16 January 2019

Seminggu di Paropo


Akhir tahun 2018 kemarin saya ‘pulang kampung’ ke tanah Batak; tanah kelahiran bapak mertua. Makan daging anjing dengan sayur kol? Tidak. Saya pilih minum tuak dengan buah duren. Ditemani asap tembakau dari berbagai rokok merek pabrikan yang dihisap bapak-bapak di kedai. Semua itu saya santap sambil menikmati nada bicara dari penduduk Desa Paropo, dekat Danau Toba. Bagi saya yang tak paham bahasa Batak, suara yang muncul dari mulut mereka tak ubahnya lagu.
Saya sering dengar orang Batak bilang kalau suara macam Judika itu sebenarnya banyak dimiliki oleh orang-orang Batak. Terutama mereka yang sering nongkrong di kedai-kedai di desa. Biasanya para laki-laki nongkrong di kedai sambil minum tuak, lalu pegang gitar untuk nyanyi bersama. Lihat saja di Youtube; persis seperti itu. Ajaibnya, suara mereka seperti otomatis terbagi jadi tiga – padahal tanpa latihan.
Sependek yang saya lihat dalam beberapa hari, jumlah kedai di Desa Paropo ini terhitung banyak. Dapat dikatakan, setiap selisih 5-10 rumah pasti ada kedai. Selain rokok dan kopi (tentu saja!), yang dijual di kedai itu ada teh, mie instan, dan tuak. Saya tak tahu apakah setiap kedai menjual tuak atau tidak.
“Di Jawa ada tuak juga?”
“Ada, tulang.”
“Tapi pasti beda rasanya. Enggak seasli yang di sini.”
Mereka tampaknya bangga betul dengan rasa tuak yang ada di Paropo. Saya perlu jujur. Saya tak tahu perbedaan rasa tuak khas Batak yang di Jogja dan Jakarta, dengan rasa tuak di Paropo. Bagi saya rasanya sama saja (ya seperti itu rasa tuak! mau gimana lagi rasanya? hehehe). Sekalipun saya tahu beda rasanya, sudah pasti saya tak tahu mana yang lebih ‘asli’ atau - katakanlah - lebih berkualitas.
Soal tuak ini, ternyata saya salah kira. Saya kira tuak ini diminum di pesta-pesta layaknya anggur (wine) ataupun bir. Saya bayangkan tuak ini dibagikan kepada tamu secara gratis lalu dinikmati sambil menari mengikuti lagu yang dinyanyikan kelompok musik. Kemarin saya datang ke pesta pernikahan saudara sepupu istri, dan tidak menemukan yang saya bayangkan tersebut. Atau saya saja yang memang tak melihat? Entahlah.
Pesta pernikahan di budaya Batak itu jelas berbeda dengan Jawa. Tentu tak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Setiap budaya menganut nilai yang berbeda. Soal baik atau buruk diukur dari nilai (yang entah diciptakan oleh siapa) tersebut. Beberapa kali saya mengikuti upacara adat pernikahan Jawa, dan baru satu kali ikut upacara adat pernikahan Batak, rasanya sama-sama melelahkan. Hanya saja, kalau dibandingkan, pernikahan sepupu ini lebih melelahkan daripada pernikahan saya.
(Catatan: tentu saja sebenarnya saya tak dapat membandingkan, karena memang tidaklah sebanding. pernikahan saya bukan pernikahan Jawa yang sesuai pakem melainkan yang ‘modern’ dan penuh modifikasi sana-sini. sementara rasanya pernikahan sepupu ini masih sesuai dengan pakem-pakem yang berlaku di tanah Batak)
Pesta pernikahan saya beberapa bulan lalu hanya 2 jam saja di gedung. Sementara yang di Paropo ini, jam 9 mulai di gereja lalu acara baru selesai sekitar pukul 20. Berarti setidaknya mempelai wanita harus pakai kebaya dari pagi sampai malam. Dengar-dengar, setelah pesta masih ada acara di rumah mempelai laki-laki sampai sekitar pukul setengah 12 malam.
Mungkin sebenarnya pernikahan dalam budaya Jawa juga sama melelahkannya. Hanya saja waktu itu saya memilih untuk melewatkan banyak upacara adat Jawa dan lebih fokus pada acara gereja saja. Pertanyaannya, bisakah orang Batak memilih untuk tidak menggunakan adat Batak?
“Itu, bang, masalahnya. Adat-adat ini pantang ditinggal,” kata seorang sepupu. Apalagi, tambahnya, kalau yang menikah adalah sama-sama orang Batak. Maka tak heran (tapi saya tak yakin mereka ini serius hehehe) ada beberapa sepupu yang minta dicarikan perempuan “boru Jawa” yang mau menikah sama mereka.
“Mana mau mereka sama kamu!” kata istri saya menimpali permintaan abal-abal ini.
Banyak orang berpendapat orang Batak itu galak dan keras ketika berbicara. Beberapa kali mereka sendiri bilang begitu ke saya. Barangkali kalau saya baru pertama kali bertemu orang Batak, saya pasti terkaget-kaget di Paropo. Nada bicara orang Batak itu memang seperti membentak, padahal ibu di tempat saya menginap (saya tak tahu harus panggil beliau namboru atau inang uda) itu penuh kehangatan.
Kalau kami lagi tidur-tidur dia sering bilang “Tidur kalian! Tidur!” dengan nada yang asik. Atau kalau beliau lagi melihat kami duduk-duduk, langsung teriak “Udah makan kalian? Makan kalian!”
Soal makanan, hampir setiap hari saya makan babi. Saya hanya bertanya-tanya dalam hati, “Ini karena sedang ada pesta dan banyak keluarga sedang pulang, atau sehari-harinya memang sering makan daging babi?” Saya bayangkan setiap hari makan ikan, karena letak Desa Paropo ini memang di tepi Danau Toba. Rupanya saya hanya makan ikan beberapa kali saja.
Satu makanan yang baru pertama saya makan ketika di sana: mie gomak. Bentuk mie ini seperti spaghetti. Mereka berkelakar, “Ini spaghetti ala Batak.” Rasanya? Luar biasa nikmat. Setiap kali tuan rumah menyajikan masakan ini, saya pasti langsung makan tiga piring mie gomak. Karena saking penasarannya, saya ikut ke dapur untuk bantu-bantu supaya tahu bagaimana masakan ini dibuat. Siapa tahu kami bisa masak menu ini di Semarang.
Kenapa disebut ‘gomak’? Menantu dari tuan rumah, dia pandai memasak dan sangat cekatan, mengatakan sambil memperagakan mengambil mie menggunakan tangan yang dilapisi plastik,”Karena ngambilnya gini. Ini gomak. Kalau ngambilnya pakai garpu atau sendok nanti tumpah.” Waktu itu saya manggut-manggut sambil menirukan. Mengisi piring ketiga saya hahahaha
Soal masakan, saya sama sekali tak ada masalah dan sangat menikmati. Soal minuman? Rupanya saya tidak hobi-hobi amat minum minuman beralkohol: bir, tuak, (kalau di Semarang) congyang, dan kawan-kawannya. Minum hanya untuk pergaulan saja, sambil nongkrong.
Ada satu minuman yang hanya saya cicipi seteguk saja di sana, tepat di pinggir Danau Toba setelah senja, yaitu TST. Teh Susu Telur. Seingat saya minuman ini cenderung kental, mungkin karena kuning telurnya ini. Rasanya khas sekali. Waktu itu saya tak bisa mengidentifikasi, apakah minuman ini memang senikmat itu? Atau karena suasana tepi Danau Toba setelah senja yang dingin dan gelap itu yang bikin nikmat.
Yang jelas, sore ini tiba-tiba saya ingin TST. Karena saya tak tahu di mana cari TST di Semarang, saya jadinya menulis cerita ini saja. Glek.

16.01.2019
Semarang

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain