Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "cuma-cuma" itu berarti "tidak perlu membayar; tidak dikenakan (dipungut) bayaran; gratis" Jadi Yesus memberikan kuasa itu kepada para murid secara gratis, dan hendaklah mereka juga mempergunakan kuasa itu dengan tanpa memungut bayaran dengan segala bentuknya.
Aku lalu merefleksikan potongan ayat itu dalam pengalaman sehari-hari. Apa yang biasanya bisa kita bagikan secara cuma-cuma kepada sesama? Apakah yang kita bagikan itu kita dapatkan secara cuma-cuma juga?
Bagaimana dengan sesuatu yang kita dapatkan dengan menukar banyak hal dalam hidup; apakah Yesus juga akan meminta kita untuk memberikannya dengan cuma-cuma?
Aku kenal baik seorang relawan kemanusiaan. Dia membantu sebuah yayasan yang misinya adalah memberikan tempat tinggal dan pendidikan bagi pasien kanker anak di Semarang. Dia bekerja tanpa dibayar--satu rupiah pun tidak. Dia hadir menemani pasien kanker anak dan keluarganya. Dia terlibat dalam kegiatan-kegiatan pengumpulan dana. Bahkan suatu sore dia pernah mengantarkan seorang pasien anak yang kritis ke rumah sakit, yang sedihnya, anak itu meninggal di dalam mobilnya.
Dia memberikan secara cuma-cuma semua yang pernah dia dapat--secara cuma-cuma maupun tidak. Dia memberikan waktu, yang tentu semua dari kita mendapatnya secara cuma-cuma. Namun dia juga memberikan tenaga, yang didapatkan dari aktivitas makan, tidur, olahraga, yang tentu saja tidak cuma-cuma. Dia juga mengerjakan sesuatu berdasarkan pengetahuan yang dia peroleh dari pendidikan formal, membaca puluhan buku dan jurnal, serta menonton puluhan video.
Ketika Yesus mengatakan itu, bolehkah kita lalu meminta bayaran atas sesuatu hal yang kita dapatkan dengan menukar banyak hal dalam hidup? Aku menduga, arahnya bukanlah ke situ, tapi ini tentang ajaran belas kasih. Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita secara cuma-cuma, maka kita juga diminta untuk menjadi berkat kepada sesama dengan cuma-cuma.
Sampai di sini aku mulai kehilangan arah tulisan. Selalu saja muncul pertanyaan tentang relevansi ajaran agama dengan kehidupan sebagai seorang warga negara yang kinerja pemerintahnya buruk. Bagaimana mengasihi pemerintah? Kurasa perlu ada tafsir ajaran Katolik yang lebih radikal, yang mungkin sebenarnya sudah dilakukan oleh para pemimpin tertinggi lewat ensiklik-ensikliknya. Besok mungkin bisa kita bahas lebih jauh.

No comments:
Post a Comment