22 September 2011

Belajar?

Malam minggu kala itu kosong. Kekasih di kota asalnya. Saya dan Sidhi iseng membuat ini. Entah apa namanya. Mungkin akan saya sebut #1 saja.

17 September 2011

Panen Musim Gugur

Saya pernah baca artikel berjudul Panen Musim Gugur (ditulis di Majalah Tempo tahun 2009). Untuk memenuhi tugas mata kuliah Reportase Investigasi, saya kemudian menuliskan analisis singkat atas isi laporan.


Ringkasan artikel

Pengguguran janin (aborsi) ilegal merupakan bisnis yang marak di Jakarta. Ditemukan bahwa sekitar 100 klinik gelap melayani 100 ribuan klien yang hendak melepas janin setiap tahunnya. Mata rantai bisnis ini dimulai dengan calo-calo yang mengedarkan berbagai macam kartu nama kepada calon klien. 

Selain itu tugas mereka juga sebagai “intel” yang menguping informasi operasi polisi. Dokter, dalam artikel ini, disebut sebagai pemain utama dalam bisnis ini. Biasanya dokter ini adalah pemain lama yang sudah pernah dihukum karena praktek aborsi gelap, namun kembali beroperasi setelah keluar dari penjara.

Yamaguchi Kumiko

Benar, itu nama orang Jepang. Siapakah dia sampai saya menulisnya dalam blog? Semacam bintang film dewasa asli Jepang? Atau salah satu personel grup remaja yang bernyanyi sambil berjoget? 
Ah, tentu tidak.

15 September 2011

Bukan PPKn

Ijinkan saya turut prihatin sejenak.

Suatu ketika seorang laki-laki bertanya di depan para mahasiswa –terus terang berat bagi saya untuk menyebutnya sebagai dosen. Ups!



‘Pada hakekatnya, manusia itu lebih senang berbuat baik atau buruk?’ tanyanya. Lalu dia menunjuk seorang mahasiswa yang duduk di belakang untuk menjawab.

‘Berbuat baik.’ jawabnya.  

‘Kenapa? Apa alasannya?’ tanyanya lagi.

‘Mungkin karena ada Tuhan, pak. Karena dia percaya Tuhan, maka dia berbuat baik.’ jawabnya  setelah berpikir sekian detik.

Ada yang salah?

Tergantung.

Buat saya, itu jawaban yang mengejutkan. Tidak juga sih sebenarnya.

Hmm.. mungkin lebih tepatnya: jawaban yang kontemplatif.

Bukan karena jawaban itu muncul dari hasil kontemplasi mahasiwa tadi, tapi karena jawaban itu mendorong –setidaknya saya- untuk berkontemplasi.

…dan sedikit memasukkan keprihatinan dalam kontemplasi itu.

03 September 2011

Garpu





Di depan pagar rumah penuh lumut itu aku mematikan rokokku yang masih setengah. Sambil hati-hati aku mengintip dari luar pagar. 

Oleh: Andreas Ryan Sanjaya

Rumah masih gelap, rupanya bapak belum pulang dari tempat kerjanya. Segera kunyalakan lagi rokokku sambil masuk halaman dan menghabiskannya di teras rumah.

Baru semenit aku duduk, tiba-tiba terdengar suara mobil tua bapak. Buru-buru aku mematikan rokok dan membuang puntungnya di tempat sampah yang penuh garpu.

Baca Tulisan Lain