17 September 2011

Panen Musim Gugur

Saya pernah baca artikel berjudul Panen Musim Gugur (ditulis di Majalah Tempo tahun 2009). Untuk memenuhi tugas mata kuliah Reportase Investigasi, saya kemudian menuliskan analisis singkat atas isi laporan.


Ringkasan artikel

Pengguguran janin (aborsi) ilegal merupakan bisnis yang marak di Jakarta. Ditemukan bahwa sekitar 100 klinik gelap melayani 100 ribuan klien yang hendak melepas janin setiap tahunnya. Mata rantai bisnis ini dimulai dengan calo-calo yang mengedarkan berbagai macam kartu nama kepada calon klien. 

Selain itu tugas mereka juga sebagai “intel” yang menguping informasi operasi polisi. Dokter, dalam artikel ini, disebut sebagai pemain utama dalam bisnis ini. Biasanya dokter ini adalah pemain lama yang sudah pernah dihukum karena praktek aborsi gelap, namun kembali beroperasi setelah keluar dari penjara.

Di sisi lain, hukum di Indonesia tidak dengan jelas mengatur hal pengguguran bayi. Aturan yang ada menjadi tumpul, sebab tak didukung peraturan pemerintah yang mengatur hal-hal terperinci. Tak hanya itu, penegak hukum juga mendukung bisnis ini. Tentu dengan sejumlah uang sebagai kompensasinya. 

Dengan modus yang rapi, bisnis ini memutar duit hingga sebesar Rp 200 miliar per tahun: setara penerimaan semua badan layanan kesehatan umum Jakarta Raya.

Sudut Penulisan

Artikel ini menyoroti praktek aborsi ilegal di Jakarta yang tiap tahunnya menggugurkan sekitar 100 ribu janin. Sudut penulisannya terletak pada para pemain bisnis ini: calo, tenaga klinis (dokter atau bidan), dan petugas keamanan. 

Calo sebagai pembuka mata rantai bisnis, dokter atau bidan sebagai pemain utama, dan petugas keamanan yang menerima sejumlah uang dari aktivitas bisnis ini.

Dengan sudut penulisan yang seperti itu, hal lain yang juga menjadi penyebab dan akibat maraknya bisnis aborsi ilegal ini tidak menjadi hal yang banyak disinggung. Misalnya gaya hidup kaum remaja dan dewasa di perkotaan yang mengarah pada tindakan seks bebas, wanita hamil yang menjadi korban malpraktek dari klinik gelap, kondisi bayi-bayi yang dikubur di sekitar klinik atau dibuang begitu saja di sungai-sungai, dan sebagainya.

Mengapa penting?

Penulis artikel menuliskan lead yang harus menarik minat pembaca untuk membaca tulisannya, dan kemudian akan membaca terus karena menganggap tulisan ini adalah hal yang penting untuk diketahui. Lead tulisan ini diisi dengan angka-angka yang relatif besar, seperti “100 klinik gelap melayani 100 ribuan klien yang hendak melepas janin”. 

Data mengenai Rp 200 miliar uang yang berputar dalam bisnis ini juga ditekankan; yang kemudian jumlahnya disamakan dengan penerimaan semua badan layanan kesehatan umum Jakarta Raya.

Tema ini menjadi penting dengan juga dituliskannya data dari WHO yang mencatat ada 2,6 juta kasus aborsi tiap tahun di Indonesia. Hanya 15% di antaranya yang tergolong hukum aborsi dengan alasan medis.

Menjadi penting pula ketika bisnis ilegal ini ternyata juga “didukung” oleh petugas keamanan dengan sejumlah uang sebagai kompensasi.

Pembuktian

Jurnalis tentu mencantumkan data-data yang cukup dari sumber-sumber yang dipercaya untuk membuktikan kasus yang diinvestigasi. Data-data sebagai bukti tadi dicantumkan untuk memperkuat argumen dan cerita yang dibuat oleh jurnalis. 

Contohnya, data mengenai jumlah aborsi yang didapat dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), jumlah aborsi pada suatu klinik didapat dari catatan yang ada di klinik itu juga, ongkos aborsi yang didapat dari pengakuan pelaku bisnis aborsi ilegal.

Selain data di atas, jurnalis juga mencantumkan pernyataan-pernyataan dari pihak terkait untuk menyusun cerita-cerita. Pernyataan pelaku utama (dokter dan bidan) dimuat untuk memberikan konfirmasi berupa pengakuan atau sebaliknya. 

Kepala Kepolisian juga diminta untuk memverifikasi tuduhan bahwa kantornya menerima sogok agar bisnis ilegal ini terus lancar. Pernyataan para calo terlebih memberikan informasi awal yang berguna untuk pencarian-pencarian informasi selanjutnya.

Jurnalis juga mencantumkan kronologi peristiwa yang berkaitan dengan bisnis aborsi ilegal. Kronologi yang dicantumkan jurnalis ini dimulai dari tahun 1997 hingga tahun 2009. Data ini digunakan sebagai penguat bahwa aborsi ilegal ini jumlahnya amat banyak, dan juga, tak hanya terjadi di Jakarta saja. 

Artinya jurnalis juga hendak mengatakan bahwa jumlah uangRp 200 miliar itu hanya terjadi di Jakarta, belum di daerah-daerah lain.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain