15 July 2017

Waktu dan Apa-Apa yang Ditunggu

via Kasuaris.com

“Kamu selalu main aman, kan?” tanya saya serius. Kami bersahabat sejak sebelas tahun lalu. Baru tiga tahun terakhir ini dia mengungkapkan bahwa dia mencintai pria; sama seperti dirinya.

“Hahahaha.. pertanyaanmu. Aku rutin periksa kok di sini,” jawabnya. Obrolan kami berlanjut hangat, lengkap dengan pisuhan (Jawa: umpatan) khas Jogja yang bersahabat. Dulu kami tinggal bersama di sebuah asrama, lalu kuliah bersama juga di kota pelajar itu. Kini kami beda pulau.
Sebut saja namanya, Purnama. Dia berperawakan kurus dan tinggi, dengan perangai yang ceria dan bersahabat. Kecerdasannya di atas rata-rata, ditambah dengan bakat seni yang mengucur deras dari tangan dan mulutnya. Sejak menekuni seni lukis dan menerima diri sebagai gay, jiwanya kini jauh lebih matang dibanding sebelumnya.

Saya tak main-main soal pertanyaan di atas. Pasalnya, tetangga saya (gay juga) baru saja divonis mengidap HIV AIDS. Penyakit itu jadi momok di masyarakat. Selain karena soal keganasan virus, penyakit ini juga menyangkut soal pandangan secara umum kepada orang dengan HIV AIDS (ODHA).

Itulah mengapa orang tuanya hingga saat ini masih merahasiakan penyakit yang sesungguhnya diderita oleh tetangga saya ini. “Jangan sampai tetangga lain tahu,” katanya suatu kali.

Atas pengalaman itulah saya tanya soal keamanan itu dengan serius. Soal moral, dosa, atau apapun yang oleh sebagian orang dianggap sebagai konstruksi manusia, saya tidak akan bicara banyak. Namun jika menyangkut kesehatan, sebagai sahabat, saya terpanggil untuk terlibat.

Takut: Penolakan Lingkungan Terdekat

Suatu kali saya menonton video wawancara soal homoseksual yang diunggah via Youtube. Wawancara dilakukan secara acak pada orang yang ditemui di jalan. Pertanyaan pertama dari pewawancara adalah “Apakah anda mau berteman dengan seorang homoseksual?

Jawaban dari sebagian besar responden sangat positif dan terbuka. Mereka menjawab masih mau berteman dan menerima orientasi seksual mereka yang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dianggap “menyimpang.”

“Masih mau berteman. Orientasi seksual itu tidak akan mengganggu hubungan pertemanan kami. Lagipula, mereka kan juga manusia yang punya hak yang melekat pada dirinya,” ucap sebagian besar dari responden.

Namun hal yang berbeda—dan memang tidak mengejutkan—ditemukan pada jawaban dari pertanyaan kedua. Pertanyaan tersebut adalah “Bagaimana jika anda memiliki anak yang ternyata homoseksual? Apa yang akan anda lakukan?

Sebagian kecil dari responden memang menjawab, “Tidak masalah.” Namun sebagian besar dari mereka yang mau berteman dengan homoseksual ternyata tidak menginginkan anaknya memiliki orientasi seksual sejenis.

“Aku akan memberitahunya bahwa itu salah dan dilarang oleh ajaran agama,” jawab sebagian besar dari mereka. Terdengar kontradiktif memang, tapi itulah kenyataannya. Mereka seakan sangat terbuka dan menerima bahwa ada orientasi yang berbeda selain heteroseksual. Namun ketika hal tersebut menimpa kepada keluarga mereka, rupanya mereka tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.

Video singkat tersebut menunjukkan gambaran bahwa banyak keluarga yang tidak nyaman mengetahui ada anggota keluarga yang homoseksual. Ketidaknyamanan itu rupanya juga dirasakan oleh Purnama.

“Kamu tahu kenapa aku tinggal di sini? Aku tidak tega melihat ibuku tahu kalau aku gay. Dia pasti kecewa, padahal dia orang baik,” ujarnya suatu malam lewat WhatsApp.

Ibunya tinggal di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Tutur katanya halus, sabar, sensitif, dan terlihat sangat penyayang. Sifat seorang ibu yang seperti itulah yang membuatnya tidak tega untuk membiarkan ibunya tahu kondisi dia yang sebenarnya.

Tidak hanya takut akan penolakan dari ibunya, Purnama juga melakukan “protes” pada agama yang dianutnya. Dia sudah tidak lagi melakukan ritual agama, karena tahu ajaran agamanya menolak keberadaan orang-orang macam dia.

“Sebenarnya siapa sih yang menjauh? Dirimu atau Dia?” tanya seorang kawan suatu kali. Purnama diam dan hanya tertawa, tetapi tak mengubah sikapnya.

Hal yang mirip dialami juga oleh Bowo, kawan saya yang lain. Dia juga gay, dan menyadari kondisinya tersebut sejak usia sekolah dasar.

“Gue pernah nanya ke nyokap, kok gue bisa terangsang lihat cowok telanjang dada,” ujarnya suatu kali ketika kami bertemu.

“Lalu nyokap bilang apa?”

“Dia cuma bilang itu enggak bener. Jangan seperti itu,” jawabnya sambil menirukan perkataan ibunya.

Dia tak pernah berani bercerita soal orientasinya tersebut kepada ayahnya yang seorang petinggi di sebuah pasukan militer. “Bisa dimarahi habis-habisan gue,” katanya.

Bowo menyimpan rasa penasarannya ini hingga dia beranjak remaja. Suatu kejadian membuat dirinya harus melanjutkan sekolah di negara tetangga. Negara tersebut rupanya lebih liberal dalam banyak urusan, termasuk seksualitas.

Di mata saya, Bowo lebih bisa menemukan identitas dirinya di tempat baru tersebut. Peluang untuk menjalin relasi persahabatan, cinta, dan hubungan intim dengan sesama jenis terkesan lebih besar dan lebih bisa diterima oleh budaya yang dianut masyarakat setempat.

“Terus sekarang orangtuamu udah tahu kalau kamu gay?” tanya saya.

Dia hanya menggelengkan kepala.

via nieuwwij.nl


Kompleksitas Relasi

Menjadi gay di Indonesia saya rasa tidak mudah untuk saat ini. “Hakim moral” tersebar di mana-mana, terutama oleh mereka yang bawa panji-panji agama. Diguyur oleh kecanggihan teknologi komunikasi bernama Internet, jempol-jempol warganet adalah hakim paling sadis yang pernah ditemui.

Bulan lima tahun 2017 ini sekelompok gay mengadakan pesta seks di sebuah pusat kebugaran di daerah Kelapa Gading, Jakarta. Lebih dari seratus pria peserta pesta dikabarkan digelandang ke kantor polisi setempat, sebagian di antaranya dipergoki dalam kondisi telanjang.

Secara luar biasa cepat, informasi “hina” tersebar di dunia maya. Beberapa foto yang menunjukkan ketelanjangan para pria tersebut dapat diakses dengan mudah. Melalui diksi dan bingkai, media-media di Indonesia telah membentuk narasi yang menjijikkan mengenai pesta ini.

Saat itulah keberingasan jempol-jempol warganet terpampang jelas. “Bakar! Tumpas!” dan istilah-istilah kebinasaan lainnya muncul untuk menanggapi gay ini, seakan-akan mereka telah kehilangan hak-hak kemanusiaannya.

Apakah Purnama pernah bergabung dalam komunitas gay? Ataukah dia menjalin relasi ini dengan cukup intim tanpa orang lain perlu tahu?

“Pernah,” katanya.

Namun dia tidak terlalu menikmatinya. Pernah dia ikut pertemuan sesama gay di kota metropolitan, dia tidak nyaman karena mereka “tidak apa adanya.” Entah apa yang dia maksud.

Purnama lebih senang bercerita soal lingkaran pergaulannya. Beberapa tahun lalu dia sering mengeluh bercerita kepada saya soal bagaimana mereka saling menjalin hubungan. Soal bagaimana dia merasa didekati oleh seseorang ketika dibutuhkan, lalu segera ditinggalkan setelah kebutuhannya selesai.

Friends with benefit,” ujarnya. Tidak ada komitmen di antara mereka. Mereka berrelasi lantaran sama-sama saling memiliki kebutuhan biologis—dan emosional—yang tak bisa mereka tolak.

“Tapi dulu aku sering baper. Butuh waktu lama untuk paham soal konsep ini,” katanya. Kini dia lebih bisa menerima konsep ini, berikut konsekuensi-konsekuensi yang harus dia lakukan. Mengelola perasaan, misalnya.

Namun menjadi gay bukan hanya urusan seksualitas saja. Purnama, misalnya, kini menjalin cinta dengan pria lain. Dia mencintai pacarnya tersebut meski mereka hanya bisa berkomunikasi melalui gawai. Pacarnya di mana? “Di Perancis,” jawabnya.

Lantas bagaimana model pacarannya? Purnama menjelaskan model lain, yaitu open relationship. Dalam hubungan model ini, Purnama tetap berstatus sebagai pacar. Mereka saling berkabar satu sama lain, mengenal lebih dalam karakter pasangannya. Uniknya, mereka saling mengijinkan pasangan untuk berhubungan dengan pria lain, termasuk berhubungan seksual.

“Di sini aku ada, di sana dia juga ada,” jelasnya.

Mencengangkan? Bagi orang yang selama ini berrelasi dengan biasa-biasa macam saya ini, iya. Tentu saja tidak semua gay menjalani relasi macam ini, dan begitu juga sebaliknya.

Bicara soal relasi, apakah Purnama ingin punya relasi sehidup semati dengan pacarnya ini? Saya tidak melontarkan tanya, tapi barangkali kalimat terakhir ini adalah jawabnya.

Suatu saat, setelah menghadiri suatu pesta pernikahan, banyak orang bertanya satu sama lain: kapan nyusul?

Jawaban Purnama cukup jujur, “Besok. Kalau sudah boleh di Indonesia.”

via algbtical.org

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain