07 January 2012

Panggon Ngelmu

Saya mahasiswa ilmu komunikasi, bidang studi yang tidak berkaitan langsung dengan  gunung. Saya lahir di daerah pinggiran kota Yogyakarta, tepatnya di daerah Patangpuluhan, daerah itu juga tidak dekat dengan gunung. Saya bertahun-tahun tinggal di dekat kota, tepatnya daerah Godean, juga relatif jauh dari gunung. 
Dengan latar belakang demikian, saya membaca gunung sebagai lokasi yang luar biasa untuk dikunjungi. Dengan cara apa? Pendakian gunung.


Pernah mendaki gunung? Bagaimana rasanya? 

Setiap dari kita yang pernah mendaki punya pengalaman dan refleksi yang berbeda dari aktivitas satu ini. Lewat tulisan ini saya coba dengan ringkas mencurahkan ingatan saya mengenai pendakian.

Perlu dicatat: saya bukan pendaki gunung. Senang mendaki iya, tapi tidak sering. Itu musti dibedakan. :D

Pendakian pertama saya alami ketika SMA. Kala itu kebetulan saya ikut kegiatan PAPALA (Pelajar Pecinta Alam) van Lith. Pendakian yang saya ikuti merupakan pendakian massal, saya tidak tahu persis jumlahnya berapa,tapi saya pikir antara 100 orang. Gunung pertama adalah Gunung Merbabu.

Kata orang ini gunung yang mudah untuk didaki, tapi buat saya tidak ada yang mudah ketika mendaki gunung. Dengan perut besar berlemak saya mendaki bersama dan hanya sampai puncak menara. Rasanya luar biasa, walau itu bukan puncak tertinggi dari Merbabu. Untuk pertama kalinya saya merasakan dinginnya gunung.

Bawaan saya tidak ringan, sama seperti yang dibawa teman-teman lain. Perjalanan lancar karena persiapan fisik sudah cukup baik. Namun saya sempat merasa sangat buruk ketika naik bersama mahasiswa-mahasiswa pendamping pendakian, mereka mendaki sambil berteriak-teriak, menyanyi-nyanyi. Saya ngos-ngosan.

Beberapa waktu kembali ke ‘daratan’, saya naik lagi ke Gunung Lawu (tahun 2007). Jumlah pendaki lebih sedikit. Waktu itu saya merasa Gunung ini (lewat Cemoro Sewu) adalah gunung yang lebih mudah untuk didaki. Perjalanannya tidak seberat ketika pertama kali naik. Setelah tidur beratapkan langit, kami sampai juga di puncak Lawu. Panas. Gersang. Tapi tetap saja, kepuasan mengalahkan segalanya.

Gunung berikutnya adalah Gunung Merapi. Kecewa rasanya mengingat hal ini. Sejak awal seharusnya saya sudah berhati-hati. Kondisi fisik tidak dipersiapkan dengan cukup, ditambah dengan kaki kanan yang terkilir akibat olahraga loncat tinggi. Saya paksakan naik bersama teman-teman, dan akhirnya harus berhenti di tengah gunung. Otot kaki saya bermasalah, tak bisa dipaksakan lagi.

Setelah lulus SMA, baru pertama saya naik gunung lagi. Gunung Lawu lagi. Dengan percaya diri berlebih, mungkin karena sudah pernah mendaki hingga puncak, saya naik bersama 8 teman lain. Dan hanya sampai POS 2! Prestasi yang luar biasa.

Sulit rasanya untuk tidak mengatakan “Bodoh!” pada diri sendiri. Jarang berolahraga. Kaki lemah. Perut besar (semakin) berlemak. Merokok pula. Perilaku-perilaku yang tepat untuk memberatkan pendakian.

Banyak pengalaman dan refleksi yang, karena keterbatasan intelektual saya, sulit dituliskan dalam blog ini. Namun ada dua hal yang saya pelajari dan saya ingat dalam memori otak yang terbatas. 

Pertama, pendakian gunung bukan merupakan penaklukkan gunung, melainkan penaklukkan diri sendiri. 

Kedua, ketika mendaki tidak perlu berfokus pada puncak gunung, berjalanlah terus sambil menikmati pemandangan di sekeliling jalur pendakian.

Pada akhirnya gunung memang merupakan tempat ngelmu buat saya. Di sana ada energi, ada semangat kebersamaan, ada pantangan, ada ketekunan, ada godaan, ada kepuasan. Mendaki gunung akhirnya menjadi ajang belajar kehidupan. Mari siapkan fisik dan mental, lalu mendaki!

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain