05 March 2015

Mengenang Rama J. B. Hari Kustanto, SJ

Super pakdhe!

Sambil berbaring, dia meminta Pakdhe Hari dan saya untuk membantunya duduk di kasur. Setelah duduk di pinggiran, dia menempelkan kedua telapak kakinya di lantai dingin rumah Patangpuluhan. Sambil tetap berpegangan lengan kami, dia menyentakkan kakinya lalu berdiri. Pakdhe Hari bilang ‘Hebat!’ Lalu dia tersenyum sambil menggerak-gerakkan kakinya.

Bagi saya, itu adegan terindah yang saya alami bersama Pakdhe Tanto di hari-hari akhirnya. Dia sudah mengidap sakit tumor di organ otak sejak tahun 2007.

Pertengahan tahun 2007 itu, Pakdhe Tanto menjalani kemoterapi. Saya, yang masih sekolah di Muntilan, terpaksa ijin barang sehari untuk menemuinya di rumah sakit. Saya tidak begitu ingat bagaimana kondisi Pakdhe Tanto waktu itu. Namun yang saya ingat adalah dukungan semangat dan motivasi dari saudara kandung beliau.

“Sesuk natalan bareng ya mas neng nggone mas Hari..” begitulah dukungan mereka.

Diam-diam saya mendengar obrolan lirih yang sedih dan singkat. Obrolan tentang harapan sekaligus rasa pesimis yang beradu. Dilihat dari sakit yang dialami saat itu, bisa kembali natalan bersama keluarga adalah sebuah keajaiban. Belakangan saya baru sadar, keajaiban itu terus saja terjadi hingga awal Maret 2015 lalu.

○○○

Pertengahan tahun 2012 saya magang kerja di Jakarta. Kebetulan saat itu Budhe Rini, yang tinggal di Bekasi, harus masuk rumah sakit di daerah Jakarta. Bertiga, Pakdhe Tanto, bapak, dan saya, naik mobil menyusuri jalan-jalan besar di Ibukota. Ketika lewat tol, mau tak mau mobil Xenia yang kami tumpangi harus melaju di atas 80 km/jam. Agak menegangkan, karena Pakdhe Tanto yang memegang kemudi mobil 1.000 cc itu.

Mengapa harus menegangkan?

Tahun 2007 terdeteksi ada tumor yang mendesak otak kanan Pakdhe Tanto. Desakan itu sampai membuat garis tengah otaknya tidak terlihat. Pakdhe Tanto lalu menjalani pengobatan, yang memang membuatnya ‘sembuh’ hingga empat tahun kemudian.

Menjelang perayaan 20 tahun ditahbiskan (2011), Pakdhe Tanto berencana berangkat ke Amerika Serikat. Namun sayang, beberapa saat sebelum berangkat, keluarga mendapati hal-hal ganjil yang dialami Pakdhe Tanto. Misalnya, tertidur dengan cepat, koordinasi gerak yang tidak baik, dan sebagainya.

Keluarga memutuskan untuk memeriksakan Pakdhe Tanto. Hasilnya mengejutkan. Rupanya ada desakan lagi di dalam kepala, tapi kali ini wujudnya adalah cairan. Dokter memutuskan untuk melarang Pakdhe Tanto berangkat ke Amerika Serikat. Beliau juga melakukan bedah untuk memasang semacam selang untuk mengalirkan cairan yang ada di dalam kepala.

Dengan kondisi kesehatan otak yang demikian, Pakdhe Tanto rupanya masih sering bepergian sendiri naik mobil di Jakarta. Dia memang mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Namun, beberapa aktivitasnya juga mengharuskan dia bepergian mengendarai mobil, termasuk mengantar bapak dan saya menjenguk Budhe Rini seperti saat itu. Inilah yang menegangkan dan membuat keluarga khawatir kalau terjadi apa-apa di jalan.

Perjalanan menjenguk Budhe Rini itu sangat berkesan bagi saya. Setidaknya saya melihat sifat Pakdhe Tanto yang ‘mental juara’ banget. Bagaimana tidak? Pakdhe Tanto naik mobil menggilas jalan-jalan di Jakarta dengan kondisi demikian. Di perjalanan, kami bahkan ikut terjebak macet di Pasar Tanah Abang selama lebih dari sejam.  Akibat lelah karena macet itu, kami beberapa kali salah jalan. Akhirnya kami mampir dulu untuk makan di foodcourt sebuah mall.

Setelah makan, saya mengira akan langsung pulang saja. Ternyata tidak. Pakdhe Tanto masih mau mencoba sekali lagi. Singkat kata, dia berhasil! Kami sampai di tempat Budhe Rini dengan membawa cerita dan keyakinan: Pakdhe Tanto punya mental juara!

○○○

Rupanya “Sing Gawe Urip” masih memperkenankan Pakdhe Tanto unjuk kekuatan mentalnya. Bukan untuk sombong, melainkan untuk menginspirasi kami yang masih bau kencur ini. Bertahun-tahun Pakdhe Tanto bertahan dengan sakitnya. Secara rutin dia datang ke Yogyakarta untuk melakukan pengobatan. Secara rutin juga ibu mengirimkan obat-obatan dari Yogyakarta ke Jakarta. Beberapa kali saya yang diminta membungkuskan dan mengirimkan obat-obatan itu ke Jakarta lewat perusahaan pengiriman.

Menjelang akhir tahun 2014, keluarga mengalami guncangan. Pakdhe Tono, adik dari Pakdhe Tanto, harus masuk rumah sakit karena selama sekitar tiga tahun ini mengidap sakit kanker darah (Suatu saat akan saya kisahkan pengalaman dengan Pakdhe Tono di tulisan lain). Hanya sepuluh hari di rumah sakit, Pakdhe Tono akhirnya dipundhut Gusti

Keluarga amat sangat bersedih, tak terkecuali Pakdhe Tanto. Lelaki berbadan tinggi besar dan biasanya terlihat gahar itu tidak mampu menyembunyikan kesedihan di mukanya. Ketika turut memimpin ekaristi pemberkatan jenazah di Kapel Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, saya melihat Pakdhe Tanto terus saja menangis di altar.

Belakangan baru saya tahu kalau saat itu kondisi kesehatan Pakdhe Tanto sedang buruk. Kondisi yang begitu buruk, ditambah kesedihan ditinggal oleh adiknya, membuat Pakdhe Tanto harus dirawat di rumah sakit. Rentang waktu antara Pakdhe Tono meninggal dan Pakdhe Tanto masuk rumah sakit itu tidak lama, kira-kira seminggu.

Hasil pemeriksaan kali ini menambah guncangan di hati keluarga. Sel tumor yang disangka telah mati karena pengobatan tahun 2007 lalu ternyata kini sangat aktif dan mendesak otak kanan lagi. Hal ini membuat koordinasi gerak tubuh bagian kiri menjadi lemah. Itulah mengapa ketika pemakaman Pakdhe Tono, Pakdhe Tanto terlihat berjalan miring dan cenderung menyeret kaki kiri ketika berjalan.

Keluarga lalu mencari cara pengobatan yang terbaik. Pakdhe Hari, yang seorang Profesor di Kedokteran UGM, akhirnya memutuskan membeli obat kanker di Malaysia. Dengar-dengar, obat itu memang tidak ada di Indonesia. Akhirnya pengobatan dilakukan kepada Pakdhe Tanto. Segala risiko pengobatan siap ditanggung.

Entah karena pengobatan atau karena memang sakit pada organ otaknya, Pakdhe Tanto selalu menjadi kacau setelah obatnya dimasukkan. Dia sering berhalusinasi dan memorinya tercampur-campur. Suatu saat dia menonton televisi dan melihat pembaca acara sedang bicara. Tiba-tiba dia bilang,

”Itu orang Indonesia itu.” 

Pakdhe Tanto merasa saat itu dia sedang tidak berada di Indonesia. Memang dia sempat tinggal di Amerika Serikat beberapa tahun, dan rupa-rupanya pengalaman itu sangat berkesan dan membekas di ingatannya.

Kadang kacau, kadang kembali normal. Suatu saat saya pernah ditanyai dalam bahasa Jawa.

“Kamu ngapain ke sini?”

saya tidak mau bilang sedang menjenguk pakdhe, 
takut dia sadar kalau dirinya sedang sakit
“Em.. menjemput ibu, pakdhe.”

“Ibumu kenapa?”

"Ibu kerja, Pakdhe.”

“Oh.. ibumu kerja di mana?”

“Kerja di Panti Rapih.”

“Panti Rapih itu di mana?”

“Di Jogja.”

○○○

Pembicaraan tersebut berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang agak menggelikan, meski saya sukar tertawa karena melihat penderitaan pakdhe kala itu. Dia berpikir tidak sedang di rumah sakit Panti Rapih. Dan dia berpikir Panti Rapih itu bukan di Yogyakarta. 

Dia juga pernah bertanya ke saya.

“Tonijo neng endi iki Tonijo? Kok durung mrene. Isih neng Jogja kan?”

“Masih, pakdhe. Mungkin baru sibuk, habis ini pasti sempat kemari kok.”

Anda tahu Tonijo? Tonijo adalah sebutan untuk Pakdhe Tono. Saya rasa hanya Pakdhe Tanto yang menyebutnya demikian, ungkapan kedekatan sebagai sepasang kakak adik yang sama-sama menjadi imam Katolik. Pakdhe Tanto agaknya lupa. Pakdhe Tono, yang dia harapkan kedatangannya itu, sudah meninggal beberapa pekan lalu.

Namun, jangan salah, bagaimanapun Pakdhe Tanto adalah seorang akademisi. Di STF Driyarkara dia dikenal menguasai bidang Antropologi. Teori-teori sosial dan budaya sudah merasuk, terutama sejak pendidikannya di Amerika Serikat beberapa tahun lalu. 

Suatu saat saya menunggui Pakdhe Tanto di rumah sakit sambil belajar. Waktu itu kebetulan saya sedang baca Teori Sistem yang digagas Talcott Parsons. Rupanya pakdhe mengerti teori-teori yang diajarkan Parsons, lalu mulai menguliahi saya sambil tiduran di atas tempat tidur rumah sakit. Tentu hanya beberapa menit, lalu tertidur.

Ketika terbangun, dia langsung mengajar lagi, kali ini bukan tentang Parson. Ibu, yang saat itu berada di dekatnya, bingung dan bertanya pelan ke saya,

”Iki pakdhe ngendika apa?”

○○○

Pakdhe Tanto sedang unjuk kekuatan mental. Atau ini adalah keajaiban seperti yang saya tulis di atas? Entah. Setelah beberapa lama di bangsal Carolus, Pakdhe Tanto harus dibawa ke ICU supaya perawatan bisa lebih intensif. Beberapa saat di sana, pakdhe kembali ke bangsal. Karena kondisi membaik dan bisa dirawat di rumah, Pakdhe akhirnya dibawa pulang ke rumah keluarga di Patangpuluhan. Pakdhe dirawat di kamar yang dulu ditempati Eyang kakung di hari-hari akhirnya.

Di kamar itulah pengalaman berkesan di awal tulisan ini terjadi.

Rasanya betul-betul seperti keajaiban. Pakdhe Tanto yang beberapa bulan ini hanya bisa tiduran, kini bisa berdiri di samping saya. Dia bisa tertawa ketika kami memujinya “Hebat!”

Selama di Patangpuluhan itu  dia bisa mengikuti misa Natal di Ganjuran. Dia datang natalan keluarga di rumah Pakdhe Hari, meskipun di kamar saja. Dia juga datang di midodareni dan pernikahan kedua keponakannya. Meski sedikit kerepotan karena harus membawa kursi roda dan sebagainya, saya yakin keluarga tidak berkeberatan dengan hal ini.

○○○

Januari hingga Februari. Yogyakarta sering hujan, kadang disertai angin kencang

Tidak lama berada di rumah, keluarga mendapati hal-hal ganjil. Pakdhe Tanto mudah sekali tertidur. Rasanya seperti tertidur terus sepanjang hari. Pandangan matanya juga seringkali kosong. Hal ini membuat proses fisioterapi tidak berjalan lancar. Keputusan akhirnya mantap, Pakdhe Tanto harus diperiksa lagi. Kalau perlu, menginap di bangsal Carolus lagi.

Hasil pemeriksaan membuat hati keluarga lagi-lagi runtuh. Obat kanker sangat keras yang diberikan pada Pakdhe Tanto beberapa waktu lalu memang membuat tumornya hancur. Beberapa saat memang kondisi Pakdhe Tanto terpantau membaik. Namun rupanya ada segelintir sel tumor yang resisten atau ‘pintar’ ketika obat itu menyerang. Intinya sel-sel tumor itu bisa bertahan, bahkan marah. Benar-benar marah. Setelah pengobatan dihentikan, tumor yang marah itu tidak hanya mendesak otak kanan, tapi juga otak kiri. Bahkan terancam juga mendesak batang otak, yang berpotensi menyebabkan pasien menjadi gagal nafas.

Pakdhe Tanto masuk ICU. Dengan nada yang sedih sekaligus tegar, Pakdhe Hari menjelaskan apa yang dialami Pakdhe Tanto ke saya. 

“Kalau sampai mendesak batang otak, bisa gagal nafas. Kira-kira paling lama bisa bertahan sampai tiga bulan,” jelas Pakdhe Hari. 

Terlihat dia berusaha tegar ketika mengatakannya. Saya hanya bisa menelan ludah, sambil menahan air mata.

Bangsal Carolus kembali menjadi tempat tidur Pakdhe Tanto. Saya termasuk keponakan yang jarang datang ke sana. Namun, ibu saya hampir setiap hari tidur menginap menunggui Pakdhe Tanto. Keluarga besar tahu bahwa Pakdhe Tanto ini punya hubungan khusus dengan adiknya yang satu ini. Entah kenapa, rasanya lebih care, termasuk ke Mbak Karin, kakak saya.

Sementara itu, keluarga besar masih mencari alternatif tindakan yang mungkin dapat dilalui Pakdhe Tanto. Mulai dari operasi, pemotongan pakai sinar, dan pengobatan-pengobatan lain yang rasanya asing sekali buat saya. Mohon maaf kalau proses pengobatannya tidak saya ceritakan dengan detil. Saya hanya bisa cerita banyak tentang apa yang saya alami saja.

Di akhir hidupnya, Pakdhe Tanto sudah jarang membuka mata. Dia makan melalui selang. Dia juga jarang berbicara. Karena kerongkongannya berlendir, suara Pakdhe Tanto ketika bicara malah terdengar seperti geraman. Awalnya saya merasa ngeri. Seperti orang marah, menggeram, tapi terasa lemah. Meski begitu, saya yakin, Pakdhe Tanto bisa bertahan selama ini karena dia adalah Pakdhe Tanto. 

Barangkali Gusti memberi kesempatan ke Pakdhe Tanto untuk mengajari kami—yang masih hidup—agar membangun mental baja macam dia.

○○○

Suatu Minggu pagi, 1 Maret 2015. Minggu pagi biasanya indah, tidak kali ini. Ibu, yang malam sebelumnya bisa pulang ke rumah, ditelepon untuk segera datang ke rumah sakit. Kami segera mandi dan berangkat. Ban mobil baru menggelinding beberapa meter, telepon kembali berdering. “Mas Tanto wis dipundhut,” kata Budhe Tini di ujung telepon.

Seketika ibu menangis. “Mas Tanto kok ora ngenteni aku..” katanya tersedu.

 ○○○

Pakdhe Tanto sudah kembali ke rumah yang abadi. Rumah yang selama hidupnya dia wartakan melalui berbagai cara. Dia sudah bertemu Tonijo, sosok super sederhana yang dia cari selama sakitnya. Mungkin mereka sedang ribut-ribut sekarang. Pakdhe Tanto mungkin sedang memarahi adiknya yang masih saja merokok sambil melukis wajah cantik Bunda Maria.

Pakdhe Tanto sudah bertemu bapak dan ibunya. Keduanya meninggal dan dimakamkan tanpa kehadiran dirinya. Mungkin Pakdhe Tanto, Eyang Putri, dan Eyang Kakung sedang mengobrol santai di teras rumah. Sambil ngeteh, atau sambil minum Fanta hijau kesukaan Eyang Putri. Sesuatu yang sepertinya jarang dilakukan di perjalanan ini.

Bagi saya, Pakdhe Tanto meninggalkan narasi tentang mental juara. Tentang sikap hidup yang tetap bergairah meski lemah, tetap mendongak ketika dihajar dunia, tetap berharap meski peluang itu sangat kecil atau bahkan tak ada.

Semoga bahagia, Pakdhe Tanto. Selamat menonton sepak terjang keluargamu dari jauh. Jangan lupa berteriak menyemangati kami ketika kami jatuh tersungkur. Sampai bertemu lagi di sana :’)



Dari Ryan,

keponakan.

1 comment:

  1. Entah kenapa tiba-tiba pengen nyari nama Romo ini..terakhir ketemu lama banget saat masih sering naik Vespa..kaget jika sudah di pundhut Gusti nyusul Oom Tono..salam kenal Mas Ryan..Gusti mberkahi

    ReplyDelete

Baca Tulisan Lain