25 April 2011

Tukang Cukur

Setelah 5 menit mengobrol, saya berkata kepada tukang cukur, “Saya masih kuliah, mas. Umur saya masih 20 tahun." 

Tukang cukur kaget, tersenyum (mungkin malu, mungkin menghina), sambil menimpali, ”Memang wajah bisa menipu, mas.” 

(Dia kira saya sudah berumur 20-sekian dan sudah bekerja, bahkan dia sempat tanya apakah saya sudah berkeluarga atau belum.) 

Nasib seorang bermuka tua, ehm, dewasa. Entah buruk, entah baik. J

17 April 2011

Becak Barang


Dua orang lelaki terlihat sedang membetulkan becak barang (10/4) di sekitar Bulaksumur. Becak barang menjadi alternatif yang paling mungkin dipilih di tengah meningkatnya harga bahan bakar minyak. Anda tahu barang apa yang biasanya ada di becak itu? Terkejutlah.

Kabel, Awan, dan Saka


Tidak ada yang menarik dari foto ini. Tetapi kenapa saya upload ?

Donor Darah


Tangan seorang wanita setelah mengikuti aksi donor darah di Mirota Kampus Yogyakarta (10/4). Aksi sosial donor darah seperti ini banyak dipilih untuk dilakukan oleh instansi-instansi tertentu 
ketika mengadakan acara.

Puas!



Foto ini saya ambil di sekitar bunderan UGM. Tepat di depan tulisan ini ada dua sekolah menengah. Murid-murid kedua sekolah tersebut seringkali menunggu angkutan umum di sekitar tulisan. Entah siapa yang menulis, namun boleh saja kita duga.

By the way, apa coba maksudnya itu tulisan? :p

Imajinasi Masa Kecil

Entah kenapa saya ingin sekali menuliskan imajinasi anak kecil yang kadang terbawa hingga dewasa. Kadang imajinasi anak kecil inilah yang menjadi hasrat terpendam dari seseorang hingga masa tuanya. Atau bahkan mungkin sebenarnya itu adalah panggilan hidupnya. Siapa tahu?

Di tulisan ini saya hanya hendak menuliskan dua buah imajinasi masa kecil yang menurut saya masih seringkali muncul. Tidak penting sih, tapi masing-masing dari kita masih harus tetap memiliki kemampuan imajinasi saya kira.

Terbang
Imajinasi saya dulu muncul biasanya karena mengakses cerita-cerita kartun. Masih jelas dalam ingatan saya, saya ingin sekali bisa terbang. Terbang layaknya tokoh-tokoh dalam Dragon Ball. Mereka terbang dengan cara mengosongkan pikiran, suatu hal yang belum pernah bisa saya lakukan. Pernah ada dialog (saya lupa siapa dengan siapa) yang mengatakan,”Mengosongkan pikiran tidak sama dengan tidak memikirkan apa-apa.” Nah.. hingga umur 20 tahun saya tetap belum memahami. Makanya saya belum bisa terbang-terbang. (kesimpulan bodoh)

Angka
Imajinasi ini yang masih membuat saya terheran-heran dengan masa kecil saya. Ketika bermain kartu dengan saudara-saudara saya, begitu banyak angka yang masuk dalam ingatan. Anehnya, saya kemudian melekatkan karakter-karakter tertentu pada angka-angka tersebut.

Angka 1 >> laki-laki yang kalem, tenang, bersih, flamboyan.
Angka 2 >> perempuan (tanpa karakter)
Angka 3 >> laki-laki yang sudah dewasa, garang, mudah marah.
Angka 4 >> perempuan yang kurus.
Angka 5 >> perempuan yang gendut namun berwibawa (ibu-ibu).
Angka 6 >> laki-laki (tanpa karakter)
Angka 7 >> laki-laki, keras hati.
Angka 8 >> laki-laki bijaksana.
Angka 9 >> laki-laki perfeksionis.

Kenapa saya bisa melekatkan karakter pada angka-angka di atas? Seharusnya saya bertanya sewaktu saya kecil. Entah bagaimana cara pikiran ini bekerja, namun karakter itu masih saya lekatkan hingga kini.

Apa imajinasimu?

13 April 2011

Pakualaman

Belum lama ini kondisi politik di Daerah Istimewa Yogyakarta digoyang oleh isu mengenai diadakannya pemilihan Gubernur DIY. Keistimewaan daerah ini dipertanyakan, sekaligus dipertahankan, oleh para pengikutnya. Mereka disebut orang-orang pro penetapan.

Apa yang ditetapkan? Posisi Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur dan Paku Alam IX sebagai Wakil Gubernur. Beliau berdua ini memiliki singgasana (sebagai “Ratu”) di dua tempat yang berbeda. Kraton Kasultanan Ngayogyakarta sudah begitu terkenalnya, namun bagaimana dengan Kraton Pakualaman?

Terus terang, saya sebagai orang asli Jogja ini tersentak ketika tersadar bahwa saya tidak mengerti apa-apa mengenai Kraton yang satu ini. Saya mencari-cari informasi tentang tempat ini di buku-buku dalam lemari buku. Nihil. Hanya ada Ensiklopedi Kraton Yogyakarta dan Ensiklopedi Kotagede.

Suatu saat Bapak mengajak saya untuk merekam kegiatan penulisan buku di Pakualaman. Menurut tim penulis, buku ini diharapkan menjadi buku induk yang berisi informasi mengenai Kraton Pakualaman. Mulai dari upacara-upacara adat, arsitektur, wayang, dan sebagainya. Ini adalah jawaban atas pertanyaan.

Semoga cepat rampung, lalu bisa dibaca.
Ini saya sertakan satu foto seorang keluarga Pakualaman. Sudah berumur, dan masih mampu bercerita banyak mengenai pengalaman dan pengetahuannya mengenai Kraton Pakualaman. Bisa jadi dia pelaku sejarah, atau saksi sejarah.


Baca Tulisan Lain