23 March 2016

s i m b a h p u t r i

sehelai daun kering jatuh di antara riuh hotel gowongan. dia pernah hijau dan jadi teduh bagi katakata yang sedang kepanasan. | @ryansandjaja

“Semoga besok mas Ryan jadi orang pilihan,” begitulah isi doa yang berulang-ulang disampaikan simbah putri tiap kali saya sungkem. Paling tidak ada empat kali dalam setahun saya sungkem: Idul Fitri, Natal, ulang tahun simbah, dan Idul Adha.

Setiap Idul Fitri saya sekeluarga ikut ke masjid di dekat rumah, lalu sowan ke beberapa tetangga yang dituakan. Setelah itu kami langsung buru-buru berangkat ke rumah simbah di daerah Gowongan untuk sowan. Di sana kami memberi ucapan “Sugeng riyadi”, memohon ampunan, lalu memohon restu.

Kalau Natal, biasanya malam Natal atau hari H malam, kami sowan juga ke rumah simbah. Kali ini bukan kami yang memberi selamat, melainkan sebaliknya. Bapak bilang, “Simbah pasti ingin mengucapkan selamat Natal ke kita, tapi karena simbah sudah kesulitan bergerak maka kita saja yang datang ke sana.” Sesampainya di sana tak pernah simbah terlihat sedih. Tak pernah juga sungkan untuk mengucapkan “Selamat Natal” kepada anak dan cucunya.

Natal tanggal 25 Desember, ulang tahun simbah (disepakati) setiap tanggal 28 Desember. Biasanya keluarga yang merantau dari Jakarta dan Magetan menyempatkan diri untuk pulang sejenak turut merayakan. Sederhana saja, pada siang hari tetangga sekitar dikirimi sembako. Sorenya warga diundang pengajian, pulang membawa nasi dos besar. Setelah itu acara keluarga, kami makan bermacam-macam: gule, sate, asem-asem, bakmi goreng, dan makanan lezat lainnya.

Lalu juga pada hari Idul Adha. Dulu ketika saya masih kecil, penyembelihan dilakukan di depan rumah simbah. Mau tak mau saya turut melihat detik-detik pisau memutus urat leher dari kambing. Turut terasa juga ketakutan dari kambing-kambing korban yang sedang menunggu giliran. Namun itu tak lama, tahun-tahun berikutnya penyembelihan kemudian dilakukan di dekat masjid.

***

Dari cerita-cerita yang saya dengar, simbah putri seringkali melakukan  hal-hal heroik. Sungguh-sunguh heroik. Dia adalah sosok yang super bernyali dan punya keyakinan sangat teguh. Simbah putri juga seorang pedagang yang tangguh, dengan kecerdasan berhitung (bisnis) yang di atas rata-rata—meskti tidak bersekolah.

Ada kisah suatu masa ketika perang dengan pemerintahan kolonial Belanda, prajurit Belanda melarang pedagang dari luar untuk berjualan ke kota. Simbah putri, dengan sepeda kayuhnya, dengan sangat berani melakukan negosiasi yang akhirnya berhasil mengelabui prajurit tersebut. Simbah akhirnya diperbolehkan masuk dan berdagang di tempat yang sebelumnya dilarang.

Juga pada masa kelam pembantaian anggota dan/simpatisan PKI. Menurut cerita, kala itu yang menjadi penentu hidup-mati seorang warga adalah ujung pena Ketua RT. Ketua RT didesak untuk membuat daftar siapa saja warganya  yang terindikasi tergabung dalam PKI. Siapa yang tertulis biasanya “diciduk” lalu dipenjara; tak jarang yang lalu meninggalkan nama saja.

Kejadian di rumah simbah sangat ngeri kala itu. Semua tetangga sekeliling rumah sudah dimasukkan daftar nama oleh Ketua RT, tak terkecuali nama simbah kakung saya. Mengetahui hal tersebut, naluri ibu dari simbah putri keluar. Dia bertindak bagai induk ayam yang marah; yang sekuat tenaga melindungi sarangnya dari ancaman ular. Simbah putri dengan berani mendatangi Ketua RT dan menekan dia supaya mencoret nama simbah kakung. Simbah putri berdebat sangat sengit, hingga akhirnya nama simbah kakung benar-benar tercoret dari daftar.

***

Penyelamatan simbah juga kental terasa dalam bidang ekonomi. Simbah putri adalah pedagang. Dia mengetahui seluk beluk pasar, cara memperlakukan pelanggan, hingga cara memutar uang untuk kemudian mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Singkatnya, simbah pernah cerita kalau dirinya tak pernah merasakan panas terik. Awalnya iya, karena memang berjalan menjajakan dagangan di sekitar Gondolayu. Namun ketika sudah memiliki los di pasar, simbah bekerja begitu keras. Pagi subuh hingga maghrib, dan hampir tak pernah libur.

Hasilnya? Cukup untuk menyekolahkan anak-anak dan cukup untuk membeli tanah dan membangun rumah-rumah di atas tanah tersebut. Tentu saja dukungan keluarga sangat membantu pencapaian hal-hal tersebut.

Suatu ketika saya datang ke rumah simbah sendirian. Saya hanya ingin pamer ketika itu bahwa tulisan opini saya dimuat di koran yang menjadi langganan simbah. Saya tunjukkan foto saya yang terpampang di samping tulisan, tetapi sayang, simbah sudah rabun jadi tak bisa melihat dengan jelas. Simbah memberi selamat dan menetralkan kesombongan saya.

Saya tak ingat persis bagaimana kata-katanya. Namun yang saya ingat adalah tetaplah tekun bekerja dengan cangkulmu. Masing-masing dari kita diberi ladang dan cangkul yang berbeda oleh Tuhan. Jika cangkulmu adalah berpikir dan menulis, maka garaplah ladangmu dengan tekun. Begitu kira-kira.

Namun simbah tak selalu mendidik dengan wejangan. Dulu ketika kecil saya jarang diberi nasihat, mungkin karena masih terlalu kecil. Saya ingat bahagianya ketika setiap kali datang ke Gowongan, simbah menyuguh kami dengan kacang mete yang baru saja digoreng. Panas, renyah, dan gurih. Sambil makan mete, simbah putri memijat kaki saya yang kelelahan karena habis latihan Tae Kwon Do.

***

Simbah itu cerdas, pemberani, teguh, dan gigih. Karakter-karakter itu sangat terlihat pada pilihan-pilihan hidupnya. Bahkan memasuki masa senjanya, karakter itu masih sangat terlihat sampai-sampai saya kasihan melihat anak-anaknya berjuang keras untuk memenuhi harapan simbah putri.

Kegigihan dan sifat pantang menyerah itu masih sangat jelas terlihat ketika simbah berada di akhir hidupnya. Simbah putri mengurus, badannya semakin kecil di usia yang hampir 90 tahun. Simbah tidak menderita sakit apa-apa. Ketika diperiksa, tingkat oksigen dalam tubuh simbah juga mencapai level yang hampir sempurna.

Simbah akhirnya meninggal karena tubuhnya sudah tidak bisa mencerna makanan. Tubuh yang dihuni simbah benar-benar sudah menua hingga pada saatnya semua akan berhenti.

Tak berhenti sampai di situ. Sebuah kebetulan kembali terjadi—entah karena kebetulan atau karena kegigihan simbah yang menawar-nawar semesta. Mbak Karin, kakak saya, adalah cucu yang paling disayangi simbah putri. Kebetulan sekali, saat simbah meninggal, mbak Karin langsung menuju rumah sakit dan jadi satu-satunya cucu, bahkan satu-satunya keluarga, yang turut memandikan simbah bersama dengan  perawat rumah sakit.

Sama dengan kisah-kisah keluarga saya yang lain, simbah meninggalkan narasi soal kerja keras. Jangan tanyakan seberapa keras. Tak perlulah juga dilihat hasilnya. Hadiah paling baik bagi para pekerja keras adalah melihat bahwa hal-hal baik dalam dirinya dikembangkan oleh para keturunannya.

Matur nuwun, simbah. Nyuwun pangestu.


________

Ditulis bukan untuk memperingati apa-apa. Hanya sedang rindu.

Baca Tulisan Lain