08 May 2020

Jinyoung dan Kasus Kecil di Dalamnya


Sumber: iflix.com
Film serial Korea yang baru saja saya tuntaskan dalam waktu singkat ini berjudul “Diary of A Prosecutor.” Total ada 16 seri, dengan durasi masing-masing sekitar satu jam. Secara umum film ini bukan berisi kisah cinta, tetapi kisah jaksa dalam menghadapi berbagai persoalan di kantor dan di luar kantor. Target penontonnya barangkali usia 30 tahunan ke atas. Sepertinya bukan untuk remaja. Cinta-cintaan tetap ada sih, tetapi sebagai pemanis saja.

Oh ya, sebelum baca lebih jauh, ada dua hal yang perlu saya sampaikan ke pembaca. Pertama, saya tidak akan menuliskan alur ceritanya. Saya hanya akan menulis hal-hal yang menarik dan membuat bertanya-tanya. Kedua, saya tidak tahu (dan tidak terlalu peduli) dengan siapa sutradara, produser, artis, dll. Oke lanjut.


Promosi Wisata
Saya melihat film ini sebagai bagian dari promosi wisata negara Korea Selatan. Dulu saya pernah dengar kalau produksi masal drama Korea ini sangat didukung oleh pemerintah. Salah satu tujuannya adalah menarik kunjungan wisatawan mancanegara ke Korea Selatan. Saya tidak tahu kabar itu benar atau tidak. Kalau benar, saya duga film ini terindikasi mengarah ke situ. Apa sebab?

Film ini berlatar belakang di sebuah kota di wilayah Jinyoung. Saya tidak tahu mengapa saya tidak menemukan nama wilayah ini di peta, mungkin tidak teliti. Kota ini digambarkan terletak di tepi selatan Korea Selatan. Jadi banyak dimunculkan pemandangan laut dari atas, jembatan panjang yang menghubungkan pulau, kapal-kapal kecil maupun besar untuk menyeberang. Saya jadi teringat Kota Ambon kalau dilihat dari atas begitu. Mungkin ini adalah salah satu bentuk promosi kota ini.

Seoul vs Kota Kecil
Beberapa adegan ini juga mengkontraskan Seoul dan kota kecil. Seoul digambarkan sebagai kota besar yang menjadi jujugan orang dari seluruh wilayah Korea Selatan untuk mendapat akses pendidikan dan ekonomi yang lebih baik. Seoul adalah tempat karier dibangun dengan menjanjikan, sekaligus rawan dimanfaatkan, karena perputaran uang dan dekat dengan pusaran kekuasaan politik di Korea Selatan.

Tetapi, Seoul juga digambarkan sebagai kota yang menuntut para pekerjanya untuk bekerja lebih keras. Di salah satu scene itu aktor utama bilang, “Saya di sana bekerja sampai sekarat.” Bahkan ketika ada perpisahan kecil karena ada penyidik yang dipindah ke Seoul, dia mendapat buah tangan vitamin dengan pesan, “Di sana kau akan bekerja jauh lebih keras. Tubuhmu harus tetap sehat.” Kondisi kerja di Seoul juga cenderung individualis dan punya relasi yang dingin dibandingkan dengan kondisi kerja di kota kecil. Intinya, metropolitan sekali. Kayak sering dengar ya? 😏


Persoalan Kelas
Film ini mengangkat dengan cukup apik persoalan kelas di kota itu. Pada sebuah inspeksi yang dilakukan oleh kejaksaan pusat, si tokoh utama ditanya, “Ada kecenderungan kau memberikan hukuman ringan untuk orang miskin dan hukuman yang berat untuk orang kaya. Mengapa?” Sekali lagi, isu kelas di film ini digambarkan dengan apik. Beberapa film lain yang saya tonton isu kelas ini sebatas gadis yang berasal dari keluarga miskin yang terlibat kisah romantis dengan pria dari keluarga kaya. Begitu terus polanya.

Tapi isu kelas di film ini berbeda, dan barangkali cenderung realistis. Orang-orang kaya yang digambarkan dalam film ini adalah penipu, kasar, manipulatif, pengusaha besar yang penuh kecurangan hingga menimbulkan korban jiwa, pengusaha yang senang mabuk, dsb. Tentu saja, mereka juga sering berhadapan dengan hukum, dan seringkali keluar sebagai pemenang karena kekuatan modal yang dimiliki.

Ada suatu scene yang menggambarkan si orang kaya itu kalah dalam persidangan. Sebelumnya mereka sudah ada kesepakatan jahat dengan jaksa kepala cabang, tetapi kesepakatan itu dipatahkan oleh jaksa yang bertugas di persidangan. Si orang kaya ini dituntut hukuman 7 tahun penjara sesuai dengan tuntutan awal.


Isu Sosial
Film ini juga banyak angkat tentang isu sosial yang sangat realistis. Sangat sehari-hari. Misalnya, isu perundungan anak-anak. Anak dari tokoh utama ini diceritakan melakukan kekerasan verbal kepada salah seorang temannya dengan memanggil dia “bajingan”. Selain itu dia juga memperlakukan teman itu sebagai kurir, disuruh untuk membelikan makanan.

Isu yang lain adalah kekerasan pada perempuan di dalam keluarga. Ada dua cerita kekerasan yang dialami oleh istri, dilakukan oleh suami. Salah seorang tokoh utama, Jaksa Cha, rupanya berangkat dari keluarga yang melakukan kekerasan itu. Jaksa Cha, yang saat itu masih anak-anak, merasa tidak tahan melihat ibunya babak belur dipukuli ayahnya. Dia lalu memutuskan untuk menutup mata dengan kabur dari rumah. Alur ke belakang ini muncul karena dia menangani kasus seorang istri yang dituntut karena membunuh suaminya. Dia membunuh karena selama 40 tahun dia mengalami kekerasan oleh suami. Salah satu faktor yang melanggengkan kekerasan dalam rumah adalah anak laki-laki yang tidak peduli dengan apa yang terjadi. Scene yang ini menurut saya paling emosional.


Isu yang lain lagi adalah kondisi ibu yang bekerja. Struktur masyarakat yang cenderung patriarkal membebankan kewajiban mengasuh anak ada pada ibu, tidak memandang apakah dia bekerja di publik atau tidak. Jaksa Oh, adalah salah satunya. Selain bekerja sebagai jaksa di pagi sampai siang hari, dia juga menjadi ibu yang mengasuh sepasang anak kembar yang masih bayi. Suaminya digambarkan bekerja di kota lain.

Isu berikutnya adalah soal kerja paksa. Ini isu yang diangkat dengan sangat hati-hati di film ini. Seingat saya hanya disebut di seri 16 yang adala seri terakhir. Ada apa ya? Apakah pernah ada praktik-praktik kerja paksa di Korea Selatan belum lama ini?



Kultur Kerja
Karena berlatar belakang dunia kerja, setiap adegan di film ini menggambarkan bagaimana kultur kerja di Korea Selatan. Pertama, penjilat. Ini mungkin tidak hanya di Korea Selatan, tetapi juga di seluruh dunia. Sungguh saya melihat banyak sekali adegan penjilatan kepada pantat atasan atau pantat orang penting lainnya—tentu bukan arti sebenarnya. Ada adegan Jaksa Choi (kepala cabang) yang sampai mengikatkan tali sepatu seseorang untuk menjilatnya.

Kedua, kerja lembur. Kerja lembur di film ini mengerikan karena betul-betul lembur sampai pagi. Sekitar jam 1 atau 2 pagi. Bahkan ada yang sampai terang juga. Menariknya, setiap kerja lembur itu selalu digambarkan kantor yang dalam kondisi gelap dan satu-satunya lampu yang menyala adalah lampu di meja kerja karyawan yang lembur. Saya tidak tahu apakah memang begitu kerja orang lembur?

Saya tidak tahu kebiasaan ini karena pekerjaan saya bisa dilakukan di rumah kalau tidak selesai di kantor. Di rumah, saya bisa menulis kapanpun. Misalnya, artikel ini, ditulis mulai pukul setengah dua pagi. Hehe.

Ketiga, kesetiaan pada atasan. Di film itu digambarkan dengan sangat jelas bagaimana relasi bawahan dengan atasan. Bagaimana relasi middle manager dengan top manager. Bagaimana juga relasi antara senior dengan junior. Bahkan kata-kata yang saya dengar sering diucapkan oleh bawahan kepada atasan adalah “Saya akan melayanimu dengan baik.” Mereka bisa seperti teman sebaya pada saat biasa, bisa mendebat jika diperlukan, tetapi siap pergi dan sangat menghormati ketika diusir oleh atasan.

Keempat, persaingan kerja. Saya jadi tahu cara menjegal teman sekantor dari film ini. Cara paling mudah tentu saja dengan menjilat atasan. Para jaksa ini rupanya juga saling berebut kasus yang menarik, kasus yang penting, yang dianggap bisa menaikkan prestasi mereka, yang akhirnya berujung pada kenaikan jabatan.


Hati Nurani vs Profesionalitas yang Dingin
Terakhir, tentang hati nurani versus profesionalitas. Seringkali kerja jaksa dikritik karena mereka tidak ‘adil’ dalam menuntut seorang terdakwa. Ada dua orang dengan pelanggaran yang sama, dengan kondisi sama-sama belum pernah melakukan pelanggaran yang lain, tetapi dituntut dengan hukuman yang berbeda karena mereka memiliki sikap yang berbeda ketika diinterogasi. Profesional atau tidak?

Atau tentang menuntut bebas seorang istri yang membunuh suaminya padahal dia mengaku punya niat untuk membunuh. Pertimbangannya adalah istri itu sudah mengalami kekerasan dari suami begitu parahnya selama 40 tahun pernikahan. Profesional atau tidak?

Epilog
Ego pribadi atau keutuhan organisasi? Prestasi pribadi atau kinerja kelompok? Citra kejaksaan atau keadilan? Konflik-konflik batin dan konflik antarpekerja ini dibalut dengan baik dalam film ini. Eksplorasi pemandangan keindahan kota pesisir juga menambah kenyamanan dalam menonton. Menurut saya, yang orang awam dalam film (apalagi film Korea Selatan), angka 9/10 layak untuk diberikan. Lanjut lagi ah. Ada saran?

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain