12 May 2016

Bacalah Saja, Ipul, Jangan Ragu-Ragu

Sumber: www.pinterest.com

Ipul; pemuda aktivis surau yang tekun di desa sebelah. Sejak bangunan masih kecil, hingga kini bertingkat dua (karena bantuan dana dari calon anggota DPRD), dia masih jadi petugas yang bekerja tanpa pamrih.

Dia tidak lulus SMP karena kurang pandai. Tiap hari dia berusaha baca Quran, tapi tetap tak satupun kata yang dia pahami. Namun dia tak jadi berandalan seperti kawan sebayanya. Dengan tutur halus dan suara lembut, dia memilih nongkrong di surau daripada menarik gas di motor-motor dua tak—sebagaimana dilakukan kawan-kawannya.

Kelebihannya itu lalu disadari oleh kelompok bapak-bapak di desa.

“Meski bodoh, Ipul itu tekun. Suaranya juga lembut. Bagaimana kalau dia kita jadikan pembaca pengumuman di surau? Warga pasti akan sangat senang tiap kali Ipul bicara,” usul seorang bapak berpeci lusuh.

“Dia bodoh. Bagaimana orang bodoh bisa bicara lancar untuk mengumumkan? Janganlah tugas sepenting itu diberikan orang bodoh!” sanggah yang lain.

“Dia sudah bisa baca. Kita tulis saja dengan lengkap, lalu biarkan dia baca sampai habis,” tutur seorang bapak di sudut sambil menepis abu dari rokok yang dia jepit.

Lalu jadilah Ipul—sang pembaca pengumuman di surau desa sebelah.

Dia bekerja dengan gembira. Setiap kali mulutnya berada di depan pengeras suara, dia merasa jadi orang paling berarti. Setiap kali dia baca salam pembuka “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..” rasanya kedamaian betul-betul menjalar di hati tiap warga.

Dengan secarik kertas, dia baca pengumuman. Dua minggu sekali, dia baca pengumuman: ajakan kepada warga untuk kerja bakti. Lalu pada waktu-waktu tertentu dia baca pengumuman mengenai kabar lelayu. Kabar lelayu itu tidak hanya dari desa sebelah, tetapi juga beberapa desa di sekelilingnya. Biasalah, desa-desa itu biasanya masih dihuni oleh keluarga besar—teramat besar. Jadi mereka saling kenal.

Lama kelamaan Ipul bosan. Dia mulai baca kertas tanpa berpikir. Dia baca saja tulisan di kertas sampai habis. Bahkan karena kebodohannya, dia berulang kali baca kertas pengumuman yang sama.

Suatu malam minggu yang biasa, desa sebelah geger. Sekumpulan pemuda dari luar teler karena air mabuk murahan. Parahnya, mereka bikin rusuh dan masuk ke desa sebelah.

Tawuran tak terhindarkan. Batu-batu beterbangan tanpa arah, kayu dan bambu haus akan darah di kepala,  dan pisau-pisau dapur giat menyabet tiap-tiap anggota tubuh. Dalam sekejap, bau anyir darah memenuhi seisi desa. Ketika pertempuran berhenti, sisa rintihan luka dan tangisan bayi masih saja terdengar.

Keesokan harinya, Ipul bangun pagi dan mendapati secarik kertas di surau. Isinya berita duka, tentang nama-nama pemuda yang jadi korban jiwa atas tawuran murahan itu.

Ipul berulang kali baca kertas itu, tapi tak sedikitpun suara keluar dari pengeras suara. Dia lalu resah dan  hampir putus asa. Barangkali Ipul memang terlalu bodoh, berulang kali namanya sendiri dia baca pagi itu.



fiksi.
Jogja, 2016

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain