22 July 2019

Perihal Menilai



Saya sering dengar kata-kata macam “Sebaiknya kenali dulu luar dan dalam, baru bisa menilai. Jangan baru kenal atau baru lihat sudah buru-buru menilai.”

Apakah anda sering, atau setidaknya pernah, mendengar kata-kata serupa?

Awalnya saya berpikir kata-kata itu sangat bijak. Untuk menilai sesuatu kita perlu tahu banyak hal yang terjadi di sekelilingnya. Kalau perlu, kita juga bisa melihat sejarahnya. Baru kita bisa menilai.

Pokoknya kata-kata itu terdengar sangat bijak di telinga saya, pada waktu itu.

Semakin ke sini, saya semakin sangsi. Apakah kita memang harus menilai? Kok seakan-akan menilai sesuatu adalah keniscayaan. Seakan-akan semua orang harus melakukannya, sampai-sampai perlu diajari cara menilai yang benar.

Bagi saya menilai itu pekerjaan yang tidak mudah. Mungkin terdengar mudah, cukup dengan memberi angka atau huruf. Namun sungguh, pertimbangan memberi nilai tidak semudah itu.

Misalnya, apakah tugas (makalah, video, dsb.) yang biasa-biasa saja perlu diberi nilai bagus? Untuk mengapresiasi, mungkin perlu. Namun bagaimana kalau peserta didik jadi cepat puas? Bahaya yang lebih besar adalah mereka merasa bisa, padahal di luar sana karya itu sungguh tak seberapa.

Masih banyak pertimbangan-pertimbangan lain yang tidak pernah terpikirkan oleh saya ketika dulu ambil kuliah lagi.

Maka, pertanyaan saya masih sama: apakah kita memang harus menilai? Apa tujuan kita memberi nilai? Atas dasar apa penilaian kita? Bukankah tidak berdosa untuk mengenal luar dalam dan sejarah tentang seseorang/sesuatu tanpa dalam rangka untuk menilai?

Menurut saya kita tidak harus menilai apapun. Kita bukan siapa-siapa.

[dari kalangan pekerja yang sedang kelelahan memberi nilai; dan menanggapi mereka-mereka yang meminta revisi nilai. kalian kira kalian sehebat apa sih, bgst.]

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain