28 February 2014

Tumben?


S
ore tadi sampai rumah saya langsung ke jalan depan rumah. Kotor sekali. Daun-daun gugur berserakan, bercampur abu vulkanik Gunung Kelud yang tak kunjung menghilang jika tidak dengan sengaja dibuang. Seketika saya ambil sapu lidi dan mulai menyapu –hal yang jarang saya lakukan. Seketika itu juga tetangga-tetangga langsung bilang “Tumben nyapu..?”


Memang, saya jarang membersihkan bagian depan rumah. Biasanya bapak yang menyapu pagi-pagi, kalau sedang tidak ada garapan di komputer. Balik ke kata tetangga tadi, saya sih cuek, tidak peduli, dan ‘ora urusan’ ketika tetangga bilang “tumben”. Tapi untuk orang-orang tertentu, rasanya kita harus berhati-hati untuk mengucapkan kata itu.

Pernah ada cerita di lingkungan (lingkungan agama Katolik maksudnya). Ada seorang warga yang jarang aktif datang doa lingkungan ataupun kegiatan-kegiatan lingkungan. Suatu ketika ia datang dalam acara lingkungan dan langsung disambut dengan pertanyaan-pertanyaan macam “tumben” itu. Bukan saya bermaksud merendahkan, tapi biasanya ibu-ibu yang bertanya. Mungkin karena mereka ini lebih ramah dan lebih perhatian dengan orang lain ya. Bukan untuk bahan gosip lho, bukan itu. Tapi tanpa diduga, ternyata ia sakit hati dengan pertanyaan-pertanyaan macam “tumben”.

Saya mengimajinasikan dia ngomel begini: “Sekalinya dateng malah dikatain tumben. Di depan orang-orang pula. Niatnya mau aktif, aku malah jadi ilfeel.”

Singkat cerita, semenjak kejadian itu ia makin jarang datang dan aktif di kegiatan lingkungan. Warga lalu berkomitmen bersama untuk tidak mengatakan “tumben” pada warga jarang aktif yang suatu saat datang dalam acara lingkungan. Kata “tumben” ini kadang bukan jadi pemicu dan pemacu, justru jadi pembunuh yang tanpa ampun.

Hati-hatilah dengan kata “tumben”.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain