27 April 2015

Reading. Writing. Repeat.

Judulnya semacam kekinian yang kemaki ya? Kalau anda pernah baca tulisan semacam ini dengan latar belakang warna polos, anda mungkin seumuran dengan saya. Atau lebih muda sedikit. Atau juga lebih tua sedikit.
 
Meski kemaki, mungkin judul itu ada benarnya, terutama untuk orang-orang seperti saya yang mencari sesuap tempe mendoan dari menulis.

Beberapa tahun lalu bapak bilang,”Membaca itu ibarat mengumpulkan material bangunan: batu besar, krakal, krikil, semen, pasir, gamping, batu bata, dan sebagainya. Sedangkan, menulis itu membangunnya jadi sebuah rumah.”

Kata-kata itu selalu mengingatkan saya untuk selalu membaca sebelum menulis. Biar diksinya kaya, biar mengerti pola nganu dan nganu dari penulis nganu. Halah. Kita juga diingatkan untuk tak hanya membaca. Menulis itu membangun. Kalau hanya membaca, material bangunan hanya akan dionggokkan begitu saja di lahan kosong. Mentah, pating klarah, dan dingin hanya disentuh angin.

Susunlah material itu. Seburuk apapun, seaneh apapun,  sebajingan apapun. Kalau salah ya biar salah, biar orang lain lihat kita pernah salah. Supaya kita juga belajar menghargai proses. Kalau baik ya dilanjutkan, sukur-sukur ditingkatkan kualitasnya. Yang buruk jangan dihancurkan, biarkan berdiri. Kita bangun lagi di sampingnya, di depannya, di belakangnya, di sampingnya lagi.

Untuk dunia yang seperti ini, lahan tak akan pernah habis. Percayalah.


Baca Tulisan Lain