26 March 2013

Teman Terakhir

Tahun lalu ketika di Jakarta saya diajak oleh seorang asisten peneliti ke tempat teman gengnya yang habis menabrak seorang ibu.



Setelah dari rumah sakit kami makan bersama di tempat semacam angkringan. Di sana mereka lalu patungan untuk biaya pengobatan ibu itu. Masing-masing mengeluarkan uang biru pecahan lima puluh ribu untuk dikumpulkan.

Karena dompet tipis, saya memutuskan untuk bicara dengan ketua gengnya nanti setelah akan pulang. Saya bilang, "Maaf, mas, saya gak bawa duit banyak. Saya kasih sepuluh ribu ya buat yang tadi."

Dengan santai dia menjawab,
"Wah, santai aja, mas. Kami temenan dari dulu kayak begini. Sejak kuliah kalau pada stress ya terus kumpul begini sama temen, bukan sama pacar. Temen kuliah kan temen terakhir kita, besok kerja udah gak cari temen lagi."

Mungkin jawaban dia agak panjang dan tidak nyambung. Kalimat pertama saja rasanya sudah cukup menanggapi omongan saya.

Meski begitu, jawaban dia tadi membuat saya berpikir dan agak menyesal. Dulu saya begitu yakin bahwa teman SMA itu adalah teman terakhir. Keyakinan itu bertambah ketika muncul istilah masa SMA adalah masa terindah.

Sekarang saya tidak begitu percaya. Masih ada teman kuliah. Masih ada masa kuliah yang tak kalah indah. Agak menyesal, saya jatuh dalam kekecewaan akademis hingga malas berteman dengan banyak orang. Beruntung kini saya punya satu lingkaran pertemanan yang saling mendukung.

Jika omongan ketua geng tadi benar, berarti mereka adalah teman-teman terakhir.





*ditulis di sela-sela paragraf buku hitam*

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain