengan permenungan yang—menurut saya—lumayan keren.

Konteksnya adalah orang Galilea itu dipamiti Yesus. Yesus lalu naik ke langit, lalu mereka memandangi langit terus. Tindakan mereka itu lalu ditegur oleh “dua orang berpakaian putih” dengan menggunakan kata-kata tadi.

Imam memaknai kata-kata itu (salah satunya) dengan ajaran bahwa kita tidak pantas untuk memandang Yesus terus menerus. Cukup kita tahu Yesus telah bangkit, lalu segeralah memandang ke diri kita sendiri dan ke depan—ke tugas dan perutusan kita masing-masing. Kita ditantang untuk menemukan dan menghadirkan Tuhan dalam karya kita.

Saya lalu memandang ke diri kami. Dua dari kami sudah bekerja, sisanya masih kuliah. Tugas perutusan dan karya kami akan tetap berbeda sampai kapanpun. Namun kami punya kesamaan dalam hasrat bermusik dan hasrat menikmati Jogja.

Entah akan bulan apa lagi kami berempat bisa berkumpul di studio musik. Yang saya percayai, studio musik di Jogja akan jadi tempat kami pulang dari perantauan; tempat kami kembali menemui kami.

06 May 2016

#SaveJogja


Jogja sedang bermasalah. Ini bukan persoalan biasa yang dipandang warga dengan berlebihan. Jogja memang sedang bermasalah. Masalahnya bisa jadi masalah politik, kebudayaan, sosial, ataupun—yang seringkali disebut banyak orang dengan—kemelorotan moral generasi Y.

Saya coba urai pemantik-pemantik besar yang (kebetulan saja) nyantol di kepala. Dimulai dari yang paling baru, yakni kesurupan massal yang dialami siswa Tangerang yang sedang berlibur ke Jogja.

» Kesurupan Massal – Ketidaksopanan Wisatawan


Kabarnya, mereka kesurupan karena ada salah satu dari kawan mereka yang iseng menggeser batu ketika mereka sedang berada di kawasan Candi Borobudur. Lihat akun Twitter @BerandaJogja untuk membaca lebih lanjut.

Tengah malam itu juga siswa pelaku langsung diantar ke Candi Borobudur untuk mengembalikan lokasi batu yang dia geser. Tak lupa dia, dan orang-orang dewasa yang bertanggung jawab atasnya, “meminta maaf” atas ketidaksopanan yang dia lakukan.

Ratusan akun Twitter meretweet informasi yang dibagikan. Responsnya bermacam-macam. Ada yang menulis “Jagalah Jogja beserta isinya” meskipun Candi Borbodur berada di wilayah administratif Magelang (Prov. Jawa Tengah), bukan DIY. Ada juga yang menyinggung soal ketidaksopanan siswa wisatawan dari luar kota yang memang tidak diperhatikan ketika berkunjung ke Jogja.

Nah, untuk yang terakhir ini saya merasakan betul. Memang terasa kecenderungan orang-orang luar kota, terutama dari sekitar kawasan Metropolitan, tidak sopan. Ini bukan persoalan etiket/sopan santun yang punya standar berbeda di tiap kultur. Namun saya lebih melihat bahwa mereka dari “pusat” datang ke “daerah” yang asosiasinya lebih rendah. Mereka datang dari kawasan metro dengan segala kemewahan dan kekerenan, masuk ke kawasan lawas yang sederhana dan mencontoh-contoh orang kota.

Mereka datang dari atas ke bawah. Mereka jalan dan liburan ke Jogja dengan kepala mendongak. Mereka juga punya banyak uang untuk beli nasi-nasi angkringan di sini. Saya menuduh, inilah yang ada di dalam pikiran mereka. Pikiran itu pulalah yang membuat mereka merasa bisa berperilaku seenaknya—termasuk menggeser batu candi.

Namun tentu saja, tidak semua wisatawan demikian. Banyak juga wisatawan yang benar-benar sopan dan mau menghormati kawasan Jogja. Hormat selalu untuk anda yang merasa bagian dari wisatawan yang terakhir ini.

Update: "Penunggu" mengklarifikasi bahwa siswa tersebut bukan menggeser batu, melainkan tidak sengaja "menubruk" dirinya ketika sedang duduk-duduk santai di kawasan candi  baca berita

» Pembubaran Acara Pemutaran Film “Pulau Buru Tanah Air Beta” oleh Polisi


Acara telah berlangsung, tetapi polisi datang dan minta acara ini dibubarkan. Berikut kronologi kejadian yang diunggah dalam akun Facebook “Kota Untuk Manusia”

I. Selasa pukul 08.00 s.d. 09.00 WIB, AJI Yogyakarta mengirimkan surat undangan resmi kepada Kapolda DIY Brigjend Polisi Prasta Wahyu Hidayat dan Kapolresta Yogyakarta, Prihartono Eling Lelakon, agar datang di acara World Press Freedom Day. »lanjut baca

Sebenarnya pemutaran film ini adalah salah satu dari rangkaian acara yang digelar di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta. Namun dengan negosiasi yang alot, akhirnya polisi memaksa panitia untuk membubarkan acara.

Tentu saja pembubaran acara ini tidak baik- baik saja. Polisi dianggap cuci tangan. Mereka seharusnya mengamankan peserta diskusi dari ancaman ormas di luar kantor. Bukan malah membubarkan acara rutin itu.

Lebih dari itu, pembubaran ini menunjukkan represi menjijikkan yang dilakukan pemerintah kepada rakyat. Pemutaran film dokumenter itu adalah sarana pembelajaran. Warga diajak untuk berpikir kritis, memahami persoalan dengan terang, dan belajar dari pengalaman supaya mencegah kebuntuan nalar ketika mengalami hal yang sama lagi.

Anehnya, media pembelajaran itu dianggap sebagai propaganda komunisme. Inilah hebatnya Orde Baru, efeknya masih terasa hingga sekarang.

Mau tahu lebih parah lagi? Menurut laporan wartawan Tempo, Sri Sultan malah mendukung para polisi tengik itu. Sri Sultan adalah Raja, beliau simbol otoritas pemerintahan di Yogyakarta. Sebagai Raja, beliau adalah kepanjangan tangan Tuhan yang punya tugas memimpin dan melindungi dari bahaya. Ayahnya, Sri Sultan HB IX, sudah menunjukkan teladan luar biasa untuk melindungi rakyat Yogyakarta. Sayangnya, teladan itu tidak dijalani Raja yang kini berkuasa.

» Pembunuhan Mahasiswi UGM


Kampus Pascasarjana FMIPA UGM geger ketika ditemukan jenazah di kamar mandi lantai lima. Terus terang, saya sangat sedih dan merasa iba dengan almarhum. Kejadian ini adalah tragedi yang menyesakkan. Tak berselang lama, pelakunya ditemukan. Dia adalah petugas kebersihan yang akan habis masa kontrak dan tidak akan diperpanjang lagi. Motif pembunuhan itu adalah kebutuhan ekonomi.

Uang hasil gadai dua buah handphone dan power bank sebesar Rp650 ribu langsung dipakai buat beli bensin, rokok, sepatu wanita, sandal anak kecil, dsb. Teman saya, Heni, adalah satu-satunya yang bilang kalau dia kasihan dengan pelaku. Kasihan karena kebutuhan ekonomilah yang menjadikan dia pembunuh. Sungguh, ini tragedi. Yakin, fenomena ini adalah gunung es.

» Penyayatan Lengan oleh Orang Tak Dikenal

Tiga orang di jalanan menjadi korban penyayatan di lengan kanan. Mereka disayat dengan menggunaakan senjata tajam oleh orang tidak dikenal. Korban mengalami luka, dan tentu saja, hal ini menambah daftar alasan orang harus takut berkendara sendirian di jalanan. Tak berselang lama, pelaku juga ditemukan. Rupa-rupanya dia mengalami gangguan jiwa. Taik!

» Knalpot Bombongan


Nah, ini juga menjijikkan. Jaman sekarang masih saja ada konvoi kendaraan bermotor untuk kampanye. Memalukan sekali, karena menunjukkan keberhentian logika, mengagungkan kedunguan pikiran. Bedanya, sekarang mereka bisa selfie lalu diunggah di media sosial dengan pongahnya.

Terakhir kemarin ada konvoi kendaraan bermotor yang lalu memakan satu korban tewas. Korban adalah salah satu peserta konvoi. Dia diserang menggunakan bom molotov oleh orang tidak dikenal.

Sebenarnya sudah banyak kalangan yang meminta pemerintah untuk melarang konvoi kendaraan bermotor. Petisi online telah disebar dan mendapatkan ribuan tanda tangan, tetapi aturan pelarangan belum juga dikeluarkan. Petisi itu muncul menyusul kerusuhan yang dilakukan para peserta konvoi di beberapa wilayah di Yogyakarta. Menjijikkan.

Tak usahlah menunggu korban lagi. Bukankah suara raungan knalpot itu sudah cukup mengganggu, mengintimidasi, dan meneror sebagian warga? Kalau warga merasa takut, di mana peran para pelindung? Aih.

» Pertumbuhan Hotel Tak Terkendali


Berita tentang perlawanan warga untuk menanggapi pembangunan hotel yang gila-gilaan di Jogja ini kebetulan jadi topik penelitian saya. Warga sudah melawan selama beberapa tahun, tetapi hotel masih saja dibangun. Selama ada IMB dari Dinas Perizinan, hotel memang lalu diijinkan membangun. Soal sumur warga yang mengering? Soal tanah Jogja yang menurun tiap tahun karena beban bertambah? Ini masalah besar, yang oleh pemerintah nanti akan disebut sebagai "keprihatinan bersama."

Begitulah.

01 May 2016

Masturbasi yang Menggebu-gebu

Apa yang digelisahkan oleh Gie (dalam film “Gie”) kini nyata terjadi di depanku. Gie sinis pada kawan-kawan aktivis yang dulunya turut menumbangkan pemerintah, tapi lalu jadi pejabat di pemerintahan berikutnya. Perjuangan memperbaiki sistem dari dalam katamu? Ah. Segala alasan dan motif memang bisa dibuat(-buat).


Konteks yang kualami tentu berbeda, tetapi narasi “penyeberangan” ini masih sama dan berulang terjadi. Seakan pengkhianatan dengan berbagai skala ini adalah pola-pola yang sudah mapan di semesta raya kita.

Ini adalah tentang kawan semasa remaja (masa yang baru saja berakhir) yang menggebu-gebu. Mereka ikut demo ke sana ke mari bersama kawan mahasiswa yang bangga bertudung “aktivis.” Foto-foto ketika mereka berorasi dengan kaos merah disebar di akun-akun media sosialnya. 

Mereka ikut diskusi pergerakan, rapat-rapat koordinasi untuk aksi, melahap buku-buku berbau Marxisme, turut menyanyi lagu “Darah Juang”, dan ya, sempat memanggil teman-temannya dengan sebutan “Camerad!”

1 Mei seperti ini, wah, seakan hari itu adalah milik mereka. Rencana aksi di pusat-pusat keramaian kota Jogja sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari. Termasuk juga rencana-rencana B, C, D, dan seterusnya bila ada hal-hal yang terjadi di luar rencana pada hari H.

Tak lupa, mereka juga bising di media sosial. Sudah seperti anak abege, atau merasa masih abege, yang update status sedang nonton film “AADC?2” yang katanya bikin ingat mantan. Status, twit, dan segala bentuk updatean tentang perjuangan mereka memperbaiki nasib buruh ditumpah-ruahkan pada momen internasional itu.

..setelah berbelas-belas purnama.
setelah bergelas-gelas air tanpa nama..

Dalam waktu yang tak lama, mereka harus pakai toga. Usai tali dipindahkan oleh Rektor, seketika itu juga mereka harus melepaskan diri dari pakaian kebesaran mahasiswa. Biasanya, momen itu dirayakan dengan pesta kecil-kecilan. Di sudut-sudut kampus, di ruang-ruang rapat, dan di tempat bersejarah lainnya.

Lalu, kenyataan hidup menghajar mereka tanpa ampun. Bagai sapi yang ditusuk hidungnya, mereka berbaris rapi dan berduyun-duyun masuk pabrik. Nyatanya, mereka yang dulu alergi dengan istilah “kapitalisme”, “buruh”, dan “pemodal” kini dengan manisnya jadi bagian dari sistem itu.

Diam-diam, mereka kini menikmati hidup sebagai buruh—yang adalah sarjana. Jadi anak buah, punya atasan, beberapa sudah punya bawahan, bekerja keras pada jam-jam yang telah diatur, lalu digaji setiap bulan. Dari gaji itu mereka lalu bisa hang out dengan kawan-kawan di sejumlah cafe ternama, berfoto, lalu upload fotonya di media sosial.

“Teman masa perjuangan,” tulis mereka di caption.

Barangkali memang ada, keringat-keringat berbau perjuangan yang sering menyeruak dari balik kemeja-kemeja rapi mereka. Namun yakinlah, bau itu akan teralihkan oleh aroma wangi dari receh-receh yang dilimpahkan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. 

Apalagi kalau mereka sudah mulai bawa mobil, cicil rumah, membiayai adik, mau menikah, dan sebagainya. Tumbanglah sudah kata-kata tanpa makna yang mereka tumpahkan di jalan beberapa taun silam.

“Ya tidak apa-apa to mereka seperti itu. Paling tidak mereka sadar berada dalam sistem kapitalisme yang mereka hina-hina dulu,” kata sebagian dari diriku.

Namun apa kabar buruh-buruh tak bernama yang mereka perjuangkan dulu? Apakah gaji mereka naik? Hak mereka terpenuhi? Mereka menjadi semakin dimanusiakan oleh perusahaan? Hidup mereka jadi sejahtera?

Nasib para mantan aktivis mahasiswa itu lebih baik. Mereka sarjana, punya skill, punya pengalaman organisasi, dan juga berasal dari keluarga yang sudah mapan sebelumnya. Bisalah minta koneksi dari orang tua kalau mau kerja yang dapat posisi baik. « ini sungguhan banyak terjadi!

Aku sadar perubahan tidak bisa seketika terjadi. Apalagi menggulingkan sistem kapitalisme? Hahaha.. itu mimpi yang sungguh mimpi. Poin yang kukritik bukanlah gerakan mahasiswa, bukan juga mereka-mereka para “penyeberang”—kalau tidak mau dikatakan “pengkhianat.”

Aku hanya menuduh, mereka yang dulunya demo panas-panasan di jalan dan kini duduk manis di ruangan ber-AC itu, hanyalah memenuhi hasratnya semasa muda. Pokoknya satu kata, “Lawan!” gitu. 

Mereka tidak benar-benar berorientasi pada persoalan buruh dan politik. Mereka hanya menguji diri mereka, menantang kemampuan berpikir mereka, menambah jumlah kawan, dan menantang nyali mereka untuk berhadap-hadapan dengan polisi di jalanan.

Ya, aku menuduh, mereka hanya (ber-)masturbasi.

#Note
Jangan sakit hati dengan tulisan ini. Anggaplah saja gumaman habis bangun tidur. Lagipula, itu ada tugas-tugas dari bos di meja kerjamu. Mereka lebih penting, paling tidak ada duitnya lah. Kerjakan dengan rajin dan penuh loyalitas ya.

Baca Tulisan Lain