14 March 2011

Koordinator

 “Siapa koordinatornya!?” bentak seorang lelaki muda  berusia 19-an tahun berambut panjang. Sambil melotot dia memandangi satu per satu anak-anak yang duduk di depannya, anak paling tua baru seumuran SMP.

Oleh: Andreas Ryan Sanjaya

Seorang anak dengan tampang bingung dan sedikit takut menaikkan tangan dan berkata lirih,”Saya, mas.” Anak itu sedikit gemuk dan terlihat sedikit lebih tua daripada kebanyakan anak-anak di sampingnya.

Saya kenal dia. Dia adalah teman terdekat saya, tapi entah mengapa saya begitu enggan menyebutnya sahabat. Saat itu kami sedang mengikuti semacam malam inisiasi sebelum keesokan harinya kami dilantik menjadi misdinar di Gereja Paroki Hati Santa Perawan Maria tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta.

“Kenapa diem aja! Kamu koordinator!” semprot seorang perempuan dengan nada yang galak. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya yang berambut 1 cm, tidak tahu alias bingung harus menjawab apa.

Acara bentak-bentakan itu terjadi ketika sesi kepemimpinan dan berorganisasi. Pada sesi itu panitia memberikan pelajaran yang cukup menarik untuk kami, para calon misdinar yang sudah berlatih menjadi misdinar kurang lebih 3 bulan.

Begini pelajarannya. Di suatu ruangan yang terbagi atas dua ruangan (1 ruang tidur, 1 ruang pertemuan) kami duduk melingkar. Masing-masing dari kami kemudian disuruh untuk mengambil kertas undian yang sudah disiapkan oleh panitia.

Masing-masing kertas itu berisi kata-kata: “Menutup pintu”, “Membuka pintu”, “Menutup jendela”, “Membuka jendela”, “Memasang tikar”, “Menggulung tikar”, “Mengotori lantai dengan kapur”, “Membersihkan kapur di lantai”, dan 1 kertas bertuliskan “Koordinator”.

Kami disuruh untuk membuka kertas itu, membacanya dalam hati, dan kemudian menyimpannya dalam saku. Dalam kondisi tegang dan penasaran, panitia lalu memberikan arahan dalam pelajaran itu.

“Peraturannya satu, selain koordinator, kalian tidak boleh berbicara,” jelas seorang panitia dengan nada dingin. Panitia lain lalu memberi aba-aba untuk memulai pelajaran malam itu.

Seketika suasana menjadi kacau dan sangat kacau. Tanpa rasa malu para calon misdinar ini berebutan memegang pintu dan jendela, pertarungan terjadi antara yang bertugas membuka dan menutup.

Di sudut ruangan ada yang memasang tikar dan ketika tikar belum selesai dipasang, ada anak lain yang sudah menggulungnya kembali. Dan terjadilah tarik menarik tikar. Pemandangan luar biasa konyol.

Di sudut lain seorang anak mengotori lantai menggunakan kapur dan ada anak lain di depannya menyapu hasil coretannya tersebut. Lama kelamaan sang penyapu tidak hanya menyapu coretan, namun juga menyapu sang pencoret.

Di tengah hiruk pikuknya suasana itu saya melihat teman terdekat saya justru kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Dia sepertinya sibuk untuk mencari kertas dan alat tulis.

Tiba-tiba panitia membentak kami semua dan menyuruh kami duduk melingkar seperti semula. Dan hujan bentak-bentakan pun dimulai. Lebih tepatnya dimulai dengan kata-kata yang mengawali tulisan ini.

Teriakan demi teriakan dilancarkan, seiring air ludah mereka dan air keringat kami membasahi lantai. Teman saya itu masih saja bingung, dia tidak tahu apa kesalahannya hingga dia dibentak-bentak.

Sesi tersebut diakhiri dengan cara yang tidak saya ingat lagi, karena 8 tahun sudah berlalu. Saya mendekati teman saya yang terdiam itu, siapa tahu dia butuh bantuan saya.

“Kamu kenapa?” tanyaku. Dengan masih bingung dia malah balik bertanya,”Koordinator itu apa sih?” Hati saya terkejut, dia tidak tahu arti dari koordinator, jabatan yang melekat padanya ketika diundi. Pantas saja dia kebingungan, hingga panitia itu dengan ganasnya melancarkan kemarahan. Belakangan saya tahu kemarahan itu palsu.

“Saya kira koordinator itu yang bertugas mencatat dan menentukan hal apa saja yang perlu dipikirkan dalam sebuah organisas,” sahut dia melanjutkan pertanyaannya. Saya hanya bisa tersenyum sambil menenangkan hatinya dan mengajak dia makan malam.

Ketika makan malam dia masih terlihat canggung, agaknya dia masih memikirkan pengalaman beberapa saat yang sudah lewat itu. Dibentak, dimarahi, padahal dia sungguh tak tahu apa yang sedang dia hadapi. Setelah waktu 8 tahun ini akhirnya saya mengerti: anak menjelang remaja itu saya sendiri.

No comments:

Post a Comment

Baca Tulisan Lain