24 November 2013

Sarjana Ilmu Komunikasi. Ah, sudahlah.

Bulan November tahun ini ada sebuah kabar yang agak melegakan untuk orangtua saya. Akhirnya saya sudah menjalankan ujian skripsi, sidang skripsi, atau juga dikenal dengan istilah ujian pendadaran. Intinya, penelitian saya sudah diuji oleh dosen-dosen penguji dan dinyatakan lulus dengan beberapa revisi (saya bikin revisi sambil menulis ini).


Sebagai mahasiswa yang sudah selesai mengambil teori pada semester 6 (semester 7 mengambil KKL-Kuliah Kerja Lapangan) lulus pada semester 9 adalah prestasi yang tidak luar biasa. Saya butuh lebih dari satu semester untuk merampungkan skripsi! Betapa skripsi ini memang menantang niat dan tekad mahasiswa.

Dulu ada seorang teman yang meramalkan bahwa saya akan lulus kuliah dengan waktu studi empat setengah tahun. Setelah menghitung-hitung, jika lulus bulan ini maka waktu yang saya butuhkan adalah 4 tahun 3 bulan. Sedangkan jika saya wisuda bulan Februari, maka waktu studi saya 4 tahun 6 bulan alias empat setengah tahun. Kebetulan sajakah ini?

Saya bersyukur sekali menjelang dan ketika ujian skripsi itu saya mendapat dukungan dari keluarga, kekasih, dan para sahabat. Dukungan mereka tidak mengubah apapun yang sudah saya tulis di dalam laporan, tapi itu menenangkan dan memantapkan tekad. Jika ada kata lebih dalam dari terimakasih, saya akan ucapkan kata itu kepada mereka. Namun karena tak ada, maka saya hanya mampu mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada anda dan mereka yang sudah mendukung.

Mereka sudah sangat mendukung di luar ruang sidang. Beribu-ribu terimakasih. 
 
Ini Yulia, yang sudah mendukung dengan cara-cara luar biasa.


Namun bukan saya kalau tidak pandai melihat sebuah kekurangan dalam hal-hal yang patut disyukuri. Ada seorang teman yang mengucapkan selamat, kira-kira begini ucapannya:

“Selamat ya njay, semoga aku cepet nyusul.”

Apa yang harus saya bilang? Jelas saya bilang:

“Amin mbak/mas..semoga lekas lulus.”

Tampaknya ada yang perlu dikritik dari ucapan yang seperti ini. Rasanya kok lucu, dia seakan memberikan ucapan selamat kepada orang lain, namun untuk dirinya sendiri. Mungkin anda yang membaca kritik saya ini pernah bilang hal serupa ketika memberi selamat kepada orang lain. Mungkin juga saya pernah melakukan itu. Tapi berdasar pengalaman saya ini, saya yakin tidak akan pernah mengucapkan itu lagi.

Di lain sisi, saya merasa kelulusan sidang skripsi ini tidak se”wah” dengan yang saya bayangkan ketika menjelang ujian. Seketika memang rasanya senang, amat bersyukur, namun seketika itu juga menjadi biasa saja. Lulus adalah hal yang natural dan wajar dialami oleh mahasiswa. Tentu untuk mengalaminya mahasiswa juga harus melakukan hal yang natural dan wajar dilakukan, misalnya berperang dengan rasa malas, bertahan di depan layar komputer, menggelembungkan rasa percaya diri untuk bimbingan dosen, membesarkan hati ketika dicerca dosen pembimbing, hingga menahan diri untuk untuk tidak selalu menyalahkan keadaan dan berfokus pada peningkatan diri sendiri :p Ya, kenaturalan dan kewajaran itu juga harus dilakoni. Sekali lagi, lulus itu wajar.

Setelah lulus, mahasiswa baru mengalami ujian yang sebenarnya. Dia dihadapkan banyak pilihan: Melanjutkan kuliah? Membuka usaha? Melamar pekerjaan? Mengikuti kursus-kursus? Atau mau bersantai dahulu sambil merasa siap untuk melanjutkan hidup? Atau bahkan menikah?

Ini adalah pilihan yang tidak mudah, dan saya sedang --jongkok di pojokan kamar mandi dihujani air dari pancuran sambil-- mengamati pilihan-pilihan itu. Bagaimanapun juga pilihan-pilihan itu tetap harus disyukuri, karena mereka datang dan menjadi nyata ketika saya sudah lulus kuliah. Terimakasih bapak, ibu, mbak, mas, Yulia, dan teman-teman. Mari bergerak selalu.












No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain