06 November 2014

Mengintip Mawar

Kadang manusia gagal melakukan seleksi atas apa yang harus dipikirkan dan apa yang tidak. Contohnya ya yang beberapa menit lalu saya alami. Ini tentang penggunaan Facebook oleh seorang teman SMP. Saya sadar, seharusnya saya tidak perlu memikirkan. Namun saya telanjur risau melihat bagaimana dia menggunakan akun Facebooknya. Sebut saja namanya Mawar.

Saya kenal Mawar sekitar tahun 2004-2005 waktu kami duduk di bangku SMP. Saya tidak ingin kenal, tapi terpaksa kenal karena kami sekelas. Ciri fisik yang saya ingat dari dia adalah rambut yang tipis, kulit sedikit gelap, tinggi sekitar 140-150 cm, dan kurus. Intinya, dia (saat itu) bukan termasuk gadis yang populer di antara kawan-kawan.

Waktu itu Mawar bukan tergolong siswa pandai, prestasinya akademiknya biasa-biasa saja, bahkan cenderung tidak baik. Tentang perilaku, ada cap yang sangat mudah bagi orang lain untuk memberikan ke dirinya: kemayu atau sok cantik. Cara bicaranya sering dibuat-buat seksi (halah!), cara jalannya juga begitulah, saya sampai tak kuat hati untuk mengingat.

Ternyata dia tidak hanya kemayu, tapi juga suka meniru gaya yang dipakai orang yang populer. Istilahnya copycat atau apa gitu. Sebut saja Bunga, teman sekelas yang dianggap populer. Bunga yang dulunya berambut panjang, suatu saat potong rambut hingga begitu pendek. Beberapa hari kemudian Mawar, yang dulunya juga berambut panjang, ikut berganti potongan rambut menjadi serupa. Lalu suatu saat Bunga mengalami kecelakaan di jalan, dagunya terluka. Dia ke sekolah pakai plester di dagunya. Bisa ditebak, esok harinya Mawar juga pakai plester di tempat yang sama. Tak ada yang tahu dia sungguh terluka atau tidak.

Itu sifat dominan yang saya tangkap dari dirinya. Suatu saat saya dengar kabar dia sudah punya anak, lalu menikah. Seorang teman kuliah, yang adalah teman SMAnya Mawar, berkata,”Ah, aku ora kaget. Ket biyen menthel.” Dia tidak terkejut dengan berita itu, karena sejak dulu Mawar terlihat menthel. Sedih juga ya rasanya ada cap begitu pada teman sendiri—meski kami tak pernah dekat.

Entah sejak kapan kami berteman di Facebook, tapi rupa-rupanya sifat tersebut terbentuk dari keluarganya. Saya kira dia lahir di lingkungan keluarga yang cukup keras. Saat itu sering sekali dia menulis status Facebook dengan marah-marah ke ibunya. Dia dianggap durhaka, anak tidak tahu diri, penuh dosa, diusir dari rumah, dan sebagainya. Setelah itu saya amati statusnya sering sekali marah-marah dan menyindir entah keluarganya, teman kerja, hingga bosnya.

Nah, tadi pagi saya buka Facebook dan melihat kemarin hingga tadi malam Mawar posting hingga beberapa kali. Postingan itulah yang membuat saya kepikiran hingga harus menulis begini. Mawar rupanya sedang sakit dan harus opname di sebuah rumah sakit. Dia menulis status yang begitu deh. Mungkin maksudnya biar banyak yang menuliskan komentar dan memperhatikan kondisinya. Jika memang itu maksudnya, sepertinya dia tidak berhasil menggalang perhatian dari teman-teman Facebook.

Mengapa dia sampai harus begitu? Ya...pasti ada begitu banyak kemungkinan jawaban. Bisa dari dirinya yang memang suka begitu. Bisa dari lingkungan terdekatnya yang kurang memberi dukungan. Atau bisa jadi tidak keduanya, tapi memang sakitnya kali ini membuat dia merasa membutuhkan dukungan yang besar—dari siapa saja. Parahnya, (ampuni hamba-Mu, Tuhan) saya tidak tergerak untuk memberi dukungan.

Belakangan saya tahu sakitnya memang agak parah kali ini. Bukankah sakit yang berkaitan dengan otak itu begitu rawan? Itulah mengapa saya menyebut parah, meski tak tahu seberapa parah. Meski begitu dia sempat memotret selfie di tempat tidur rumah sakit dengan selang oksigen di hidung dan mata yang terpejam. Begitulah.


Oh ya, saya memang suka mengamati potingan teman-teman netizen pada paling tidak tiga akun jejaring sosial yang saya punya: Twitter, Facebook, dan Path. Terus terang, saya terganggu dengan istilah kepo untuk menyebut aktivitas ini. Saya yakin saya tidak sendirian, artinya ada banyak orang lain yang sesungguhnya tidak sepakat istilah itu digunakan dengan begitu mudahnya. Mengamati status orang lain bagi saya adalah untuk menyelami pikiran dan kehidupan sang penulis. Artinya, saya mencoba memahami manusia dalam berbagai dimensinya melalui cara dia berkomunikasi via jejaring sosial dan apa-apa saja yang dia tulis di sana. Hidup rasanya menjadi begitu luas, asal kita tidak lalu hanyut begitu saja dalam keluasannya. Bagaimanapun, ini menarik bagi saya, entah buat anda.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain