08 May 2016

Rantau dan Studio Musik: Tempat Kami Menemui Kami

Seusai melepas rindu selama empat jam di studio musik, kami makan di burjoan dekat sana. Biasalah, tradisi alumnus mahasiswa Jogja. Kami (sebut saja Cahyadi, Adiputro, Budi, dan saya) makan sambil cerita banyak soal hidup yang sedang kami jalani. Khususnya, hidup yang sedang mereka jalani di luar Jogja, salah satu kota tempat mereka merasa pulang.

Atmosfer besar yang melingkupi cerita mereka adalah mereka merasa enggan untuk pergi dari Jogja. H-sekian, belum beli tiket untuk pergi. Belakangan saya tahu kalau Budi langsung berangkat sore itu. Namun, mau tak mau, mereka harus pergi untuk melanjutkan hidup dan karya-karya mereka.

» Bandung, Jawa Barat

Saya awali dari Cahyadi. 1991 dia lahir dan besar di Duri, Riau. Semenjak 2006 dia merasakan hidup nyantri di sebuah asrama di Muntilan, Jawa Tengah. Lulus 2009, dia  lalu melanjutkan kuliah di Jogja. Di kota ini dia merasakan banyak kenyamanan dan kenangan yang pasti enggan dilupakan. Tahun 2015 dia bekerja beberapa bulan di Duri, lalu memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Bandung.

Di sinilah cerita Cahyadi berawal. Dia merasa Bandung adalah kota dengan biaya hidup yang lebih mahal dari Jogja. Barangkali memang demikian adanya. Dia bercerita jarang mau diajak nongkrong bersama teman-teman kuliah, lantaran tempatnya mahal.

Sebagai gambaran, hampir setiap hari dia makan di warteg. Untuk makan sekali dengan lauk yang biasa-biasa saja, dia harus keluar uang belasan ribu. Sedangkan dia tidak mungkin diajak nongkrong teman-teman kuliah di warteg.

“Kalau jalan-jalan aja nggak usah beli kan jadi irit?” tanyaku. Cahyadi mengiyakan. Dia memang beberapa kali pergi sendirian naik sepeda motor ke arah entah di Bandung. Hanya keliling saja lalu pulang kos sambil mampir sebentar di warteg.

“Kok sendirian? Kamu nggak cari cewek di Bandung? Katanya di sana ‘kan cantik-cantik,” tanyak kami penasaran. “Aku enggak bawa mobil,” jawabnya yakin.

Harga yang murah, adalah satu hal. Hal lain adalah tempat hiburan. Bandung kurang hiburan apa sih dibanding Jogja? Mau liburan bernuansa alam? Ada. Kota? Ada. Budaya, sejarah, dan arsitektur? Banyak. Namun harganya mahal. Untuk naik sampai Tangkuban Perahu, wisatawan harus keluar uang Rp75 ribu untuk masuk.

Di Jogja, uang sebesar itu barangkali bisa untuk isi bensin motor, naik ke Kaliurang atau bahkan Kaliadem, lalu susur pantai-pantai perawan di Gunungkidul. Jadi memang urusan kembali lagi ke uang.

Sebenarnya ada banyak kenikmatan  yang dia peroleh di Bandung. Namun karena konteks cerita ini adalah “malas untuk pergi dari Jogja”, maka yang dia ceritakan adalah kelebihan dari Jogja.

» Semarang, Jawa Tengah

Berikutnya Adiputro. 1990 dia lahir dan besar di Duri, Riau. Dia sempat bersekolah hingga SMA di sana, tetapi pada tahun ke dua dia pindah sekolah di Jogja. 2008 dia melanjutkan kuliah di kota yang sama hingga kira-kira dua tahun lalu mulai bekerja di Semarang.

Kepribadian Adiputro ini tak bisa ditebak. Kadang dia terlihat serius, kadang pula bicaranya seputar komedi-komedi mesum.

Menurut Adiputro, kondisi kota di Semarang mirip dengan Jogja. Karakter masyarakatnya juga mirip, tipikal orang Jawa. Namun memang, di Semarang akan lebih mudah untuk menemui etnis Tionghoa bila dibandingkan di Jogja.

Meskipun rata-rata biaya nongkrong dan makan di Semarang hanya selisih sedikit dengan Jogja, Adiputro mengaku jarang keluar kos kalau sedang libur akhir pekan. “Di mana-mana panas,” katanya.

“Wisata alam gimana?” tanya kami. “Kalau Semarangnya sih sedikit, tetapi kalau naik ke Ungaran kan ada gunung,” jawabnya.

“Lalu apa yang bikin Jogja lebih nyaman?” kejar kami. Adiputro mengeluhkan beberapa hal lain selain kondisi udara yang lebih panas. Pertama adalah persoalan studio musik. Menurut dia studio musik di Semarang itu sulit ditemukan, tidak sebanyak di Jogja. Sekalipun ada, harganya mahal. Dia pernah menemukan studio musik dengan keadaan lebih buruk dari tempat kami biasa main, tetapi dengan harga sewa dua kali lipat lebih mahal. Entah alasan ini serius atau tidak, tetapi dia menyebutkan hal ini sampai dua kali.

Kedua adalah jarangnya warnet  yang menyediakan film. Di Jogja, ada beberapa lokasi warnet yang jadi jujugan para mahasiswa ketika mereka ingin meng-copy film. Di Babarsari ada, di jalan Palagan ada, di daerah Tamansiswa juga ada, juga di daerah-daerah lainnya. Menurut Adiputro, tempat-tempat ini jarang ditemukan di Semarang.

Mengapa dia butuh film? Begini. Dia bekerja Senin—Sabtu. Pekerjaannya sebagai akuntan membuatnya harus bekerja keras. Seminggu bekerja akan membuat dia lelah. Ketika keluar kos pun malas (karena panas) maka menonton film adalah aktivitas yang cukup menyenangkan.

Sama seperti Cahyadi, Adiputro mendapatkan hal menarik selama di Semarang. Dia merasa mendapat ilmu yang amat sangat banyak dari pekerjaannya ini. Barangkali, ilmu sebanyak ini akan sulit diperoleh ketika dia masih di Jogja.

» Cikarang, Jawa Barat

Beralih ke Budi. 1991 dia lahir dan besar di lingkungan masyarakat Jawa—Katolik di Sendangsono, Jogja. 2006 dia juga merasakan nyantri di Muntilan dan lanjut berkuliah di Jogja tahun 2009. Dia sempat kuliah sambil bekerja di sebuah cafe. Pernah juga kuliah sambil berbisnis minuman “perjamuan” untuk mencukupi kebutuhannya.

Seingat saya, Cikarang ini tempat ketiga dia bekerja setelah lulus kuliah. Tempat pertama saya lupa, tapi dia bertahan sebentar saja karena hatinya tak sepakat dengan cara kerja yang “kotor.” Tempat kedua di sebuah toko besar di Cirebon. Dia bertahan kira-kira setahun di tempat itu. Setelah itu baru dia bekerja di Cikarang, baru tiga minggu dia bekerja di sana.

“Aku tidak mau menghabiskan masa tua di sana,” tuturnya sebelum kami bertanya. Saya penasaran. Jakarta, Bandung, Semarang, saya pernah ke sana, tapi Cikarang belum pernah.

Di Cikarang, menurut Budi, kita akan menemukan banyak pabrik. Sebagian besar masyarakat sana adalah pekerja, dan sebagian besar dari pekerja itu adalah juga orang-orang Jawa yang merantau. Jadi memang orang pergi ke Cikarang hanya untuk bekerja, mencari penghidupan yang lebih baik. Upah minimum di sana memang relatif besar, dengar-dengar malah lebih besar dari Jakarta.

Soal tempat nongkrong, di sana ada banyak dan harganya tidak mahal. Yang juga banyak ditemui adalah karaoke, tentu dengan fasilitas plus plus. “Mungkin karena pekerja stress dengan kerjaan mereka, satu-satunya hiburan adalah tempat seperti itu,” katanya.

Budi mengaku belum pernah mencoba layanan itu. Menurut dia, hal seperti itu tidak menghibur. Kami berempat sepakat. Bagi Budi, hiburan dia kali ini adalah melihat pemandangan hijau yang luas. Sejauh mata memandang adalah bukit-bukit hijau. Sebenarnya tempat dia lahir dan besar penuh dengan pesona alam, kini dia baru menyadari indahnya pemandangan seperti itu.

Sama seperti Adiputro, Budi juga memilih untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan dengan menonton sejumlah film. Namun dia tidak bisa selalu melakukannya karena pacarnya, Christiana, lebih senang untuk jalan-jalan daripada berdiam diri di kos.

Di Cikarang, Budi juga menemukan kenyamanannya. Selain karena jam kerja tertib (Senin—Jumat; 8-17) gajinya juga lebih besar dari tempat dia sebelumnya bekerja. Selain itu kantornya juga menyediakan fasilitas antar—jemput dari tempat tinggal hingga kantor (dan sebaliknya) bagi karyawan.

●●●●

Kami lalu berdiam dan tak menyimpulkan apa-apa dari perbincangan kami. Namun diam-diam saya teringat dengan homili Imam ketika hari Kamis kemarin. Beliau memaknai kata-kata dalam Alkitab “Hai orang Galilea, mengapa kamu berdiri di sini memandang ke langit?” dengan permenungan yang—menurut saya—lumayan keren.

Konteksnya adalah orang Galilea itu dipamiti Yesus. Yesus lalu naik ke langit, lalu mereka memandangi langit terus. Tindakan mereka itu lalu ditegur oleh “dua orang berpakaian putih” dengan menggunakan kata-kata tadi.

Imam memaknai kata-kata itu (salah satunya) dengan ajaran bahwa kita tidak pantas untuk memandang Yesus terus menerus. Cukup kita tahu Yesus telah bangkit, lalu segeralah memandang ke diri kita sendiri dan ke depan—ke tugas dan perutusan kita masing-masing. Kita ditantang untuk menemukan dan menghadirkan Tuhan dalam karya kita.

Saya lalu memandang ke diri kami. Dua dari kami sudah bekerja, sisanya masih kuliah. Tugas perutusan dan karya kami akan tetap berbeda sampai kapanpun. Namun kami punya kesamaan dalam hasrat bermusik dan hasrat menikmati Jogja.

Entah akan bulan apa lagi kami berempat bisa berkumpul di studio musik. Yang saya percayai, studio musik di Jogja akan jadi tempat kami pulang dari perantauan; tempat kami kembali menemui kami.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain