07 June 2012

Kebebasan Berpendapat?


Apa kabar? 
Masih berjuang menemukan atau menciptakan tujuan hidup? Bersemangat yang masih berjuang, yang sudah tidak berjuang segera tentukan kapan ingin berjuang lagi. Saya ingin memperjuangkan hidup dengan –salah satunya- menulis. 

Kali ini saya menulis mengenai kebebasan berpendapat yang dimiliki oleh orang-orang di dunia maya alias internet. Apakah orang-orang itu menjadi maya? Ataukah tulisannya saja yang maya? Atau mereka mengomentari hal maya? Atau mereka, tulisan, dan hal yang dikomentari adalah hal nyata yang ada di dunia maya? Sudah, sudah, bukan itu yang saya maksud. 

Langsung baca saja dulu artikel di bawah ini....

Lagi Asyik di Kamar Hotel, 4 Pasangan Diciduk Polisi

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Sabtu, 05/05/2012 23:36 WIB
Pekanbaru, Sedikitnya empat pasangan muda-mudi diciduk pihak kepolisian saat bermesraan di dalam kamar hotel. Saat ini mereka digiring ke Polsek Lima Puluh, Pekanbaru.
Polsek Lima Puluh Pekanbaru menggelar razia kesejumlah hotel kelas melati, Sabtu (5/5/2012)sekitar pukul 23.00 WIB. Salah satu hotel yang pertama di razia, yakni Hotel Holiday di kawasan Jl Tanjung Datuk, Pekanbaru.
Dari hotel yang dikenal esek-esek ini, petugas memergoki empat kamar pasangan muda-mudi yang lagi asyik bermalam mingguan. Mereka yang kepergok di dalam kamar, rata-rata dalam keadaan bugil.
Mereka terlihat kaget saat polisi membuka pintu kamar hotel tersebut. Pasangan muda-mudi inipun lantas mencoba menutupi tubuhnya yang lagi tanpa busana itu dengan selimut yang ada.
Mereka lantas diminta mengenakan bajunya kembali. Setidaknya ada empat pasangan yang dipergoki saat bermesraan dalam kamar.
Setelah diperiksa petugas, mereka rata-rata tidak membawa kartu identitas seperti KTP. Empat pasangan yang bukan muhrimnya ini pun akhirnya dibawa pihak Polsek Lima Puluh untuk dimintai keterangan.
Para pasangan ini tampak malu saat sejumlah wartawan media cetak dan eletronik mengabadikan lewat kamera. Mereka berusaha menutupi wajahnya masing-masing.
(cha/van)


Artikel tersebut memancing beberapa orang untuk berkomentar, menyampaikan pendapat dan pandangan mereka atas berita yang mereka baca. Ini beberapa komentar yang menurut saya mewakili komentar-komentar lain yang ada.

Berita sampah kelas comberan begini, wartawan detik ahlinya berani sebut nama hotelnya juga.. tapi kalau ormas tawuran di jakarta mana berani sebut nama ormasnya.. dasar wartawan koplak (Brm Dewanto Wijaya)

Kenapa detik seringkali memuat berita super murahan? Kalo yang dimuat itu razia di hotel classic, alexis, malioboro, kingcross, sumo, fashion, orchard, dan masih banyak lagi, baru gw acungin 2 jempol kaki.. (Hendi Gtg)

PAK POLISI KURANG KERJAAN..SEX ITU HAK SETIAP MANUSIA JADI TIDAK ADA LARANGAN BAGI TIAP MANUSIA DI BUMI INI UNTUK MELAKUKAN INI (ausiee33)

Para anjingers2 yang kepergok itu mending langsung dibunuh aja pak...biar mampuz.dan contoh buat yang lain (daslam)

Polisi beraninya razia hotel yg gak bayar upeti. Smentara tempat pelacuran yg jelas2 klihatan di grogol seperti hot pen, medika dll dibiarkan tumbuh subur slama bayar upeti. Dan kao mo dapet pasangan bukan muhrimnya pak polisi, razia juga hotel2 bintang lima. Dijamin banyak yg terjaring. Karna biasanya malam minggu adalah waktu utk membuang sperma. Skedar saran pak polisi. Jgn marah yaa. (pawul)

Ada bermacam-macam komentar dan komentator, persis seperti yang baru saja ditulis di atas. Ada “pengamat wartawan”, “aktivis penegak HAM”, “pembenci pelaku hubungan seks”, dan “pengamat kepolisian”. 

Ah, aneh memang, itu julukan ngawur buatan saya sendiri untuk mereka yang berkomentar. Adakah yang salah dari komentar ini? Baik, maaf, bukan salah atau benar. Relativitas kebenaran itu kadang memang digunakan oleh orang-orang yang gagap pencerahan untuk membenarkan pandangannya. 

Begini saja, adakah masalah sosial yang ditangkap dari komentar-komentar yang dimuat ini?

Pertanyaan itu tidak harus langsung dijawab, bolehlah kita merenung dan berpikir lebih dulu. 

Kali ini saya hanya ingin menyoroti penggunaan istilah oleh komentator yang terhormat. Beberapa istilah yang saya tangkap:

  1. Sampah kelas comberan
  2.  Wartawan koplak
  3. Super murahan
  4.  Anjingers2 (?)
  5. Dibunuh aja pak...biar mampuz
  6. Membuang sperma


Apakah ini yang lalu dimaksud dengan kebebasan untuk berpendapat? 

Apakah ini yang dimaksud dengan teknologi internet yang memungkinkan orang melecehkan orang lain (yang bahkan tidak mereka kenal baik karakter maupun latar belakang sosialnya) dengan pilihan kata yang begini? 

Apakah dengan menjadi maya lalu kata-kata dan makna sosial yang diberikan atas kata itu juga menjadi maya? 

Jangan-jangan sensitivitas perasaan dan etiket berkomentar juga maya?

Saya sih tidak eksplisit lalu ingin menghakimi para komentator itu adalah orang-orang yang waton njeplak, waton nyonthong, waton nyangkem. Walau mungkin memang demikian :p

Hanya saja saya berpikir dan berandai-andai... mungkin ya hanya lewat dunia maya ini mereka bisa mengungkapkan kata. 

Semoga mereka merenung dan menyadari bahwa dunia maya bukan dunia kosong di mana tidak terdapat etika, nilai, dan norma budaya yang dibawa oleh masing-masing pengguna. Atau.. andai saja portal berita ini punya sistem yang ketat untuk komentar yang diposting.. Ah, bebas kok tapi. Bingung ya? Boleh kok, anda juga bebas menginterpretasi dan menilai tulisan ini seperti apa dan bagaimana. (*)

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain