09 December 2019

Sambat kepada Yesus: Saya Meragukan Angka


Sumber: amazon.com
Yesus telah mati ribuan tahun lalu. Namun ajarannya masih hidup dan dihidupi manusia sampai saat ini. Mereka bercita-cita mengikuti Yesus, menjadi murid Yesus, meneladan Yesus. Untuk yang terakhir ini, mungkinkah mereka betul-betul mampu meneladani Yesus?
 
Yesus seringkali digambarkan sebagai sosok yang mampu mengampuni dosa (Lukas 5:20). Bahkan setelah didera, Yesus juga berdoa kepada Allah: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:24). Kata-kata ini muncul setelah Yesus dikhianati murid, ditangkap, disiksa, dipermalukan, diarak untuk memanggul salib, lalu dipaku di atas salib yang dia panggul sendiri.

Namun, jangan lupa, Yesus adalah juga simbol perlawanan. Mungkin saya sedikit memaksa, tapi izinkan saya mempertentangkan antara ‘pengampunan’ dengan ‘perlawanan’ dalam konteks politis-sosiologis. Ingat saat Yesus mengobrak-abrik Bait Allah (Matius 21:12; Lukas 19:45; Yohanes 2:15-16)? Ingat juga saat Yesus dengan keras menyindir (dan mengkritik) praktik beragama orang-orang Farisi (banyak sekali di Injil)?

Maka tak heran dalam perspektif tertentu, kematian Yesus dianggap sebagai fenomena politik. Tak lain, Yesus dianggap sebagai korban politik. Kematiannya menyangkut posisi penguasa pada saat itu: Pontius Pilatus. Dia yang di-skakmat oleh Yesus setelah bilang, “Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?” (Yohanes 19:10). Yesus menjawab, “Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas..” (Yohanes 19:11).

Selain itu tentu saja Yesus digambarkan sebagai penyembuh, seorang yang bijak, seorang yang pandai ber-retorika, dan sebagaimana nabi pada umumnya. Yang bikin penasaran, di Alkitab apakah ada penggambaran Yesus sebagai orang yang humoris?

Pertanyaan ini mungkin tak masuk akal, atau setidaknya, tak relevan. Maksudnya, untuk apa sifat humoris Yesus dipertanyakan? Pada saat Alkitab ditulis, humoris mungkin bukan sifat yang ingin dibangun dari seorang nabi, seorang utusan, atau seorang yang dikultuskan.

Persoalannya, Yesus perlu tahu (atau mungkin dia sudah tahu hehehe) bahwa gambaran tentang dirinya ini banyak dijadikan lelucon. Atau hinaan. Atau mungkin memang lelucon-yang menghina. Atau apapun itulah. Terserah padamu bagaimana menyebutnya.

Minggu lalu saya melakukan survei abal-abal dengan metodologi riset yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Awalnya saya posting di Instagram Story beberapa gambar Yesus yang dijadikan hinaan/lelucon. Saya dapat beberapa gambar itu dari Twitter. Sebenarnya ada banyak sekali, tapi beberapa yang saya posting adalah sebagai berikut:





Setelah itu saya bikin polling dengan pertanyaan apakah gambar-gambar tadi sebuah hinaan atau sebuah lelucon. Hasilnya begini:



Oh ya, ini informasi penting. Dugaan saya, sebagian besar follower akun Instagram saya adalah penganut agama Katolik dan Kristen Protestan. Setelah itu baru penganut agama mayoritas di Indonesia: Islam. Mengapa penting? Profil agama responden ini mungkin bisa menjelaskan angka-angka persenan jawaban dari survei. Tapi bukannya ini abal-abal? Serius banget elah.

Oke lanjut. Pertanyaan kedua (dan terakhir. Yes, survei abal-abal ini cuma terdiri dari dua pertanyaan ora penting ahahahaha) adalah: kira-kira apa reaksi Yesus? Tertawa atau mengumpat (marah)? Begini hasilnya:



Nah, mari kita bahas. Pertanyaan pertama, tentang lelucon atau hinaan. Saya cukup terkejut, beberapa kenalan dekat saya (beragama Katolik dan Kristen Protestan) melihat hal ini sebagai hinaan. Awalnya saya menyangka mereka punya sifat yang ingin digambarkan oleh agama minoritas ini: santuy.

Semacam “Salib, gambar, patung, kitab suci, dan barang-barang gerejawi lainnya adalah simbol. Mereka sebatas alat atau sarana untuk membantu kita berdoa kepada Tuhan. Perusakan dan penghinaan terhadap simbol tak akan menggoyahkan iman kami. Santuy.” Begitu.

Ada kawan dekat saya lalu berpendapat lewat DM:
Sedih yaa Njay. Beberapa yg share gambar tersebut justru orang nasrani sendiri. Mungkin tujuannya ingin menunjukkan eksistensi bahwa nasrani itu seloo, gak baperan bila Tuhannya dinistakan. Bikin meme gak masalah, memang Tuhan Maha Asyik, tapi tetap tunjukin rasa hormat kepadaNya.

Mereka yang beragama lain ada yang bilang ini hinaan? Ada kok. Bahkan tidak sedikit. Mereka tak menjelaskan lewat DM sih, tapi saya kok menduga mereka turut berempati ketika gambar Yesus dijadikan hinaan/lelucon seperti ini.

Hanya saja saya tak berharap mereka berpikiran kalau yang bikin gambar-gambar ini adalah kaum mereka. Mengapa? Karena bisa jadi yang bikin adalah orang Katolik atau Kristen Protestan sendiri. Persis seperti yang dikatakan kawan dekat saya:

Kita beranjak ke pertanyaan kedua: apa reaksi Yesus? Terus terang, setelah saya pikir-pikir kembali, saya sendiri merasa bingung dengan pertanyaan ini. Terima kasih mas Nipeng sudah DM saya untuk menjelaskan tentang ini. Kalau saya berkaca dalam tingkah laku saya sehari-hari, saya sering mengumpat (misuh) sambil tertawa ngakak. Kalau dikonversi dalam chat kira-kira jadi: “hahahahahasuuuu..” atau “hahahahahahabajingan..”

Semogalah para responden yang berbahagia ini tahu maksudnya. “Ngakak” berarti tertawa, tidak masalah dengan gambar-gambar itu. Tidak baperlah untuk bahasa sekarang. Sementara “misuh” berarti marah, tidak berkenan dengan gambar-gambar itu.

Berbanding lurus dengan pertanyaan pertama, sebagian besar menjawab “ngakak”

Berdasarkan penerawangan saya setelah puasa merokok sehari semalam, hal ini berarti mereka membayangkan kalau Yesus punya persepsi yang sama dengan mereka (apapun agamanya).

Artinya, responden yang menjawab kalau gambar-gambar itu adalah “lelucon” akan beranggapan Yesus akan “ngakak” ketika melihat gambar-gambar tadi. Begitu?

Nggak juga. Sebagian besar memang iya sih, tapi ada juga kok yang jawab kalau gambar-gambar itu “hinaan” dan membayangkan Yesus akan tetap “ngakak” ketika melihatnya. Mungkin dia beranggapan kalau Yesus akan selalu tertawa atas apapun yang menimpa hidupnya. Mungkin begitu ya.

Apapun jawabannya, dianggap santai saja lah. Toh ini bukan riset yang serius. Secara metodologis banyak lubang di sana-sini yang bikin riset ini tidak memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Justru karena tidak ilmiah ini, boleh dong logikanya dijungkirbalikkan tidak karuan?

Kalau masyarakat kita sering anggap sesuatu yang serius jadi lelucon (misal: LGBT, bunuh diri, gangguan jiwa, dsb.) bagaimana kalau kita mulai anggap survei ora penting ini menjadi tanda yang serius? Nggak mau juga nggak apa-apa sih, tapi saya akan jalan terus.

Pertama, ini tentang persepsi dan kejujuran. Seringkali kita menjawab tidak benar-benar jujur tentang pendapat kita, tapi menjawab ‘apa yang orang harapkan kepada kita dalam menjawab.’ Bisa jadi responden ini ingin jawab jujur dengan jawab “hinaan” dan “misuh”, tapi kan Katolik dan Kristen adalah agama yang dewasa dan tidak mudah marah, maka mereka pilih jawaban yang lain—yang mereka anggap lebih diharapkan menjawab begitu.

Tentu saja ini dugaan. Sanggahan dipersilakan di kolom komentar di artikel ini, saudara-saudara…

Kedua, ini tentang intoleransi di Indonesia. Kita boleh merasa kondisi kita baik-baik saja. Semua agama damai-damai saja. Akun-akun agama garis lucu bercanda dengan bahagia di Twitter, dan banyak dari kita menikmatinya. Namun, selama penguatan identitas agama masih digunakan dalam pertarungan politik dan ekonomi, intoleransi akan tetap terjadi. Yang satu akan bertarung melawan yang lain, yang sayangnya, menggunakan tameng agama.

Butuh bukti? Mari kita baca catatan sejarah di Indonesia dan di seluruh dunia. Saya juga belum baca banyak hal tentang hal ini. Semoga anda para pembaca bisa share judul-judul tulisan penting di kolom komentar…..

Ketiga, sebagai calon peneliti yang (semoga) bukan abal-abal, saya rupanya tidak mengimani angka. Hahahaha. Sebatas sebagai alat, boleh saja lah. Fungsinya sama dengan patung,  gambar, dupa, bunga, apapun yang mengantar kita pada sang kebenaran yang sejati. ‘Sesuatu’ yang tak mampu dicapai oleh nalar manusia; yang tak ter-bahasa-kan.

Nah, saya kembali ke pertanyaan di paragraf pertama: mampukah meneladani Yesus? Mananya Yesus yang akan diteladani? Apa benar itu sifatnya Yesus? Jangan-jangan itu pemaknaan personal kita saja tentang Yesus? Hehehe.

Besok kita bikin survei abal-abal lagi. Dengan pertanyaan yang lebih ambigu dan lebih random. Supaya saya bisa ikut menyukseskan penghancuran iman orang-orang akan angka. Salam.



No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain