18 February 2017

Kesaksian: Majikan Saya Orang Jepang, Tewas Dibakar Ketika Naik Mobil di Tengah Kerusuhan ‘98

via Okezone News

Catatan penulis: cerita ini saya dengar dari seorang penjual angkringan di Yogyakarta. Saya tidak bisa memastikan keakuratan cerita tersebut.

Penjual angkringan dari Wonosari itu baru satu setengah tahun kerja di Jakarta. Berbekal ijazah SMP, dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang pebisnis di daerah Pondok Indah. “Saya tidak tahu bisnisnya apa, tetapi dia kaya. Orang Jepang,” tuturnya soal sang majikan.

Jakarta, dan Indonesia secara umum, saat itu memang keterlaluan. Krisis ekonomi membuat harga barang melambung terlampau tinggi. Dia awalnya bekerja di sebuah bengkel, tapi bengkel itu bangkrut. Hubungan pertemananlah yang membuatnya bisa bekerja di rumah orang Jepang itu. Untungnya dia betah karena tak merasakan langsung dampak krisis. Makanan tersedia di rumah, juga tidak ada margin keuntungan yang dikejar karena gajinya dibayarkan bulanan.

Namun, seperti tak bisa ditolak, tibalah masa-masa kelam itu. Entah berawal dari mana (atau dari siapa!) kebencian terhadap orang Tionghoa menyebar luas di kalangan orang “pribumi.” Kebencian itu sebegitu hebatnya hingga membakar nalar dan menghanguskan nurani. Kondisi demikian, ditambah perut yang kian hari kian kosong, membuat salah satu tragedi kemanusiaan di Jakarta tak bisa dicegah.

***
via backupblog77.blogspot.com

Pada suatu malam, berita tentang kerusuhan yang terjadi di berbagai daerah di Jakarta sudah terdengar. Sasarannya adalah orang Tionghoa. Rumah-rumah mereka diserbu. Mereka yang terlihat di jalanan dibantai tanpa ampun. Dibakar hidup-hidup ataupun disabet pedang. Toko-toko mereka dijarah. Para perempuan ditelanjangi dan diperkosa secara bergilir dengan terang-terangan, sebelum akhirnya dibunuh juga dengan keji.

Paginya, dengan perasaan was-was, sang majikan nekat minta diantar oleh sopir untuk pergi ke kantor. “Sopir itu orang Pacitan, mas. Dia awalnya sudah ragu-ragu, karena semalam masih rusuh di mana-mana. Bapak [majikan] kan orang Jepang, wajahnya kayak Cina, bisa ikut dibantai juga,” katanya.

Sembari tak henti menyebut nama kebesaran Allah, majikan dan sopir meluncur mempertaruhkan nyawa di jalanan Jakarta. Lantas tragedi itu tak bisa dihindari. Di tengah perjalanan mobil mereka dihentikan oleh kerumunan yang membawa bensin. Melihat wajah oriental, bensin langsung diguyurkan ke mobil lalu disulut. Sang majikan dan sopir terjebak di dalam mobil. Mereka hangus terbakar.

Kabar soal itu cepat sampai di rumah. Seketika aura rumah menjadi sangat berbeda. Sang istri, juga orang Jepang, langsung membayar gaji para pekerja di rumahnya saat itu juga. Dia minta dirinya dan anaknya dilindungi sambil berlinang air mata. Pada suatu kesempatan yang baik, dia lalu bisa diantar sambil dijaga ke bandara untuk kemudian terbang ke luar Indonesia.

***
via myrepro.wordpress.com

Penjual angkringan lalu tiba kembali di Wonosari yang adem ayem. Tak hanya bawa uang, dia juga bawa memori mengenaskan dari Ibukota. Soal darah, pemerkosaan, air mata, isak tangis, dan tubuh-tubuh bergelimpangan yang tak jelas akan diapakan.

Menurutnya, kejadian paling mengerikan adalah pembakaran sebuah gedung pusat perbelanjaan berlantai tiga. Sekelompok warga yang seperti kesurupan itu membakar lantai satu. Asap dan apinya membaut ratusan orang di lantai satu hingga tiga mati lemas lalu terpanggang. Bukan orang Tionghoa saja yang jadi korban. “Campur-campur,” tegasnya.

“Itu pelakunya enggak bisa diusut mas?” tanyaku. “Kayaknya enggak mas. Wong itu kerusuhan kok. Kacau banget. Pelakunya banyak, rakyat Indonesia. Jawa, Flores, Batak, gabung jadi satu,” jelasnya sambil menyalakan rokok.

Barangkali pandangannya agak bias soal istilah rakyat, pribumi, Cina, dan semacamnya, tapi itulah realitas yang ada di benak banyak orang. Baik atau buruk, benar atau salah, etis atau tidak, realitanya memang itulah yang terkonstruksi di benaknya.

“Kalau pelakunya termasuk orang Jawa dan itu atas nama rakyat, panjenengan ikut mbantai gak mas?” tanyaku. Lugas. Bodoh juga, barangkali. Karena kalau iya, saya berhadapan dengan pembunuh keji. Minum teh yang diaduk oleh tangan berlumuran darah nyaris dua puluh tahun lalu.

“Enggak mas. Tapi saya ikut diajak njarah,” jawabnya (saya jadi sedikit lega). Penjarahan toko-toko tak terhindarkan dari kerusuhan itu. Warga yang anonim itu memasuki toko-toko besar, mengeluarkan isinya, mengambil segala yang bisa diambil. Membawa pergi apa-apa  yang bernilai cukup tinggi dan bisa dibawa pakai tangan.

“Kebanyakan pada ambil alat elektronik yang bisa dibawa, mas. Kalau saya malah ambil susu. Hla itu susunya dibuang di jalan-jalan, saya kumpulin aja. Itu kalau diminum tiap hari, empat bulan baru habis mas,” ujarnya sambil menunjukkan seberapa tinggi tumpukan susu yang dia kumpulkan. Kira-kira setinggi pinggangnya.

“Waktu itu panjenengan umur berapa?”

“Tujuh tahun, mas.”

“Berarti belum mudeng ya waktu itu rusuh?”

“Belum, mas. Tapi saya sering dengar istilah ‘Cina singkek’ di sekolahan. Lagian kayaknya Jogja enggak rusuh mas.”

“Menurut panjenengan, bakal ada kerusuhan lagi nggak mas soal ras tadi? Kan ramai lagi tuh di Jakarta,” saya balik bertanya.

“Hahaha.. iya. Sekarang apa-apa mahal, tapi semoga enggak terjadi [kerusuhan] lagi. Sing penting aman, selamet. Urip kuwi ora golek banda, tapi golek selamet,” katanya yang tiba-tiba terdengar bijak.

***

Sementara pembeli mulai ramai berdatangan karena hujan mulai reda. Mahasiswa senang makan di angkringan sambil nongkrong, sementara mahasiswi memilih untuk beli ‘nasi kucing’, lauk, dan minuman yang diplastik.

“Hati-hati, mas. Besok mampir lagi,” ucap penjual angkringan seiring kakiku memutar pedal. (*)


Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya.

1 comment:

  1. Saya jg 7 tahun saat itu. Saya ingat apa yg terjadi. Saya ingat saat kolega2 keluarga melarang saya berangkat sekolah,saya ingat ada yg mengatakan kalau saya nekad keluar2 rumah saya bisa jd sasaran pembunuhan. Saya heran, anak 7 tahun tahu apa? Dari situ saya belajar apa itu politik. Celakanya, saya langsung diberi gambaran tentang politik dalam wujud yg paling hitam.

    ReplyDelete

Baca Tulisan Lain