23 May 2016

Mengkritik Para Tukang Kritik

Sementara otak di belakang mata sibuk menyusun kalimat runtut dari semesta ide yang begitu chaos, jutaan informasi di Facebook malah sedang gemar bikin rusuh.

Mereka, para anggota golongan yang dianggap pintar, tampaknya memang dituntut untuk melihat dari sisi lain. Dari akun Facebook itu mereka pamer pandangannya yang beda dari orang kebanyakan.

Itu buruk? Itu bagus. Kita butuh bantuan untuk melepaskan diri dari jerat pandangan dominan yang seringkali angkuh dan dungu.

Namun kadang kapasitas mereka kurang untuk itu. Sebenarnya sih pantas-pantas saja untuk punya pandangan berbeda. Asal.... asal mereka bisa menjelaskan argumennya dengan runtut dan terang.

Bayangkan kalau tidak? Mereka tak beda dengan pemuda seusia SMA yang sedang nakal-nakalnya dan pokoknya “waton beda” kalau sedang dinasehati guru.

Ya.. semacam inilah, orang-orang yang ikut-ikutan tokoh terhormat seperti Gus Dur yang senang bilang “Gitu aja kok repot?”

Pastikan kapasitas intelektual kita setara dengan Gus Dur, baru pantas bilang begitu. Bukan apa-apa, tapi menurut saya ungkapan itu muncul dari hasil kompleksitas berpikir, bukan malas dan terbatas.

Ungkapan itu tak hanya hasil dari melahap segudang buku dan diskusi, tetapi juga pengolahan batin yang taat.

Jadi, pantaskan diri dululah.

Tapi kan tetap bebas mas nulis di Facebook? Akun akun saya ini, enggak suka tinggal delete friend beres.

Iyo wis, betul. Biar cepet.

Ha trus kamu ini ngapain mas? Kerja enggak, tugas akhir enggak rampung-rampung, malah mengkritik mereka yang tukang kritik. Emang kapasitasmu udah pantas buat melontarkan kritik? Argumenmu apa mas? Mas?? Mas!? Woo.. AS*!!

.... (kencangkan suara musik)...


Jogja 

23052016

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain