12 August 2011

Semester Gasal yang Ganjil

“Njay, ndang ngampus.” Itu bunyi pesan singkat
seorang sahabat pada hari yang –mau tak mau—penting.
Hari itu adalah salah satu hari yang menentukan
perjalanan perkuliahan kami selama satu semester ke depan.

(KRSan)


Sampai di sana antrean sudah cukup panjang. Bagian belakang masih berdiri, sedangkan di bagian depan sudah duduk manis. Agaknya mereka sudah agak lama menunggu. Belakangan saya tahu bahwa saya ada di urutan 112. Di belakang saya masih ada puluhan orang lagi, mungkin empat puluhan, mungkin lebih.


Kampus lain sudah melakukan proses key-in secara online; lewat warnet atau internet rumahan (fasilitas hot spot dan modem agaknya dirasa kurang memadai). Kampus saya masih dilakukan di dalam ruang yang sering disebut ‘lab kom’.

Siapa datang dan antre duluan, dia mendapat nomor urut depan, dan punya peluang besar untuk memilih kelas (baca: dosen) idaman. Yang dapat nomor urut belakang, masih beruntung dia kebagian dosen pelit nilai, atau dosen idealis, atau dosen yang memiliki kemampuan bahasa sebegitu tingginya hingga jembatan pemahaman itu menjadi terasa begitu jauh.

Paling memuakkan kalau tidak mendapatkan kelas. Saya salah satunya.

Semester ini, sama dengan semester-semester sebelumnya, saya bisa ambil 24 SKS. Namun kali ini berbeda, saya ambil 21 SKS karena kehabisan kelas. Artinya ada satu kelas yang tak terambil, dan ini tak sesuai dengan rencana studi.  Menyesal saya datang jam 8 pagi (padahal di buku tertulis antrean dimulai jam 08.30!).

Di tengah penyesalan itu ada seorang teman datang menghampiri. Mengejutkan. Semester ini dia hanya bisa ambil 1 mata kuliah berisi 3 SKS. Bukan karena  nilainya kurang, tapi karena kehabisan kelas.

Dia datang ke kampus pukul 13.00, ketika teman-teman yang lain mungkin sedang makan siang, nongkrong, jalan-jalan, atau sudah tidur-tiduran dengan damai di kamarnya. Ya.. mungkin memang salah dia yang tak datang tepat waktu. Tapi semoga dia dapat IP 4 semester ini. J

Entah harus bagaimana, namun sering terjadi ketika kita merasa sangat tak beruntung, datang orang lain yang membuat kita kemudian merasa beruntung. Walaupun sampai saat ini saya mati-matian berusaha mencintai kampus ini –dan sampai sekarang belum mencintai tuh—saya tahu harus bersyukur masih bisa kuliah.

Semester 5 di kampus ini.. entah bagaimana rasanya. Ketika kebosanan mulai menghampiri –sebenarnya sudah bosan sejak inisiasi —namun di sisi lain ada hasrat untuk memuaskan dahaga akan ilmu yang baru saya dengar ketika kelas 3 SMA.

Semester 5 sudah mulai besok Senin. Biasa sajalah, seperti yang sudah-sudah. Tetap waspada terhadap dua musuh jiwa: kebosanan dan kesombongan. Mereka menyergap diam-diam.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain