16 May 2017

Isme yang Begitulah


[4 April 2014]

Sesi terakhir biasanya melelahkan sekaligus melegakan. Waktu itu hari kedua pelatihan calon Reporter sebuah koran ternama. Pembicaranya adalah Pemimpin Redaksi. Dia bilang "the Law of AND" dalam salah satu bagian dari apa yang dia bicarakan.

Dalam laporan/reportase di koran tersebut dia bilang perusahaan ini memegang prinsip QUALITY dan MONETIZING. Yang pertama bicara tentang kualitas pemberitaan yang sesuai dengan prosedur dan kaidah jurnalistik. Sesuatu yang memang seharusnya menjadi prinsip utama setiap perusahaan pers. Yang kedua, ini yang menurut saya agak kurang tepat dibicarakan di dalam ruang redaksi, yakni bagaimana membuat berita itu jadi kapital, alias duit. Ya, di dalam ruang redaksi, kami bicara tentang bisnis perusahaan ini.
Dulu waktu kuliah kesannya mahasiswa dicekoki bahwa redaksi itu berusaha mati-matian agar strategi bisnis perusahaan tidak mempengaruhi kerja redaksi. Itulah mengapa ruang kerja marketing dan redaksi harus berbeda, bahkan berbeda lantai. Artinya para pemilik perusahaan ini selalu berupaya untuk mempengaruhi redaksi. Namun di sini kesannya tidak begitu. Redaksi justru terkesan tidak menolak, bahkan memasukkan diri terlibat dalam upaya mencari keuntungan perusahaan.

Sekali lagi ini kesan. Mungkin memang seharusnya begitu, ini adalah strategi mereka untuk bertahan, mendapat keuntungan, yang akhirnya menjadi gaji karyawan --termasuk saya.

Lalu dia juga sempat bicara tentang teman-teman seangkatan yang kini sudah tidak lagi bekerja di sana. Mereka bekerja dan menjadi petinggi-petinggi di perusahaan-perusahaan bonafit. Dia bilang , "Sekarang yang di sini yang paling kere. Tapi enggak apa-apa, yang penting bangga." Pernyataan ini menggelitik. Benarkah kebanggaan yang dicari?


Rasanya saya makin benci kepada kapitalis.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain