20 November 2022

Di Semarang Saya Punya Ibu, Budhe, Mak’e, dan Nama-Nama Lain yang Tak Pernah Terbayangkan Sebelumnya

Salah satu pengalaman aneh sekaligus menyenangkan ketika berada di tempat baru adalah memberi nama. Memberi nama tempat, penjual, dan apa-apa yang perlu.

Anda pernah melakukannya juga, kan? Cobalah diingat-ingat. Kalau belum, cobalah. Ini hal yang tak penting tapi penting sih. Heheh.

Ketika tiba di Semarang, saya tidak tahu nama-nama tempat. Maka cara paling mudah adalah menunjuk nama tempat dan lokasinya.

Misalnya, Indomaret di tanjakan pertigaan. Alfamart yang hadap-hadapan sama Indomaret. Penyetan (orang Semarang sebut “Lamongan”) depan masjid. Itu lokasi.

Kalau nama orang? Ini agak berbeda. Salah satunya adalah Pak Manyung. Saya pernah menulis tentang dia di artikel lain.

Nah, kali ini saya mau coba ceritakan beberapa pengalaman memberi nama.

 

1. Budhe Balon

Ilustrasi Balon. Buka gambar di sini.

Dari sekian banyak yang kami beri nama, nama ini yang rasanya paling sering kami sebut. Dia adalah seorang yang punya warung kecil. Jualannya banyak: makanan ringan, minuman, kerupuk, sabun, dan tentu saja, mainan anak-anak.

Kami sebut dia “Budhe Balon”, mengapa? Supaya mudah untuk bilang ke anak sulung kami.

Suatu saat saya dan anak sulung sedang belanja di warung. Ketika masuk, terlihat budhe sedang menata telur-telur ayam sambil jongkok.

Anak sulung bilang, “Budhe balon lagi beresin telur ya?”

Budhe dengan muka kebingungan bertanya-tanya, “Balon..? Telur..?”

Ekspresinya betul-betul kebingungan dan bikin sakit perut. Untung saya segera bisa alihkan pembicaraan.

Sampai tulisan ini saya posting, saya tidak tahu nama asli dari Budhe Balon ini.


2. Budhe Jajan

Ilustrasi Rumah Tanjakan. Buka gambar di sini.


Hampir tiap pagi ada seorang perempuan yang menggendong keranjang-keranjang warna merah untuk menawarkan jajanan pasar.

“Jajaaan jajaaan. Jajannya, dik?” begitu katanya setiap pagi sambil berhenti di depan rumah.

Budhe yang ini kuat sekali. Dia jalan melewati tanjakan dan turunan sambil bawa barang bawaan sebegitu berat. Beberapa kali saya lihat dia diantar pakai motor, lalu dia lanjut jualan sambil berjalan.

Dia pernah sakit lalu jualan di pinggir jalan, bersama dengan para penjual lain. Tapi itu hanya bertahan sebentar saja. Mungkin rejekinya datang ketika dia harus jalan kaki, tidak buka lapak di pinggir jalan.


3. Mak’e Bakul Iwak

Ilustrasi Ikan. Buka gambar di sini.


Kalau yang ini istimewa. Sebagai orang yang lahir dan besar di Jogja, saya agak kaget diajak bicara ala pantura. Dia tinggal di Sayung (Demak) tapi jualan di Semarang bagian atas.

Dia jualan berbagai macam ikan laut, udang, lele, nila, ikan gabus, dan entah apa lagi jenisnya. Beberapa bulan belakangan dia juga berjualan ayam.

Dia ramah, tapi ramah ala pantura. Saya sulit mendeskripsikannya.

***

Sebenarnya masih ada banyak lagi yang belum saya ceritakan. Misal: Ibu Baik Hati, Warteg Kos-Kosan, Tukang Cukur Pahlawan, Bakso Prengus, dan masih banyak lainnya.

Saya tidak tahu istilahnya dalam keilmuan (Arsitektur? Urban studies? Cultural studies?), tapi pengalaman “mengkonsumsi ruang” itu ternyata menyenangkan. Apalagi kalau direfleksikan, lalu ditulis begini.

Semoga masih diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat baru dan mencicipi rasa di sana :) 

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain